Fortune Teller

Fortune Teller
Penantian


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, kini Karin telah tumbuh besar. Ia mulai bisa berjalan menggunakan kedua kakinya, dan berlari kesana-kemari tiada henti. Pada akhirnya sesuatu yang sangat Liby cemaskan pun tejadi. Karin mulai menanyakan keberadaan ayahnya―menyebut-nyebut kata Ayah―. Liby tidak mungkin menceritakan kejadian 2 tahun yang lalu itu pada Karin yang masih anak-anak, Liby juga merasa dirinya belum siap untuk mengingat kembali kejadian itu.


Liby memutuskan untuk mengarang sebuah cerita kalau ayahnya sedang pergi berkelana dan sampai sekarang tidak ada kabarnya. Bahkan Liby pun tidak memberitahukan tentang keberadaan Karf─kembaran Karin─ kepada Karin, selain itu Liby juga meminta kepada semua orang yang mengetahui tentang kejadian sebenarnya untuk menutup mulut rapat-rapat agar Karin tidak mengetahuinya.


Dua tahun sudah waktu berlalu. Selama ini Liby mengisi hari-harinya dengan merawat dan memperhatikan pertumbuhan Karin. Tapi ia tidak pernah melupakan suami dan anaknya, bagaimanapun mereka berdua adalah orang yang sangat Liby cintai. Hampir setiap hari Liby meluangkan waktunya untuk berjalan berkeliling Sovelam dengan menggunakan wajah Liby Orchido, dan berharap ada kemungkinan ia tidak sengaja akan bertemu dengan suaminya.


Liby telah meminta pada Ayahnya untuk memerintahkan beberapa prajurit dan orang yang terpercaya untuk mencari tahu keberadaan Robby dan Karf saat ini. Tanpa disangka Tuan Wolfram mengajukan diri untuk menjadi ketua dalam tugas pencarian itu, Liby sempat menolak hal itu karena Liby tidak ingin terjadi suatu hal yang buruk pada Tuan Wolfram orang yang sangat ia kagumi itu. Tapi Tuan Wolfram tetap kekeh pada pendiriannya dan tidak mau mendengarkan permintaan Liby.


“Anda pasti sangat merindukannya kan Nyonya Wolfram?” Ucap Liby memecah kesunyian


“Iya, aku sangat merindukannya. ” Ucap Nyonya Wolfram dengan pandangan kosong. “Aku harap dia baik-baik saja dan segera kembali kemari, ” lanjutnya.


Liby merasa sangat bersalah pada Nyonya Wolfram. Ia berharap Tuan Wolfram muncul saat ini juga dan membawa kabar yang menggembirakan. Liby tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa pada Tuan Wolfram karena Ia telah menganggap Tuan Wolfram sebagai pamannya sendiri, dan Liby juga tidak ingin melihat Nyonya Wolfram sedih apalagi kalau sampai mengalami hal yang sama dengannya, terpuruk berhari-hari, tidak mau makan, tidak peduli dengan anak. Itu adalah hal yang sangat mengerikan kalau sampai terulang lagi.


Kira-kira sudah setahun sejak dimulainya pencarian, beberapa Minggu setelah keberangkatan selalu ada burung elang yang hinggap di jendela kamar Liby dengan kertas yang terikat kencang di kakinya. Elang itu membawa pesan yang dikirim oleh Tuan Wolfram dan pasukannya. Tapi entah mengapa sudah dua Minggu tidak ada Elang yang hinggap membawa pesan.


Hal ini semakin membuat Liby cemas, segala hal negatif bermunculan silih berganti bermain dengan mudahnya di pikiran Liby. Pikiran itu sangat mengganggu, bahkan Ratu sering memergoki Liby sedang menjambak rambut dan memukul-mukul kepalanya ketika ingin menghilangkan pikiran jelek itu.


“Putri...” Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari balik pintu dan membuat Liby kaget.


“Ooh, Mera mari masuk,” ucapnya dengan gembira. “Kau ini membuat aku kaget saja, aku kira tadi hantu istana yang sedang usil. ”


Dunia sihir memang tidak jauh-jauh dari yang namanya hantu transparan yang hampir kasat mata. Mereka ada di mana-mana dan suka bertingkah sesuka hati mereka, kadang kelakuan mereka membuat para penyihir kesal dan akhirnya menyihir mereka jadi patung batu yang akan normal kembali setelah 5 tahun berlalu kecuali orang yang menyihirnya melepaskan mantra itu sendiri.


