
Nyonya Wolfram berlari-lari kecil menuju sebuah ruangan berukuran 5 x 6 meter yang berada di koridor 3 yang lumayan jauh dari Aula Istana. Ia bergegas memasuki ruangan itu dan berkata, “Apa Mera, Yasmin, Yasni dan Tania ada di sini?”
“Mereka sedang pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur besok.” Jawab lelaki kurus yang mengenakan pakaian koki berwarna putih dengan celemek berwarna hitam yang mengikat kuat diperutnya.
“Baiklah, kalau mereka kembali, tolong segera suruh menemuiku di taman Istana.” Ucapnya dengan sedikit kecewa dan berlalu meninggalkan dapur Istana.
Satu setengah jam pun berlalu, akhirnya para pelayan yang ditanyakan Nyonya Wolfram datang menemuinya. Nyonya Wolfram yang menunggu mereka dari tadi merasa sedikit kesal karena Nyonya Wolfram memang bukan tipe wanita yang suka menunggu.
“Astaga, akhirnya kalian datang juga, apa yang membuat kalian sampai menghabiskan banyak waktu hanya untuk belanja di pasar yang dekat dari Istana?” tanya Nyonya Wolfram dengan wajah yang masam.
Mera merasa tidak takut sedikitpun dengan wajah masamnya Nyonya Wolfram, sehingga hanya dia yang berani menjawab pertanyaan itu. “Maaf Nyonya, Putri Liby tadi pagi tiba-tiba saja ingin makan teripang sebagai lauk makan siangnya, sayangnya para penjual telah kehabisan teripang jadi kami terpaksa harus pergi ke pantai dan membeli dari penduduk di pesisir pantainya langsung”
“Kau kan pengasuh Karin, untuk apa ikut pergi dengan mereka?”
“Hamba paling tahu tentang teripang, jadi Putri Liby meminta langsung kepada hamba untuk pergi mencarikan teripang untuknya.”
__ADS_1
“Ya sudah lah, yang penting sekarang kalian dengarkan aku baik-baik. Aku ingin kalian mempersiapkan perjamuan untuk menyambut tim pencari yang akan kembali besok pagi. Aku juga ingin kalian membersihkan seluruh Istana, agar begitu mereka memasuki Istana mereka akan merasa nyaman”
Keempat dayang menjawab dengan serempak, “Baik Nyonya.”
Mereka meninggalkan Nyonya Wolfram sendirian di taman. Antara percaya dan tidak percaya dengan penglihatannya, sekilas saat Mera membalikkan badannya untuk kembali ke dalam istana, Nyonya Wolfram melihat Mera tersenyum dengan pandangan yang begitu jahat seakan ada setan yang sedang merasukinya. Ia membeku untuk sementara mencoba untuk menganggap dirinya tidak pernah melihat aura jahat dari Mera itu.
***
Yasmin, salah satu pelayan mengeluh ketika mereka bersantai sejenak di ruang peristirahatan. “Membersihkan seluruh bagian Istana? Apa Nyonya itu sudah tidak waras dengan menyuruh kita melakukan tugas yang seharusnya milik tukang kebersihan?! Lagi pula apa dia tidak tahu betapa luasnya Istana ini?”
“Sudahlah kalian berdua jangan mengeluh saja, kalau kalian tidak ingin melakukan tugas ini biarkan aku saja yang mengerjakannya.” Mera menawarkan diri.
“Kau ingin terlihat paling menonjol di mata Nyonya Wolfram dan Tuan Putri ya? Kau pikir kami tidak tahu sifatmu seperti apa?” Ucap Tania.
“Bukan, aku hanya merasa bersalah saja karena tadi tidak terpikir untuk menentang perintah bersih-bersih itu, dan aku juga tidak terlalu bisa membantu kalau dalam hal masak-memasak takutnya nanti aku justru hanya membuat masalah untuk kalian, jadi lebih baik urusan bersih-bersih biar aku saja yang tangani kalian tangani bagian memasaknya.”
