Fortune Teller

Fortune Teller
Kesedihan Yang Mendalam


__ADS_3

Sejak Robby dan Karf di bawa pergi oleh Zarkon, Liby seakan tidak memiliki nyawa lagi. Setiap hari dia hanya menangis di kamarnya, bahkan Karin tidak dia pedulikan. Suami istri Wolfram, Leon serta Argon telah berusaha memberi semangat dan mengatakan hal-hal yang sekiranya dapat menyadarkan keterpurukan dan kesedihan Liby, tapi mereka sama sekali tidak berhasil. Liby hanya akan bangun dari tempat tidurnya saat dia ke kamar mandi kemudian kembali lagi ke dalam kamar dan menangis. Sudah lima hari dia tidak mau makan, meskipun Nyonya Wolfram memaksa dia untuk makan, bahkan sampai menyuapinya tapi Liby tetap saja menolaknya, kalaupun berhasil hanya satu suap makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


”Apa yang harus kita lakukan sekarang? Putri sama sekali tidak mau makan. Kalau terus seperti ini dia bisa mati.” ucap Nyonya Wolfram sedih


”Huss.. kau tidak boleh berkata begitu, kita harus berusaha. Coba lah sekali lagi menggunakan Karin.” jawab Tuan wolfram


Meskipun Nyonya Wolfram tidak yakin akan berhasil, karena sudah berkali-kali Karin di gunakan sebagai perantara agar Liby mampu bangkit dari kesedihannya namun selalu saja gagal. Memang sudah tidak ada jalan lain lagi, ia harus menggunakan Karin sekali lagi dan berharap semoga usahanya kali ini berhasil, meskipun dengan cara membohongi Liby.


Nyonya Wolfram mempersiapkan diri, dan merubah mimik wajahnya menjadi panik. ”Liby sadarlah, Karin badannya demam. Dia tidak bisa di diamkan, aku telah berusaha menyembuhkannya tapi tidak berhasil.” ucap Nyonya Wolfram dengan menggoyang-goyangkan badan Liby.


”kompres saja dengan handuk hangat―” jawab Liby tidak peduli dengan berita tersebut.


”plaaaaakkkkkk”


Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Liby. Kulit pipinya yang putih menjadi merah dengan cap telapak tangan.


“Sadarlah! Kau sama sekali tidak perduli dengan anakmu?! Apa kau pikir kau hanya punya satu anak?! Bangkitlah Nyonya Orchido, Karin masih membutuhkanmu. Masalah Robby dan Karf bisa kita pecahkan nanti, sekarang kau harus merawat dan memberi kasih sayang pada Karin!!” amarah Nyonya Wolfram pecah sudah, kini ia merasa lega karena telah mengeluarkan unek-uneknya.


Tamparan dari Nyonya Wolfram itu sepertinya berhasil menyadarkan sebagian jiwa Liby. Ia mulai melamun memikirkan dan meresapi tiap kata-kata yang di ucapkan Nyonya Wolfram. Tanpa berkata apapun ia membangunkan tubuhnya yang sejak tadi terbaring di kasur, kemudian berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan Karin.


Leon dan Argon yang saat itu bertugas menjaga Karin terkejut luar biasa saat melihat Liby berdiri di depan pintu kamar mereka. Mereka melihat sosok Liby bagaikan tubuh yang sama sekali tidak mempunyai jiwa raga. Matanya sembab karena menangis tiap hari dan rambutnya sudah tidak karuan berantakannya. Tatapan mata Liby kosong, seperti sedang menerawang ke suatu tempat nun jauh di sana. Cara dia berjalan bagaikan mayat hidup, kakinya di seret. Benar-benar membuat Argon yang masih kecil itu ketakutan luar biasa, sampai Argon bersembunyi di belakang punggung kakaknya.


Liby mulai menitikkan air matanya saat melihat bayi mungil yang sedang tertidur di samping Leon dan Argon. Ia merasa sangat menyesal akan sikapnya selama lima hari belakangan ini yang telah menelantarkan bayinya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perlindungan dari seorang ibu. Badannya terasa sangat lemas namun dia berusaha untuk mengumpulkan kekuatan dan menggerakkan kakinya agar dapat menggapai dan memeluk bayi mungilnya.

__ADS_1


”Karin―” ucap Liby lemah.


”Argon, sebaiknya kita pergi. Ayo kita tinggalkan Tante Liby berdua saja dengan anaknya” ajak Leon pada adiknya yang masih bersembunyi di belakang badannya.


”Baiklah.” jawab Argon, yang dengan segera berdiri dari tempatnya duduk dan berlari secepat mungkin keluar dari kamar.


