
Setelah mendengar cerita dari May, Florisa mulai mencari tahu lebih lanjut tentang apa yang terjadi pada Chitra sebelumnya. Bertanya pada Shelina dirasa tidak mungkin. Kevin tentu tahu, tapi sepertinya dia masih menyembunyikan sesuatu. Bagaimana dengan Arzi? Sepertinya Arzi adalah pilihan yang tepat.
Sore ini adalah jadwal olahraga bagi kelas XI IPS 1 dan XI IPA 1. Jam olahraga memang selalu menggabungkan dua kelas. Untuk tempatnya sendiri, sekolah mempunyai lapangan olahraga indoor dengan ukuran yang cukup luas. Pas sekali, sekarang saatnya mendekati Arzi untuk mendapatkan petunjuk tentang Chitra sebelum kecelakaan itu.
Kelas olahraga dimulai dengan pemanasan. Bagi Florisa ini adalah hal yang mudah karena ia sudah terbiasa. Terlihat berbeda sekali dengan anak perempuan lainnya yang melakukan pemanasan dengan gerakan yang malas-malasan.
Selanjutnya guru olahraga memerintahkan seluruh siswa yang mengikuti pelajaran olahraga untuk belari di lintasan selama 3 menit untuk perempuan dan 5 menit untuk laki-laki tanpa henti. Ketika semua anak perempuan berguguran, Florisa terlihat masih segar bahkan setelah menyelesaikan tugasnya berlari selama 3 menit. Siswa lainnya terheran-heran. Chitra tidak biasanya seperti ini.
Siswa diberikan istrahat selama lima menit sementara guru olahraga pergi meninggalkan lapangan untuk suatu keperluan. Masa ini digunakan Florisa untuk mendekati Arzi.
Florisa membawa dua buah botol air mineral bersamanya. Dia berjalan dengan santainya menuju tempat Arzi duduk. Tak ia pedulikan tatapan-tatapan liar dari siswa lain. Florisa menyodorkan sebotol air mineral di tangan kanannya kepada Arzi. Arzi sempat bingung melihat tindakan Florisa ini. Ia pandangi lekat-lekat wajah Florisa selama beberapa saat sebelum mengalihkannya pada sebotol air mineral di tangan Florisa. Akhirnya dia terima juga botol itu dibarengi dengan senyuman.
Teman-teman sekelas Arzi langsung ribut melihat adegan itu. Banyak yang bersorak sorai geli. Ada pula yang heboh tidak jelas. Dan tentu saja, ada yang langsung memasang wajah masam.
“Ada apa?” tanya Arzi mendapati ketidakwajaran dari tindakan Florisa.
“Ada yang perlu aku bicarakan denganmu.” Florisa memberi tanda untuk mengajak Arzi berbicara berdua.
Arzi berdiri dari posisi duduknya. Kini ia berdiri tepat di depan Florisa dari dekat. Tinggi badan keduanya tidak berbeda jauh. Ujung kepala Florisa sejajar dengan telinga Arzi.
Florisa berjalan menjauh dari tempat beristirahatnya siswa yang lain. Ia tak ingin pembicaraannya didengar atau diganggu. Arzi mengikutinya dari belakang.
“Arzi.” Florisa memanggil Arzi begitu sampai di tempat yang dirasanya aman untuk memulai pembicaraan. Tempat itu masih di lapangan. Lebih tepatnya di dekat ring basket. “Rumor apa yang menyebar tentangku saat kita kelas sepuluh?”
“Apa?” Arzi bukan tidak mendengar pertanyaan Florisa barusan. Ia hanya terkejut tiba-tiba ditanyai itu.
“Sepertinya aku teringat sesuatu. Tapi aku tidak yakin. Jadi aku butuh bantuanmu untuk menjelaskannya padaku.” Florisa mengarang cerita.
“Kamu yakin?” Arzi ingin memastikan.
__ADS_1
“Iya, kenapa?”
“Menurutku lebih baik kamu tidak mengingatnya.”
“Apa? Kenapa begitu?”
“Karena itu bukanlah kejadian yang menyenangkan untuk diingat.”
“Tak apa. Ceritakanlah.” Florisa tidak peduli apa itu menyenangkan ataukah tidak. Lagian itu bukan masa lalunya. Dia bukan lupa, tapi memang tidak tahu.
“Baiklah, jika itu maumu. Jadi waktu itu ….” Ucapan Arzi terpotong. Ia menyadari bahwa guru olahraga telah kembali dan memberikan isyarat untuk berkumpul.
