
“Bumi?” Florisa merasa tak percaya dengan yang dilihatnya. Bagaimana bisa ia tiba di bumi? Planet itu berada jauh dari planet asalnya. Belum ada satupun bangsanya yang pernah sampai ke bumi. Bangsa neomus memang tau tentang keberadaan planet biru itu. Bumi dikenal sebagai planet jauh berpenghuni yang memiliki kemiripan bentuk dengan Pafanor. Hanya sebatas itu yang diketahui Florisa dan neomus lainnya.
“Alat ini tidak mungkin rusak, kan?” Karena masih tak percaya, Florisa mengetuk-ngetuk alat yang serupa dengan jam tangan itu.
Alat itu tidak menunjukkan tanda-tanda telah rusak. Florisa menghela nafasnya. “Mari berpikir dengan tenang. Anggap saja ini benar bumi. Aku tiba di bumi melalui ruang bawah tanah itu. Mesin di ruangan itu hidup dan mengantarku kesini. Tapi kenapa mesin itu tiba-tiba hidup hanya karena aku menekan tombolnya tak sengaja? Bukankah benda itu sudah lama ditinggalkan?” Florisa berbicara sendiri.
Kemudian ia diam, memikirkan sesuatu.
“Oh tidak,” kata Florisa dengan wajah tiba-tiba pucat. Listriknya. Ya, listrik yang dialirkannya ke bola kaca, apa mungkin juga sampai ke mesin itu?
“Apa aku tidak mengontrol kekuatanku dengan baik?” tanyanya pada diri sendiri.
Sekali lagi, ketegangan menyelimuti wajah Florisa. Ia merasa bersalah. Seandainya listrik yang dialirkan dari tubuhnya tidak mencapai mesin itu, mungkin saja portal itu tak akan aktif. Seandainya ia bisa mengontrol kekuatannya dengan baik, aliran listriknya tak akan sampai ke mesin itu.
Florisa memang merasa bersalah. Namun kemudian Vojiro terlintas dalam pikirannya. Vojiro yang telah membuat benda itu. Artinya Vojiro yang telah mengantarnya ke tempat ini. Akhirnya Florisa mulai mengoceh lagi tentang Vojiro. Dia berpikir tidak masalah menyalahkan laki-laki itu dalam situasi ini.
“Mungkinkah dia pergi kesini dengan mesin itu? Itu sebabnya kami tidak berhasil menemukannya meskipun telah mencari ke setiap sudut negeri. Oh, bisa jadi, bisa jadi,” ucapnya sambil menganguk-angguk yakin.
__ADS_1
“Portalnya telah hilang. Aku tak tau bagaimana cara pulang. Satu-satunya cara adalah menangkap laki-laki itu. Dia pasti tau caranya. Akan ku paksa dia bagaimanapun caranya.” Florisa mulai menetapkan tujuan. Satu-satunya cara yang terlintas di pikiran Florisa adalah menangkap Vojiro yang berkemungkinan melarikan diri ke bumi.
Sambil terus mengoceh mengungkapkan kejengkelannya pada Vojiro, Florisa berjalan menjauh dari tempat awalnya tiba. Tidak ada arah yang pasti. Dia hanya memilih arah secara acak. Jalan yang dipijaknya tidak rata dan cukup licin. Kakinya yang memakai sepatu boot hitam selutut sesekali tergelincir karenanya.
Di tengah gelapnya malam yang menerima secercah cahaya dari langit, Florisa melangkah dengan mantap—meskipun kadang kondisi jalan itu menyulitkannya. Di tangannya telah siap sebuah pedang bercahaya. Senjata itu adalah listrik yang dihasilkan Florisa kemudian membentuknya menjadi sebuah pedang. Itu adalah senjata dasarnya untuk jaga-jaga bila ada sesuatu yang tiba-tiba menyerang.
Ya, sebagai neomus, Florisa memiliki kekuatan khusus. Beberapa neomus memiliki kekuatan khusus yang berbeda-beda. Mereka yang terlahir dengan kekuatan khusus itu banyak yang menjadi bagian dari pasukan keamanan. Namun tak sedikit juga yang menggunakan kekuatannya itu untuk sesuatu yang terlarang.
