
Meskipun telah mengingatkan dirinya, Florisa masih belum terbiasa dengan nama barunya. Ia tidak langsung merespon ketika guru memanggil nama Chitra saat absensi. Bu Mila, guru bahasa Inggris di kelas Chitra harus mengulang memanggil nama Chitra. Florisa baru menyadari ia perlu mengangkat tangan sambil berteriak, “Saya, Bu” setelah Bu Mila mengeraskan suaranya.
“Kamu kenapa, Chitra?” tanya Bu Mila penasaran mellihat terlambatnya respon siswinya itu. Seisi kelas mengarahkan pandangan pada Florisa.
“O, begini … saya hanya sedang melamun tadi, Bu.” Florisa mencari-cari alasan.
“Lain kali, jangan melamun saat ada kelas, ya!” tegas Bu Mila memberikan peringatan. Sebenarnya ia cukup khawatir dengan siswinya ini. Ia sudah mendapat kabar mengenai kondisi kesehatan Chitra dari wali kelas XI IPS 1.
“Baik, Bu” jawab Florisa dengan menampilkan senyum manisnya.
Florisa memperbaiki posisi duduknya. Ia duduk di barisan ke-2 dekat jendela yang menghadap ke halaman sekolah. Dengan seksama ia perhatikan seisi kelas. Terdapat 28 siswa di kelas ini. Namun sepertinya tidak ada dari dua puluh delapan orang itu yang berteman dekat dengan Chitra. Sejak memasuki kelas hingga dimulainya pembelajaran pertama bersama Bu Mila, tak ada satupun siswa di kelas ini yang mendekati Florisa dan bertingkah seolah-olah mereka pernah dekat sebelumnya. Florisa tahu tempat duduk Chitra setelah melihat peta kelas. Tak ada yang memberi tahunya. Bahkan Shelina dan Sandra yang mengaku sebagai temannya hanya diam saja.
“Kasihan sekali kamu, Chitra,” gumam Florisa. Ia kasihan kepada Chitra karena tidak ada yang menjenguknya ketika di rumah sakit selain Arzi, Shelina, dan Sandra. Ia kasihan kepada Chitra karena tidak ada yang menyambutnya saat kembali ke sekolah.
Florisa kembali menyadarkan dirinya. Ia harus fokus pada pembelajaran di kelas atau kembali ditegur dan membuat seisi kelas mengamatinya. Itu benar-benar memalukan.
Bu Mila dengan lihai menulis di papan tulis putih menggunakan spidol hitam. Tulisannya rapi, tapi Florisa tak dapat mengerti apa yang ditulis itu. Bu Mila kemudian menjelaskan sesuatu tentang bahasa Inggris sambil menunjuk-nunjuk tulisannya di papan tulis.
Florisa menyadari bahwa Bu Mila mengajar bahasa asing. Pantas ia tidak mengerti apa yang ditulis guru dengan kacamata bulat itu. Ia hanya bisa mengerti bahasa manusia yang digunakan di lingkungannya sekarang. Florisa mulai panik. Chitra adalah siswa top di sekolah. Tentu dia menguasai mata pelajaran ini dengan baik.
Florisa berharap nama Chitra tak akan dipanggil lagi. Tapi harapannya hancur begitu Bu Mila memanggilnya.
“Chitra, coba baca contoh kalimat nomor 3 ini,” perintahnya pada Florisa. “Semuanya perhatikan!” Bu Mila meminta siswa lainnya untuk menyimak Florisa membaca tulisan di papan tulis, seakan berharap Florisa dapat memberikan contoh pelafalan yang tepat. Padahal Florisa mengerti saja tidak.
__ADS_1
Florisa seketika pucat pasi. Apa yang harus dilakukan? Tampaknya ia harus menghindar.
Florisa berdiri dari tempat duduknya. Bu Mila dan siswa lainnya seperti sudah siap mendengar Florisa membaca tulisan itu.
“Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Kepala saya sakit. Bisa saya izin ke UKS?” Florisa mencari alasan untuk keluar dari situasi ini. Dengan memanfaatkan kecelakaan yang menimpa Chitra, Florisa berpura-pura tengah kesakitan. Tangannya menyentuh kepala untuk menampilkan kesan bahwa bagian yang ia sentuh terasa sakit. Bahkan raut wajahnya berusaha memperlihatkan seperti benar-benar sedang menahan rasa sakit.
Entah karena acting Florisa yang bagus atau Bu Mila memang mengkhawatirkannya dari awal, Bu Mila mengizinkan Florisa meninggalkan kelas untuk beristirahat di UKS. Salah seorang siswa diminta Bu Mila untuk mengantarkan Florisa.
“Ketua kelas, tolong antarkan Chitra ke UKS ya.” kata Bu Mila pada seorang laki-laki berkacamata yang duduk di barisan pertama. Kevin sebagai ketua kelas meninggalkan tempat duduknya dan membawa Florisa menuju UKS.