Semua siswa diminta kembali berkumpul di tempat semula karena waktu istirahatnya telah habis. Florisa kesal. Padahal sedikit lagi ia bisa tahu tentang itu.
“Nanti kita sambung. Selesai kelas ini kita keluar bareng ya,” pesan Arzi sebelum meninggalkan Florisa dan bergabung bersama yang lainnya.
Florisa menyusul dengan berlari di belakang Arzi menuju barisan kelasnya.
Entah sejak kapan permainan ini menjadi semakin panas seperti dalam pertandingan sesungguhnya yang memperebutkan hadiah besar. Kevin terlihat benar-benar serius menghadapi tim IPA. Matanya seperti memancarkan kilatan api. Para suporter pun semakin menggila melihatnya.
Arzi merasa tertantang dengan gaya bermain Kevin yang buas. Apalagi ketika ia melihat kilatan mata itu seperti menuju padanya. Meskipun Kevin tidak mengatakan apa-apa, Arzi mengartikan tatapan tajam itu untuk menantangnya. Sekalipun ia tahu bahwa ia tengah berada di bidang yang dikuasai Kevin, Arzi tetap menerima tantangan itu. Arzi merebut bola dari tangan tim lawan dan menggiringnya dengan lincah menuju keranjang lawan. Namun belum sampai melakukan shooting, Kevin sudah lebih dulu mencuri bola dari tangan Arzi dan mengopernya ke pemain dalam timnya.
Setelah berlangsung cukup lama belum juga ada tim yang mendapatkan skor. Namun pada akhirnya tim IPA berhasil memasukkan bola ke ring tim IPS. Bagi pemain lain dari tim IPA, itu wajar. Bahkan ini sudah lebih baik dari sebelumnya karena bintang tim basket itu baru berhasil mencetak angka untuk timnya saat permainan mendekati akhir.
Berbeda dengan teman satu timnya, Arzi merasa tidak puas. Ia melanjutkan permainan dengan gaya permainan yang lebih ganas. Namun naas, Arzi berakhir terjatuh saat akan memasukkan bola ke ring lawan.
Semua orang yang menyaksikan pertandingan terkejut melihat kecelakaan yang menimpa Arzi. Kaki Arzi terkilir. Ia sempat linglung sebentar. Kemudian sakit pada pergelangan kakinya mulai terasa. Permainan dihentikan. Semua pemain mengerubungi Arzi. Salah seorang di antara mereka memberikan pertolongan pertama.
Florisa dan para suporter lainnya berlari mendekati lapangan. Tanpa memikirkan pandangan siswa lain, Florisa langsung mendekati Arzi dan duduk di sampingnya. Ia ingin memberikan pertolongan. Tapi tiba-tiba ia teringat bahwa manusia tidak memiliki kekuatan seperti yang dimilikinya. Akan terlihat aneh bila ia memberikan healing pada Arzi di tempat ini.
__ADS_1
“Sebaiknya kita bawa ke UKS.” Salah seorang pemain memberikan saran yang langsung diiyakan oleh yang lainnya.
Arzi digotong oleh para pemain dari timnya menuju UKS. Florisa mengikuti dari belakang.
“Sepertinya benar ada sesuatu antara Arzi dan Chitra.” Beberapa siswa perempuan yang masih berdiri di lapangan mulai mengeluarkan pendapatnya.
“Benar. Lihat bagaimana reaksi Chitra waktu Arzi jatuh tadi? Wah, cemas banget kelihatannya.” Siswa perempuan yang lain ikut menimpali.
Amelie yang berdiri tidak jauh dari posisi siswa kelas XI IPA 1 yang berbicara tadi pun geram menyaksikan adegan antara Florisa dan Arzi.
“Lagi-lagi dia,” gumamnya namun masih bisa di dengar Shelina yang berdiri di sampingnya.
Shelina memegang bahu Amelie untuk menenangkan gadis itu yang tengah menahan amarahnya. Sementara matanya menatap lurus ke punggung Florisa yang semakin menjauh meninggalkan lapangan.
to be continued-
Jangan lupa jempolnya ya, hehe.
Cuplikan episode selanjutnya:
“Arzi, kamu pulangnya gimana?” tanya Florisa.
“Pakai motor.”
“Motor? Benda beroda dua yang banyak terparkir di lapangan parkir sekolah itu?” Florisa baru tahu benda itu bernama sepeda motor kemarin.
“Kamu ga tau apa itu motor?”
“Bukan. Maksudku …, gimana kamu bisa bawa motor dengan kaki seperti itu?”
__ADS_1
“Kamu mengkhawatirkanku?”