Florisa: Gadis Dari Langit Malam

Florisa: Gadis Dari Langit Malam
Episode 17 -Langka-


__ADS_3

Gulungan awan putih tersebar di bawah langit merah muda terang. Di bawah langit berawan, terhampar padang rumput kecoklatan. Di hamparan rumput kecoklatan, tegaklah sebuah pohon besar dengan dedaunan yang berwarna ungu muda. Florisa termenung mengamati pohon itu. Kemudian ia amati pula lingkungan di sekitarnya. Lingkungan yang biasa ia temui di tempat asalnya.


“Apa aku kembali?” gumamnya kebingungan.


“Flo!” Seseorang memanggil Florisa. Suaranya terdengar berasal dari kejauhan.


Florisa otomatis memutar arahnya menghadap arah suara itu berasal. Itu adalah ibunya. Ibunya yang telah memanggil namanya. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar panggilan itu. Senyum terukir di wajahnya.


Florisa berlari menuju posisi berdiri ibunya. Semakin menjauh dari pohon berdaun ungu muda tadi.


Tiba-tiba tanah bergetar. Makin lama makin kencang. Kaki Florisa tidak sanggup lagi menopang tubuhnya di tengah goncangan yang terjadi. Akhirnya ia jatuh, terduduk di tanah.


Goncangan itu kemudian berhenti. Ibu Florisa pun menghilang. Kini di depannya bukanlah langit merah muda lagi, melainkan langit biru muda. Tak jauh terlihat sebuah pohon dengan daun hijau yang lebat. Dedaunan itu saling bergesekan ditiup angin.  Pohon itu dikelilingi rumput-rumput rendah berwarna hijau segar.


Florisa tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Ia melihat ke belakangnya, tempat pohon ungu tadi berada. Pohon itu masih di sana. Kemudian ia menengadah melihat langit. Langit di atas kepalanya adalah langit merah muda. Kembali ia hadapkan pandangannya ke depan. Di depannya adalah pamandangan  yang umum di bumi.


Dari balik pohon kemudian muncul seorang gadis. Ia berjalan menuju Florisa. Gadis itu mengenakan gaun putih yang terlihat lusuh. Angin dari arah depannya meniup rambut panjangnya. Wajahnya terlihat jelas. Dia Chitra.


Dekat. Semakin dekat. Kini jarak antara Florisa dan Chitra semakin pendek. Florisa bisa melihat wajah Chitra yang menampilkan senyuman padanya. Namun Florisa tidak dapat membalas senyuman Chitra. Ia hanya memandangi Chitra yang berdiri di depannya dengan tatapan tak percaya.


Chitra hanya berdiri dengan senyuman yang terus mengembang. Langkahnya telah terhenti sebelum ia mencapai tanah berumput coklat. Florisa mulai menerima keadaan. Ia bangun dari posisi duduknya. Kini ia berdiri tepat di depan Chitra. Hanya satu meter jarak yang memisahkan mereka.


Florisa melangkahkan kakinya menuju Chitra. Langkah demi langkah, ia sampai di perbatasan antara tanah berumput coklat dan tanah berumput hijau. Satu langkah lagi ia akan menginjak tanah yang sama dengan Chitra. Satu langkah terakhir, tibalah Florisa di tanah berumput hijau. Florisa dapat melihat wajah Chitra dengan lebih dekat, seperti bercermin.

__ADS_1


Chitra mengambil langkah memeluk Florisa.  Dipeluknya erat Florisa dengan penuh kelembutan. Florisa yang merasa nyaman dengan pelukan hangat dari Chitra, membalas pelukan itu. Mereka terlihat seperti saudara kembar yang telah terpisah lama.


Namun entah kenapa, Florisa merasa lelah tiba-tiba. Jantungnya berdetak lebih kencang dan semakin kencang. Kelopak matanya terasa berat dan semakin berat. Florisa tak sanggup lagi berdiri. Ia tak lagi bisa mempertahankan kesadarannya. Jika bukan karena berada dalam pelukan Chitra, Florisa mungkin telah ambruk ke tanah.


“Chitra!” Seseorang memanggil. Suaranya nyaring dan sedikit bergetar.


Terus saja suara itu terdengar memanggil nama Chitra. Florisa yang masih dalam kegelapan setelah menutup mata, mulai mendengar suara itu. Florisa awalnya mendengar itu samar-samar. Namun lama kelamaan semakin jelas.


“Chitra!” Untuk kesekian kalinya Florisa mendengar nama Chitra dipanggil.


Florisa membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah seorang wanita muda. Wanita muda itu terlihat awalnya terlihat cemas. Akan tetapi lama kelamaan tersirat perasaan lega di wajahnya.


