
Dimalam yang dingin dan sunyi terlihat sesosok lelaki tengah memapah seorang wanita dengan sangat hati-hati. Mereka merupakan suami istri bernama Robby Orchido dan Liby Orchido. Ditengah deruan angin kencang samar-samar terdengar suara rintihan menyakitkan keluar dari mulut wanita itu.
“Bertahanlah sebentar lagi Liby.” Ucap lelaki itu mencoba menguatkan istrinya yang merintih kesakitan, Ia merasa kasihan pada istri yang begitu Ia cintai, lelaki itu pun berdoa agar rasa sakit yang dirasakan istrinya dipindahkan saja ke dirinya.
Istrinya terlihat sangat kelelahan dan tidak memiliki tenaga lagi untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan. Dia menyerah, karena sudah tidak sanggup lagi untuk melangkahkan kedua kakinya yang terasa berat dan kaku. Liby menjatuhkan dirinya ke aspal yang dingin karena masih tersisa sedikit salju dari bekas pembersihan jalan.
Terlihat jelas raut kepedihan dan kecemasan terpancar dari wajah Robby. Ia mencoba untuk menguatkan istrinya dengan kata-kata yang membangun untuk kesekian kalinya, namun tidak ada gunanya. Robby mulai merasa tidak dapat melakukan apa-apa lagi, sampai akhirnya dia melihat ke samping jalan.
Ada rumah yang cukup besar berdiri kokoh di sana, Robby mulai menimbang-nimbang untuk meminta bantuan dan memohon agar tuan rumah mau mengizinkan istrinya melahirkan di sana. Ia tampak ragu namun ketika istrinya berteriak kesakitan lagi, Robby menghilangkan pikiran ragu-ragu itu, dengan segera Robby berlari dan menggedor pintu rumah tersebut dengan membabi buta.
Suara ketukan yang menggema dan membabi buta seakan orang yang mengetuk itu ingin merubuhkan pintu yang terpasang kokoh membuat pemilik rumah dengan segera bangkit dari sofanya yang nyaman dan berlari ke ruang kerjanya mengambil sebilah pedang samurai. Tak lama kemudian terdengar suara dari balik pintu, suara meminta tolong yang dibarengi dengan isakan tangis disela-sela tiap kalimatnya. Tanpa pikir panjang sang pemilik rumah melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukakannya.
Robby segera berbicara ”Ku mohon—tolong—istriku, dia sedang hamil dan akan segera melahirkan. Aku yakin kami tidak akan mampu mencapai rumah sakit yang ada di ujung jalan ini. Aku mohon,” Robby menunjuk istrinya yang sedang berada di tengah jalan sambil menjelaskan penderitaan mereka. Tanpa bertanya lebih lanjut pemilik rumah itu segera berteriak memanggil kedua anaknya, ”Leon! Argon! Cepat turun bantu ayah mengangkat seorang wanita hamil.”
Segera setelah ia berteriak memanggil kedua anaknya, ia berlari bersama dengan Robby menuju Liby yang terduduk tak berdaya menahan rasa sakit dan aspal yang dingin bagaikan sebongkah es batu. Selang beberapa detik kedua anak lelaki itu terlihat berlari dari dalam rumah menuju ke arah Robby dan istrinya berada sekarang. Dengan hati-hati mereka berlima mengangkat Liby masuk ke dalam rumah dan membaringkannya ke tempat tidur yang ada di kamar terdekat dari pintu masuk.
”Apa yang terjadi??” Tanya seorang wanita ketika melihat ke kamar yang penuh dengan orang mengelilingi kasur ”Astaga, apakah wanita itu akan melahirkan?” Tambahnya saat melihat Liby terbaring di tempat tidur.
__ADS_1
”Hu’um, sekarang tugasmu sayang. Selesaikan dengan rapi ya.” Jawab suaminya dengan lembut dan mengedipkan matanya.
”Maaf, tapi apakah istri anda bisa membantu orang yang akan melahirkan?” Tanya Robby sedikit bingung
”Ya, tentu saja... nah mari kita keluar dan membiarkan istriku bekerja sendiri. Ayo anak-anak.” Lelaki itu berjalan menuju ke arah pintu ”Lho, kenapa anda masih di sini? Ayo keluar, biarkan istriku yang menyelesaikannya. Dia tidak suka kalau ada yang menemani saat sedang bekerja. Mari.” Lanjutnya dengan merangkul bahu Robby dan membimbingnya keluar dari kamar.