”Tante Liby, Karin sangat merindukanmu” bisik Leon di telinga Liby, kemudian berlalu dan menutup pintu kamar.


Liby menggendong anaknya yang masih tertidur dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Kemudian ia memeluknya dengan sangat lembut dan menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah dan terdengar sangat merdu.


Empat hari berlalu sejak Liby tersadar dari keterpurukannya, ia benar-benar telah kembali ceria meskipun masih tersirat di matanya kesedihan yang mendalam atas diculiknya Karf dan Robby. Tiba-tiba Tuan Wolfram membicarakan suatu hal yang membuat Liby terkejut


”Ehmm... Putri— oh maksudku Nyonya Orchido.”


“Maaf sebelumnya aku tidak meminta izin darimu,” ungkapnya saat menatap kedua mata Nyonya Orchido “aku telah pergi ke tempat Klan Sirkon berada.” lanjutnya


Liby terkejut mendengar pernyataan yang di katakan Tuan Wolfram “anda― kapan anda pergi ke sana? Apakah dua hari yang lalu?”


”Ya” ucapnya dengan tenang ”Aku telah menghadap ayah anda, Raja Lawren Naptun.”


”La.... lalu? A.... apa yang anda katakan?” balas Liby dengan gugup dan seluruh badannya terasa dingin.


”Aku telah memberitahukan tentang keberadaan anda serta kejadian yang telah menimpa kita kemarin,” jawabnya sambil berdiri dari tempat duduk dan menghampiri meja yang berada di belakang sofa. ”Aku membawa surat dari Ayah anda.”

__ADS_1


Liby menerima surat itu dengan tangan yang bergetar, kemudian ia membuka surat tersebut dan membacanya dalam hati. Tak lama kemudian air mata meluncur dengan perlahan menuju rok yang Liby kenakan. Ia tidak mampu menahan air matanya saat membaca kalimat pada bait terakhir dari surat yang ditulis oleh ayahnya itu.


”Liby Ayah dan Ibu sangat rindu denganmu, maafkan ayah karena saat itu memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kerajaan meskipun itu untuk kebaikanmu sendiri, Ayah dan Ibu sangat mencintaimu. Pulanglah kami semua merindukanmu.”


Ia mendekap surat itu dengan sangat erat, dan merasa sangat sedih. Nyonya Wolfram dengan segera menghampiri Liby dan meminjamkan pundaknya sebagai tempat untuk Liby melampiaskan kesedihannya.


”Apakah anda siap untuk pulang dan menjadi putri kembali Nyonya Orchido?” tanya Tuan Wolfram dengan senyum yang untuk pertama kalinya ia perlihatkan.


Liby berhenti menangis dan tanpa disadari Liby berkata ”Anda bisa tersenyum?” dengan spontan Liby menutup mulutnya karena merasa telah menanyakan sesuatu yang tidak pantas ”Ah maafkan pertanyaanku tadi, aku terkejut saat melihat anda tersenyum.”


Nyonya Wolfram tertawa begitu mengdengar perkataan Liby ”Yah suamiku ini memang pelit kalau menyangkut senyum” ungkapnya dengan mencubit pinggang suaminya.


Liby pun ikut tertawa saat melihat Tuan Wolfram digoda oleh istrinya, mereka benar-benar terlihat sangat serasi.


”Aku siap kembali ke rumah dan menjadi seorang Putri lagi.” ucapnya dengan penuh keyakinan dan rasa gembira karena akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan keluarganya setelah bertahun-tahun terasingkan


”Baiklah sekarang saatnya kita mempersiapkan semuanya.” ujar Tuan Wolfram


”Ya, tapi sebaiknya kita berangkat besok karena hari sudah mulai gelap, kita tidak mau mencari resiko bukan?” ungkap Liby


”Kau benar, mungkin saja Zarkon memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi kita di suatu tempat.” jawab Nyonya Wolfram


Mereka pun berdiri dari sofa dan kembali ke kamar masing-masing. ”Selamat tidur Putri Liby, sebaiknya anda harus mulai terbiasa lagi mendengar nama ’Putri’, karena kami akan memanggilmu begitu mulai besok.” ucap Tuan Wolfram sebelum masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Liby menghela nafas merasa kurang nyaman ”Baiklah, mau tidak mau aku memang harus di panggil begitu,” ungkapnya dengan sedikit rasa kecewa. ”Selamat tidur juga untukmu Tuan Wolfram.” lanjutnya dengan melambaikan tangan.


__ADS_2