“Saya sudah mencoba membangunkan Dek Chitra dari tadi. Saya jadi cemas karena Dek Chitra nggak bangun-bangun walau sudah saya goyangkan badannya,” ujar Ani begitu menyadari Florisa telah bangun.


“Apa itu tadi?” batin Florisa. Ia belum paham dengan apa yang dialaminya.


“Ayo siap-siap. Dek Chitra sudah terlambat.” Ani mengingatkan Florisa yang masih diam saja di atas tepat tidurnya. Kemudian Ani meninggalkan ruangan bercat putih itu setelah menaruh pakaian sekolah Chitra yang sudah siap pakai di atas tempat tidur.


Florisa menujukan pandangan kepada jam digital yang terletak manis di meja belajar menghadap tempat tidur. Jam itu membenarkan pernyataan Ani barusan. Florisa sudah terlambat ke sekolah hari ini. Melihat itu, Florisa hanya menghela napas panjang.


***


Hingga pagi ini, ponsel Florisa tidak juga menerima panggilan satupun. Arzi tidak menepati janjinya. Florisa telah dibohongi. Namun pikiran Florisa telah dialihkan oleh mimpinya semalam. Ia jadi melupakan perkara Arzi.

__ADS_1


Bagi manusia mimpi adalah sesuatu yang biasa dialami saat tidur oleh siapapun. Namun bagi neomus mimpi itu adalah sesuatu yang langka. Hanya orang-orang tertentu atau dalam kondisi tertentu seorang neomus bisa bermimpi dalam tidurnya. Bahkan ada yang tidak pernah bermimpi seumur hidupnya. Oleh karena itu, Florisa tidak bisa mengalihkan pikirannya dari mimpi itu.


Jika manusia sering melupakan isi mimpi yang menemani tidurnya beberapa waktu setelah terbangun, tidak bagi neomus. Bila mereka bermimpi, mimpi itu akan terus melekat dalam ingatan seolah-olah benar-benar terjadi.


Florisa terus saja memikirkan hal itu dengan serius sampai-sampai mengabaikan kelas yang diisi oleh  Bu Sofie. Memainkan peran sebagai siswa terbaik, tentu Florisa terus menjadi perhatian guru saat mengajar. Bu Sofie menyadari Florisa yang tidak fokus pada kelasnya.


“Sepertinya ada yang terlalu fokus berkhayal sehingga mengabaikan pembelajaran,” sindirnya keras-keras.


Pikiran Florisa masih fokus pada perkara mimpi yang dialaminya semalam. Dia mengabaikan sindiran dengan suara keras dari Bu Sofie.


“Chitra!” Bu Sofie memanggil nama Chitra dengan suara menggelegar yang bisa terdengar sampai ke kelas sebelah.


Kali ini Florisa menyadari panggilan itu. Bagaimana tidak? Suara Bu Sofie itu benar-benar mengganggu telinga. Selain itu, Florisa juga sedang memikirkan Chitra yang berada dalam mimpinya.


Florisa menoleh ke arah sang guru yang berdiri dengan elegan di depan papan tulis putih. Mata Bu Sofie menatap Florisa dengan tatapan menyala.


“Sudahlah terlambat, sekarang kamu mengabaikan kelasku. Kamu pikir aku akan memperlakukan kamu secara spesial hanya karena kamu pernah terluka saat dalam kegiatan sekolah?”


Entah mengapa kalimat terakhir Bu Sofie begitu tidak disenangi Florisa. Namun dia tidak menunjukkan rasa tidak senang itu di wajahnya. Ia hanya mengiyakan perkataan Bu Sofie.


Seperti menyimpan dendam lama, Bu Sofie memberikan hukuman kepada Florisa. Ia disuruh merapikan gudang penyimpanan alat peraga pembelajaran dan menmperbarui catatan jumlah dan kondisi tiap alat peraga itu saat istirahat pertama.


“Dia hanya membesar-besarkan masalah untuk mendapatkan budak secara gratis,” protes Florisa di tengah perjalanannya menuju gudang. Langkah kakinya begitu berat untuk melakukan pekerjaan itu.

__ADS_1


“Tunggu, dimana tempat itu?” gumam Florisa menyadari bahwa ia tidak ingat dimana gudang yang dimaksud.


Florisa ingin menggunakan alat andalannya untuk mengetahui arah tempat tujuannya. Namun ia teringat, ia akan terlihat aneh bila menggunakan alat itu di koridor sambil berdiri. Meskipun panelnya tak akan terlihat oleh manusia, gerakan yang dihasilkan Florisa saat menekan-nekan dan menggeser layar panel itu akan terlihat mencurigakan bagi manusia. Maka jadilah ia melangkahkan kakinya ke toilet wanita terlebih dahulu. Tempat teraman untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain.


__ADS_2