Florisa: Gadis Dari Langit Malam

Florisa: Gadis Dari Langit Malam
Episode 7 -Ingatan Yang Berbeda-


__ADS_3

“Aku mendengar suatu kisah. Kisah tentang seorang putri yang tidak bangun dari tidurnya yang panjang. Hingga kemudian datang seorang pangeran. Pangeran itu menciumnya dan sang putri terbangun dari tidur panjangnya,” ucapnya lembut.


Untuk beberapa saat dia diam saja. Kemudian ia melanjutkan, “Apa kamu mau aku melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pangeran itu?”


“Dia hanya bercanda, kan?” pikir Florisa.


“Kamu pasti mengira aku tidak bersungguh-sungguh, kan?” ujar Arzi yang membuat Florisa terkejut.


Florisa sudah tak sanggup berpura-pura tidur lagi. Ia takut laki-laki muda itu benar-benar melakukannya. Perlahan ia membuka mata bulatnya. Arzi terkejut melihat Florisa akhirnya membuka mata. Seketika, Arzi berdiri dari tempat duduknya dengan ekspresi terkejut itu masih terukir jelas di wajahnya. Kemudian dia menekan bel yang berfungsi untuk memanggil perawat.


Tak hanya Arzi yang terkejut, Florisa pun begitu. Pantas saja suara laki-laki itu terdengar familiar. Dia laki-laki muda yang bertemu dengan Florisa satu pekan yang lalu, manusia yang mirip dengan Elmian. Pertemuan kedua antara Florisa dan Arzi kembali membawa kejutan untuk keduanya.


Seorang perawat memasuki kamar rawat saat Florisa dan Arzi saling bertatapan. Perawat itu menyadari pasiennya telah sadarkan diri. Dia berbalik ke luar ruangan untuk memanggil dokter dan menyiapkan alat untuk melakukan pemeriksaan.


Sementara itu Florisa dan Arzi masih dalam posisi yang sama. Keduanya enggan untuk angkat suara lebih dulu. Arzi baru bersuara kembali setelah dokter datang untuk memeriksa Florisa.


“Pasien baru saja sadarkan diri, dok.” Arzi memberikan laporan kepada dokter.


Dokter perempuan yang mendengar laporan dari Arzi memberikan balasan berupa anggukan. Ia kemudian melakukan pemeriksaan terhadap Florisa. Di akhir pemeriksaannya, ia mengajukan pertanyaan kepada pasien.


“Apa yang adik rasakan sekarang? Apa ada rasa nyeri di kepala atau bagian tubuh lainnya?” tanyanya dengan sopan.


Florisa menjawab dengan hati-hati, “Tidak, dokter.”


Setelah memastikan kondisi pasiennya, dokter terus mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan ingatan. Hal ini membuat Florisa mengutuk keputusannya untuk menjadi Chitra. Ia tidak berpikir dengan matang. Fisik Florisa dan Chitra bisa saja serupa, tapi tidak dengan ingatan.

__ADS_1


Melihat reaksi Florisa yang kebingungan menjawab beberapa pertanyaan darinya, dokter berpikir Florisa—yang disangkanya Chitra— mengalami kehilangan ingatan akibat benturan hebat di kepala. Dari awal, dokter sudah menduga kemungkinan hilangnya ingatan pasien ini.


Akhirnya, Chitra dinyatakan kehilangan ingatan akibat kecelakaan yang dialaminya. Florisa merasa lega atas kesimpulan itu. Ia sudah sempat panik sebelumnya karena tidak tau sama sekali tentang Chitra selain informasi umum. Beruntung sekali. Florisa merasa perlu berterima kasih kepada dokternya.


***


Florisa kini telah menjadi Chitra. Rencana nekatnya yang terpikirkan secara spontanitas kala itu telah berhasil ia rapikan. Setidaknya itu menurutnya. Sore hari di hari ia bangun sebagai Chitra, Florisa hendak berteleportasi ke tempat Chitra berada melalui kamar mandi ruang rawatnya.


Awalnya ia sempat panik karena tidak menemukan lencananya di kamar mandi ruangannya. Ia terpikirkan tentang bola lampu yang pecah semalam. Setelah menanyakan kepada perawat, ia mengetahui bahwa ruangannya telah diganti. Dengan cepat ia meminta untuk diantarkan ke ruangan sebelumnya. Walau awalnya tidak diizinkan, namun perawat akhirnya menuruti juga setelah dibujuk oleh Florisa. Ia beralasan untuk mengambil benda pentingnya yang tertinggal.


Di rumah nenek Sani, ia dapati Chitra telah berganti pakaian. Chitra tidak lagi mengenakan pakaian yang diberikannya, melainkan sebuah gaun tidur. Gaun tidur itu berwarna putih sedikit kecoklatan dan terlihat usang. Ternyata nenek Sani telah menyadari kehadiran Chitra di rumahnya. Namun yang membingungkan Florisa adalah fakta bahwa nenek Sani malah merawat Chitra.