__ADS_1
Ketiga pelayan yang tadinya menentang akhirnya menyetujui ide Mera itu, kalau nanti Nyonya Wolfram mengeluh karena tugas bersih-bersih hanya dikerjakan oleh satu orang, mereka akan mempunyai alasan yang bisa membela diri mereka.
Yasmin menatap dengan tatapan sinis sambil berkata, "Baiklah kalau itu yang kau mau Mera. " Ia menghela nafas, dan mendekat ke arah Mera. "Tapi kalau sampai kau tidak bisa menyelesaikan pekerjaanmu, jangan sampai kau membawa-bawa ataupun melimpahkan kesalahanmu kepada kami. " Tambahnya dengan tetap sinis pada Mera dan jari telunjuknya menyentuh Mera.
Senyum merekah pada bibir merahnya saat mendengar perkataan Yasmin. "Tenang saja, hal itu tidak akan pernah terjadi. " Jawab Mera dengan tenang dan melepaskan jari telunjuk Yasmin dari badannya. "Kalau begitu aku permisi dulu, aku akan melihat Putri Karin, karena daritadi pagi sudah aku tinggalkan ke pasar. " Tanpa berpikir lagi Mera segera meninggalkan ketiga temannya itu menuju kamar Putri Liby.
Waktu berlalu dengan cepat ketika Mera bersama dengan Karin. Kini sudah saatnya Ia melakukan tugas yang diberikan oleh Nyonya Wolfram. Ia pun bergegas kembali ke kamar tidurnya kemudian mengambil sebuah pena dan beberapa kertas kosong lalu memasukkannya ke dalam kantong celemek yang ia kenakan.
Mera mulai menyusuri lorong yang memiliki dinding begitu tinggi kira-kira sekitar 4 meter dan terpasang hiasan tempat lilin dengan desain sangat unik serta cukup kokoh dengan jarak berdekatan.Terangnya lilin yang menyala menunjukkan bahwa malam akan segera tiba. Tanpa membawa peralatan bersih-bersih Mera mengelilingi tiap sudut istana. Perlahan namun pasti Mera berjalan dengan mata tajam yang menyusuri tiap detail bagian kastil.
Entah apa yang sedang Mera lakukan, ia mencatat dan membuat sketsa dari tiap bagian yang ia lewati dan ia lihat. Sketsa yang Mera buat sangat lengkap mulai dari tinggi tembok sampai lubang sekecil apapun tak terlewatkan olehnya. Begitu selesai membuat sebuah catatan dan sketsa dari tiap bagian istana, ia menggunakan sihir untuk membersihkan istana hingga terlihat seperti baru saja dibangun.
***
Suara langkah kaki lagi-lagi terdengar tengah melewati lorong kastil. Langkah yang pelan dan terdengar sayup-sayup itu melewati tiap bagian kastil hingga akhirnya sampai di taman istana. Sebuah siulan pun terdengar, beberapa saat kemudian seekor burung rajawali datang menghampiri sesosok dengan tinggi yang lumayan itu. Dia menaruh sesuatu di kaki kiri burung rajawali tersebut kemudian melepaskannya.
__ADS_1
Dibagian lain sesosok hantu transparan bernama Samir tengah menyaksikan apa yang terjadi di taman istana itu. Ia begitu tercengang karena baru pertama kali melihat orang mengirimkan sesuatu lewat burung rajawali. Sempat terbersit dipikirannya untuk menghampiri lelaki yang berwajah lumayan tampan dan berambut hitam segelapnya langit di malam hari itu, namun ia mengurungkan niatnya karena sebagian dari dirinya merasa sangat janggal dengan kelakuan yang ditunjukkan oleh lelaki itu. Ia berpikir sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya kalo ia mendekati apa lagi sampai menegur lelaki misterius itu. Ia semakin bingung lagi ketika melihat lelaki itu masuk ke dalam istana, sebelumnya tidak pernah ada lelaki dengan wajah seperti itu yang tinggal di dalam istana. Sebenarnya siapa lelaki itu mengapa ia bisa sampai masuk ke dalam istana, akhirnya ia memutuskan untuk memberitahukan kejadian malam itu kepada Ratu ataupun Putri pada keesokan harinya.