
Hari pertama di sekolah Chitra telah berhasil dilalui Florisa. Walau terjadi beberapa hal yang di luar dugaan, setidaknya Florisa dapat mengumpulkan beberapa informasi. Pertama, Shelina dan Sandra yang menjenguknya di rumah sakit, bukanlah teman Chitra. Kedua, Chitra tampaknya memiliki suatu hubungan dengan Arzi. Ketiga, ketua kelas Chitra sepertinya menyembunyikan sesuatu. Keempat, Chitra memiliki hubungan yang buruk dengan teman sekelasnya.
Florisa tak tahu banyak tentang Chitra. Ia hanya tau informasi dasar dan beberapa informasi dari sudut pandang keluarga Chitra.
Chitra adalah anak satu-satunya dari Lilyana, seorang single parent. Orangtua laki-laki Chitra telah meninggalkannya dan Lilyana saat Chitra berusia 6 tahun. Lilyana menolak untuk mengingatkan Chitra yang hilang ingatan— dalam artian lain adalah Florisa— mengenai mantan suaminya. Ia berharap ingatan Chitra tentang sang ayah tidak akan pernah kembali.
Semua benda di rumah yang ditempati Chitra bersama sang ibu dan seorang pembantu tidak satupun yang berhubungan dengan ayah Chitra. Lilyana benar-benar telah menyingkirkan bukti yang menyimpan kenangan tentang ayah dari anaknya itu. Entah apa yang telah diperbuat sang mantan suami sehingga membuat Lilyana berbuat demikian.
Lily hanya memberitahu Florisa tentang rutinitas yang Chitra lakukan dan cerita masa kecil Chitra yang membahagiakan. Lily juga memberitahu Florisa tentang apa saja kesukaan Chitra, namun Florisa mengetahui dari Ani, pembantu di rumah Chitra, bahwa sebagian dari informasi itu tidak benar. Lily tidak benar-benar memahami kesukaan putrinya.
Lilyana merupakan wanita karir yang terlalu sibuk bekerja. Ia menghabiskan sembilan puluh persen waktunya dalam sehari untuk urusan pekerjaannya saja. Florisa tidak mengerti mengapa bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan yang mengelola pusat perbelanjaan bisa sesibuk itu
Ketika bertanya kepada Ani, Florisa hanya mendapat beberapa informasi saja. Menurut Ani, Chitra anak yang baik.
“Dek Chitra tidak banyak tingkah anaknya. Tidak seperti anak orang kaya di tv-tv itu. Jarang minta yang macam-macam. Kalaupun ada hanya sesekali dan itu bisa saya penuhi,” terang Ani ketika Florisa bertanya tentang Chitra.
“Dek Chitra juga anak yang mandiri dan disiplin. Saya banyak terbantu. Saya tidak perlu membersihkan kamar Dek Chitra karena Dek Chitra selalu membersihkannya sendiri,” lanjut Ani dengan penuh semangat.
Florisa berpikir ia tidak perlu tergesa-gesa. Belajar dari pengalamannya, tergesa-gesa hanya akan menimbulkan masalah lebih lanjut. Ia harus mencari aliansi untuk membantunya. Mungkin ia bisa memanfaatkan May. Anak itu terlihat polos. Tapi dia baik juga. Toh membantu Florisa sedikit tak akan merugikan anak itu, kan?
Selama satu hari di sekolah, Florisa menyadari bahwa manusia memiliki alat yang memiliki fungsi agak serupa dengan roalnya. Alat itu dinamakan ponsel pintar. Kata May, semua siswa disini mempunyai benda itu. Kebanyakan manusia modern tidak bisa hidup tanpa ponselnya. Benda itu menyimpan banyak hal, termasuk rahasia.
Florisa telah menanyakan kepada mama Chitra mengenai ponsel Chitra. Menurut Lily, ponsel itu telah rusak saat kejadian itu.
