Florisa: Gadis Dari Langit Malam

Florisa: Gadis Dari Langit Malam
Episode 18 -Ruangan yang Terkunci-


__ADS_3

Toilet itu terbilang cukup bersih dan nyaman. Dindingnya bercat putih dan lantai berkeramik yang juga berwarna putih. Toilet itu memiliki enam bilik berhadapan yang terbuat dari kayu dicat coklat kehitaman. Di dekat pintu masuk toilet terdapat wastafel yang dilengkapi cermin besar. Perancang desain ruangan ini seakan paham bahwa siswa perempuan sangat senang bercermin di toilet.


Florisa mengisi salah satu dari enam bilik yang ada. Ia aktifkan alatnya untuk memenuhi keperluannya. Sebentar saja, informasi yang diperlukannya sudah didapat. Dari toilet tempatnya berada sekarang, gudang itu tidak terlalu jauh. Ia hanya perlu melewati auditorium, dan laboratorium.


Urusannya di dalam bilik toilet kini sudah selesai. Florisa hendak keluar dari bilik itu dan langsung menyelesaikan hukumannya. Kemudian terdengar suara bising-bising yang dihasilkan oleh beberapa orang siswa perempuan.


“Apa mereka tidak bisa masuk toilet tanpa bising-bising tidak jelas begitu?” gumam Florisa kesal sambil menutup panelnya.


“Benar katamu, si Chitra jelas menargetkan Arzi kali ini. Mereka tidak dekat kan sebelumnya. Kok tiba-tiba dia mendekati Arzi pas kelas olahraga.”


“Kalau bukan karena menghormati fansnya si Arzi, aku sudah pacaran sama dia kali. Eh, dia malah berani mendekati Arzi di depan kita semua.”


“Benar, benar. Kamu lebih cocok sama Arzi daripada si Chitra itu.”


“Kata anak IPS 1 dia juga mulai dekat dengan Kevin belakangan ini.”


“Kevin? Anak basket itu?”


“Iya, si tampan berkacamata itu.”

__ADS_1


“Bukannya Kevin emang ramah ya? Kevin kan dekat sama banyak anak cewek”


“Iya, tapi Chitra ini sampai minta Kevin minjamin catatannya, dan dia juga ganjen di depan Kevin.”


“Serius kamu?”


“Serius, temanku anak IPS 1 bilang gitu.”


Florisa tidak yakin ada berapa orang yang terlibat dalam percakapan itu. Tapi ia ingin menghantam mereka semua. Mulut Florisa tidak tenang. Ia ingin berteriak menghardik mereka yang telah berbicara kebohongan tentang Arzi, Kevin, dan dirinya. Jelas yang mereka bicarakan adalah kebohongan. Arzi dan Kevin yang terlebih dahulu mendekatinya. Ia mendekati Arzi kemarin pun hanya untuk suatu keperluan, bukan tanpa alasan yang tidak jelas. Dan ia tidak pernah meminta Kevin meminjamkan bukunya.


“Kurang ajar. Kalian minta ku hajar ya?” batinnya dengan muka merah padam menahan amarah. Ia menggertakkan diri, menahan keinginan menggigit orang-orang itu.


Orang-orang itu terus saja bercakap-cakap dengan suara yang begitu mengganggu bagi Florisa. Mereka tampaknya bercakap-cakap sambil bercermin. Florisa langsung terpikirkan sesuatu untuk menghajar mereka tanpa harus menyerang secara langsung. Seketika itu, seringai licik muncul dari wajahnya yang cantik.


Dengan ujung-ujung jari itu dan mata yang dipejamkan, Florisa bisa melihat benda-benda yang berada di tanah dalam radius sepuluh meter. Ada tiga orang dan benar mereka berdiri di depan wastafel. Ia alirkan listrik dari ujung jarinya ke lantai dan diarahkannya aliran itu menuju sasarannya. Sedetik kemudian terdengar pekikan dari orang-orang yang terkena sengatan listrik dari Florisa.


