
Robby yang melihat istrinya telah siuman, pada lubuk hatinya yang terdalam merasa sangat senang, namun rasa senang itu hanya sesaat Ia rasakan, dan berganti menjadi rasa penasaran.
”Liby, sebelumnya aku ingin bertanya padamu kau harus menjawabnya dengan jujur. Apakah kau seorang penyihir?” Tanya Robby serius dan mendekat kembali ke samping istrinya.
”Apa yang—apa yang kau katakan― pe.. penyihir?” Ujar Liby dengan gugup.
”Mengapa kau gugup? Apa kau benar-benar seorang penyihir? Kau sadar kedua anak kita seorang penyihir?” tanyanya lagi
”Kedua anak kita penyihir? Kau pasti bercanda. Ya aku memang penyihir dan seorang penyihir yang menikah dengan orang biasa kelak anak-anak yang dia lahirkan tidak akan mempunyai kekuatan sihir” ungkapnya.
“Ya, kecuali kau seorang Putri, di dunia sihir ada pengecualian. Hanya seorang putri yang berkemungkinan bisa melahirkan anak yang memiliki kekuatan sihir, biarpun kemungkinan itu sangatlah tipis tapi bisa saja hal itu terjadi. Jadi apakah kau seorang Putri?” tanya Nyonya Wolfram
“Y.... ya.... aku Putri dari klan sirkon”
”Apa?! Kau seoarang Putri dari penyihir klan sirkon? Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku? Selama ini kau menutupi kekuatanmu? Kau membuat aku kecewa.” Timpal Robby dengan amarah yang tidak terduga.
Belum sempat Liby memberi penjelasan pada Robby, Nyonya Wolfram bertanya lagi ”Kau seorang Putri dari klan sirkon? Apakah kau Putri yang menghilang 9 tahun lalu? Apakah kau Putri yang itu?” Dengan nada tidak percaya.
”Yeah, aku menghilang karena diperintahkan oleh ayahku. Saat itu sedang ada perang yang berkecambuk antara klan sirkon dan klan kurtof, karena ayahku takut terjadi hal yang mengerikan, jadi aku sebagai putri satu-satunya diperintahkan untuk pergi sejauh-jauhnya dari lingkup kerajaan dan diperintahkan untuk kembali jika keadaan sudah mereda.” Ceritanya singkat.
Tuan Wolfram mendekat ”Kau sungguh Putri itu? Kami telah menantikan kemunculanmu Putri,” memeluk dan menangis di pundak Liby. ”Maaf tidak seharusnya aku seperti ini, maaf aku telah lancang Putri.” Lanjutnya ketika melepas pelukan.
”Tidak apa-apa, jangan seperti itu, aku tidak membeda-bedakan kalian biarpun aku seorang Putri, aku justru senang diperlakukan seperti tadi.” ucapnya dengan senyum yang membuat orang lain mempunyai perasaan tenang.
”Cukup! Aku ingin mendengar penjelasanmu Liby, kenapa kau membohongi ku?” Timpal Robby yang sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan secara rinci dari istrinya.
”Maafkan aku Robby aku tidak bermaksud ingin membohongimu, keadaan yang membuat aku harus seperti ini. Setelah pelarianku, aku diburu oleh pengawal dari klan kurtof, aku dikejar mereka dan entah mengapa mereka selalu bisa menemukanku dan mencoba untuk membunuhku,” Liby berhenti sesaat untuk menghela nafas dan menenangkan diri, mencoba untuk menguatkan hati agar tidak menitikkan air mata. ”Kemudian, aku baru tersadar kalau sihirku lah yang selama ini membimbing para pengawal itu menemukanku. Aku sadar akan hal tersebut ketika aku mencoba untuk bertahan selama 2 hari tanpa menggunakan sihir, saat itulah mereka sama sekali tidak menampakkan diri. Akhirnya aku memutuskan tidak akan menggunakan sihir lagi, sihir terakhir yang aku gunakan adalah untuk merubah penampilan dan wajahku, saat itu mereka muncul lagi secara tiba-tiba, spontan aku berlari ke tengah kerumunan orang yang sedang berjalan dan saat itulah aku tidak sengaja menabrakmu Robby, kemudian aku memohon kepadamu untuk menolongku dengan alasan ada orang jahat yang sedang mengejarku dan kau membawa aku ke rumahmu, selanjutnya cerita-cerita yang aku jelaskan kepadamu saat itu bukan bohongan, aku hanya membuatnya menjadi sesuatu yang nyata, yang bisa diterima oleh orang awam. Robby aku sungguh minta maaf, selama ini aku tulus mencintaimu Robby.” jelas Liby panjang lebar dan sudah tidak kuat lagi menahan air matanya.
”Hey... hey... Liby aku juga mencintaimu, jangan menangis begitu, aku mengerti, aku sudah memaafkanmu, dan tidak marah lagi. Berhentilah menangis ya.” Bujuk Robby yang sudah mendekat dan memeluk istri tercintanya itu.
Setelah keadaan Liby menjadi lebih tenang, Robby berbicara berdua saja dengan Tuan Wolfram. Dia meminta agar masalah yang tadi mereka ributkan untuk sementara diundur dulu pembahasannya, karena dia tidak ingin melihat istrinya menjadi lebih terpuruk saat mendengar berita kalau anak lelakinya akan dibunuh demi kepentingan dan kelangsungan hidup para penyihir bahkan manusia awam.