Florisa termasuk ke dalam neomus yang terlahir dengan kekuatan khusus. Ia memiliki kekuatan untuk memanipulasi listrik. Sedangkan Elmian dan Vojiro memiliki kekuatan untuk menciptakan atau mengubah wujud suatu benda. Walau memiliki kekuatan khusus dari lahir, mereka tetap melatih kekuatan fisik. Karena tempat mereka hidup, bukanlah tempat yang penuh ketenangan.
Setelah berjalan menyusuri tanah lembab yang bertaburan dedaunan, Florisa dapat mendengar suara aliran air yang cukup deras. Dilangkahkan kakinya menuju sumber suara itu dengan cepat. Langkah kaki itu menuntunnya ke sebuah sungai dengan banyak bebatuan besar.
Merasa tak ada bahaya di dekatnya, Florisa jadi lebih relax. Dibukanya tudung jubah coklat yang dikenakannya. Pedang listriknya melebur masuk ke dalam tangannya. Dia berdiri pada salah satu batu besar di tepi sungai. Di lihatnya sekeliling lingkungan itu. Meskipun malam, tapi tempat itu tidak segelap tepat yang biasa ia kenal. Matanya tidak bisa melihat dalam gelap di tempat asalnya, tapi disini, ia bisa melihat sedikit lebih baik saat gelap.
Kening Florisa berkerut dan alisnya bertaut ketika melihat ada tanda-tanda kehidupan di atas jurang seberang sungai. Dipasangnya kembali tudung jubah menutupi kepalanya. Dibentuknya lagi pedang listrik. Dengan hati-hati, Florisa menyeberangi sungai itu menuju jurang.
Sungai ini memiliki lebar kira-kira 50 meter dengan debit air yang besar dan banyak bebatuan. Di salah satu sisinya terdapat tanah yang curam menuju sungai ini, sedangkan di sisi lainnya tidak. Sesampainya di seberang, Florisa mengamati dengan hati-hati dua orang di atas jurang itu. Sekalipun ia bisa melihat lebih baik saat gelap di tempat ini, tapi tetap saja, tidak lebih baik daripada di siang hari. Ia tidak dapat mengidentifikasi siapa orang di atas itu. Yang terlihat hanya siluetnya saja.
__ADS_1
Tiba-tiba Florisa terkejut bukan main. Mulutnya terbuka, matanya terbelalak. Salah satu diantara dua orang yang diamatinya itu jatuh berguling di tanah yang curam menuju sungai penuh bebatuan besar. Florisa tidak cukup cepat untuk menghentikannya. Orang itu telah jatuh terluka di tepi sungai, kira-kira 30 meter dari posisi Florisa.
Orang yang masih berada di atas jurang itu telah mendorongnya. Orang itu melihat dari atas jurang untuk beberapa saat, kemudian berlari menjauh. “Ini pembunuhan.” pikir Florisa.
Florisa berlari mendekati orang yang terluka itu. Pedang liistriknya kebali melebur ke dalam tangannya.
Dia berharap orang itu masih hidup. Dia harap orang itu masih bisa bertahan. “Aku akan menolongmu. Bertahanlah!” ucapnya dalam hati.
Florisa tidak tau siapa yang terluka itu. Tapi entah kenapa hatinya terasa sakit dan dia sangat ingin menolong. Mungkin saja, itu nurani dari seorang pasukan keamanan yang tidak bisa membiarkan seseorang terluka.
Sesampainya di lokasi tujuan, Florisa mendapat kejutan lagi. Orang itu terbaring dengan luka dimana-mana, termasuk bagian wajahnya. Wajah yang menerima beberapa luka itu terlihat serupa dengan wajah Florisa. Florisa seperti melihat dirinya sendiri terluka.
Tiba-tiba air mata mulai menggenang di mata Florisa sebelum jatuh mengalir menuju pipinya. Ia merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mereka bisa memiliki wajah yang serupa? Ini hal yang tidak pernah ada sebelumnya di pafanor.
Sambil berurai air mata, Florisa memberikan pertolongan terhadap orang itu. Dia masih hidup. Matanya terbuka sedikit. Dia melihat Florisa, kemudian tersenyum tipis.
“Bertahanlah! Aku akan menolongmu,” ucap Florisa dengan lirih.
__ADS_1
to be continued-
Sebelum beralih pada episode selanjutnya, jangan lupa dilike dulu dong~ hehe