Florisa: Gadis Dari Langit Malam

Florisa: Gadis Dari Langit Malam
Episode 3 -Chitra yang Hilang-


__ADS_3

“Bertahanlah!” ucap Florisa dengan lirih.


Florisa memegang tangan kiri gadis itu dengan tangan kanannya. Tangan kirinya diletakkan di dada kiri gadis itu. Ia menyasar jantungnya dan kemudian menyuntikkan energi penyembuhan ke jantung itu. Dengan energi penyembuhan itu, Florisa berharap jantung si gadis mendapat kekuatan untuk bekerja dengan normal kembali.


Satu menit pertama, tak ada perubahan. Menit berikutnya pun begitu. Dirasakannya jantung gadis itu, masih berdetak. Tapi tak ada yang berubah. Luka-luka disekujur tubuhnya masih merah, matanya masih terpejam.


Florisa mengaktifkan jam tangannya. Semacam sinar biru dari jam tangannya memindai tubuh gadis yang terbaring dengan menyedihkan itu. Kemudian tampillah panel hologram di depan Florisa. Layar itu menampilkan beberapa informasi mengenai tubuh yang telah dipindainya. Tubuh itu adalah tubuh manusia yang diberi nama Chitra Purnama. Usianya 17 tahun.


“Usianya sama denganku.” Florisa terkejut menemukan fakta lain yang menunjukkan kesamaan  mereka. Namun Florisa langsung menyadarkan dirinya untuk fokus pada tujuan awal memindai tubuh ini. Ia bermaksud untuk mendapatkan informasi kesehatan Chitra setelah ia berikan suntikan energi sebelumnya.


Pada layar itu dinyatakan bahwa Chitra memiliki 25% energi kehidupan yang terdapat dalam tubuhnya. Jantungnya masih berdetak, organ tubuh lainnya masih bekerja. Luka-luka luarnya masih menganga namun pendarahan sudah terhenti. Meskipun begitu, ia belum bisa untuk sadarkan diri.


“Hah” Florisa menghela napas. “Setidaknya healing dariku bekerja mempertahankan kerja organ dalamnya.” Florisa merasa sedikit lega.


“Jika ku tinggalkan saja dia disini, apa itu tidak masalah?” Florisa bertanya pada diri sendiri. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia pun tak ingin ikut campur dengan urusan manusia. Tujuannya di sini hanya untuk menangkap Vojiro.


“Tapi.” Florisa menoleh pada Chitra yang membatu. Seperti ada yang berat baginya untuk meninggalkan gadis itu. “Akan ku temani dia disini sampai manusia lain menemukannya.”


Florisa mengistirahatkan tubuhnya dengan bersandar pada sebuah pohon besar. Agak dua meter jaraknya dari posisi Chitra. Setelah memberikan pertolongan pada Chitra tadi, Florisa merasa sedikit lelah.

__ADS_1


“Ternyata kemampuan penyembuhanku masih lemah,” ujar Florisa sambil menatap telapak tangan kiri yang diangkatnya ke udara. Florisa dikenal kuat untuk bertarung. Namun kemampuan penyembuhannya masih di bawah rata-rata. Florisa merasa cukup sedih mengetahui fakta itu. Dia sudah berlatih keras untuk meningkatkan kemampuan penyembuhannya beberapa bulan terakhir.


“Ah, mungkin karena dia manusia. Aku jadi butuh banyak energi untuk memberikan penyembuhan padanya.” Florisa menghibur diri dengan kata-kata itu. Setelah menghela napas agak panjang, Florisa memejamkan matanya. Tubuhnya terasa letih. Fakta bahwa ia terjebak di bumi saja sudah melelahkan pikiran dan batinnya. Akhirnya, Florisa tertidur dengan posisi duduk bersandar pada pohon.


Sementara itu, di lokasi perkemahan SMA Harapan, para siswa bersiap-siap untuk beristirahat di tenda masing-masing. Orang-orang yang berkerumun di dekat pancuran air untuk menggosok gigi dan mencuci wajah satu persatu kembali ke tendanya. Beberapa sudah ada yang di tenda. Ada yang langsung tidur dan ada pula yang sedang memakai perawatan kulit sebelum tidur sambil berbincang-bincang. Diantara semua itu, Shelina tampak gelisah di tendanya.


