
”Tidaaaaakkkk,” teriak Robby yang tiba-tiba sudah berlari ke tempat Tuan Wolfram kemudian berdiri di depannya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng bagi Tuan Wolfram dengan mengangkat pedang samurainya, mencoba menghalangi cahaya yang akan di keluarkan lelaki itu.
Lelaki itu terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Robby, ia tidak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini. Pikirannya sempat teralihkan oleh tindakan mendadak Robby, namun ia tersadar kemudian dan mulai merapalkan mantra lagi dengan penuh kemurkaan karena Robby telah mengganggunya.
Tapi kemarahannya berubah jadi kebekuan dan lelaki itu menghentikan pengucapan mantranya saat ia melihat dengan jelas wajah Robby. Keterbekuan lelaki itu dimanfaatkan oleh Robby, ia mengayunkan pedang ditangannya dan menghujamkan ke dada lelaki itu sehingga terbentuk sayatan panjang di sepanjang dada lelaki itu.
Darah mengalir keluar dari luka yang dibuat oleh Robby. Setelah puas karena telah berhasil melukai lelaki itu, Robby kembali ke tempat semula mengambil ancang-ancang untuk melindungi diri dari serangan balasan yang akan dilancarkan dari jari telunjuk lelaki yang telah mendapat luka sayatan itu.
Robby merasa terheran-heran karena lelaki itu tidak membalas tindakannya tadi. Lelaki itu hanya memandang dengan pandangan yang sangat tajam ke wajah Robby. Dia bahkan tidak mengerang kesakitan saat Robby menyayat dagingnya. ”Ada apa ini? Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan lelaki ini” Pikir Robby dengan perasaan yang campur aduk.
Lelaki itu menatap Robby selama beberapa menit. Ia mengarahkan pandangannya ke luka yang telah dibuat Robby kemudian merekahkan senyuman dengan penuh kemisteriusan dan pandangan yang berbinar seakan-akan baru saja menemukan sesuatu yang luar biasa. Ia membersihkan darah yang keluar dari sayatan lukanya, dan menjilati jarinya. Kemudian tersenyum lagi dan menatap Robby lekat.
Lelaki itu berjalan mendekatkan tubuh tingginya ke hadapan Robby hingga hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter, kemudian membungkukkan badannya dan memberi penghormatan pada Robby.
”Hamba merasa terhormat bisa mendapatkan luka ini dari anda, Tuan.” Ucapnya, menenggelamkan kepalanya lebih dalam.
Robby hanya bisa terdiam dan tertegun dengan prilaku lelaki yang tadinya kejam dan hanya dengan tatapan mengerikannya saja dapat membuat orang lari terbirit-birit, tiba-tiba bisa berubah 180º menjadi seseorang yang sopan dan terlihat baik hanya dalam waktu singkat bahkan lelaki itu memberikan hormat dan memanggilnya ’Tuan’.
”Berhenti bertarung, kita mundur!” Seru lelaki itu pada anak buahnya yang masih tersisa dengan luka disekujur tubuh mereka. Lelaki itu kembali memberi hormat pada Robby sebelum pergi menghilang di antara asap yang mereka buat layaknya di film-film ninja.
”Apa yang baru saja terjadi?!” Tanya Nyonya Wolfram terkejut. ”Mengapa Zarkon memberi hormat padamu Tuan Orchido?” Timpalnya lagi dengan rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia lihat.
__ADS_1
”Jadi benar tebakanku lelaki itu yang bernama Zarkon,” ujarnya. ”Aku tidak tahu mengapa dia berbuat hal seperti tadi, aku sama terkejutnya dengan anda.” Lanjut Robby mencoba untuk menjelaskan.
”Berhentilah berdebat! Kita harus menolong Tuan Wolfram dan Leon!” Bentak Liby memapah Leon yang pingsan di pojok ruangan dengan beberapa luka di bagian tubuhnya.
Tanpa pikir panjang, Nyonya Wolfram menyimpan pertanyaan yang tadinya akan dikeluarkan dengan bertubi-tubi pada Robby. Ia segera memapah suaminya yang masih tergeletak tidak berdaya dengan darah yang mulai berhenti keluar ke tempat yang lebih bersih dan tidak ada serpihan-serpihan hasil pertempuran tadi.
Mata biru Nyonya Wolfram berubah menjadi putih keabu-abuan, mulutnya berucap ”Lidiumarov.” Tangan Nyonya Wolfram yang memegang tongkat bergerak ke perut suami tercintanya. Angin berhembus sejuk ketika cahaya putih keluar dari ujung tongkat Nyonya Wolfram, aroma citrus tercium di sekeliling tubuh Tuan Wolfram. Asap tipis yang hampir kasat mata terlihat di atas luka Tuan Wolfram yang berbarengan dengan menutupnya luka tersebut. Air mata Nyonya Wolfram tumpah dipundak suaminya saat mata kanan Tuan Wolfram terbuka, dan dia sadar dari pingsannya, namun belum sepenuhnya sadar dan belum bisa menggerakkan sebagian badannya.
