
3 hari setelah pertempuran, akhirnya Tuan Wolfram sembuh total dan sudah di bolehkan kembali ke rumah. Semua luka yang di deritanya saat pertempuran telah hilang tidak berbekas lagi. Mata kirinya yang semula tidak bisa di buka sekarang telah terbuka seperti sedia kala. Sedangkan Nyonya Wolfram sejak kejadian membingungkan antara Robby dan Zarkon, dia tidak pernah mau berbicara dengan Robby, bertatap muka pun tidak mau.
”Robby kemarilah ada yang ingin kami tanyakan.” panggil Tuan Wolfram yang sedang duduk di samping istrinya.
Robby segera duduk di hadapan Tuan Wolfram, mukanya mulai berubah agak pucat karena dia bisa menebak apa yang akan di bicarakan oleh kedua orang Wolfram ini.
”Kau pasti sudah mengerti apa yang akan kami tanyakan, jadi langsung ke intinya saja. Siapa kau sebenarnya?” kata Tuan Wolfram
”Aku Robby Orchido, dan yang aku tahu dari kecil namaku memang Robby Orchido tidak pernah berubah sedikitpun.” jawabnya tenang.
”Mengapa Zarkon memberi hormat padamu?” lanjut Nyonya Wolfram tidak sabar
”Aku tidak tahu, aku sudah memberitahu dari awal aku juga bingung dengan tingkah Zarkon waktu itu.” jawab Robby yang mulai kesal karena mendengar pertanyaan itu lagi.
”Tenanglah Tuan Orchido, kami hanya ingin memastikan sesuatu saja, karena 10 tahun yang lalu putra dari pemimpin klan kurtof menghilang entah kemana.”
”Menghilang? Kenapa bisa begitu?”
__ADS_1
”Ceritanya simpang siur, ada yang berkata kalau putranya yang bernama Aln Witch jatuh ke jurang saat dia pergi berburu bersama dengan pamannya tapi berita yang paling di percaya oleh Raja klan kurtof ―Gragof Witch― bahwa klan sirkon lah yang telah membunuh anaknya itu.” jelas Tuan Wolfram
Tampang Robby mulai terasa tegang, entah mengapa saat Tuan Wolfram menceritakan mengenai Aln Witch kepalanya tiba-tiba terasa seperti sedang di tusuk oleh ribuan jarum yang sangat tajam. Bayangan-bayangan yang terasa asing dengan memorinya selama ini samar-samar muncul satu demi satu memenuhi pikirannya.
Robby berusaha menutupi rasa sakitnya dan mulai mencoba berbicara dengan nada seperti biasa ”Mengapa Gragof Witch beranggapan seperti itu?”
”Kami juga tidak tahu, selama ini hubungan antara Klan sirkon dan klan Kurtof baik-baik saja tidak ada konflik sama sekali bahkan kabarnya kedua Raja telah berencana untuk menikahkan anak mereka berdua agar hubungan kedua klan menjadi lebih erat satu sama lain. Tapi saat anak lelaki Gragof Witch menghilang hubungan antar kedua klan sangat renggang bahkan bisa dibilang mencekam, hal itu juga dikarenakan istri Gragof Witch jatuh sakit yang membuat akal sehat Gragof hilang seketika dan sikapnya yang selama ini ramah berubah menjadi kejam.” ujarnya
Kepala Robby jadi semakin terasa sakitnya, bayangan yang tadinya hanya samar-samar kini mulai tampak jelas. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan berharap rasa sakitnya dapat hilang. Ekspresi Robby yang tenang berusaha untuk menutupi rasa sakit telah berubah, ia tidak dapat menahan rasa sakit yang begitu tajam itu lagi. Suara erangan keluar dari mulut Robby, dahi Robby mengerut, kedua matanya tertutup dan kedua tangannya mulai memukul-mukul bagian kepalanya yang terasa begitu sakit.
“Kau kenapa?” Tanya Tuan wolfram kebingungan
Robby tidak menjawab pertanyaan Tuan wolfram, ia bahkan tidak sadar kalau Tuan Wolfram berada di sampingnya. Rasa sakit di kepalanya mengalihkan seluruh pikirannya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa sakitnya. Erangan kesakitan yang di keluarkan Robby lama kelamaan berubah menjadi teriakan yang begitu keras. Bahkan Tuan Wolfram sampai menutup kedua telinganya karena tidak tahan mendengar teriakan Robby yang memekakkan telinga itu.