Florisa menghentikan aliran listrik dari tubuhnya. Di saat yang bersamaan, ia juga menghentikan aliran listrik menuju lampu. Ia membuat seisi ruangan menjadi gelap. Toilet wanita ini, tidak memiliki jendela untuk membantu cahaya matahari dari luar untuk masuk. Hanya ada beberapa ventilasi untuk sirkulasi udara yang tentu saja dengannya tak akan cukup menerangi ruangan ini. Oleh karena itu, ketika lampu-lampu di ruangan ini dipadamkan, ruangan ini menjadi cukup gelap.


Pekikan terdengar semakin keras ketika ruangan menjadi gelap. Tiga orang yang bercermin tadi langsung terbang berhamburan keluar toilet ini. Menyisakan Florisa yang tertawa renyah di dalam salah satu bilik toilet.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Florisa langsung saja menunaikan rencananya untuk menuju gudang penyimpanan alat peraga. Ruangan itu tidak begitu luas namun ada begitu banyak alat peraga di dalamnya. Mulai dari alat peraga untuk pelajaran IPA hingga olahraga, semua tersimpan di sini. Benda-benda itu bercampur begitu saja dan memberikan kesan berantakan pada ruangan ini.


“Dia memang membutuhkan pekerja untuk merapikan semua ini,” gumam Florisa begitu melihat kondisi di dalam gudang.


Florisa melangkah maju memasuki gudang. Ia melihat-lihat benda-benda yang tersimpan di dalam gudang pada setiap langkahnya. Benda-benda itu terlihat asing bagi Florisa. Ia sempat terkejut menjumpai torso manusia setengah badan yang bertengger manis di atas meja kayu. Ia tak mengerti banyak hal dari benda itu, tapi ia bisa menyimpulkan bahwa benda itu adalah tiruan tubuh manusia sebab benda itu tidak memberikan reaksi layaknya benda hidup ketika Florisa menyentuhnya.


Masih penasaran dengan benda-benda yang disimpan di dalam gudang, Florisa terus saja melihat-lihat. Ketika menjumpai beberapa matras biru di salah satu sudut ruangan, Florisa berpikir ada orang yang tinggal dan tidur di dalam gudang ini.


“Ah, aku tau benda ini!” Florisa langsung bergegas mengambil sebuah bola jingga yang biasa digunakan untuk bermain bola basket setelah matanya menangkap keberadaan benda tersebut.


“Benda ini cukup ringan,” katanya saat bola basket itu telah berada di tangannya. Ia membandingkan bola itu dengan bola yang digunakan dalam permainan di tempat asalnya.


Saat Florisa menimbang-nimbang bola basket, tiba-tiba pintu satu-satunya gudang penyimpanan ini tertutup. Secara otomatis Florisa langsung menoleh ke arah pintu setelah telinganya menangkap gelombang suara dari pintu yang ditutup tiba-tiba.


Setelah menatap pintu itu selama beberapa saat, Florisa melangkahkan kaki mendekati pintu. Ia bermaksud memeriksa apa yang telah terjadi dengan pintu tersebut. Pintu yang menutup tiba-tiba adalah hal yang ganjil baik di bumi maupun di pafanor. Pintu sebagai benda mati tidak bisa bergerak dengan sendirinya. Pasti ada sesuatu yang menggerakkannya.


Florisa meraih gagang pintu dan mencoba mendorongnya. Pintu itu tidak mau terbuka lebar seperti sebelumnya. Didorongnya lagi gagang pintu dengan tenaga yang lebih besar dari sebelumnya. Tetap saja pintu tidak terbuka. Seperti ada sesuatu yang menahannya dari luar.


Saat masih memikirkan kemungkinan yang menyebabkan pintu itu menutup tiba-tiba kemudian tidak bisa dibuka Florisa mendengar suara tertawa dari balik pintu.

__ADS_1


“Selamat menikmati harimu di dalam sana” kata suara dari luar ruangan.


Mendengar itu, Florisa langsung memahami yang terjadi. Ia telah dikunci di ruangan ini oleh orang-orang itu. Entah siapa itu, tapi yang jelas mereka bukan orang baik karena telah mencoba mengurung seseorang di ruangan pengap yang penuh benda-benda aneh.


__ADS_2