
“Sepertinya benar dia lupa ingatan.” Sandra memulai pembicaraan dengan Shelina setelah meninggalkan ruang rawat Florisa. “Cara bicaranya ke kita berubah total.”
“Benar katamu,” balas Shelina dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
“Tapi kamu hebat, Lin.” Sandra mengacungkan jempolnya ke hadapan Shelina. “Setelah semua yang dia lakukan padamu, kamu masih mengkhawatirkannya, bahkan sampai menjenguknya.”
Shelina tertawa ringan mendengar pujian Sandra. “Bagaimanapun juga, kami dulunya berteman.”
Shelina dan Sandra berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit. Keduanya bersama Amelie sempat mendapatkan hukuman karena lalai dalam menjaga kelompoknya saat kegiatan perkemahan. Hal itu membuat Sandra dan Amelie merasa kesal. Namun Shelina sepertinya tidak demikian. Ia mengajak Sandra dan Amelie untuk menjenguk Chitra. Awalnya Sandra dan Amelie menolak. Namun akhirnya Sandra memilih untuk menerima ajakan itu sedangkan Amelie masih kokoh pada pendiriannya.
***
Akhirnya hari untuk kembali ke sekolah bagi Chitra yang digantikan Florisa telah tiba. Florisa sebelumnya telah mempelajari beberapa hal terkait kasus Chitra. Chitra dinyatakan jatuh ke jurang saat acara perkemahan sekolah. Maka, Florisa menyimpulkan bahwa petunjuk mengenai pelaku percobaan pembunuhan terhadap Chitra ada di sekolahnya.
Florisa diantar ke sekolah dengan sebuah mobil hitam oleh seorang laki-laki usia akhir 30an. Laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai supir pribadi Chitra, bernama Kaidir. Chitra biasa memanggilnya Pak Kai.
“Kita sudah sampai, Nona,” ucap Pak Kai setelah memberhentikan mobilnya di halaman sekolah.
Florisa mengamati lingkungan di luar jendela sebentar. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Pak Kai, Florisa turun dari mobil. Ia menghela napas.
“Sekarang kamu adalah Chitra.” Florisa mengingatkan dirinya sendiri. Kemudian berjalan dengan anggunnya menuju gedung sekolah.
Saat berjalan menuju kelas, Florisa merasakan pandangan dari berbagai arah menuju dirinya. Siswa lain berbisik-bisik melihatnya berjalan di lingkungan sekolah. Florisa merasa ada yang aneh. “Apa mereka tahu aku bukan Chitra yang asli?” pikir Florisa.
__ADS_1
Walau demikian, Florisa tetap saja meneruskan langkahnya. Ruang kelas XI IPS 1 yang ia tuju. Namun Florisa tidak tahu kemana arah menuju ruang kelas itu. Ia ingin menanyakan kepada siswa lain. Kemudian seseorang yang pernah ia temui sebelumnya tertangkap matanya. Florisa hampir memanggil laki-laki itu dengan sebutan senior El, sampai ia sadar bahwa sekarang ia adalah Chitra. Florisa mencoba mengingat nama laki-laki itu. Ia memutuskan untuk bertindak seakan tidak terjadi apa-apa antaranya dan laki-laki itu di rumah sakit.
“Arzi!” Florisa melambaikan tangannya memanggil Arzi.
Merasa namanya dipanggil, ia menoleh ke sumber suara. Arzi berusaha menahan senyumnya melihat siapa yang memanggilnya. Ia kemudian mendekati gadis itu.
“Ku kira kamu hilang ingatan, tapi kamu tidak melupakan namaku,” ujar Arzi dengan nada mengejek.
“Ah, gimana ya? Sepertinya namamu masih dalam ingatanku.” Florisa membalas dengan asal.
“Sepertinya ingatan mengenai ruang kelasmu yang hilang,” tebak Arzi. Tebakan itu membuat Florisa tertegun. Pria ini benar-benar hebat menebak sesuatu, menurutnya. Florisa hanya membalas dengan cengiran.
“Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi jangan berjalan terlalu dekat,” ujar Arzi sambil memberikan tanda untuk membuat jarak dengan tangannya.
“Cukup memberitahukanku arahnya saja, aku sudah berterima kasih,” balas Florisa kesal.
“Lalu kamu akan tersesat? Sekolah ini cukup besar, Chitra.” Arzi langsung mengambil langkah menuju kelas Chitra. Florisa dengan enggan mengikutinya dari belakang.