Liby yang tadinya sedang memberi makan kedua anaknya di dapur, berlari dengan tergesa-gesa memasuki ruang keluarga. Leon yang baru membuka pintu saat pulang dari sekolah juga ikut berlari menuju sumber suara karena dia mengira telah terjadi suatu hal yang gawat seperti pertempuran tempo hari. Sesampainya Liby dan Leon di ruang keluarga, mereka mendapati Robby telah tergeletak di lantai, tidak bergerak sama sekali, sedangkan Tuan dan Nyonya Wolfram membatu syok melihat Robby yang tiba-tiba jatuh pingsan.
Kaki Liby dengan spontan berlari menghampiri Robby yang sedang tergeletak di depan sofa yang letaknya enam puluh sentimeter dari pintu pembatas antara ruang keluarga dengan lorong menuju dapur dan ruang tamu.
__ADS_1
”Apa yang telah kalian lakukan!” bentak Liby dengan mengarahkan pandangan marah ke hadapan suami-istri Wolfram yang berdiri terpaku. ”Robby... bangun... Robby―” Liby memindahkan kepala suaminya dari lantai ke pangkuannya kemudian memukul pelan pipi kanan suaminya.
Belum sempat Tuan Wolfram menjelaskan, Leon ikut bicara ”Ayah, apa yang― apa yang telah Ayah lakukan pada Tuan Orchido?” tanyanya tidak percaya. ”Apa Ayah― mencoba untuk membunuhnya?” lanjut Leon tanpa pikir pajang menyimpulkan kejadian yang sedang dia saksikan.
”Leon! Apa yang kau katakan! Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu pada Ayahmu sendiri!” bentak Nyonya Wolfram kesal mendengar ucapan Leon. ”Kami juga tidak tahu apa yang terjadi, tadi tiba-tiba saja Tuan Orchido pingsan setelah berteriak kesakitan.” lanjut Nyonya Wolfram.
Robby kini tengah berada di tempat yang minim dengan cahaya dan tanahnya cukup berlumpur serta di kelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi dengan akar yang mencuat ke permukaan dan ditumbuhi oleh lumut serta jamur. Dengan segera Robby menyadari kalau dirinya saat ini sedang berada di dalam hutan.
Tiba-tiba ia melihat dari kejauhan ada sekelompok manusia setengah serigala berlari menghampiri kuda yang sedang di tumpangi oleh seorang anak lelaki yang berjarak tidak jauh dari tempat Robby berdiri. Dia menatap wajah anak lelaki itu dengan seksama, dan betapa terkejutnya dia, ternyata anak itu adalah dirinya sendiri. Robby melihat ekpresi dirinya yang telah menyadari kedatangan manusia setengah serigala tersebut, kemudian dengan lincah mengarahkan kuda yang ditungganginya untuk pergi menjauh.
Robby berlari sekuat tenaga mengikuti arah Robby remaja itu pergi dan mencoba untuk tidak membuat jarak yang terlalu jauh dari laju kuda. Robby dengan spontan menghentikan kakinya ketika sekelebat bayangan melewatinya, Dia melihat bayangan itu dengan seksama, ternyata itu adalah salah satu manusia setengah serigala.
Telinganya yang runcing, di lapisi bulu berwarna coklat hingga ke seluruh bagian mukanya dan terdapat sedikit bercak hitam seperti darah yang telah mengering melekat di bulu pada beberapa bagian mukanya. Mulutnya yang memanjang ke depan beberapa centi dengan taring yang terlihat begitu tajam saat serigala itu membuka mulutnya membuat bulu kuduk Robby merinding. Betapa buruknya rupa manusia setengah serigala itu, bagaimana tidak hanya kepalanya saja yang berbentuk srigala tapi anggota badannya yang lain tetap berbentuk manusia. Bila di umpamakan manusia setengah serigala ini kebalikan dari patung Spinx yang ada di mesir sana. Tetapi tingkah lakunya sudah di kuasai oleh gen srigala yang ada dalam darahnya sehingga cara mereka berlari pun seperti binatang kebanyakan, dia menggunakan kedua tangannya sebagai kaki depan.
Tidak lama kemudian kilatan cahaya berwarna biru melayang ke arah manusia setengah serigala yang kini telah berada tepat di belakang Robby remaja. Mantra sihir itu tepat mengenai makhluk itu, namun datang seorang manusia setengah serigala lainya dari samping, muncul di antara semak-semak dan menggigit badan kuda yang Ia dapatkan. Kuda yang ditumpanginya mencoba melepaskan gigitan tajam dari taring mkhluk itu sehingga membuat Robby remaja terpental dan jatuh tepat di jurang yang ada di pinggir jalan setapak tempat kudanya lari itu.
”Tidaaaaaaaaaaaaaakkk...” teriak Robby ketika menyaksikan dirinya terjatuh ke dalam jurang yang dalam dan hanyut terbawa arus sungai yang ada di tengah-tengah jurang.
__ADS_1