Florisa merasa canggung berjalan beriringan dengan laki-laki berkacamata ini. Kevin hanya berjalan dan membiarkan Florisa mengikutinya. Tak ada sepatah katapun. Kevin sepertinya enggan untuk mengajak Florisa bicara dan Florisa segan memulai pembicaraan antara keduanya. Sepanjang perjalanan, mereka hanya ditemani bunyi langkah kaki.
Bagi Florisa, Kevin terlihat lumayan tampan. Seandainya kacamata persegi panjang itu dilepas, ia akan terlihat lebih tampan. Bentuk matanya yang bulat dan indah malah tertutup oleh kacamata yang terlihat tidak cocok sama sekali dengannya. Kevin juga memiliki bentuk tubuh yang altletis dan kulit agak gelap. Tampaknya ia sering berolahraga.
“Kamu yakin hanya sakit kepala?” tanyanya.
“Iya. Aku hanya perlu berbaring sebentar. Kamu bisa kembali ke kelas,” jelas Florisa. “Terima kasih.” Florisa menutup kalimatnya dengan sebuah senyuman.
Kevin tidak membalas senyum Florisa. Ia hanya berkata, “baiklah.” Lalu ia berbalik untuk meninggalkan Florisa.
“Oh ya, siapa namamu?” Florisa mengajukan pertanyaan saat Kevin hampir mencapai pintu UKS. Pertanyaan itu berhasil menghentikan langkah kaki panjang Kevin. Kevin berbalik menghadap Florisa yang sudah duduk di salah satu tempat tidur UKS.
“Kevin. Namaku Kevin.” Kali ini Kevin menampilkan senyumannya. Kevin terlihat manis dengan senyuman itu. Senyuman Kevin mampu membuat Florisa menampilkan senyumnya lagi. Orang yang melihat senyum ini otomatis akan tersenyum pula saking manisnya senyum Kevin. Seperti sihir.
__ADS_1
***
Matahari telah mencapai titik kulminasi. Bagi kebanyakan manusia waktu ini digunakan untuk istirahat dan makan siang. Begitu juga di SMA Harapan. Waktu istirahat makan siang telah tiba.
Di sekolah ini siswa tidak dibenarkan makan siang di dalam kelas. Guru juga tidak diperbolehkan makan siang di meja kantornya. Sebagai gantinya, sekolah menyediakan tempat yang nyaman untuk menyantap makan siang yang sehat dan lezat. Tempat itu disebut kantin.
Kantin SMA Harapan terbilang cukup luas. Tempat ini mampu menampung dan melayani seluruh warga sekolah untuk menghabiskan makan siang dan bercengkrama. Terdapat banyak meja panjang di kantin. Setiap meja ditemani sepuluh kursi. Jarak antara meja satu dengan yang lainnya dapat dikatakan tidak sempit. Jadi, kemungkinan besar tak akan terjadi saling senggol meskipun kondisi kantin sedang ramai.
Kantin sekolah ini juga menyediakan berbagai menu yang memiliki kiosnya masing-masing. Siswa yang ingin memesan salah satu menu harus mengantri di depan kios makanan yang ditujunya. Setiap pembelian makanan, siswa mendapat potongan buah yang berbeda-beda tiap kiosnya.
Florisa terkesima melihat sistem di kantin sekolah ini. Akademi tempatnya belajar dahulu tidak memiliki kantin yang seperti ini. Di sana bila kamu ingin memesan makanan, kamu hanya perlu menekan gambar makanan yang kamu inginkan dari mejamu. Setelah pesananmu siap, makanan yang kamu pesan akan terkirim langsung ke mejamu.
Florisa memilih untuk mengambil antrian di depan kios tumis daging pedas. Ia sudah mempelajari denah sekolah saat di UKS dengan alat andalannya yang ia sebuut roal. Selain denah, Florisa juga mempelajari beberapa informasi terkait sekolah ini, termasuk sistem di kantin. Jadi dia tidak akan terlihat bodoh ketika akan memesan makanan.
Saat tiba di antrian depan kios tumis daging, Florisa dibuat kesal. Pasalnya beberapa orang menyerobot antriannya. Secara teknis, ia memang belum benar-benar berada di dalam antrian, tapi jika orang itu masuk antrian dengan tertib, jelas Florisa yang tiba duluan.
Florisa bukan tipe orang yang mudah marah, namun bila ketidakadilan terjadi padanya atau di depan matanya, ia akan menggila.
“Hei!” teriaknya geram. Suaranya mampu membuat orang-orang di sekitar menoleh padanya. “Tolong antri dengan tertib!” tegasnya pada empat orang yang menyerobot antriannya.
Merasa tertantang dengan perkataan Florisa, salah satu dari siswa yang menyerobot antrian itu maju mendekati Florisa. Florisa tidak mengerti mengapa gadis itu menaikkan dagunya dan melipat tangannya di dada.
“Kamu kira kamu siapa berani bicara begitu, hah?” Gadis itu tak kalah keras suaranya.
__ADS_1