
“Waoooww.” Ucap Argon spontan saat sampai di depan gerbang dan melihat ukuran gerbang istana yang begitu besar, serta bangunan kastil yang menjulang tinggi hingga atap kerucutnya menyentuh awan putih yang ada di atasnya.
“Nah mari masuk.” Ajak Liby setelah ia selesai membacakan mantra pembuka gerbang yang hanya diketahui oleh penghuni kastil.
Orang pertama yang menyambut Liby setelah masuk ke dalam Kastil adalah para pengawal yang sedang bertugas, ketika masuk lebih dalam lagi para pelayan menyambut dengan suka cita, hingga akhirnya mereka bertujuh sampai di sebuah aula yang begitu besar bak lapangan sepakbola. Berbagai ornamen dan ukiran-ukiran menghiasi dinding dari aula itu, lantainya terbuat dari bebatuan alam yang dipoles dengan begitu halusnya sehingga menghasilkan karya yang begitu indah. Bila melihat ke langit-langit kita akan disuguhi oleh berbagai macam pemandangan alam yang akan berubah setiap jamnya. Jendela pun tak mau kalah, kaca pada jendela akan selalu mengukirkan wajah dari orang-orang yang ada di dalam ruangan itu dan menjadikannya sebuah lukisan dengan berbagai latar.
Di bagian ujung ruangan tampak sepasang lelaki dan wanita sedang duduk dikursi singgasana yang berwarna kuning keperakan serta dihiasi oleh intan dibeberapa bagian kursinya.
“Ayah……Ibu…..” Ucap Liby dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Liby yang menggendong Karin berlari menghampiri kedua orangtuanya yang saat itu berjalan menuju ke arahnya saat sadar anaknya telah datang.
“Liby…..” Panggil Ratu
“Ibu….” Balasnya begitu sampai dihadapan Ibunya ratu Rose Naptun. Keduanya melampiaskan kerinduan dengan menangis. Tangan halus Rose menyentuh pipi Liby dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Pandangan Liby beralih ke sosok lelaki kekar yang berdiri di samping Ibunya. “Ayah…” ucap Liby dengan nada bergetar.
“Selamat datang kembali Putriku Liby Naptun” katanya dengan nada yang sama bergetarnya.
Keluarga Wolfram yang menyaksikan Liby dan keluarganya yang akhirnya dipertemukan kembali ikut terharu, bahkan Argon sampai menangis dan suara isak tangisnya lebih besar dari Liby, Ratu dan Mrs.Wolfram.
Raja Lawren berjalan kearah keluarga Wolfram “Moldern terima kasih karena telah menjaga putriku.” Ucapnya dengan menjabat tangan Tuan Wolfram.
“Ya tentu saja yang mulia, suatu kehormatan saya bisa menjaga Putri.” Ungkap Tuan Wolfram dengan rasa bangga.
__ADS_1
“Oh, apakah ini cucuku Karin?” Tanya Ratu Rose begitu melihat bayi yang di gendong oleh Liby.
“Ya benar, ini Karin…” Ucap Liby bersamaan dengan menyerahkan Karin ke Ibunya ─Ratu Rose─
“Dia sangat cantik sama sepertimu Liby, dan dia juga lucu.” Tambahnya saat mencubit pipi Karin dengan lembut dan penuh perasaan.
“Kita harus mengadakan sebuah pesta perayaan kembalinya putri kesayangan kita dan memperkenalkan Karin ke seluruh penjuru kerajaan.” Kata Raja Lawren dengan antusias kepada istrinya.
“Ide bagus suamiku.” Ratu setuju dengan Ide yang dilontarkan oleh suaminya.
Akhirnya persiapan perayaan pun dilakukan, seluruh penghuni Kastil sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk memeriahkan pesta. Berbagai macam makanan di buat oleh koki dan asisten-asistennya. Mereka semua benar-benar fokus pada pekerjaan masing-masing karena tidak ingin mengecewakan Ratu dan Raja yang sangat mereka segani.
Para pengawal telah membacakan undangan di hadapan seluruh rakyat Sovelam, dan rakyatpun menyambut undangan itu dengan suka cita. Begitu bahagianya seluruh rakyat Sovelam sampai mereka mempersiapkan diri dengan baik, yang biasanya menggunakan pakaian kumuh dan cuek dengan penampilan, jadi berubah 180 derajat. Mereka menggunakan pakaian terbaiknya dan berdandan serapi mungkin dan tak lupa wewangian yang sebetulnya sangat kurang suka digunakan oleh klan sirkon pun, kali ini digunakan.
