Florisa: Gadis Dari Langit Malam

Florisa: Gadis Dari Langit Malam
Episode 15 -Berikan Nomor Ponselmu!-


__ADS_3

Arzi dibaringkan di salah satu tempat tidur yang ada di UKS. Teman-temannya keluar memanggil perawat yang biasanya ada di kantin saat sore begini. Florisa memilih untuk tetap di UKS bersama Arzi. Ia masih belum mendengar cerita dari Arzi mengenai rumor yang melibatkan Chitra.


Sementara itu, Arzi sendiri masih menahan rasa sakit di kakinya. Ia ingin mengerang dengan keras karena rasa sakit itu. Namun karena ada Florisa di dekatnya, ia berusaha menahan sekuat tenaga. Terlalu memalukan baginya mengerang kesakitan di depan seorang perempuan.


Florisa ingin sekali memberikan kekuatan penyembuhan pada Arzi. Tapi ia tidak mau Arzi tahu tentang kekuatannya itu. Dilihatnya Arzi yang sedang menahan sakit. Florisa mencoba menyentuh pergelangan kaki Arzi. Sedikit saja. Ia akan memberikan penyembuhan sedikit saja, setidaknya untuk meredakan nyeri yang dirasakan Arzi agar Arzi bisa melanjutnya ceritanya.


Tiba-tiba pintu UKS yang terbuat dari kaca itu terbuka. Perawat sekolah telah tiba. Tidak membutuhkan waktu lama memang untuk ke UKS dari kantin sebab jarak keduanya yang berdekatan.


Florisa langsung menarik tangannya kembali dan berdiri menyambut perawat. Teman-teman Arzi pun masuk ke ruang UKS bersamaan. Mereka menyaksikan perawat mengobati Arzi. Florisa berpindah posisi ke dekat teman-teman Arzi berdiri. Ia memberikan ruang gerak yang cukup bagi perawat untuk menangani cedera pada kaki Arzi.


Florisa akhirnya dapat kesempatan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Arzi. Arzi dibiarkan istirahat sementara  di UKS sampai pukul setengah enam. Teman-teman Arzi telah diminta untuk pulang. Florisa menarik kursi yang disediakan di sebelah ranjang, kemudian duduk di sana.


“Baiklah, bisa lanjutkan ceritamu?” Florisa menagih janji Arzi.


“Jadi kamu menemaniku hingga sekarang hanya untuk mendengarkan cerita dariku?”


“Apa lagi?” Florisa tak mengerti yang dibicarakan Arzi.


“Sungguh? Tak ada yang lain?”


“Apa maksudmu?”


“Tidakkah kamu mengkhawatirkanku?”


Kini Florisa bukan tidak mengerti lagi, tapi tidak mau mengerti. Apa Arzi sekarang mempermainkannya?


“Oh, t … tentu saja. Semua orang mengkhawatirkanmu.”


“Ah, sudahlah.” Arzi terlihat pasrah. “Aku benar-benar tidak suka membicarakan ini. Jadi tolong dengarkan dengan baik karena aku tak akan mengulanginya lagi.”


“Baiklah,” jawab Florisa ramah. Ia sudah siap mendengar penjelasan dari Arzi sejak tadi.


“Rumor itu pertama kali tersebar ….”


Drrrt


Baru Arzi akan mulai berkisah, ponsel baru Florisa bergetar. Getarannya menghasilkan bunyi yang terdengar keras bila berada di ruang UKS pada pukul lima sore. Arzi jadi menahan ucapannya.

__ADS_1


“Angkatlah,” kata Arzi begitu menyadari Florisa yang tidak memberikan respon apa-apa terkait getaran ponsel itu.


“ Apa?” tanya Florisa.


“Ponselmu. Itu bunyi ponselmu, kan?”


Ponsel? Florisa awalnya bingung. Sesaat kemudian baru ia sadar bahwa ia membawa ponsel baru yang diberikan mama Chitra kemarin. Florisa mengeluarkan ponsel merah dari dalam tasnya. Di layar ponsel itu tertera nama Pak Kai. Sejujurnya Florisa enggan mengangkat panggilan dari Pak Kai saat ini.


“Lanjutkan!” Florisa meminta Arzi melanjutkan ceritanya setelah menolak panggilan dari Pak Kai.


“Kenapa tidak kamu angkat?” tanya Arzi penasaran.


“Dari supirku. Bisa ku telpon nanti saja setelah kamu selesai.”


“Apa sebegitu pentingnya bagimu mendengar cerita itu sekarang?”


“Ya.”


