
Rasa lelah menyambar ke seluruh bagian tubuh Liby, ia tidak pernah menyangka ternyata letak kerajaannya begitu jauh. Wajar saja karena selama ini ia tidak pernah keluar dari lingkungan Sovelam, kecuali ketika dirinya menyelamatkan diri sesuai dengan apa yang diperintahkan Raja dulu, saat itupun Liby tidak begitu memperhatikan setiap jalan yang ia lewati. Lari hanya itulah yang ada dipikirannya saat meninggalkan Sovelam.
Letak kerajaan ─Klan Sirkon─ Sovelam memang sangat terpencil, untuk mencapainya saja harus melewati Death Valley, daerah gersang yang di kelilingi oleh bukit-bukit gersang berbatu, cuaca di sana sangat panas suhunya mencapai 124˚F atau 55-56 ˚C suhu yang panas ini membuat air minum yang dibawa mereka jadi benar-benar hangat ketika mereka telah memasuki daerah tersebut. Kalau saja mereka hanya orang awam dan bukan penyihir mungkin mereka semua sudah kehilangan nyawa karena tidak kuat menerima panasnya yang terlalu menyengat.
Setelah itu harus melewati hutan yang di kelilingi oleh jurang-jurang yang dalam serta bebatuan yang licin, mereka harus berhati-hati saat melewatinya kalau kepleset sedikit saja nyawa bisa melayang karena bisa meluncur ke dasar jurang. Rintangan terakhir adalah menyeberangi danau yang sangat luas dan dihuni oleh ikan-ikan pemakan daging.
Untung Liby, Karin serta seluruh keluarga Wolfram berhasil melewati itu semua, mereka sampai di kerajaan tanpa luka sedikit pun. Berbeda dengan keadaan yang kemarin diceritakan oleh Tuan Wolfram, ia mengatakan begitu sampai di lingkungan kerajaan Sovelam kita baru menyadari kalau ada saja bagian tubuh yang luka-luka karena melewati berbagai rintangan tadi, tapi kenyataannya tidak ada luka sedikit pun yang tampak dibadan mereka bertujuh.
“Aneh, kemarin tangan dan kakiku luka-luka, tapi sekarang tidak luka sama sekali.” Kata Tuan Wolfram penasaran.
“Dulu aku dengar dari penduduk di sini katanya mereka juga akan mengalami luka-luka, meskipun tidak parah, tapi kenapa kita tidak luka ya?” Ungkap Liby dengan raut muka yang bertanya-tanya.
“Mungkinkah ini karena kita membawa Karin?” Kata Nyonya Wolfram menebak.
“Karin?” Tanya Liby dan memandangi Karin dengan penuh penasaran. “Apakah ini ada hubungannya dengan tanda pembebasan yang ia miliki?” Lanjutnya ikut menebak.
“Ya, itu mungkin saja... aku rasa penghuni di hutan dan danau bisa merasakan kekuatan yang dimiliki Karin sampai mereka tidak berani macam-macam” Nyonya Wolfram mulai mengaitkan semua hal dengan ramalan terdahulu.
__ADS_1
“Semoga saja itu benar.” Balas Liby.
Mereka tiba di perbatasan antara Sovelam dan Danau hitam. Kini mereka telah sampai di Sovelam, tempat yang benar-benar asri dengan padang rumput dipenuhi bunga-bunga cantik, perbukitan dan bangunan-bangunan yang tertata rapi dengan berbahan batu-batu alam. Rakyat Sovelam pun tampak sedang melakukan kegiatan sehari-harinya, bercengkrama dengan orang sekitar, berdagang, ada yang sedang membuat pedang, dan sebagainya.
Tiba-tiba saja suasana yang tadinya tenang dengan penduduk yang melakukan kesibukan mereka masing-masing berubah 180˚ menjadi ribut dengan bisikan-bisikan yang suaranya lumayan bisa didengar oleh telinga Liby dan keluarga Wolfram. Raut wajah mereka pun berubah terkejut ketika melihat sosok Liby. Kemudian satu persatu orang yang ada di sekeliling Liby menjatuhkan diri mereka ke tanah, mereka bersujut dan menundukkan kepala mereka serta berkata dengan lantang “Putri... selamat datang kembali.”
Liby terkejut melihat para penduduk melakukan hal semacam itu, ia sangat tidak menerima perlakuan yang terlalu berlebihan seperti ini. “Bangunlah, jangan seperti ini.” Kata Liby kepada seluruh penduduk yang sedang bersujut dan membantu seorang nenek yang ada di hadapannya berdiri.
“Putri, hamba hanya orang biasa maafkan hamba karena membuat putri menyentuh tubuh hamba yang kotor ini.” Ucap nenek itu menundukkan kepalanya
“Apa yang anda katakana Nek? Aku tidak akan membedakan kalian semua, dimataku kalian sejajar dengan ku, kita sama-sama hidup di bumi ini, sama-sama menghirup oksigen jadi mengapa Nenek merasa seperti itu?” Balas Liby kesal setelah mendengar ucapan nenek tersebut.