”Tapi aku ingin menemani istriku...” Ujar Robby kecewa begitu dia berada di luar kamar.
”Tenanglah, istrimu akan baik-baik saja di dalam sana. Oh ya, kita belum berkenalan namaku Moldern Wolfram, yang di dalam tadi istriku namanya Shelina Wolfram dan kedua bocah ini Leon Wolfram and Argon wolfram.”
Tiba-tiba terdengar suara balita dari lantai dua, ”Ah, itu anak ketigaku dia baru berumur 3 tahun namanya Anton wolfram. Sepertinya dia terbangun aku akan memeriksanya dulu.” Jelas Moldern, kemudian pergi meninggalkan Robby bersama dengan kedua anaknya.
Tidak lama berselang terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar tempat Liby melahirkan. Rona kebahagian mencuat dari wajah Robby. Tanpa dia sadari air matanya telah meleleh dengan derasnya membasahi bibirnya yang kering karena begitu tegang menanti kabar dari Nyonya Wolfram di dalam sana.
Robby mengetuk pintu ”Maaf, bolehkah aku melihatnya?” Dengan tangan mencoba memutar knop pintu.
”Maaf, tapi bisakah anda menunggu sebentar? Dan tolong panggilkan suamiku.” Jawabnya dengan nada sedikit bergetar.
__ADS_1
Robby tidak merasa heran dan curiga dengan suara Nyonya Wolfram yang bergetar seperti sedang ketakutan, ia segera berlari ke arah tangga yang berada tepat di depan sofa yang ada di ruang keluarga. Robby segera memanggil-manggil nama Tuan Wolfram dengan lantang dan menggebu-gebu seolah-olah Ia baru saja mendapatkan tangkapan ikan yang sangat besar setelah menunggu berhari-hari.
Tuan Wolfram menuruni tangga dengan menggendong anaknya yang sedang Ia usahakan untuk ditidurkan kembali. Setelah mendengar penjelasan Robby, Tuan Wolfram memberikan Anton ke tangan Leon yang merupakan anak tertua dikeluarga Wolfram. Ia masuk ke dalam kamar sendirian, karena Ia tahu ini pasti sebuah masalah hingga istrinya memanggil seperti ini.
”Ada apa?” Tanya Tuan Wolfram begitu memasuki kamar.
”Sayang, lihat ini,” Nyonya Wolfram menunjukkan tanda lahir berbentuk naga kembar yang melingkar dan di dalam lingkaran terdapat sebuah gambar kunci yang melekat pada lengan bagian atas si bayi, ”Bukankah ini tanda—”
”Tanda pembebasan milik seorang putri.” Ujar Tuan Wolfram dengan nada tidak percaya saat melanjutkan kalimat milik istrinya.
”Dan lihat ini...” Lanjut Nyonya Wolfram saat berganti menggendong bayi satunya.” Ini tanda yang sangat terkutuk, naga kembar yang bentuk kepalanya seperti ular melingkar dengan berlawanan arah, dan di dalam lingkarannya terdapat gambar gembok yang terantai kuat.” Lanjutnya dengan rasa ketakutan yang sulit untuk dijelaskan.
”Apa-apaan ini kenapa dia melahirkan anak kembar yang memiliki tanda berbeda, tanda pembebasan yang berarti kepahlawanan dan tanda penguncian yang berarti penghancuran, kita tidak bisa membiarkan ini. Kita harus membunuh bayi laki-laki ini sebelum terjadi hal yang membahayakan dunia kita!” Seru Tuan Wolfram serius dan tanpa basa basi ia membuka laci meja yang ada di samping tempat tidur.
Ia mengambil Pisau kecil yang disimpan dalam laci meja tersebut, hanya untuk berjaga-jaga― . Ia mengarahkan pisau yang sedang dipegang ke bayi laki-laki yang sedang digendong Nonya Wolfram. Saat pisau itu melayang tepat di atas jantung bayi laki-laki tersebut, tiba-tiba saja ada tenaga yang menghantam Tuan Wolfram sehingga ia terpental dengan jarak 1 meter dan membentur dinding bercat merah darah.
”Sayang!” teriak Nyonya Wolfram yang terkejut melihat suaminya terpental tidak berdaya ke sudut ruangan.
__ADS_1