Fortune Teller

Fortune Teller
Keputusan


__ADS_3

Bayi laki-laki yang digendong Nyonya Wolfram tertawa dengan senyum sangat bahagia memandang ke arah Tuan Wolfram yang meringkuk bersimpah darah diujung mulutnya, kemudian menangis lagi, kembali menjadi bayi biasa dengan tampang tidak berdosa yang sangat lucu.


Nyonya Wolfram menjadi benar-benar terkejut dan dengan spontan Ia membuang bayi itu ke kasur dan bayi itu mendarat tepat di samping lengan ibunya. Melihat hal itu Tuan dan Nyonya Wolfram benar-benar ketakutan, dalam seketika wajah mereka berubah jadi pucat pasi.


Kali ini Tuan Wolfram berusaha bangkit dari tempat dia meringkuk kesakitan, ia mengeluarkan tongkat berwarna hitam dari balik piyama tidurnya. Mulutnya mulai berkomat kamit merapalkan mantra yang bisa ia ingat dalam kekagetan yang masih menyelubungi dirinya.


Seberkas cahaya keluar dari tongkat yang diayunkan Tuan Wolfram ke arah bayi lelaki itu, namun keanehan terjadi lagi, belum saja sampai ke target, mantra itu memantul kembali ke arah Tuan Wolfram seakan ada pelindung yang tak tampak mengelilingi bayi itu. Untung Tuan Wolfram dapat menghindar tepat saat mantra itu ada dihadapannya. Mantra yang memantul itu mengenai lukisan di dinding dan membuatnya hancur berkeping-keping menghasilkan suara dentuman keras serta meninggalkan bekas lubang yang cukup dalam pada dinding.


Tuan Wolfram bergidik membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika tadi tidak berhasil menghindar dari pantulan sihir yang Ia rapalkan sendiri.


***


Ketiga orang yang berada di luar kamar terkejut luar biasa saat mendengar suara ledakan dari dalam kamar. Tanpa pikir panjang Robby segera mendombrak pintu dan melihat keadaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tuan Wolfram tersungkur di lantai dengan darah yang berbekas pada pinggir mulutnya, istrinya yang berdiri mematung di depan kasur, lukisan yang hancur berkeping-keping dan dinding yang bolong.


”Apa yang terjadi? Kenapa ruangan dan Tuan Wolfram jadi seperti ini?” Tanya Robby ke hadapan Nyonya Wolfram dan melihat ke arah istri serta anaknya untuk memastikan mereka dalam keadaan baik-baik saja. ”Istriku— dia baik-baik saja bukan?” Lanjutnya dengan menggoyang-goyangkan badan Nyonya Wolfram meminta jawaban yang baik.

__ADS_1


Nyonya Wolfram melepaskan diri dari cengkraman Robby, ”Ya, istrimu hanya pingsan dan anak kembarmu juga baik-baik saja,” katanya.


”Kami perlu bicara denganmu Tuan Orchido.” Tambah Tuan Wolfram gemetaran menahan badannya sekuat tenaga.


”Baiklah, tapi aku ingin melihat kondisi kedua anakku dan juga istriku terlebih dahulu,” ucap Robby sambil berjalan mendekat ke tempat tidur berornamen penuh dengan ukiran dan tiang kelambu.


Robby memandang bahagia dan membelai lebut rambut istrinya serta mendaratkan sebuah kecupan di dahi istrinya. Kemudian pandangan mengarah kepada dua anaknya, bayi perempuan yang cantik dan bayi laki-laki yang tampan. Senyum bahagia terukir dari wajah Robby. Ia memegang pipi kedua anaknya dan merasa gemas, namun tidak berani untuk menggendong mereka karena mereka masih sangat rapuh.


”Tuan Orchido.” Panggil Tuan Wolfram lagi dengan tidak sabaran.


Mendengar Tuan Wolfram memanggilnya, Robby pun mendekat ke arah Tuan Wolfram dan menebak-nebak apa yang akan dia bicarakan, apakah dia akan membicarakan soal kerusakan yang terjadi di ruangan ini?. Setelah tepat berada di hadapannya, Tuan Wolfram tanpa basa basi langsung menuju ke inti pembicaraan. ”Kita harus membunuh anak laki-lakimu Tuan Orchido. ” Berkata dengan penuh keyakinan dan hanya sedikit penyesalan.


