
Keheningan tiba-tiba terjadi saat Robby berteriak lagi. Semua orang yang tengah mencoba untuk membangunkan Robby dari pingsannya mengira Robby telah sadar setelah pingsan selama 3 jam karena tiba-tiba saja dia berteriak, tapi mereka salah ternyata Robby berteriak dengan keadaan masih pingsan. Kepala Robby menggeleng ke kanan dan kiri, keringat mulai bercucuran dari dahi Robby.
"Bagaimana ini Nyonya Wolfram. " Ucap Liby dengan perasaan cemas.
"Sebentar."
Nyonya Wolfram mencoba membangunkan Robby sekali lagi. Dia mengarahkan ujung tongkatnya ke kepala Robby dan mengucapkan sebuah mantra. Cahaya kuning keluar dari ujung tongkat dan menyelubungi seluruh kepala Robby. Aroma lavender tercium dari arah cahaya itu, dan membuat hati Liby tenang. Tidak lama kemudian Robby membuka kedua matanya dan mengangkat setengah badannya bangun dari sofa tempat dia dibaringkan.
”Robby.. kau.. ke.. kenapa?” Tanya Liby dengan nada tersengal-sengal karena tangisannya.
”Aku―terjatuh―” Jawabnya singkat, dengan pandangan menatap lurus dan pikiran yang masih melayang entah dimana.
”Apa maksudmu?” Tanya Tuan Wolfram penasaran dengan perkataan menggantung yang diucapkan Robby.
”Tidak― bukan apa-apa, aku hanya― Maaf aku mau ke kamar mandi dulu,” ungkapnya segera bangun dari sofa dan pergi meninggalkan mereka yang bingung dengan ucapannya menuju ke kamar mandi.
Robby berjalan dengan sempoyongan, pikirannya tetap menerawang entah kemana. Perasaan aneh mencuat dalam hatinya. Dengan Kondisinya ini Robby berusaha untuk bisa sampai di kamar mandi.
Sementara Robby pergi, Nyonya Wolfram meminta kepada Liby untuk membiarkan Robby sendiri dulu, karena Robby membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Ia merasa ada sesuatu hal yang terjadi pada dirinya saat pingsan selama 3 jam tadi. Liby pun mengangguk dan menyetujui pendapat Nyonya Wolfram.
”Mmm...bolehkah aku bertanya?” Liby berkata kepada Nyonya Wolfram tiba-tiba.
”Ya silahkan, apa yang ingin Tuan Putri tanyakan?” Jawab Nyonya Wolfram dengan nada suara yang menenangkan dan pandangannya yang tertuju pada Liby.
__ADS_1
”Jangan panggil aku Tuan putri panggil aku Liby atau Orchido saja,” pintanya yang merasa tidak enak mendengar panggilan Putri.
”Baiklah kalau itu yang Anda mau. ” Setuju Nyonya Wolfram
”Apakah kau seorang dokter sihir?” Tanya Liby penasaran dan sesaat melupakan kecemasan yang sejak tadi menyeruak dalam dirinya.
”Yeah, aku memang seorang dokter sihir, kenapa?” Nyonya Wolfram balik bertanya pada Liby.
Wajah Liby berubah menjadi cerah dan berbinar-binar ”Bolehkah aku mempelajari beberapa mantra penyembuhan?” Liby mendekati Nyonya Wolfram dan menggenggam tangannya. ”Aku mohon.” Pintanya dengan manja.
”Ah, maaf sekali Nyonya Orchido, kau tahu kan mantra penyembuhan hanya bisa di ketahui oleh para dokter, sebetulnya kami juga tidak tahu mantra-mantranya seperti apa, karena saat melakukannya kesadaran kami hilang, mulut dan tangan saja yang berkerja sedangkan pikiran kami entah kemana.” Nyonya Wolfram mencoba menjelaskan.
”Benarkah? Jadi seperti itu, lalu darimana kalian bisa tahu mantra-mantranya kalau kalian sendiri tidak pernah mempelajarinya?” Tanya Liby lagi karena begitu penasaran.
”Ini sudah keturunan, kami juga tidak tahu mengapa hanya anak yang orang Tuanya dokter yang bisa memiliki kekuatan penyembuhan seperti ini. Ini merupakan misteri yang sejak lama tidak terpecahkan.” jelasnya dengan merekahkan senyum simpul yang menenangkan.