“Lalu kenapa? Itu hanyalah status, aku tidak akan menganggap kalian rendah cuma karena aku seorang Putri, aku mohon kalian jangan seperti ini, anggaplah aku seperti keluarga kalian, jangan terlalu merendahkan diri kalian.” Lanjut Liby dengan penuh keyakinan dan kebesaran hati.
Penduduk yang ada di sana terkejut mendengar perkataan Liby, mereka merasa aneh dengan sifat Liby yang berubah 180◦, selama ini mereka mengenal Putri Liby Naptun dengan sifat yang sombong, angkuh dan tidak bersahabat sama sekali, dan sekarang Ia telah berubah menjadi seorang Putri dengan hati yang baik serta bersahabat. Tapi dibalik semua pertanyaan dan keterkejutan itu, mereka merasa sangat gembira dan dengan segera satu persatu dari mereka berjalan menghampiri Liby dan menjabat tangannya serta mengembangkan senyum dengan setulus hati.
Liby menyambut mereka dengan suka cita, dan mengucapkan terima kasih dengan sepenuh hati ke setiap orang yang menjabat tangannya. “Maaf bila selama ini sifat aku kurang baik kepada kalian semua, aku berharap kalian semua mau memaafkanku.” Ucapnya begitu selesai menjabat tangan semua penduduk.
__ADS_1
“Tentu saja putri, kami telah memaafkan anda dari dulu.” Jawab semua penduduk berbarengan.
“Terima kasih.” Ucap Liby hingga tanpa ia sadari air mata telah menetes keluar dari pelupuk matanya. Para penduduk yang terharu melihat Liby menangis pun ikut menitikkan air mata.
Akhirnya setelah terjadi drama yang begitu mengharukan antara Putri dengan para penduduk, Liby dan anaknya Karin serta keluarga Wolfram melewati gerbang istana setelah mereka diizinkan lewat oleh dua orang penjaga gerbang. Tentu saja reaksi para penjaga pun sama seperti rakyat istana tadi.
Mereka berjalan menyusuri halaman luas sebelum akhirnya sampai dipintu masuk istana. Halaman itu terlihat begitu subur, terdapat lima pohon apel dan pohon Oak yang ditanam dilima titik berbeda, sepanjang jalan setapak yang mereka lewati ditumbuhi oleh pohon cemara yang menjulang tinggi. kemudian ada rusa yang tengah asik menyantap rerumputan hijau yang tumbuh menutupi tanah, serta kupu-kupu yang terbang hilir mudik dari satu bunga ke bunga lainnya yang ada di kumpulan tanaman bunga.
Nyonya Wolfram, serta ketiga anaknya yang baru pertama kali memasuki daerah kerajaan begitu terperanjat saat menyaksikan keindahan dan ketenangan yang diperlihatkan oleh halaman itu. Mata mereka tidak berhenti berkedip dan mulut mereka terus menganga.
Tiba-tiba Nyonya Wolfram mengeluarkan pertanyaan yang sedikit membuat Liby heran. “Apakah ini benar-benar kerajaan yang dihuni oleh para penyihir?”
Liby yang mendengar perkataan Nyonya Wolfram itu tidak dapat menahan tawanya, sebenarnya ia telah terbiasa dengan ekspresi orang-orang yang melihat lingkungan istana Sovelam untuk pertama kali, tapi baru kali ini ada yang mempertanyakannya. “Ini semua karena Ibuku, beliau sangat cinta dengan segala bentuk keindahan, sebenarnya halaman luas ini dulunya adalah tanah lapang yang tandus dan berbatu, karena tidak tahan menyaksikannya ibuku menyihir tempat ini menjadi sepeti sekarang.” Jelasnya.
Liby berjalan mendekati pohon apel yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri lalu memetik buah apel yang kebetulan tumbuh di dahan yang pendek. “Tapi, saat perang beberapa tahun lalu, halaman ini hancur berantakan, dan sepertinya ibuku telah memperbaikinya lagi setelah keadaan kembali normal.” Lanjutnya dengan memberikan apel yang ia petik kepada Karin dan Anton.
“Tunggu, apa buah itu bisa dimakan?” Tanya Nyonya Leon was-was.
__ADS_1
“Tenang saja, biarpun judulnya Sihir, tapi semua ini tetap menggunakan perawatan yang normal. Ibuku hanya menggunakan sihir pemercepat saja saat bibit pohonnya sudah ditanam agar taman ini cepat ditumbuhi pepohonan hijau. Pemberian pupuk serta penyiramannya tetap dilakukan dengan normal.” Jelasnya.
^^^Bersambung... ^^^