
Keesokan harinya terjadi sesuatu hal yang membuat Nyonya Wolfram langsung membelalakkan matanya, dan dengan segera memunculkan tongkat serta memasang kuda-kuda siap bertempur saat berpapasan dengan seorang wanita di lorong kamar.
”Ka...kau siapa? Bagaimana bisa masuk ke rumah kami?” tanya Nyonya Wolfram dengan sedikit rasa takut yang menyelubungi hatinya.
Wanita dihadapannya itu berusaha untuk menahan tawanya. Kemudian Ia berjalan mendekati Nyonya Wolfram dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
”Jangan mendekat!! Atau aku akan benar-benar menyihirmu!” Serunya dengan mata yang masih tetap melotot.
”Tenanglah Nyonya Wolfram, ini aku Liby―”
Belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya Nyonya Wolfram sudah memutusnya. “Kau berbohong! Cepat katakan sebenarnya kau siapa?!” Nyonya Wolfram melangkahkan kakinya ke belakang berusaha untuk menjaga jarak dari wanita itu.
“Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut!” Seru Tuan Wolfram yang baru saja keluar dari kamar karena kenyamanan tidurnya telah terusik oleh suara-suara keras di depan kamarnya. “Lho? Nyonya Orchido eh maksudku Putri liby, anda telah kembali ke wajah asli?” Lanjutnya saat melihat seorang wanita berdiri di depan istrinya.
“Putri?” Nyonya Wolfram tidak percaya dan meregangkan kuda-kudanya menjadi lebih santai. “Ini wajah asli dari Nyonya Orchido?” Lanjutnya.
“Iya, dari tadi aku berusaha untuk menjelaskannya pada anda, tapi―” Liby menghentikan kalimatnya karena tidak bisa menahan tawanya saat melihat ekspresi ketidak percayaan Nyonya Wolfram .
Nyonya Wolfram merasa sangat malu dengan tingkahnya tadi, ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya dan tak sanggup mengeluarkan kata-kata yang bisa membelanya.
__ADS_1
Liby berhenti tertawa begitu melihat Nyonya wolfram yang benar-benar malu. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuat anda malu,” ungkapnya dengan penuh penyesalan dan menyatukan kedua telapak tangannya untuk minta maaf. “Respon anda benar, karena kita memang harus selalu waspada. Kita tidak tahu kapan musuh akan menyerang seperti beberapa hari yang―” Liby menghentikan kalimatnya saat mengingat kejadian penculikan suami dan anaknya, dan butiran-butiran air matanya pun terjun bebas ke dasar lantai kayu.
“Sudahlah Putri, kita masih punya kesempatan untuk merebut kembali suami dan anakmu. Kita akan dibantu oleh ayahanda Putri, aku yakin kita pasti akan berhasil.” Ucap Nyonya Wolfram berusaha menenangkan Putri Liby
“Hahaa.. iya aku tahu, aku hanya berakting saja, lihat anda sudah tidak malu lagi kan Nyonya Wolfram?” Kata Liby dengan wajah jahil, dan berusaha menyembunyikan rasa kesedihan yang muncul agar tidak ada yang mengkhawatirkannya lagi.
“Astaga benar juga rasa maluku sudah hilang.” Jawab Nyonya Wolfram dengan tawa yang lepas.
Tuan Wolfram memecah tawa kedua wanita yang ia sayangi itu ”Apa anda telah siap Putri?”
Dengan senyum yang begitu bahagia Liby menjawab, ”Tentu saja, ayo kita berangkat” Liby mengajak pasangan Wolfram untuk turun. ”Ah, tapi sebelum berangkat kita makan dulu ya, aku lapar.” Lanjutnya tiba-tiba saat berhenti berjalan.
”Apa Putri tidak akan kembali ke wajah yang dikenali oleh suami anda lagi?” Tanya Tuan Wolfram tiba-tiba saat ia dan Liby duduk di meja makan.
Liby sempat memikirkan pertanyaan Tuan Wolfram, ia terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Tuan Wolfram karena ia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Liby kembali ke wajah aslinya agar orangtuanya bisa mengenali dirinya tapi ia tidak memikirkan kalau saja nanti saat di perjalanan mereka tidak sengaja bertemu dengan Robby dan menyelamatkannya, apa Robby akan percaya kalau Liby yang sekarang adalah istrinya.
”Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya untuk sementara aku akan menggunakan wajah asli.” Jawab Liby dengan penuh keyakinan diri. ”Kalau memang dalam perjalanan kita beruntung karena tidak sengaja bertemu dengan suamiku, aku tidak akan menyesalinya, bukankah ada kalian di sampingku, Robby pasti mengenaliku karena ada kalian dan juga Karin.” Lanjut Liby dengan pandangan menerawang ke halaman belakang, membayangkan bila keberuntungan itu benar-benar terjadi, meskipun sangat kecil kemungkinannya.
Mata Liby yang putih bersih bagaikan salju sedikit demi sedikit berubah menjadi merah. Air mata menggenang di sekitar pelupuk matanya, memaksa untuk mengalir keluar menuju pipi Liby yang halus bagaikan kulit seorang bayi yang baru lahir. ”Maaf, permisi aku ke kamar mandi sebentar.” Ucap Liby ketika tidak mampu lagi menahan aliran deras air matanya. ”Mengapa aku jadi cengeng begini...” Ungkapnya pada dirinya sendiri saat bercermin di atas washtaffel tempat Liby mencuci muka. ”Aku harus kuat, Robby dan Karf pasti baik-baik saja karena Robby adalah Pangeran dari Klan Kurtof dan Karf adalah anaknya.”
__ADS_1
Setelah merasa benar-benar tenang, Liby keluar dari kamar mandi dan kembali ke meja makan untuk menyantap makanan yang telah disiapkan oleh Nyonya Wolfram. Terlihat kursi di meja makan hampir terisi penuh karena Argon dan Leon telah bergabung dengan Tuan Wolfram. Liby melihat kursi disebelah ia duduk, kursi itu kosong sekosong pandangannya sekarang. Ia mengingat hari-hari kebersamaannya dengan Robby serta keluarga Wolfram di meja makan ini, kursi yang saat ini kosong adalah tempat dimana Robby biasa duduk, memakan dengan lahap semua masakan yang telah di siapkan oleh dirinya dan Nyonya Wolfram.
”Putri.....” panggil Leon berusaha menyadarkan lamunan Liby. Tapi Liby tidak menjawab sama sekali ia masih saja melamun ”Nyonya Orchido.....” lanjut Leon dengan mengibaskan tangannya di depan mata Liby.
”Ah... iya? Ada apa Leon?” Tanya Liby begitu tersadar.
”Dari tadi aku bertanya, apa putri ingin minum jus melon yang aku buat ini?” Jawabnya dengan menyodorkan blender di atas gelas Liby.
”Oh tentu saja, melon adalah buah kesukaanku.” Ungkapnya dengan antusias mengangkat gelas untuk mempermudah Leon menuangkan jus tersebut.
Suara hati Liby pun berbicara, Ia berusaha untuk menyadarkan Liby dan memberikan semangat. ”Ah apa yang telah kau lakukan Liby, dari tadi kau melamun sampai Leon pun tidak kau pedulikan. Bukankah kau telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak merasa sedih dan mengingat sesuatu hal yang menyangkut Robby dan Karf agar kau tidak merasa sedih lagi. Kalau kau seperti ini terus, bisa-bisa kesadaranmu akan hilang dan akhirnya kau jadi seperti beberapa hari yang lalu saat kau benar-benar merasa terpuruk, atau bahkan lebih ekstrimnya lagi bisa-bisa kau jadi gila, dan Karin akan benar-benar kehilangan sosok seorang ibu.” Setelah mendengarkan kata hatinya, Liby pun kembali bangkit, ia mengumpulkan semangatnya dan mencari bahan pembicaraan agar tidak mengingat Robby dan Karf lagi.
”Nah sesuai kesepakatan kita Leon, Argon dan Anton akan ikut ke kerajaan tempat aku tinggal, nanti aku akan memberikan tur gratis keliling istana.”
”Asiikkk... aku dari dulu ingin sekali ke sana, terima kasih putri.” Kata Argon dengan wajah berbinar-binar.
“Tapi kalian harus berjanji ke Ayah, jangan sampai tepisah dari rombongan dan jangan melakukan hal-hal aneh selama perjalanan.” Ucap Tuan wolfram
“Siap Komandan!” Jawab Leon dan Argon berbarengan
__ADS_1