
Perasaan gelisah sangat terlihat jelas dari gelagat Nyonya Wolfram sejak malam hari. Ia ingin malam itu segera berubah menjadi pagi hari dan ia pun dapat bertemu dengan Tuan Wolfram sesegera mungkin. Perasaan senang, gelisah, khawatir dan sedih pun bercampur aduk menjadi satu, hingga membuat Nyonya Wolfram tidak dapat tidur. Ia pun memutuskan untuk memanfaatkan keadaannya yang tidak dapat tidur itu dengan membuatkan kue kesukaan Tuan Wolfram meskipun sudah banyak makanan yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan para tim pencari.
Nyonya Wolfram membuat kue dengan hati yang tenang seperti tidak ada sedikitpun pikiran yang mengganggu, bahkan sampai menolak bantuan dari para koki. Tiga jam sudah Nyonya Wolfram berkutat dengan adonan kue dan vla-vla yang akan dijadikan hiasan pada kuenya nanti, dengan wajah berbinar ia mengeluarkan kue-kue spongelude ―nama yang diberikan oleh Tuan Wolfram― dari dalam oven. Vla, kismis,dan parutan kulit jeruk ditaburkan pada bagian atas kue spongelude tersebut dan selesai sudah kue kesukaan Tuan Wolfram.
Pagi hari pun telah tiba, dengan tidak sabar Nyonya Wolfram yang ditemani oleh Liby, dan kedua anaknya menanti kedatangan Tuan Wolfram di depan gerbang istana, sedangkan Anton ditinggal di dalam kamar bersama dengan Karin dan dijaga oleh Mera. Nyonya Wolfram mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki agar terlihat lebih cantik ketika nanti bertemu dengan suaminya. Waktu terus berjalan, tak terasa pagi hari telah berganti dengan siang yang panasnya sangat menyengat, namun sosok suaminya belum juga tampak. Perasaan cemas mulai menghantui hatinya.
“Bagaimana ini, kenapa Ayah kalian belum juga nampak batang hidungnya.” Menghadap ke Leon dan Argon dengan wajah cemas dan panik.
Leon mengelus-elus lengan Ibunya itu mencoba untuk menenangkan. “Tenanglah Bu, paling sebentar lagi Ayah akan ti―” Ia mengehentikan perkataannya saat melihat siluet seseorang. “Lihat Bu, ada seseorang di sana.” Ungkapnya dengan menunjuk sosok yang tepat berada di ujung gang menuju Istana.
Seseorang yang dilihat Leon itu berjalan tertatih-tatih dengan kondisi tangan kanan memegang tangan kirinya yang terlihat terayun-ayun sangat lemah dan tampak terlihat seperti mulai bagian siku sampai bawahnya hilang.
Nyonya Wolfram melihat dengan seksama sesosok itu. Ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan betapa terkejutnya Ia. Sesosok itu semakin terlihat jelas dan bisa dipastikan itu adalah suaminya ― Tuan Wolfram ―, tak ayal air mata Nyonya Wolfram langsung mengalir dengan derasnya membasahi pipinya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Ia menangis dengan sejadi-jadinya begitu tersadar dengan keadaan suaminya yang benar-benar sangat mengenaskan. Ia bahkan tidak mampu untuk menginjakkan kakinya lagi di tanah. Tangan dan bibirnya gemetaran berusaha untuk tidak mempercayai apa yang sedang ia lihat sekarang.
__ADS_1
Liby dan Leon segera berlari menghampiri Tuan Wolfram dan membantunya agar segera sampai di Istana. Anton yang umurnya masih 10 tahun saat melihat keadaan Ayahnya seperti itu hanya bisa menangis dengan keras dan berlari sekencang-kencangnya untuk segera memeluk Ayah tercintanya.
“Argon, apa kau sangat rindu dengan Ayah?” Tanya tuan Wolfram dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“―” Argon tidak menjawab pertanyaan Ayahnya. Tangisannya justru semakin menjadi-jadi. Tuan wolfram hanya terdiam dan memeluk Argon dengan segenap tenaga yang masih tersisa.