Florisa tidak tahu apa alasan Arzi memintanya untuk menjaga jarak. Entah seperti apa hubungan Chitra dan laki-laki ini sebelumnya. Namun tingkah Arzi mengingatkan Florisa pada Elmian. Di mata Florisa, Elmian selalu bertingkah penuh misteri terhadapnya. Kadang Elmian ketus padanya, kadang cukup perhatian, dan kadang Elmian suka mengejeknya. Tiba-tiba Florisa merindukan sosok komandannya itu. “Apa reaksinya mendapati aku hilang tiba-tiba ya?” gumamnya.
Karena pikirannya disibukkan dengan memikirkan Elmian, Florisa tak sadar bahwa ia sudah sampai di ruang kelasnya. Arzi memberikan tanda kepada Florisa untuk masuk ke kelas yang bertuliskan XI IPS 1 di pintunya. Florisa mengintip ke dalam kelas dari depan pintu. Sudah ada beberapa siswa di dalamnya. Mereka yang menyadari kehadiran Florisa langsung mulai berbisik-bisik. Membuat Florisa jengah. “Ada apa dengan anak-anak ini? Apa yang salah denganku?” teriaknya dalam hati. Ingin rasanya Florisa meneriaki mereka dan menggebrak meja. Namun ia urungkan keinginan itu demi menjaga nama Chitra.
Setelah mengantar Florisa ke kelas Chitra, Arzi undur diri. Arzi tidak berada di kelas yang sama dengan Chitra. Ia terdaftar di kelas XI IPA 1 yang ruangannya berjarak 5 kelas dari ruang kelas Chitra. Namun sebelum menuju kelasnya, ia berpesan, “Kamu berhutang lagi padaku.”
__ADS_1
Arzi melangkah menuju kelasnya. Meninggalkan Florisa dengan penuh tanda tanya. Hutang apa yang Chitra miliki padanya? Kenapa mengantarnya ke kelas ini terhitung sebagai hutang?
“Chitra!” sapa seorang siswi pada Florisa. “Kamu ke sekolah bareng Arzi?” Suara cempreng gadis itu mengaget Florisa.
“Kamu dekat dengan Arzi?” tanya siswi lainnya yang datang bergerombolan entah darimana.
“Bagaimana aku bisa tahu hubungan seperti apa yang dimiliki Chitra dan Arzi, hah?” jawab Florisa dalam hati. Florisa bingung bagaimana menjawab pertanyaan gadis-gadis ini.
“Eum … aku hanya bertemu dengannya di halaman sekolah. Karena aku lupa dimana kelasku, aku memintanya mengantarku.” Florisa mencoba mengarang cerita. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya karangan saja. Ia jujur mengenai pertemuan mereka di halaman sekolah. Satu-satunya kebohongan hanya bagian ia meminta Arzi untuk diantar ke kelas.
“Dia bersedia?” timpal siswi lainnya dari gerombolan tadi.
Florisa memutar bola matanya perlahan. “Iya,” jawabnya hati-hati. Florisa curiga dengan pertanyaan barusan. Apa Arzi bukan laki-laki yang mau menunjukkan arah pada seseorang?
“Wah, beneran?” celetuk siswi yang pertama menyapanya, seakan tak percaya dengan jawaban Florisa. Kali ini Florisa hanya membalas dengan anggukan ringan.
“Ga biasanya Arzi kayak gitu. Kamu yakin ga ada hubungan apa-apa dengan Arzi?” Salah satu dari gadis-gadis yang berkumpul di dekat Florisa kembali mengajukan pertanyaan.
“Tidak ada. Kenapa?” Florisa mulai muak dengan pertanyaan bertubi-tubi dari gadis-gadis ini. Dia memang tidak tahu hubungan antara Chitra dan Arzi. Tapi apapun itu, sepertinya Arzi tidak ingin orang lain tahu. Florisa menduga inilah alasan laki-laki itu memintanya berjalan tidak terlalu dekat tadi.
“Enggak kenapa-kenapa,” jawab salah satu dari gerombolan gadis itu. Kemudian mereka membubarkan diri.
“Apanya yang tidak kenapa-kenapa? Jelas ini ada sesuatu!” Lagi-lagi Florisa berteriak dalam hatinya.
__ADS_1