
Kamar Chitra penuh dengan nuansa putih dan biru. Tempat tidurnya cukup besar dengan seprai biru langit. Di dekat jendela terdapat rak buku besar yang hampir memenuhi bagian dinding. Rak buku itu terdiri dari berbagai macam jenis buku. Ada buku fiksi dan non-fiksi, mulai dari yang tipis hingga yang setebal tembok. Chitra tampaknya rajin membaca dan belajar. Pantas dia menjadi siswa terbaik di kelasnya.
Florisa sudah memindai sebagian dari buku-buku Chitra ini. Dengan begitu, ia tak akan kesusahan ketika ujian nantinya. Chitra pun tak perlu khawatirkan nilainya turun saat Florisa menggantikannya.
“Aku orangnya penuh perhitungan.” Florisa memuji dirinya sendiri.
Florisa juga sudah mencoba memeriksa seluruh isi kamar Chitra untuk mencari petunjuk. Tapi ia tidak menemukan sesuatu apapun yang tampak seperti petunjuk. Yang paling mencurigakan tampaknya hanya laptop yang tersimpan rapi di dalam laci meja belajar. Florisa bukan tidak bisa menghidupkannya, bukan pula tidak bisa mengoperasikannya. Alat yang melingkar di pergelangan tangan kirinya memiliki cara pengoperasian yang mirip dengan laptop. Ia hanya tidak tahu kata sandi benda itu. Dan ia juga tidak tahu bahwa ia bisa meminta bantuan untuk membuka kata sandinya.
Florisa mengambil ponsel baru yang diterimanya dari mama Chitra kemarin. Ponsel itu memiliki layar yang cukup lebar. Florisa terus saja memandangi layar ponsel itu. Ia mengharapkan panggilan dari seseorang. Sudah sejak dua jam yang lalu ia menantikan panggilan dari Arzi. Tapi laki-laki itu tidak juga kunjung menelpon. Apa dia lupa dengan janjinya?
Jam digital yang terletak di atas meja belajar sudah menampilkan angka 21:20. Florisa mulai lelah menunggu panggilan Arzi yang tak kunjung datang.
Florisa melemparkan badannya ke kasur empuk Chitra. Ia pandangi langit-langit kamar yang dihiasi lukisan langit berbintang. Pikirannya mulai menerawang pada kilas perjalanannya di bumi.
Secara garis besar, bumi dan pafanor tidak berbeda terlalu jauh. Pafanor juga memiliki tumbuhan beragam jenis serta hewan beragam bentuk. Jenis dan bentuknya lah yang memiliki sedikit perbedaan dengan yang ada di bumi. Misalnya dedaunan di pafanor umumnya berwarna ungu sedangkan di bumi umumnya daun berwana hijau.
Setelah Chitra dibawa ke rumah sakit di kota, Florisa berkelana dari titik mula di rumah Nenek Sani. Florisa yang telah menyadari bahwa ia tengah berada di daerah asing, bergerak dengan penuh kehati-hatian. Ia telah mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang biasa dikenakan manusia. Pakaian itu didapatnya dari ‘meminjam’ pakaian warga desa yang terjemur di halaman rumah.
__ADS_1
Florisa melanjutkan perjalanannya yang sempat tersendat dikarenakan pertemuan dengan Arzi. Masa perjalanannya itu ia gunakan untuk mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan bumi. Sempat ia terkejut ketika melihat sepeda motor melaju dengan kencang di jalan raya. Benda seperti sepeda motor itu tidak ada di tempat asalnya. Bangsa neomus biasa menggunakan transportasi seperti mobil yang digerakkan dengan kekuatan hewan yang super cepat. Tentu saja hewan itu tidak ada di bumi.
Florisa kembali tersadar dari lamunannya. Ia menghela nafas.
“Bagaimana bisa aku berada di sini sekarang?” gumam Florisa setelah mengenang perjalanannya ketika pertama kali tiba di bumi.
Sudah hampir 10 hari hitungan bumi ia terpisah dari keluarga sebangsanya. Ia tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang dicintainya untuk waktu yang tidak pasti. Entah sampai kapan ia harus berada di bumi? Mengingat itu, tanpa sadar air mata telah berkumpul di pelupuk matanya. Lama kelamaan air itu mencapai sudut mata dan menetes mendekati telinga.
Ia merindukan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu yang tentu saja khawatir bila anak gadisnya tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Ayah dan ibu yang selalu menasihatinya agar tidak berlebihan belajar dan bekerja. Ibu yang selalu mengelus rambutnya ketika ia menangis karena beban belajar yang terasa berat. Ayah yang selalu mengantarnya ke akademi setiap semester baru dimulai.