Sebetulnya para penyihir tidak ingin melakukan hal itu tapi kelakuan dan keusilan para hantu yang telah melampaui batas kewajaran suka membuat para penyihir habis kesabaran. Di Kastil sendiri ada enam hantu , yang pertama hantu koki wanita, ia begitu setia dengan raja dan ratu sehingga ketika dia meninggal, arwahnya tidak mau menghilang dari dapur, kini pekerjaannya adalah memukuli kepala tiap pelayan dan koki bila mereka melakukan sebuah kesalahan.

__ADS_1


Kedua; hantu yang ada di kebun istana, dia meninggal saat perang antar Klan terjadi, dan saat itu dia meninggalkan istri yang sedang mengandung anaknya. Karena ingin melihat kelahiran anaknya, arwahnya tidak mau menghilang dan akhirnya dia tetap tinggal di istana meskipun anaknya telah lahir.


Ketiga dan keempat merupakan hantu kakak beradik hansen dan hoston, mereka berdua meninggal karena sakit yang tidak dapat disembuhkan bahkan oleh dokter sihir sekalipun. Mereka berdua merupakan hantu yang paling usil yang ada di kastil, tapi seberapa pun usilnya, para penghuni kastil tidak pernah menyihir mereka, karena bagaimanapun mereka berdua hanyalah anak kecil yang tidak pernah merasakan masa bermain dengan anak seumuran mereka.


Kelima, hantu panglima perang yang bernama Salim, Ia meninggal saat terjadi peperangan antara Klan Sirkon dan Klan Kurtof saat sedang melindungi Ratu.


Hantu terakhir adalah hantu kakek moyang klan sirkon, jadi hantu ini adalah kakek dari Raja Lawren.


“Maaf mengganggu putri, tapi sekarang sudah waktunya Karin tidur siang”


“Oh, baiklah kalau begitu Mera...” Liby menyerahkan Karin kepada Mera untuk di bawa ke kamar tidurnya.


“Apa kau melihat Ibundaku?”


“Ratu sedang duduk di halaman belakang Putri”


Perlahan-lahan tapi pasti Liby berjalan mendekati bangku yang sedang diduduki oleh ibunya “Dor” diucapkan dengan suara yang keras.


Tak ayal buku yang sedang dibaca oleh Ratu terbuang begitu saja ke tanah dan membuatnya terus mengelus-elus dadanya karena terkejut. Tanpa memperdulikan status dan kedudukannya, Ratu Rose pun mengejar Liby yang begitu melihat ekspresi kesal ibunya langsung lari menjauh. Sudah lama Liby tidak menjaili ibundanya, karena itulah saat Ratu Rose mengejarnya karena kesal, Liby sangat menikmatinya dan berlari dengan hati yang gembira.


“Akhirnya tertangkap juga kau anak bandel, ” dengan tawa yang keras Ratu Rose merasa sangat puas karena telah berhasil menangkap Liby.


“Sudah ah bu, aku capek. " Ungkap Liby dengan nafas yang terengah-engah


“Untung ibumu ini tidak punya penyakit jantung, coba kalau punya pasti sekarang kau sedang menangis. ”

__ADS_1


“Iya iya, maaf bu. ”


Setelah beberapa menit mereka menikmati pemandangan langit yang dipenuhi oleh awan-awan dengan bentuk yang bermacam-macam, Liby pun mulai berbicara serius. Ia merasa pikirannya sekarang sangat penuh dengan orang-orang yang pergi tidak ada kabarnya. Ia merasa sangat bersalah dengan kejadian yang telah terjadi, ia menyalahkan dirinya sendiri karena merengek minta kepada ayahnya untuk membuat grup pencari Robby dan Karf.


Ia merasa sangat bersalah dengan Nyonya Wolfram karena telah mengirim suaminya ―Tuan Wolfram ― untuk berhadapan dengan Zarkon dan orang-orang yang tidak diketahui lainnya yang mungkin kekuatannya melebihi Tuan Wolfram. Tanpa disadari Liby mulai menangis, kali ini ia benar-benar penuh dengan pikiran khawatir, pikiran negatif selalu bermunculan silih berganti tentang mereka yang sangat Liby sayangi.


“Putri.... Lihy.. puhii Liby” terdengar suara teriakan dengan nada yang terengah-engah dari seorang perempuan setengah baya yang berlarian dengan membawa secarik kertas.