“Mama sudah belikan kamu ponsel baru. Sudah di kamarmu. Kamu tinggal pakai aja,” kata Lily sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
“Terima kasih, Ma. Tapi sepertinya aku butuh sesuatu dari ponsel itu. Mungkin disana ada petunjuk yang dapat membantuku mengingat sesuatu.” Florisa berusaha mendapatkan kembali benda itu.
“Kamu telat ngomongnya. Waktu kamu pulang dari rumah sakit udah mama suruh Ani membuangnya. Mama ga kepikiran itu masih diperlukan.” Lily masih sibuk dengan laptopnya.
“Kalau gitu aku tanya Kak Ani saja deh.” Florisa meninggalkan Lily yang sedang sibuk dengan pekerjaannya dengan ditemani secangkir kopi untuk membantunya terus terjaga.
Florisa berharap ponsel itu masih bisa dilacak jejak keberadaannya. Walaupun kemungkinannya kecil, tapi ia tetap harus mencoba. Didatanginya kamar Ani, seorang gadis usia 25 tahunan yang bekerja di rumah besar Lilyana sebagai pembantu.
__ADS_1
“Kak Ani, ponsel lamaku dimana kakak buang?” tanya Florisa pada Ani yang ternyata sedang membaca buku di kamarnya. Pekerjaannya sudah selesai, jadi ia bisa melakukan aktivitas yang ia senangi di kamarnya.
“Oh, itu. Bu Lily menyuruh saya membuangnya. Tapi karena saya lihat masih bisa digunakan, jadi saya simpan dulu. Nanti pas gajian saya mau service rencananya. Kalau Dek Chitra masih memerlukannya, akan saya kembalikan,” jelas Ani.
Florisa tak bisa menahan rasa senang di hatinya. Kenapa semudah ini? Padahal jika dipikirkan, rasanya sulit untuk melacak jejak benda itu karena sudah berlalu beberapa hari.
“Iya kak, aku memerlukannya,” jawab Florisa.
Ani langsung mengambil ponsel rusak itu yang ia simpan di dalam laci. Benda itu dibungkusnya dalam sebuah kantong kertas yang cukup tebal.
“Terima kasih,” ucap Florisa setelah menerima ponsel rusak Chitra dari Ani. “Oh ya, kakak butuh ponsel pintar juga?”
“Oh tidak, Dek. Saya bermaksud ingin menjualnya. Ya, daripada dibuang begitu saja, kan?” jawab Ani dengan tertawa ringan.
***
Hari kedua di sekolah dimulai seperti kemarin. Florisa diantar oleh supirnya, Pak Kai. Pak Kai ternyata orangnya ramah. Selama perjalanan, Pak Kai selalu menceritakan sesuatu hal kepada Florisa. Ia seperti berusaha agar ingatan orang yang dilayaninya itu bisa kembali. Florisa jadi merasa bersalah sebab ia tengah membohongi orang-orang baik di sekitar Chitra.
Tidak seperti kemarin, hari ini ada seseorang yang berusaha mendekati Florisa. Orang itu adalah Kevin. Sejak kejadian di UKS kemarin, Kevin terlihat berbeda.
“Selamat pagi, Kevin.” Florisa bersikap ramah. Mana tau Kevin dapat memberinya petunjuk.
Kevin dan Florisa menuju ke kelas bersama. Sepanjang perjalanan tentu saja ada banyak pasang mata yang menyaksikan mereka dengan berbisik-bisik.
“Anak-anak disini senang bergosip ya,” batin Florisa.
Saat makan bersama May kemarin, Florisa mengetahui bahwa di sekolah ini terdapat beberapa orang siswa populer yang digilai para gadis. Ada Vian, ketua OSIS yang akan lengser. Ada empat orang anggota band sekolah, yaitu Alan, Arzi, Toni, dan David. Lalu ada Kevin dan Ivan dari tim basket sekolah.
Florisa tidak mempedulikan kepopuleran Kevin. Selagi Kevin bisa memberinya petunjuk, baginya tak masalah mendapat tatapan menyala dari para penggemar itu. Kalau ada dari mereka yang mencari masasalah dengannya, ia hanya perlu melumpuhkan mereka agar tidak mengganggu lagi.