Liby tak sanggup lagi untuk menahan air matanya saat melihat Argon yang menangis sambil memeluk dan menyumpal kepalanya di perut Tuan Wolfram. Hati Liby pun ikut tersayat ketika melihat keadaan Tuan Wolfram yang sangat mengenaskan, namun dalam hatinya ia tetap bersyukur Tuan Wolfram masih hidup meskipun dengan keadaan yang sangat-sangat memprihatinkan. Tangan kirinya terputus, darah segar masih terus keluar dari bagian tangannya yang masih tersisa. Bekas darah masih tampak terlihat dibibir bagian kanan serta lebam disebagian muka dan tangan kanannya yang mulai membiru.
Nyonya Wolfram berusaha mengumpulkan segala tenaganya dan berbicara pada dirinya sendiri agar kakinya mampu berdiri dengan tegap sebelum Tuan Wolfram sampai dihadapannya, Ia tidak ingin melihat Tuan Wolfram semakin merasa sedih begitu melihat dirinya yang begitu terpuruk hingga tidak sanggup untuk berdiri. Begitu gigihnya ia sampai akhirnya benar-benar bisa berdiri dengan tegap. Begitu Tuan Wolfram sampai dihadapannya Nyonya Wolfram tanpa pikir panjang lagi langsung memeluk suaminya yang saat ini sedang tidak berdaya. Ia memeluk Tuan Wolfram dengan sangat kencang dan dibarengi dengan isak tangis yang tidak kalah keras dengan pelukannya.
“Sudahlah sayang, jangan menangis aku kan tidak apa-apa.” Kata Tuan Wolfram.
“Tidak apa-apa bagaimana?? Apa kau tidak sadar dengan keadaanmu sekarang?” Balas Nyonya Wolfram dengan mata merah melotot.
__ADS_1
“Setidaknya aku masih bisa bernafas dan berdiri disini, dihadapanmu.” Ucap Tuan Wolfram membalas amukan Istrinya dengan tenang dan tentu saja senyuman maut meskipun dengan penuh luka.
Nyonya Wolfram hanya bisa menghela nafas panjang dan menyeka air matanya, Ia tidak ingin melanjutkan perdebatan yang tidak akan Ia menangkan. “Sudah kau jangan banyak bicara dulu, sebaiknya kita segera menangani luka-lukamu ini sebelum terjadi infeksi.” Lanjutnya segera setelah ia melepaskan tangannya dari pinggang tuan wolfram.
Belum ada semenit Nyonya Wolfram menghentikan pembicaraan, tiba-tiba saja Tuan Wolfram kehilangan kesadaran dan badannya terjatuh menyentuh kerasnya beton jalan. Rupanya tuan wolfram telah menggunakan seluruh tenaga yang masih tersisa demi bisa melihat dan tidak membuat keluarganya merasa khawatir.
“Ayaaahhhhhh….” Argon begitu panik, Ia berteriak dan air matanya semakin deras mengalir keluar dari pelupuk matanya membanjiri baju yang dikenakan Tuan Wolfram.
Leon dengan sigap mengangkat kepala Ayahnya dan meletakkan di pahanya. Perlahan Ia menepuk pipi Ayahnya dengan terus memanggil-manggil namanya. Sedangkan Liby berlari ke penjaga gerbang dan meminta mereka untuk segera memanggil pengawal serta dokter Kerajaan.
Nyonya Wolfram mematung untuk sesaat, dan saat dirinya telah sadar kembali, Ia segera mencoba menyelamatkan suaminya dengan membuat lingkungan sekitar mereka menjadi hangat dan saat tangannya menyentuh urat nadi suaminya, Ia menyadari bahwa detak jantung Tuan Wolfram sangat lemah dan semakin menghilang. Nyonya Wolfram kemudian menggunakan sihirnya untuk memberikan kejutan pada jantung Tuan Wolfram agar denyut jantungnya bisa kembali berdetak.
Nyonya Wolfram mulai merasa frustasi, Ia melepaskan sihirnya dan mulai memeluk suaminya dengan sangat erat. Ia menangis sejadi-jadinya dengan tangan terus memukul-mukul dada Tuan Wolfram.
__ADS_1
Liby yang menyaksikan kejadian itu tak bisa menahan emosinya lagi, saking terkejutnya, tanpa Liby sadari badannya mulai terkulai lemah, kakinya tak mampu berpijak dan kesadarannya pun mulai hilang.
...----------------...