Sejak ia lulus dari akademi dan bekerja sebagai anggota pasukan keamanan, ia baru bertemu dengan orangtuanya beberapa kali. Hanya ketika libur panjang ia bisa pulang ke kampung halamannya dan membawakan hadiah untuk kedua orangtuanya.
Hari-hari yang dilalui di bumi sebagai Florisa—makhluk asing— dan sebagai Chitra menguras banyak energinya. Banyak hal yang harus ia kerjakan. Mencari kebenaran kecelakaan Chitra, menyembuhkan Chitra, mencari jejak Vojiro dan menangkapnya. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk itu? Florisa terus memikirkan hal itu hingga ia lelah dan tertidur dengan ponsel digenggamannya.
Lily masih dengan pakaian dinasnya masuk ke kamar Chitra setelah Florisa terlelap. Didapatinya Florisa yang tertidur dengan posisi yang tidak benar. Kakinya masih setengah menggantung di ujung tempat tidur. Dengan susah payah Lily berusaha memperbaiki posisi tidur Florisa dengan tanpa membangunkannya. Kemudian ia ambil selimut yang tersimpan di lemari dan menyelimuti Florisa dengan itu.
Lily memandangi wajah Florisa yang terlelap. Ia teringat kejadian selama Chitra terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ia bukan tidak melakukan apa-apa ketika mendengar kabar buruk yang menimpa putrinya.
__ADS_1
Setelah mendapat telpon dari wali kelas Chitra, Lily yang saat itu sedang di luar kota untuk urusan bisnis buru-buru kembali. Ia baru tiba ketika Chitra sudah dibawa ke rumah sakit. Menurut pihak sekolah, Chitra jatuh karena kecelakaan. Mereka berjanji akan mengusut masalah ini secepatnya dan berharap Lily tidak melibatkan kepolisian maupun media.
“Bagaimana mungkin? Anak saya terluka saat dalam acara sekolah,” protes Lily tak terima dengan permintaan itu.
“Bu Lily, Kami tidak berlepas diri dari tanggung jawab kami. Kita bisa selesaikan dengan baik-baik. Bukankah kami juga pernah menutupi kasus kekerasan yang diperbuat Chitra? Kami sempat mendapat komplain dari wali murid yang lainnya karena masalah waktu itu. Ini demi kebaikan kita bersama,” balas wakil kepala sekolah.
Sempat terjadi perdebatan di antara Lily dan pihak sekolah. Namun Lily akhirnya mengalah.
“Baiklah. Namun bila Chitra tidak bangun sampai minggu depan, saya tak ada pilihan selain melaporkan ini. Karena kita tidak bisa bandingkan kasus itu dengan kasus ini,” tegas Lily. Maka terjadilah kesepakatan antara Lily dan wakil kepala sekolah yang ditemani beberapa orang lainnya dari pihak sekolah di cafe dekat rumah sakit.
Lily pun sebenarnya tak ingin melibatkan banyak pihak. Ia tahu hal itu akan merepotkannya. Namun ia tak ada pilihan lain selain menuntut pihak sekolah atas kelalaian mereka bila Chitra tidak juga sadarkan diri.
Beruntung, lima hari kemudian Chitra terbangun dari komanya. Sedih bercampur senang perasaan Lily ketika mendengar bahwa Chitra kehilangan ingatan. Sedih karena putrinya harus melupakan sementara kenangan indahnya. Senang karena Chitra dapat melupakan kenangan buruknya. Bahkan ia berharap Chitra tak mendapatkan kembali ingatan yang berisi kenangan buruk itu. Namun perasaan senang lebih dominan ketika ia dikenali oleh Chitra yang hilang ingatan—yang diperankan Florisa.
“Aku sempat sedih dan panik ketika dokter menyatakan kamu hilang ingatan. Aku takut kamu melupakan aku sebagai ibumu. Memang aku bukan ibu yang baik. Tapi sangat sakit rasanya memikirkan putri sendiri tidak mengenaliku sebagai ibunya. Namun semua perasaan itu hilang ketika kamu langsung mengenaliku. Mama janji akan membuat kamu hanya mengingat hal-hal yang bahagia, Chitra,” batin Lily sambil membelai rambut Florisa.
***
__ADS_1
Gulungan awan putih tersebar di bawah langit merah muda terang. Di bawah langit berawan, terhampar paadang rumbut kecoklatan. Di hamparan rumput kecoklatan, tegaklah sebuah pohon besar dengan dedaunan yang berwarna ungu muda. Florisa termenung mengamati pohon itu. Kemudian ia amati pula lingkungan di sekitarnya. Lingkungan yang biasa ia temui di tempat asalnya.
“Apa aku kembali?”