“Besok kita akan ulangan ekonomi. Karena kamu ketinggalan pelajaran waktu itu, jadi aku akan meminjamkanmu catatanku.” Kevin menjanjikan buku catatan ekonominya kepada Florisa begitu tiba di kelas.
“Oh, terima kasih” jawab Florisa santai sambil menaruh tasnya di meja.
__ADS_1
Kevin mengeluarkan buku catatan ekonominya untuk disalin dan dipelajari Florisa. Buku itu bersampul putih. Tulisan di dalamnya terbilang cukup rapi. Tapi tentu saja Florisa tidak mengerti maknanya meskipun ia bisa membacanya.
Florisa mengaktifkan jam tangan serbagunanya. Semalam ia telah membuat panel yang ditampilkan oleh alat ini hanya terlihat oleh pemiliknya. Jadi ia bisa leluasa menggunakan alat ini di tengah kerumunan manusia.
Isi catatan Kevin direkam oleh alat ini. Jadi saat ulangan nanti, Florisa dapat melihat kembali isi catatan. Florisa tak akan susah-susah mencari jawaban yang sesuai secara manual. Dia cukup memindai soal dan alat ini akan mencarikan jawabannya berdasarkan isi catatan. Luar biasa, bukan? Mengingat itu, Florisa jadi senyum-senyum sendiri. Membuat Kevin mengartikan lain makna dibalik senyumannya.
***
Hari ini pelajaran pertama adalah geografi. Geografi untuk kelas XI IPS 1 diajar oleh Pak Agung. Florisa menaruh perhatian lebih untuk pembelajaran ini karena Agung menampilkan video tentang kerusakan flora dan fauna. Florisa sempat terkesima melihat berbagai macam flora dan fauna yang ditampilkan video. Namun ia langsung geram ketika video memperlihatkan kerusakan pada flora dan fauna akibat ulah manusia. Padahal manusia bukan satu-satunya makhluk penghuni bumi, tapi mereka bertindak sesuka hatinya saja. Florisa jadi kasihan kepada makhluk-makluk lain yang harus hidup kesusahan karena manusia yang serakah.
Setelah pembelajaran usai, Pak Agung meninggalkan kelas. Pelajaran selanjutnya adalah matematika bersama Bu Rita. Tapi karena Bu Rita berhalangan hadir, siswa diberikan tugas.
Kali ini Florisa kesulitan lagi karena berhadapan dengan angka-angka yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Berhubung ini hanya latihan, Florisa dengan berani mendekati Kevin. Kevin termasuk siswa top juga bersama dengan Chitra. Jadi Florisa berpikir tak aneh bila Florisa mengajak Kevin bekerjasama untuk mengerjakan tugas ini.
Namun tampaknya beberapa orang di kelas tidak senang melihat itu. Amelie yang duduk di bangku paling belakang juga mendatangi meja Kevin.
“Kenapa kamu mendekati Kevin?” tanya Amelie pada Florisa dengan nada menantang.
Seakan paham yang dimaksud Amelie, Kevin langsung berdiri dan menghentikannya.
“Amel, jika kamu belum selesai, kamu bisa ikut bekerjasama dengan kami,” kata Kevin. Kemudian berbisik kepada Amelie, “Jangan buat keributan di sini!”
Florisa mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh orang-orang ini. “Kenapa dia sensitif sekali? Apa dia cemburu?” Florisa membatin.
to be continued-
Selamat kamu telah berhasil sampai ke episode 12. Terima kasih untukmu yang setia membaca cerita ini.
Jangan lupa jempolnya dimerahkan dulu dong.
Cuplikan episode selanjutnya :
“Sejak itu saya suka merhatiin kakak. Waktu itu kakak benar-benar hebat. Saya tidak tahu persis apa masalahnya. Tapi saya dengar itu berkaitan dengan rumor yang tersebar tentang kakak.” May melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
“Rumor? Rumor apa, May?” Florisa semakin tertarik.