Suara teriakan terdengar dari arah kamar mandi tempat Robby berada saat ini. Semua yang berada di kamar keluarga segera lari menuju kamar mandi. Saat Liby dan Tuan Wolfram akan mencoba untuk membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba saja pintu itu terlempar saat Robby teriak untuk kedua kalinya dan pintu tersebut menghantam Liby serta Tuan Wolfram yang tepat berada di depan pintu. Mereka berdua terpental hingga menghantam tembok. Leon dan Nyonya Wolfram menghampiri mereka berdua dan membantu mereka berdiri. Untungnya tidak ada darah yang tampak dan mereka berdua bisa berdiri kembali dengan baik.
Robby terkejut saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia sama sekali tidak percaya dengan kekuatan yang baru saja dikeluarkannnya. Belum sempat Robby melangkahkan kaki untuk menghampiri Liby, Rasa sakit di kepalanya yang begitu tak tertahankan muncul lagi kemudian membuat Robby jatuh pingsan.
”Robby...!!” Teriak Liby ketika melihat tubuh suami tercintanya tergeletak di lantai.
Tidak ada hitungan menit setelah Robby jatuh pingsan, dinding yang berada di belakang Robby hancur berkeping-keping, membuat dinding itu berlubang. Samar-samar terlihat sesosok tubuh berjalan melewati lubang di dinding itu dan menghampiri Robby. Penglihatan Liby dan keluarga Wolfram belum kembali normal karena debu menyelubungi ruangan itu.
__ADS_1
”Aku akan membawa Pangeran kembali.” Ucap seseorang tadi sembari memegang kerah baju Robby
”Kau.... ―Zarkon―?!” Sergah Tuan wolfram menebak dari suaranya.
“Tepat sekali.... Sungguh keterlaluan kalau kau tidak mengenaliku Moldern.” Ungkapnya dibarengi dengan tawa menyeringai.
”Apa maksudmu dengan Pangeran?” Potong Liby, dengan harapan Ia salah dengar dengan apa yang di ucapkan Zarkon.
”Hoo.. Tuan Putri Sirkon, jadi kau tidak tahu siapa sebenarnya orang yang selama ini menemanimu?” Jawabnya ketika mengangkat tubuh Robby dari lantai. ”Dia adalah Pangeran klan Kurtof.” Lanjutnya dan menunjuk Robby dan seringai kepuasan terlihat pada wajahnya.
”Tidak mungkin!! Kau berbohong!!” Bentak Liby tak percaya.
Zarkon hanya diam saja, tidak menjawab perkataan Liby barusan. Ia rupanya menunggu serangan kedua yang akan di lakukan oleh anak buahnya.
”duaaaaarrr”
Suara ledakan terdengar sangat keras dari dapur. Spontan Nyonya Wolfram berlari melihat keadaan di sana.
”Hahaha... percuma saja dia lari begitu, anak buahku pasti telah berhasil membawa bayi lelaki mungil itu.” ucap Zarkon dengan nada penuh kemenangan dan kesombongan.
”Kau!! Sebenarnya apa yang akan kau lakukan!!! Lepaskan Robby dan anakku!!” Kemarahan Liby sudah tidak dapat di bendung lagi, dia memunculkan tongkat sihirnya dan melemparkan mantra pelumpuh ke arah Zarkon.
Dengan sangat mudah Zarkon menampis mantra itu. ”Ckck tenang lah Putri, nanti juga kau akan tahu apa yang akan kami lakukan,” Ia menggendong Robby dipundaknya bagaikan sebuah barang. ”Kini aku mohon diri, sampai jumpa Moldern. Oia Putri Liby nanti kita pasti akan bertemu kembali, kau tunggu lah dengan sabar ya Putri.” Tambah Zarkon dan menghilang dengan cepat.
__ADS_1
”Zarkooonn!!! Aaaaaagh..” Liby menangis sejadi-jadinya karena dia tidak bisa berbuat apa-apa, hingga Robby dan anaknya di bawa pergi. Tak henti-hentinya Liby berteriak disela-sela isak tangisnya.
Nyonya Wolfram hanya bisa berusaha menyemangati dan memeluk Liby dengan erat. Ia mencoba menenangkan Liby sambil menggendong Karin yang tadi sedang bermain dengan makanannya. Tuan Wolfram dan Leon juga merasa sangat bersalah karena tidak dapat menghentikan Zarkon. Sesaat tadi tubuh mereka tidak dapat digerakkan, sepertinya Zarkon telah menghipnotis mereka agar tidak bergerak.