Tuan Wolfram mencengkram pundak Robby dengan kedua tangannya, ”Dengarkan aku Tuan Orchido, anak itu memiliki tanda terkutuk, dia akan menghancurkan dunia kita begitu dia besar dan mempunyai kekuatan seutuhnya.” Ia menghela nafas dan melanjutkan lagi perkataannya ”Apa kau tidak pernah dengar tentang ramalan di masa lalu? Ramalan itu mengatakan suatu saat nanti akan lahir dua anak kembar yang memiliki tanda berbeda, satu anak bertanda pembebasan dan satu lagi tanda terkutuk yaitu tanda penguncian. Anak dengan tanda penguncian ini yang nantinya akan menghancurkan dunia kita jika kita tidak mencegahnya saat ini juga.” Ungkapnya tidak sabar, dengan nada frustasi.


”Apa maksudmu? Ramalan? Tanda Terkutuk? Tanda pembebasan? Sebenarnya apa yang sedang anda bicarakan?” Tanya Robby dengan raut wajah kebingungan.

__ADS_1


”Tunggu dulu, tuan Orchido apakah anda seorang penyihir?” Tanya Nyonya Wolfram di sela-sela pembicaraan Robby dan suaminya.


“Tidak! tentu saja bukan, aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu, itu hanya imajinasi dari pengarang-pengarang novel untuk membuat karya-karyanya jadi best seller!” Serunya penuh keyakinan.


”Well, sekarang kau harus percaya, kau tahu anak laki-lakimulah yang telah memporak-porandakan ruangan ini.” Tuan Wolfram coba menjelaskan dengan penekanan yang bisa membuat Robby sadar.


”Anda pasti bercanda, bagaimana mungkin seorang bayi mungil yang tidak tahu apa-apa dan baru saja terlahir ini bisa melakukannya.” Jawab Robby dengan nada meremehkan dan tidak percaya.


”Anda ingin bukti Tuan Orchido?” Tanya Tuan Wolfram, kemudian mencari pisau yang tadi terlepas dari genggaman tangannya saat terpental, Ia mengambil pisau itu dan berjalan menuju bayi laki-laki yang sedang tertidur di samping ibunya. Ia mengangkat pisau itu setinggi dadanya dan menghunuskannya lagi ke jantung bayi itu, hal tadi terulang kembali, Tuan Wolfram terpental ke tembok dan kali ini darah mengalir dari dahinya yang membentur tembok.


Robby, Argon dan Leon tertegun saat menyaksikan peristiwa tersebut, antara percaya dan tidak percaya. Sedangkan Nyonya Wolfram berlari menghampiri suaminya yang terluka. Pikiran Robby melayang-layang mencari pernyataan untuk melindungi anaknya, namun hal itu terurungkan saat matanya melihat ke arah bayinya.


Ia melihat anaknya membuka kedua matanya menatap hina ke arah Tuan Wolfram, terlihat jelas ada pandangan kejahatan dimatanya dan setelah itu dia tersenyum penuh rasa kemenangan. Sedetik kemudian dia kembali jadi bayi normal, yang nyaman tidur di samping ibunya, seolah-olah tidak terjadi apapun.


”Kau percaya sekarang?” Tanya Tuan Wolfram saat menyeka darah di dahinya dengan telapak tangannya ”Kau lihat pandangan penuh kegelapan tadi bukan? Sekarang kau percaya bukan?” Tanyanya lagi, dengan nada yang semakin tidak sabar ingin mendengar keputusan dari Robby apa yang akan dilakukan pada bayi laki-laki tersebut.

__ADS_1


”Ya aku percaya, dan aku rasa anda benar Tuan Wolfram, kita harus membunuh anak ini dengan cara—” Belum sempat Robby melanjutkan perkataannya, Liby istrinya terbangun.


”Membunuh? Apa kau bilang tadi Robby? membunuh anak? Anak siapa? Apa kau akan membunuh anak kita?” Tanya Liby dan membeku sebentar mencoba mencerna apa yang tidak sengaja Ia dengar. “Apakah aku tidak salah dengar? Membunuh anakmu sendiri? Darah dagingmu?” Lanjutnya lagi dengan pertanyaan yang sama karena tidak percaya telah mendengar perkataan tabu itu keluar dari mulut suaminya sendiri.


__ADS_2