Fortune Teller

Fortune Teller
Pertempuran


__ADS_3

RUANG berukuran 3 x 5 meter dengan pencahayaan seadanya menjadi tempat persembunyian Robby, kedua anaknya dan kedua anak Tuan Wolfram. Ruangan itu tepat berada di bawah ruang keluarga Tuan Wolfram dengan begitu suara-suara dari kamar depan dimana istrinya dan keluarga Wolfram berada dapat terdengar di telinga Robby.


Biarpun orang yang bernama Zarkon belum bisa menembus dinding pertahanan yang dibuat oleh Tuan Wolfram namun suasana mencekam sangat terasa di sekeliling mereka, entah mengapa udara yang berhembus menjadi terasa lebih dingin dari biasanya, membuat bulu kuduk berdiri.


”Argon bisakah kau menjaga adik dan kedua anakku sendirian? Aku ingin kembali ke tempat mereka.” Tanya Robby memecah kesunyian.


”Tapi Tuan Robby, Tuan tidak memiliki kekuatan apapun. Ayah juga telah meminta anda untuk menjaga kami disini. Tenanglah Tuan aku yakin mereka semua bisa mengahadapi Zarkon.” Ujar Argon berusaha menenangkan Robby sambil tetap membuat dirinya tenang meskipun sebenarnya rasa khawatir menyelebungi dirinya.


Robby tidak mendengarkan ucapan Argon sama sekali, ia tetap pergi menaiki tangga untuk berusaha membuka pintu keluar dari ruang persembunyian itu. Saat ia berada pada anak tangga yang terakhir dan mencari-cari pintu keluar, Robby sama sekali tidak menemukan bahkan melihat adanya pintu penghubung antara ruang keluarga dan ruang bawah tanah.


”Percuma saja Tuan, pintu itu hanya bisa terlihat bila kita mengucapkan mantra pemuncul.” Ungkap Argon dari bawah tangga.


”Kalau begitu lakukan, ucapkan matranya” kata Robby tidak sabar.


”Aku tidak akan melakukannya, aku tidak ingin Tuan sampai terluka gara-gara ikut campur dalam pertempuran itu.” Jelas Argon yang berjalan menjauh dari tangga menuju ke pojok ruangan tempat adiknya, dan kedua anak Tuan Wolfram ditidurkan.


”Argon! Kalau kau tidak mau, beritahu saja aku apa nama mantranya biar aku sendiri yang membukanya.” Pinta Robby dengan nada suara yang mulai ditinggikan karena sudah mulai hilang kesabaran.

__ADS_1


”Baiklah, mantranya berbunyi emergedark, tapi percuma saja karena hanya penyihir yang bisa menampakkannya.”


”Apa tadi mantranya? Aku tidak mendengarnya, bisakah lebih keras lagi suaranya?” Tanya Robby, mencoba untuk mengelabuhi Argon.


”EMERGEDARK.” Teriak Argon hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan.


Pintu muncul tepat di hadapan Robby saat Argon berteriak dengan tidak menyadari apa yang dia perbuat, Robby tersenyum karena telah berhasil membodohi Argon ”Thanks Ar.” Ucapnya saat membuka pintu.


”Tuan, aku mohon jangan keluar.” Pinta Argon ketika menyadari kesalannya.


Suara teriakan dan mantra-mantra terdengar bergantian. Robby sangat terkejut saat melihat ruang depan telah porak-poranda bagaikan tersambar angin tornado. Robby menyimpulkan ruang bawah tanah adalah ruang yang terisolir dengan mantra-mantra sedemikian rupa agar tidak dapat mendengar suara-suara dari atas dan suara dari dalam juga tidak terdengar sampai ke atas.


Robby ingat tentang pedang samurai yang pernah ditunjukkan oleh Tuan Wolfram saat ia diajak untuk berkeliling melihat-lihat setiap bagian rumahnya. Robby segera mengambil pedang yang ditempatkan pada penyangga seperti rak yang melekat di dinding pada ruang kerja Tuan Wolfram.


Begitu menemukan samurai dan mengambilnya, Robby berlari menuju sumber suara, dan ketika tinggal beberapa sentimeter jarak antara dia dengan kamar dimana sumber suara itu berasal, Robby melambatkan langkah kakinya, mengendap-endap, kemudian mengintip sesaat untuk mempelajari situasi di dalam kamar. Ia melihat kamar itu sudah hancur, sudah tidak terlihat seperti kamar lagi. Hampir seluruh barang yang ada di sana hancur berkeping-keping, dan sebagian ada yang hangus seperti terkena sambaran halilintar.


