
“Apa yang kamu lakukan disini? Semua orang mencarimu. Dan ada apa dengan pakaianmu?” Suaranya lembut namun nada yang dikeluarkannya cukup menandakan bahwa dia sedang marah.
Florisa juga bukan main terkejutnya. Matanya yang bulat terbelalak menatap lelaki itu. Dia tidak menjawab sampai beberapa saat karena saking terkejutnya.
Laki-laki itu memiliki alis mata yang tebal dan lurus panjang. Matanya tidak besar, namun tatapannya cukup tajam. Hidungnya mancung. Philtrumnya sedikit dalam yang membuat bibir atasnya terlihat berlekuk indah. Dia mirip dengan Elmian. Bahkan suaranya pun serupa.
“Hei, Chitra!” panggilnya dengan nada suara sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
Benar, laki-laki muda itu mengira Florisa adalah Chitra. Ternyata manusia yang mengenal Chitra berusaha mencarinya. Sekejap Florisa merasa miris. Bagaimana bisa mereka tidak berhasil menemukan Chitra semalam? Dan sekarang yang mereka temukan malah bukan Chitra yang sebenarnya.
“Maaf, saya bukan orang yang anda cari.” Florisa langsung menarik jubah yang menutupi kepalanya dan menunduk. Kemudian dia tarik tangan kanannya yang dipegang laki-laki itu dan pergi menjauh dengan cepat. Ia biarkan laki-laki itu bingung sendiri.
Laki-laki muda itu mencoba mengejar Florisa setelah meyakinkan diri bahwa dugaannya tidak salah. Dia yakin itu benar-benar Chitra. Namun Florisa sudah menghilang. Menyisakan tanda tanya bagi laki-laki itu. Bagaimana ia bisa menghilang begitu saja setelah berbelok?
Florisa yang panik melakukan teleportasi ke tempat cincin peraknya berada. Ia panik karena seseorang yang mengenal Chitra bertemu dengannya. Orang itu pasti akan merasa aneh bila nanti dia melihat Chitra yang asli. Chitra yang masih terbaring dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Beruntung di kamar itu hanya ada Chitra. Kondisi yang sama dengan yang ia tinggalkan sebelumnya.
__ADS_1
Florisa memang bisa melakukan teleportasi. Namun ia hanya bisa berteleportasi ke tempat yang ia ketahui dengan jelas ataupun tempat benda khususnya berada. Teleportasi pun bukan hal yang mudah dilakukan karena membutuhkan biaya yang besar. Energi akan terkuras banyak ketika melakukannya. Oleh karena itu, teleportasi dilakukan hanya bila dalam keadaan yang darurat.
Fakta lain yang membuatnya bergegas melakukan teleportasi adalah laki-laki yang ia temui itu mirip dengan Elmian, atasannya. Otaknya masih mencerna tentang yang dilihatnya itu. Laki-laki itu bukan Elmian. Kasusnya sama dengan Florisa dan Chitra. Mereka juga memiliki rupa yang mirip satu sama lainnya. Apa artinya semua ini?
Saat Florisa masih berkutat dengan pikirannya sendiri, nenek pemilik rumah kembali dengan membawa orang-orang. Orang-orang itu ialah guru dan panitia yang bertugas melakukan pencarian terhadap Chitra. Mereka tidak berhasil menemukan Chitra malam itu, maka mereka hubungi kepala desa ini sebagai desa terdekat dari lokasi perkemahan. Mereka berpikir mungkin saja Chitra tersesat atau terluka dan dibantu oleh warga desa ini.
Mendengar langkah kaki yang ramai menaiki tangga rumah panggung ini, Florisa otomatis bersembunyi. Ia bersembunyi di dalam lemari dua pintu yang ternyata tidak berisi. Dari dalam lemari Florisa dapat mendengar apa yang terjadi di ruangan itu. Chitra dibawa dengan ambulans yang telah disiapkan. Orang-orang itu berterima kasih kepada nenek pemilik rumah yang dianggap telah menolong Chitra. Beruntungnya, nenek itu tidak menyinggung sama sekali tentang Florisa.