“Berikan nomor ponselmu. Aku ku ceritakan padamu via telpon.” Arzi mencoba membujuk Florisa agar tidak memaksanya menceritakan hal itu sekarang. Kini sudah  pukul lima sore lewat beberapa menit. Pukul setengah enam sekolah ini harus ditinggalkan. Paling sebentar lagi penjaga sekolah akan memeriksa ke ruang ini dan mengunci pintu.


“Benarkah?”


Florisa memberikan ponselnya pada Arzi. Arzi bingung apa yang dinginkan gadis ini dengan memberikan ponselnya. Harusnya Florisa mengetikkan nomornya di ponsel Arzi, karena Arzi yang meminta nomor ponselnya.


“Biarkan aku yang menelponmu duluan.” Arzi menolak ponsel yang disodorkan Florisa.


“Maksudku, kamu bisa mencari nomornya di sana. Aku tidak tahu nomor ponsel itu.” Florisa kembali menyodorkan ponselnya ke hadapan Arzi. Arzi tertawa geli mendengarya.


Florisa baru menerima benda itu semalam. Ponsel itu diterimanya sudah dalam keadaan siap pakai. Ia hanya membaca beberapa petunjuk dari buku panduan yang ada di dalam kotaknya.


“Nih.” Arzi mengembalikan ponsel merah itu kepada Florisa. “Nomormu sudah ku salin. Nanti malam ku telpon.”


Florisa mengambil ponselnya. Kemudian layar ponsel itu kembali hidup. Pak Kai kembali menelpon. Sepertinya dia sudah datang menjemput sedari tadi. Wajar saja, ia biasanya sudah tiba di sekolah untuk menjemput Chitra pukul setengah empat. Ia pasti sudah menunggu lama sekali.


Arzi memberikan tanda kepada Florisa untuk menerima panggilan itu. Florisa menuruti Arzi dan menekan tombol terima pada layar panggilan.


“Aku masih di dalam sekolah, Pak. Sebentar lagi aku keluar.” Florisa memberitahukan posisinya kepada Pak Kai yang telah menunggu di halaman sekolah.

__ADS_1


“Iya.” Florisa menutup panggilan teleponnya.


Florisa sudah siap untuk meninggalkan UKS. Namun kemudian ia menyadari Arzi yang masih saja berbaring di tempat tidur.


“Kamu mau tetap di sini?” tanyanya sinis pada Arzi.


“Bantuin dong.” Arzi menjulurkan kedua tangannya meminta Florisa untuk menariknya.


“Manja. Yang sakitkan satu kakimu.” Florisa menepuk kaki Arzi yang diperban.


“Arrrrghh,” teriak Arzi kesakitan.


Florisa berlalu begitu saja meninggalkan Arzi.


“Hei, Chitra!” Arzi bangkit dari tempat tidur dengan kesusahan dan berusaha mengejar Florisa.


Florisa yang sudah keluar dari UKS kembali ke dalam. Ia baru terpikirkan, bagaimana cara Arzi pulang?


“Arzi, kamu pulangnya gimana?” tanya Florisa.


“Pakai motor.”


“Motor? Benda beroda dua yang banyak terparkir di lapangan parkir sekolah itu?” Florisa baru tahu benda itu bernama sepeda motor kemarin.


“Kamu ga tau apa itu motor?”


“Bukan. Maksudku …, gimana kamu bisa bawa motor dengan kaki seperti itu?”


“Kamu mengkhawatirkanku?”


“Arzi!” Florisa mulai muak dengan candaan Arzi.


“Aku bisa,” balas Arzi santai. Arzi menyusul Florisa keluar ruang UKS dengan jalannya yang pincang.


“Jangan bercanda! Kamu pulang bareng aku ya. Supirku sudah menunggu di depan.” Lancar sekali Florisa berbicara seolah-olah Pak Kai benar-benar supirnya.


Meskipun Florisa telah menawarkan tumpangan, Arzi tetap menolak. “Tak apa, ada yang harus aku kerjakan sepulang dari sini.”

__ADS_1


Florisa berat melepaskan Arzi pulang dengan motor dalam keadaan kaki seperti itu. Namun Arzi tetap kukuh pada pendirian. Akhirnya Florisa pamit pulang duluan. Mereka berpisah di tempat parkir setelah Florisa memapah Arzi menuju tempat motornya diparkir.


Arzi bisa saja berjalan tanpa dipapah Florisa. Cidera pada kakinya tidak begitu parah sebenarnya. Makanya ia yakin masih bisa mengendarai sepeda motor merah-hitamnya. Tempat tujuannya pun tak begitu jauh jaraknya dari sekolah


__ADS_2