Fortune Teller

Fortune Teller
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak Tuan Wolfram memasuki masa kritis dimana jantungnya sempat berhenti berdetak, sampai sekarang ia belum juga sadarkan diri, meskipun belum sadarkan diri keadaan Tuan Wolfram kini sudah lebih baik dari sebelumnya.


Nyonya Wolfram selalu berada disamping Tuan Wolfram selama ia dirawat, bahkan selama itu pula Nyonya Wolfram tidak pernah tertidur, ia selalu tersadar dan menyeka setiap keringat yang keluar dari tubuh Tuan Wolfram.


“Bagaimana keadaan Tuan Wolfram sekarang?” Tanya Liby begitu masuk ke ruang perawatan.


“Ia sudah lebih baik. Demamnya sudah mulai turun, kita tinggal menunggu dia tersadar saja, ” jawab Nyonya Wolfram dengan wajah tersenyum penuh harapan. “Begitu ia tersadar kita bisa tahu apakah tangan barunya bisa digunakan.” Lanjutnya ketika melihat ke arah tangan kiri Tuan Wolfram dan menahan air matanya yang ingin mengalir keluar.


Liby mengangguk. “Ya, dan kita juga bisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya beserta tim pencari ketika berada di daerah Sukmatch.”


“Entahlah aku rasa kita jangan menanyakan itu dulu, mungkin suamiku butuh waktu untuk menceritakannya”.


“Baiklah kalau anda ingin seperti itu, kita tunggu saja sampai Tuan Wolfram mau bercerita. ”


Liby pun meminta izin kepada Nyonya Wolfram untuk melihat keadaan Karin. Begitu tangan Liby memegang ganggang pintu untuk keluar dari ruang perawatan, Nyonya Wolfram berteriak memanggil-manggil Liby. Ia segera bangun dari kursi yang tadi ia duduki dan berlari menghampiri Liby, kemudian menariknya ke tempat Tuan Wolfram terbaring.


“Apa anda lihat? Anda lihat kan?? Tangannya.... tangannya bergerak... tangannya bergerak Putri. ” Nyonya Wolfram segera menggenggam erat tangan suaminya “Sayang, sadarlah, aku mohon, ” air mata Nyonya Wolfram meleleh membasahi pipi hingga bibirnya yang kering karena seharian belum makan dan minum. Ia mengelus lembut pipi suaminya, membelai rambutnya, mengecup keningnya. Air mata Nyonya Wolfram membasahi wajah suaminya saat ia mengecup lembut keningnya.

__ADS_1


Berkat air mata nyonya wolfram yang terjatuh dipelupuk mata suaminya, tiba-tiba saja kelopak mata tuan wolfram terbuka dengan perlahan. Pertama kali terbuka bola matanya yang berwarna biru, sebiru langit langsung melihat wajah istrinya yang tampak lelah, dengan mata yang sembab dan terlihat jelas lingkaran hitam dikelopak matanya.


Para dokter Istana pun datang, dan mengecek kondisi Tuan Wolfram. Mereka menyatakan bahwa tidak ada kelainan pada diri Tuan Wolfram, dia bahkan sudah mampu menggerakkan tangan barunya.


“Sa....sayang.. akhirnya― akhirnya kau sadar juga. ” Air mata Nyonya Wolfram mengalir begitu mendengar penjelasan dari dokter.


“Mengapa kau menangis?”


“Bodoh, siapa yang tidak akan menangis kalau melihat orang yang paling disayangi akhirnya membuka mata setelah dua minggu tinggal dalam dunia bawah sadarnya?”


“Wah ternyata aku tidak sadarkan diri selama itu ya? Aku hebat juga ya sayang?” balas Tuan Wolfram mencoba bercanda untuk mengubah suasana jadi lebih ceria.


“Aku tahu itu, makanya aku berusaha untuk membuatmu setidaknya tersenyum simpul saat mendengar perkataanku tadi, tapi ternyata kau malah makin kesal. Yah aku memang tidak cocok jadi seorang komedian.” Ungkapnya dengan mengela nafas panjang dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya.


“Sudahlah kalian berdua jangan bertengkar. Paman, selamat datang kembali, bagaimana perasaan anda saat ini? Apa masih terasa sakit?” Tanya Liby menyela perbincangan pasangan suami istri ini.


“Oho ternyata ada Putri, terima kasih atas ucapannya. Aku merasa lebih sehat dari dua minggu yang lalu bahkan aku sudah memiliki tangan lagi. Lihatlah tangan ini bahkan lebih keren dari tangan asli ku” ungkapnya sambil menggerak-gerakkan dan memandangi tangan barunya. “eh tapi anda baru saja memanggilku Paman bukan?”