“Perhatian-perhatian.” Ucap Raja Neptun dengan suara lantang. Begitu Raja berbicara seluruh alat yang ia sihir berhenti bekerja, dan orang-orangpun dengan sigap mendengarkan apa yang akan dikatakan Raja mereka.
“Aku ingin membagi kebahagiaan kami kepada kalian semua, kami ingin memperkenalkan anggota kerajaan yang baru.” Katanya dan memberikan isyarat kepada Liby untuk berdiri dari singgasananya dan mengangkat Karin setinggi di atas kepalanya dan menghadapkan wajah Karin ke seluruh tamu yang hadir.
“Perkenalkan, ini Karin anak dari Putriku Liby Naptun.” Jelas Raja dengan bahagia.
Tetapi, saat Liby mengangkat Karin, ia tidak sadar kalau lengan baju Karin terangkat sedikit dan membuat tanda Pembebasan yang dimiliki Karin terlihat jelas. Kebanyakan memang tidak ada yang memperhatikan tanda itu, tapi ada satu orang yang begitu penasaran dengan goresan-goresan di tangan Karin dan membuat dia jadi lebih mendekat ke hadapan Karin.
__ADS_1
“Bu.... bukankah i..... itu tanda pembebasan??” Katanya dengan suara lantang dan terbata-bata karena begitu terkejut saat melihat dengan jelas tanda itu. Seluruh tamu menjadi ribut, bahkan salah satu diantara mereka ada yang berteriak ketakutan. Suasana yang tadinya nyaman dan tenang hilang begitu saja hanya karena tanda pembebasan.
“TENANG......!!” Seru Raja dengan suara yang menggelegar sampai membuat lampu-lampu di atas goyang padahal tidak ada angin yang berhembus. Setelah keadaan kembali sunyi Raja melanjutkan perkataannya. “Kau memang benar Valten ─lelaki yang melihat tanda pembebasan─ gambar yang ada pada lengan kanan Karin ini adalah tanda pembebasan─”
Belum selesai Raja berbicara keadaan menjadi ribut kembali, mereka semua terkejut sekaligus panik. Mereka takut kalau ramalan yag turun temurun di ceritakan oleh generasi sebelumnya akan menjadi kenyataan, karena salah satu ramalan itu telah terbukti kebenarannya.
Kali ini raja benar-benar kesal, dengan nada tinggi dan ekspresi wajah yang lumayan menakutkan Raja berseru, “Bisakah kalian semua tenang!!!” Tidak ada hitungan detik keadaan kembali sunyi, semua orang tidak ada yang berani berbicara kalau Raja sudah mulai marah.
“Aku akan menjelaskan semuanya, jadi kalian jangan ada yang ribut..”
Setelah menceritakan seluruh kejadian yang dialami oleh Liby, semua orang jadi terharu bahkan ada yang menangis. Mereka tidak menyangka ternyata sang putri telah mengalami kejadian-kejadian yang sulit untuk dibayangkan. Mereka merasa bersalah karena telah berpikir yang tidak-tidak tentang Karin.
Dengan segera orang-orang meminta maaf kepada sang putri. Liby merasa mereka tidak memiliki salah sama sekali dan dengan senang hati Liby mengembangkan senyum di wajahnya dan menerima maaf mereka semua. Senyuman Liby benar-benar terlihat sangat manis serta menghasilkan dampak yang positif bagi orang-orang yang melihat senyumnya itu. Dampak positif itu berupa hati yang menjadi lebih tenang, jadi setiap orang yang melihat Liby tersenyum hatinya akan terasa lebih tenang.
“Putri.. izinkan kami untuk menjadi pengawal pribadi putri dan Karin, kami akan menyerahkan hidup kami untuk melindungi Putri dan Karin.” Kata empat orang pemuda yang wajahnya lumayan tampan dan badannya lumayan berotot.
“Apa kalian yakin?” Tanya putri kepada keempat orang tersebut.
“Tentu Putri...”
“Baiklah, kalau begitu mulai saat ini kalian harus menjaga kami berdua.”
__ADS_1
“Laksanakan Putri.”