Robby mengarahkan pandangan ke istrinya, menghela nafas, dan tersenyum, ―Istrinya baik-baik saja― Walaupun dia melawan 3 orang sekaligus, tidak ada setitik darah pun yang keluar dari kulit putihnya yang halus bagaikan kain sutra itu. Rasa syukur yang begitu besar melegakan dirinya.

__ADS_1


Kemudian Robby melihat Tuan Wolfram, ia sangat terkejut saat melihat sebagian tubuh Tuan wolfram telah diselubungi oleh darah. Darah segar mengalir dari kelopak mata kirinya sehingga membuat dia memejamkan matanya itu, sedangkan mata kanannya terlihat baik-baik saja.


Robby melihat lawan Tuan Wolfram, seorang lelaki dengan tubuh tinggi menjulang melebihi Tuan Wolfram, rambutnya berwarna merah dengan panjang sebahu dan acak-acakan seperti tidak pernah di sisir selama ratusan tahun, dan Robby menebak lelaki itu adalah Zarkon jika dilihat dari kekuatan yang bisa membuat Tuan Wolfram seperti itu, sedangkan orang-orang yang dilawan Liby, Nyonya Wolfram dan Leon adalah anak buahnya.


Zarkon tidak memegang tongkat seperti Liby dan keluarga Wolfram, tidak ada senjata yang dia pegang, lelaki itu bertarung dengan tangan kosong―. Robby yang terheran dengan kejanggalan itu melihat ke gerombolan musuh lainnya, ia juga mendapati tidak ada dari mereka yang menggunakan tongkat, mereka bertarung dengan tangan kosong.


Kemudian Robby berpikir, kalau memang mereka bertarung dengan tangan kosong mengapa Tuan Wolfram babak belur seperti itu, dan ruangan ini juga jadi hancur berantakan. Pertanyaan Robby terjawab saat sebuah cahaya lewat di depan matanya mengenai dinding yang berada di belakang Robby. Dinding itu remuk seperti baru saja terkena bom dengan intensitas kecil, seperti bom molotov. Ia terperanjat menyaksikan kedasyatan cahaya itu, terlebih lagi cahaya itu keluar dari jari telunjuk lelaki yang sedang berhadapan dengan Tuan Wolfram.


Belum saja Robby berpaling dari tembok yang tadi terkena sihir, tiba-tiba saja terdengar suara keras, sesuatu menghantam tembok dan terjatuh tepat di atas tumbukan kayu. Kemudian terdengar suara teriakan Nyonya Wolfram yang memanggil nama suaminya.


Robby dengan segera memalingkan wajahnya dari dinding yang hancur itu kembali ke dalam kamar. Ia melihat Tuan Wolfram tergeletak tidak berdaya di atas tumpukan kayu yang awalnya adalah sebuah lemari buku, darah segar mengalir dari perut dan tangannya yang berusaha menutup luka agar darahnya tidak banyak yang keluar. Robby melihat Tuan Wolfram mencoba untuk menahan rasa sakit yang Ia rasakan, bibir bagian atasnya menggigit bibir bagian bawah, dan matanya sesekali terpejam.


Lelaki yang tadi mengeluarkan sihir cahaya berjalan mendekati Tuan Wolfram, kemudian menangkupkan dagu Tuan Wolfram dengan jemari yang besar dan kasar.


”Bagaimana kekuatanku sekarang Moldern? Hebat bukan?” Tanyanya dengan senyum menyeringai dan mengangkat wajah Tuan Wolfram hingga berada sejajar dengan matanya. ”Dulu kau memang bisa mengalahkanku, tapi lihat sekarang― kau kalah dengan sangat mudahnya―.” Ia tertawa penuh kemenangan dan penghinaan di depan muka Tuan Wolfram, kemudian membuang kepala Tuan Wolfram kembali ke tumpukan kayu dengan tatapan jijik, dan mundur beberapa langkah.


”Selamat tinggal Moldernku tersayang, semoga kau sampai di surga dengan selamat.” Kata lelaki itu dan mengangkat jari telunjuknya bersiap merapalkan mantra penghilang nyawa.

__ADS_1


__ADS_2