__ADS_1


“Iya, aku memutuskan mulai hari ini akan memanggil kalian Paman dan Bibi, karena kalian berdua sudah aku anggap keluarga kandungku sendiri.”


Tuan dan Nyonya Wolfram memjawabnya secara bersamaan “Benarkah?” Saling menatap satu sama lain, kemudian tertawa. “Kami sangat senang kalau Anda memutuskan untuk memanggil kami dengan Paman dan Bibi, ” ujar Tuan Wolfram yang juga mewakili perasaan senang istrinya.


“Syukurlah Paman, Bibi. Oia Paman, tangan itu dibuat khusus oleh pandai besi ternama di Sovelam Tuan Cahyo―”


“Waow jadi yang membuat tanganku ini teman lamaku Cahyo, nanti begitu aku keluar dari tempat ini dan telah sepenuhnya pulih aku akan segera menemuinya dan mengucapkan terima kasih, ” katanya dengan senyum lebar.


“Ide yang bagus, baiklah kalau begitu aku pamit dulu silahkan kalian berdua berlovey dovey-an. Aku tidak akan mengganggu kalian. ” Ujar Liby saat mentoel pinggang Nyonya Wolfram dan mengedipkan matanya dengan jail. “daaah, ” lanjutnya saat sudah keluar dari pintu dan membukanya lagi hanya untuk menggoda Tuan dan Nyonya Wolfram.


Pasangan Wolfram tertawa dengan lepas begitu Liby benar-benar keluar dari ruang perawatan. Mereka merasa terhibur dengan tingkah Liby yang sebetulnya sudah tidak sesuai lagi dengan umurnya yang sebentar lagi akan menginjak 28 tahun dan sudah menjadi seorang ibu. Tingkahnya yang kelewat hiperaktif seperti anak berumur 10 tahun itu sering membuat Ratu merasa risih. Namun mau diapakan lagi, karena Liby merasa nyaman dengan dirinya yang seperti itu, seluruh penghuni Istana mulai menyesuaikan diri dan mulai bisa menerimanya. Untungnya yang seperti umur 10 tahun hanya tingkahnya saja, kalau saja pemikiran dan sifatnya tidak sesuai dengan umurnya juga, maka Liby akan dikirim untuk pelatihan kepribadian dengan guru Yolan yang dikenal sangat disiplin dan tidak segan-segan menghukum muridnya jika melakukan kesalahan. Guru Yolan sendiri tinggal di daerah Rothschildi, daerah yang sangat jauh dari Sovelam. Kalau Liby benar-benar dikirim ke sana Ia harus rela meninggalkan Karin diasuh oleh Ibunya sampai dia bisa merubah prilakunya.


...***...


Leon memapah Ayahnya keluar dari ruang perawatan. Akhirnya lelaki yang mengenakan jas putih dengan stetoskop di kalungkan pada lehernya mengizinkan Tuan Wolfram untuk keluar dari rumah sakit istana. Argon membawa sebuah kantong kertas yang bagian atasnya telah ditutup rapat agar obat di dalamnya tidak jatuh ketika dibawa. Leon, dan Argon segera membawa Ayahnya ke dalam kamar begitu mereka sampai di dalam istana, agar Ayahnya dapat beristirahat lagi. Meskipun dokter sudah mengizinkan Tuan wolfram untuk pulang, tapi kondisinya masih belum sehat betul. Wajahnya masih sedikit pucat, untuk berjalan saja masih harus dipapah. Dokter meminta Tuan Wolfram untuk tetap kontrol kepadanya selama 2 minggu kedepan sampai dirinya dipastikan sehat seratus persen.


“Selamat kembali Ayah.” ucap Argon begitu membukakan pintu kamar tidur, kemudian memeluk Ayahnya dengan erat.

__ADS_1


“Ehey, ada apa dengan anak Ayah yang satu ini? Apa kau sangat bersyukur Ayah telah pulih kembali?”


Tanpa mengeluarkan suara Argon mengangguk dengan sangat kencang dan lebih mengeratkan pelukannya. Leon yang berdiri di samping Ayahnya melakukan hal yang sama dengan Argon, ia memeluk bahu Ayahnya dan menitikkan air mata penuh syukur karena Ayahnya masih diberi kesempatan untuk hidup dan berkumpul dengan mereka. Nyonya Wolfram yang menggendong Anton pun ikut memeluk suami tercintanya, sedangkan Argon yang masih polos dan tidak mengerti apa-apa hanya memainkan rambut Ayahnya dengan gembira.


__ADS_2