Nenek Sani masuk ke kamar tempat Chitra dan Florisa berada. Ia terkejut menyadari keberadaan Florisa, meskipun tidak menatap gadis itu secara langsung. Pandangannya terlihat kosong.


Florisa menyapa nenek Sani dengan sopannya. Ia merasa sangat bersalah karena telah lancang dan merepotkan perempuan tua itu.


“Berdirilah. Jangan berlutut dengan mudahnya. Aku percaya kalian bukan orang jahat. Apa kamu tak tahu bahwa aku buta, Nak?” tanyanya yang membuat Florisa terkejut, “Aku tidak bisa melihat seperti orang pada umumnya. Namun aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat mereka. Aku memang tidak dapat melihat wujudmu, namun aku dapat melihat semacam aura darimu. Kamu tidak seperti orang pada umumnya. Kamu memiliki aura yang berbeda yang belum pernah kulihat sebelumnya. Auramu berbeda dengan temanmu ini, namun bisa saling menyatu. Dari auramu, aku tahu kamu tidak berbohong kepadaku.” Nenek Sani menyelesaikan ucapannya.


“Apa karena itu nenek tidak menyinggung tentang saya ketika teman saya ini dibawa ke kota?” Setelah mencerna perkataan nenek Sani, Florisa memberanikan diri bertanya.


“Ya, begitulah.” jawab nenek Sani singkat.


“Kalau begitu, apa Anda mengizinkan teman saya ini berada disini untuk sementara?” Florisa bertanya kembali untuk memastikan. Nenek Sani membalas dengan anggukan.


Florisa meraih tangan nenek Sani kemudian mencium tangan yang kulitnya sudah keriput itu. Ia berterima kasih atas kebaikan nenek Sani. Ia pun berjanji akan kembali setiap satu pekan sekali untuk memberikan healing pada Chitra.

__ADS_1


***


Hari ini Florisa sudah diizinkan meninggalkan rumah sakit. Ia diminta untuk kontrol rutin mulai pekan depan. Selama di rumah sakit, Florisa melakukan observasi tentang manusia. Dari hasil observasi selama beberapa hari itu, ia mengetahui bahwa manusia dan neomus memiliki sistem tubuh yang hampir sama. Darah yang merah, tulang yang putih, juga bentuk organ tubuh yang serupa.


Kemungkinan hal yang membedakan antara manusia dan neomus terdapat pada DNA dan otak. Bagi neomus, DNA yang terdapat pada masing-masing individu lah yang membuat mereka memiliki kekuatan khusus. Otak sendiri menjadi pusat utama dalam mengendalikan kekuatan itu. Dari segi bentuk, otak manusia dan neomus terlihat sama. Namun apa yang tersimpan di dalamnya sangat berbeda. Beruntung Florisa tidak diperiksa pada dua bagian itu secara detail. Ia selamat dari kecurigaan dan bisa menjalankan rencananya.


Florisa yang kini adalah Chitra tengah menerima tamu di kamar VIPnya. Siang ini ia akan meninggalkan rumah sakit. Dan pagi harinya dia didatangi oleh dua orang yang mengaku sebagai teman sekelas Chitra.


“Selamat Chitra, kamu akhirnya pulih dan bisa pulang. Besok kamu mulai masuk sekolah, kan?” Seorang gadis dengan rambut lurus sebahu memberikan bunga kepada Florisa sebagai ucapan selamat, “Aku Shelin, Shelina. Apa kamu tidak mengingatku juga?”


Florisa menerima bunga yang diberikan Shelina padanya. Ia letakkan bunga itu di samping tempat duduknya.


“Maaf, aku tidak mengingat kalian,” jawab Florisa sopan. Jawaban itu membuat Shelina dan Sandra yang mendengarnya sedikit terkejut. Keduanya sontak bertukar pandangan yang membuat Florisa merasa ada yang aneh antara keduanya.


“Ah, tak apa. Itu bisa saja terjadi. Namun aku tetap sedih karenanya.” Entah kenapa Florisa merasa tidak nyaman dengan balasan Shelina itu.


“Yang penting kamu sudah kembali.” Kini giliran Sandra yang berbicara.


Florisa merasa bosan dengan percakapan ini. Dua orang ini benar-benar membosankan. Mereka terlihat tidak natural. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.


to be continued-


Cuplikan episode selanjutnya:


“Kita sudah sampai, Nona,” ucap Pak Kai setelah memberhentikan mobilnya di halaman sekolah.

__ADS_1


“Ku kira kamu hilang ingatan, tapi kamu tidak melupakan namaku,” ujar Arzi dengan nada mengejek.


“Ah, gimana ya? Sepertinya namamu masih dalam ingatanku.” Florisa membalas dengan asal.


__ADS_2