Ratu Rose yang sedang menenangkan putrinya, begitu mendengar ada suara yang memanggil-manggil dengan nada yang menggebu-gebu dan sudah tidak jelas lagi bahasanya langsung membalikkan kepalanya mengarah ke sumber suara “Anda kenapa Nyonya Wolfram?” tanya Ratu masih dengan raut wajah yang terheran-heran


Rupanya wanita setengah baya itu adalah Nyonya Wolfram yang berlari luntang lantung tak tentu arah begitu mendapatkan surat dari burung elang yang hinggap di jendela kamarnya. Wajah cerah dan gembira terpancar dari mimiknya, dan terlihat juga matanya yang sedikit sembab. Dengan tergesa-gesa ia menceritakan bagaimana terkejutnya saat burung elang tiba-tiba mematuk kaca jendela di kamarnya. Hatinya begitu berdegub kencang saat ia melihat ada sebuah gulungan terikat dengan kuat di kakinya. Ia mengambil gulungan itu dan membuka ikatan kencang yang rupanya telah diberi mantra agar hanya Nyonya wolfram yang bisa membukanya.


Nyonya Wolfram membaca isi dari kertas yang baru saja terbuka ikatannya itu dengan senyum lebar dan hati yang meluap-luap kegembiraannya. Ia membaca dengan seksama dan terlihat begitu meresapi isi dari kata demi kata yang tertulis di dalam kertas tersebut, bahkan Ia membacanya tidak hanya sekali tapi berkali-kali sampai akhirnya ia puas dan mulai berlari keluar dari kamar mencari keberadaan sang Putri untuk memberitahukan kambar gembira yang baru saja ia terima.


Dengan tidak sabaran Liby mulai membuka mulutnya “jadi, apa isi suratnya??” dengan mata yang membelalak lebih besar dari sebelumnya dan tangan yang dari tadi ia katupkan bersama bermain-main dengan gugupnya.


Nyonya Wolfram yang melihat gelagat tidak sabaran Putri jadi merasa sedikit tersinggung karena putri tidak bisa mengerti perasaan senangnya saat menceritakan bagaimana ia mendapatkan surat dari suaminya. Dengan wajah yang sedikit masam ia membuka gulungan kertas yang dari tadi ia pegang dengan erat dan membacakan isi dari surat itu.


“Untuk istriku... Maaf karena aku baru sempat mengirimimu surat, keadaan kami baik-baik saja, saat ini kami tengah berada di daerah Sukmatch kau tahu kan daerah ini sudah tidak jauh dari Sovelam, aku perkirakan kami akan sampai di kerajaan dua hari lagi saat matahari mulai bersinar. Tolong sampaikan pada Putri Liby, kami akan segera kembali dan membawakan sesuatu yang akan mengejutkannya. Itu saja yang dapat aku tulis dikertas kecil nan lusuh ini, doakan kami semoga tidak ada halangan dalam perjalanan kembali ke Sovelam. Salam sayang dari suamimu tercinta Moldern Wolfram.”


Perasaan penasaran muncul dalam diri Liby saat Nyonya Wolfram membacakan pesan dari Tuan Wolfram untuknya. Pikiran-pikiran aneh pun mulai bermunculan kembali dalam kepala Liby, pikirannya berulang kali memunculkan kata “mengejutkan” yang disebutkan oleh Tuan Wolfram.


Berita apa yang akan membuatnya terkejut, apa mereka telah berhasil membawa kembali Karf? Atau menemukan kalau keadaan Robby―Aln witch― baik-baik saja dan Tuan Wolfram sempat berbincang dengannya? Atau kah berita tentang kematian salah satu dari orang yang ia sayangi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu saja yang sedari tadi muncul di benaknya.


Ia merasa sangat takut kalau berita yang dibawa Tuan Wolfram adalah berita kematian, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kalau sampai berita seperti itu yang ia terima.

__ADS_1


“Akhirnya Putri, Ratu, suamiku akan kembali dalam dua hari kedepan, ” ungkap Nyonya Wolfram dengan muka yang begitu cerah dan senyum menyeringai sambil menggenggam kedua tangan Liby.


Liby seketika itu juga tersadar dari lamunannya. “Iya, dua hari lagi, " ungkapnya dengan mata yang kembali menerawang dengan perasaan yang tidak menentu hingga membuat dadanya sesak seketika dan ia pun merasakan ada perasaan tertekan dalam dirinya dimana perasaan itu sangat sulit untuk ditafsirkan, bahkan oleh dirinya sendiri.


__ADS_2