“Guys, Chitra kok belum balik ya?” tanya Shelina yang ditujukan kepada dua orang penghuni tenda yang sama. Pertanyaan itu membuat Amelie dan Sandra otomatis melayangkan pandangan ke tempat tidur Chitra seharusnya.


“Lagi nyuci muka kali,” balas Amelie dengan santainya sembari mengaplikasikan serum mawar ke wajahnya.


“Tapi pouch sabunnya disini.” Sandra membuktikan kesalahan pada perkiraan Amelie dengan menunjuk pouch biru yang terletak di atas tas Chitra.


“Mungkin masih meratapi nasib di luar. Kalian ga perlu khawatir,” jawab Amelie acuh sambil menepuk-nepuk wajahnya setelah mengaplikasikan serum mawar.


 “Kalau sudah begini, kita lapor aja ke Pak Agung. Jangan ke Elisa. Dia hanya akan menambah masalah,” ucap Sandra dengan keseriusan. “Kamu yang lapor, Lin. Kamu kan ketuanya.”


Shelina bergegas keluar tenda untuk memberikan laporan mengenai Chitra. Ternyata di luar tenda telah ada seseorang yang ingin mengunjungi tenda mereka. Seorang gadis dengan kacamata bulat. Di tangannya telah siap buku catatan dan pena.


“Mau kemana kamu?” tanyanya pada Shelina dengan garang. Shelina cukup kesal dengan pertanyaan gadis itu karena dibarengi ekspresi wajah yang seolah menantang. Sepertinya gadis itu tak butuh jawaban atas pertanyaan tadi karena  belum sempat Shelina menjawab dia melanjutkan, “Aku ingin ambil absen. Panggil anggotamu!” perintahnya.

__ADS_1


Elisa, nama gadis itu, adalah wakil ketua OSIS yang menjadi panitia pada kegiatan perkemahan ini. Elisa sangat menjunjung tinggi senioritas dan sifatnya yang senang mengatur dikenal seantero sekolah. Kalau bukan karena ketua OSIS yang tampan menjadi pasangan politiknya, dia pasti tak akan berada pada posisi sekarang.


Shelina panik mendengar perintah menggelegar seniornya itu. Elisa tak akan membiarkannya bila tahu Chitra menghilang. Alasannya Shelina lalai dalam menjaga anggota kelompoknya sendiri.


“Hei, aku suruh panggil anggotamu keluar.” Elisa mengulangi perintahnya karena Shelina tidak memberikan respon apa-apa.


“Satu anggota kami belum kembali,” lapor Shelina dengan gugup.


“Apa?” Elisa terkejut dengan laporan Shelina. “Kemana dia?” lanjutnya dengan sedikit amarah.


Elisa sendiri adalah orang yang taat aturan. Ditambah dengan sifat yang suka mendominasi, dia sangat tidak senang bila ada orang —apalagi juniornya— melanggar peraturan. Harusnya semua peserta perkemahan sudah di tenda masing-masing sekarang. Tapi berani-beraninya ada peserta yang masih belum kembali.


“Kami tak ada yang tau kemana dia. Aku keluar mau laporin ini,” jawab Shelina.


Sesuai dugaan Shelina dan Sandra, Elisa memarahi Shelina panjang kali lebar. Anak itu kuat bicara tanpa henti dengan urat leher menonjol untuk memarahi seseorang. Namun pada akhirnya, masalah Chitra yang belum kembali meski sudah larut malam disampaikan juga kepada guru-guru.


Setelah semua peserta dipastikan sudah di tenda masing-masing, guru-guru dan panitia melakukan diskusi darurat. Diskusi ini membicarakan mengenai hilangnya Chitra. Chitra diketahui terlihat terakhir kali setelah makan malam bersama. Seluruh peserta perkemahan mengaku tidak lagi melihat Chitra setelah itu. Dari waktu makan malam hingga laporan masuk sudah berlalu 3 jam. Maka diputuskan beberapa orang dari guru dan panitia untuk melakukan pencarian terhadap Chitra.


_______________________________

__ADS_1


Jika kamu suka, merahkan jempolmu untuk episode ini.


Sebelum beralih ke episode berikutnya, yuk komen dulu!


__ADS_2