Chitra dianggap telah jatuh dari tebing akibat kecelakaan tanpa sengaja. Hal itu membuat Florisa menahan amarahnya dari dalam lemari. Ia tahu bahwa ada seseorang yang telah mendorong Chitra hingga jatuh dan berakhir seperti ini. Kejadian itu terjadi di depan matanya. Kenapa tak ada manusia yang berpikiran bahwa Chitra didorong dengan sengaja, bukan terjatuh dengan sendirinya? Florisa frustasi karena dia hanya bisa bersembunyi di dalam lemari, tak bisa memberitahukan kebenarannya. Pada akhirnya, tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk Chitra. Ia serahkan saja masalah itu kepada manusia. Semoga manusia bisa menemukan kebenarannya dan memberikan keadilan pada Chitra.
Ruang tempat Chitra dirawat adalah kamar VIP rumah sakit. Ruangan itu seperti kamar mewah. Ada set sofa, tv, lemari pendingin, lemari pakaian, pendingin ruangan, bahkan kamar mandi di dalam ruangan yang mewah. Desain ruangannya seakan kamar di istana saja. Florisa yang selama satu pekan berkeliaran di jalanan menjalankan misinya terkesima melihat kamar perawatan Chitra. Selama di bumi, yang dia lihat hanya lingkungan desa.
Florisa berteleportasi ke ruang inap Chitra. Dia ingin menemui Chitra untuk melihat kondisi gadis itu. Rupanya yang ia dapati Chitra masih terbaring di tempat tidur. Terlihat sama dengan Chitra satu pekan yang lalu.
Florisa mengaktifkan panel hologramnya untuk memindai dan mengecek kondisi Chitra. Namun baru sampai tahap pemindaian, Florisa merasakan tanda-tanda orang mendekat. Dengan sigap ia bersembunyi di balik dinding kamar mandi, titik buta dari tempat tidur.
__ADS_1
Ternyata yang datang adalah seseorang yang memakai topi dan masker. Tampak mencurigakan bagi Florisa yang mengintip dari tempat persembunyiannya. Orang itu membawa alat suntik kemudian bersiap menyuntikkan sesuatu ke Chitra melalui selang infusnya.
Florisa menyadari Chitra berada dalam bahaya. Sebelum proses injeksi benar-benar selesai, Florisa mengalirkan listrik yang banyak ke lampu di langit-langit kamar ini. Akibatnya bola lampu pecah dan ruangan menjadi remang. Orang itu terkejut karena bola lampu yang pecah tiba-tiba. Dengan panik, dia berlari meninggalkan ruangan. Entah apa yang terjadi padanya setelah itu. Yang jelas, Florisa berhasil menghalangi usahanya yang mencurigakan.
Florisa berlari menuju tempat tidur dan melepaskan selang yang terpasang di tangan kiri Chitra. Ia cek kondisi Chitra dengan alat yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Beruntung cairan itu belum sampai masuk ke tubuh Chitra. Florisa merasa lega.
Setelah melalui kehidupan di bumi selama satu pekan dan melihat kondisi Chitra, Florisa terpikirkan sesuatu. “Bagaimana jika aku menggantikan Chitra?” pikirnya. Sebab tak punya identitas di bumi, Florisa kesulitan melacak jejak Vojiro. Satu pekan ini ia habiskan hanya berkeliaran di jalanan. Ia butuh kuasa untuk melakukan sesuatu. Ia butuh manusia lain untuk membantunya. Paling tidak, memberikan informasi.
Di lain sisi, nyawa Chitra dalam bahaya. Sepertinya ada orang yang tidak senang bila Chitra hidup. Ia pun masih butuh waktu untuk benar-benar pulih. Sepertinya Chitra tak akan rugi apa-apa bila Florisa menggantikannya untuk sementara. Florisa akan merawatnya sampai ia pulih benar. Florisa juga akan mencari keadilan untuk Chitra. Florisa memastikan orang yang berusaha membunuh gadis itu akan menerima balasan atas perbuatannya.
“Ya, itu lebih baik. Aku akan menjadi Chitra untuk sementara.” Florisa bertekad dalam hati.
_________________________________
Bila kamu menyukai cerita ini, sila dimerahkan jempolnya.
__ADS_1
Ku nantikan komentarmu sebelum meninggalkan episode ini.