Robby mendekati istrinya, memperhatikan seluruh bagian tubuhnya yang terlihat. Ada goresan di tangan kanannya, Robby mengangkat tangan yang terluka itu dan mendaratkan mulutnya di atas luka tersebut, kemudian menghisap darah yang keluar dan menyobek bagian ujung baju yang ia kenakan lalu menjadikannya perban.
”Maaf, aku bukan penyihir jadi hanya bisa melakukan hal ini.” Ungkapnya penuh penyesalan sambil tetap memegang tangan istrinya yang kini berada di pipi Robby.
Liby meminta Robby untuk membantunya mengangkat Leon ke sofa yang ada di ruang keluarga, dan menidurkannya di sana agar Nyonya Wolfram dapat menangani luka-luka anaknya ini.
Sesaat kemudian Robby kembali ke kamar untuk membantu Nyonya Wolfram memindahkan suaminya ke kamar tidur utama. Walaupun masih terlihat jelas raut ketidaksukaan di wajah Nyonya Wolfram terhadapnya setelah kejadian yang mengejutkan tadi, Robby sama sekali tidak terganggu, ia tetap membantu menggendong Tuan Wolfram dengan sangat hati-hati dan perlahan.
”Aku akan menelpon ambulance, Tuan wolfram butuh penanganan lebih,” ucap Robby spontan ketika membaringkan tubuh Tuan wolfram di atas kasur.
Nyonya Wolfram hanya terdiam, sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan Robby untuk dirinya, bahkan memalingkan dan menatap wajah Robby pun tidak ia lakukan. Robby menganggap terdiamnya Nyonya Wolfram adalah kesetujuannya dengan ide yang telah dirinya ucapkan tadi. Tanpa pikir panjang dan menunggu jawaban pasti Nonya Wolfram , Robby menelepon rumah sakit terdekat.
Beberapa menit kemudian ambulance datang, kemudian membawa Tuan Wolfram ke rumah sakit terdekat, Nyonya Wolfram ikut dalam ambulance menemani suaminya sementara Robby dan Liby tinggal di rumah untuk menjaga anak-anak, terutama Leon yang masih belum sadar dari pingsannya walaupun Nyonya Wolfram telah menyembuhkan luka-lukanya.
__ADS_1
”Aku harap Tuan Wolfram akan baik-baik saja dan cepat pulih kembali.” Liby membuka suara begitu ambulance menjauh dan mulai tak terlihat.
”Akupun berharap yang sama denganmu sayang, mari kita masuk dan melihat kondisi anak-anak.” Ajak Robby dengan menggandeng lengan istrinya.
Mereka pun melangkahkan kaki menuju tempat persembunyian yang berada di bawah ruang keluarga. Robby membuka pintu yang sudah di bacakan mantra pemuncul oleh Liby. Betapa terkejutnya mereka saat menyaksikan beberapa barang yang ada di ruangan itu berserakan.
”Apa yang terjadi Argon?” Tanya Liby dengan wajah cemas.
”Nyonya Liby, tadi Karf dan Karin tiba-tiba mengeluarkan kekuatan,” ucapnya dengan suara yang bergetar.
” Maksudmu?” Tanya Robby minta penjelasan.
”Jadi, baru saja terjadi, Karf tiba-tiba terbang dan posisi badannya berdiri, kemudian sebuah angin kencang muncul mengarah ke kami bertiga,” ungkapnya dengan tetap merasa ketakutan. ”Tapi, angin kencang itu tidak bisa menyentuh kami karena Karin mengeluarkan sebuah pelindung di sekeliling kami.” Lanjutnya.
”Darimana kau tau kalau pelindung itu Karin yang membuatnya?” Tanya Robby penasaran.
”Karena aku belum bisa mengeluarkan sihir itu dan Adikku pun saat itu tengah tertidur.” Jelasnya.
Robby dan Libby saling beradu pandang, keduanya mau tidak percaya, namun jika dilihat dari ruangan yang berantakan ini membuat mereka mau tidak mau harus mempercayai apa yang dikatakan oleh Argon.
Pikiran Liby pun berkecambuk, sesaat pikirannya bingung apakah keputusannya untuk membiarkan Karf hidup benar adanya. Jika melihat kekuatan yang dikeluarkan Karf maka Ia bisa menebak kalau Karf benar-benar memiliki kekuatan yang besar. Namun hati kecilnya meronta dan menolak apa yang dipikirkannya saat ini, bagaimanapun Karf tetaplah anaknya. Anak yang telah Ia kandung, dan mengikutinya kemanapun selama 9 bulan lamanya. Ikatan batin antara Ibu dan Anak pun sudah tertaut dengan kuat pada diri Liby.
__ADS_1