__ADS_1
Setelah mempertimbangkan baik-baik Tuan Wolfram menyetujui hal tersebut tapi dengan syarat, bayi lelaki itu harus dipisahkan dari kembarannya, karena ada kemungkinan bayi laki-laki itu akan membunuh bayi perempuan, kembarannya sendiri itu. Robby menyetujuinya, ia menggendong bayi laki-lakinya keluar dari kamar tempat Liby dan bayi satunya tertidur, ia membawanya masuk ke dalam kamar lain dan menidurkannya di samping dirinya agar keesokan paginya ketika Liby terbangun dia tak akan syok saat melihat salah satu anaknya menghilang.
***
Lima hari telah berselang, Liby pun tampak sudah mulai sehat, ceria dan tenang seperti sedia kala. Dua hari yang lalu pasangan suami istri ini memberikan nama untuk kedua anak kembarnya, yang perempuan bernama Karin Orchido dan yang lelaki bernama Karf Orchido.
Tuan Wolfram dan Robby saling berpandangan saat mereka menyantap sarapan yang dibuat oleh Liby di meja makan. Mata mereka mengisyaratkan bahwa keduanya setuju, hari ini adalah saat yang tepat untuk memberi tahukan Liby tentang tanda terkutuk itu. Tuan Wolfram mengangguk menandakan bahwa ia meminta agar Robby saja yang memberitahukan kepada Liby.
”Ehm” Robby berdeham sebelum memulai berbicara ”Liby―” Ia tampak ragu-ragu untuk memberitahukan ke istrinya.
”Ada apa Robby? Kau mau tambah?”
“Tidak-tidak, aku ingin berbicara sesuatu padamu,” Ia mulai menampakkan ekspresi serius dan menghela nafas menimbang-nimbang kalimat apa yang akan ia gunakan. “Apa kau sudah melihat tanda lahir yang terdapat di bahu kiri milik Karf?” Lanjutnya dengan mengatur setiap kata yang Ia ucapkan.
“Hmm.. sepertinya belum, memang ada masalah apa dengan tanda lahirnya?” Tanya Liby dengan sedikit rasa tidak peduli.
”Apa kau pernah membaca tentang tanda terkutuk? Tanda berupa naga berkepala ular yang melingkar berlawanan arah dan di dalam lingkarannya terdapat sebuah gembok terantai kuat?” Tanya Robby lagi pada istrinya.
“Karf!!!” Teriak Liby sebelum vas itu berada di daerah kasur. Vas jatuh ke lantai dan pecah. Karf berubah lagi jadi bayi normal yang baru saja terbangun dari tidurnya yang nyaman dan menangis karena mendengar suara ribut.
Orang-orang yang berada di meja makan berhamburan menuju sumber suara. Mereka melihat Liby yang sedang berdiri tepat di depan pintu dengan mata yang masih tetap melotot. Kemudian Liby masuk ke dalam kamar diikuti oleh ke lima orang yang baru saja sampai di depan pintu kamar tersebut.
Liby menggendong Karf, membuka baju yang dikenakannya dan melihat tanda yang terdapat di bahu kirinya. Air mata mulai berjatuhan saat ia melihat kenyataan yang sangat menyakitkan itu. Hatinya tersayat saat itu juga, ia merenung dan bergumam dalam hati tanpa bersuara, mengeluh mengapa harus anaknya yang mempunyai tanda terkutuk itu.
Tidak tahan menyaksikan tanda itu ia segera memakaikan lagi baju yang tadi ia lepas, kemudian menidurkan Karf. Setelah itu ia menggendong karin dan membuka pakaiannya, walaupun hatinya masih sangat sakit dengan kenyataan tadi, ia tersenyum saat melihat tanda lahir di lengan kanan bagian atas milik karin, ”Tanda pembebasan.” ucapnya tanpa sadar.
”Sayang.....” Ucap Robby mengejutkan Liby dan hampir saja Karin terlepas dari kedua tangannya.
”Kau mengagetkanku!” Ungkapnya dengan nada kesal
”Maaf...” Ungkapnya menyesal ”kau sudah melihat tanda itu bukan? Lalu apa kau setuju dengan kami yang berencana akan membunuh Karf sebelum terlambat? ” Tanya Robby melanjutkan kalimatnya
__ADS_1
”Apa? Membunuh? Apa kau sudah gila! ini anak kita, biarpun dia memiliki tanda yang terkutuk, Karf tetaplah anak kita, aku tidak akan membunuhnya!” Seru Liby dengan suara lantang.
”Tapi―”
Tiba-tiba saja kaca jendela kamar pecah. Pecahannya berserakan di lantai dan meja yang berada di samping jendela. Angin berhembus dengan kencang dan memporak-porandakan buku-buku yang tertata rapi di meja tersebut.
Hal ini sangat ganjil, Robby yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terdiam dan terperanjat menyaksikannya, sedangkan Tuan dan Nyonya Wolfram serta anaknya Leon mengambil ancang-ancang untuk melindungi semua yang ada di kamar, dan mengacungkan tongkat yang tiba-tiba saja sudah ada di genggaman tangan mereka.
Hawa dingin menyeruak menghantam mereka semua, dan perasaan menyakitkan yang sulit untuk di gambarkan dengan kata-kata menyelubungi hati mereka semua.
”Perasaan ini―Zarkon―” ucap Tuan wolfram “Dia telah berhasil menembus lapisan kedua dari pertahanan yang aku buat di sekeliling rumah ini dan tinggal satu dinding pelindung saja sampai dia masuk ke dalam rumah.” Lanjutnya.
“ Bagaimana mungkin Zarkon bisa mengetahui tempat ini?” Tanya Liby
“ Apakah ini karena kedua anakmu?” Tebak Tuan Wolfram, “Sepertinya Zarkon atau siapapun itu dapat merasakan kelahiran mereka.” Lanjutnya.
“Mungkin anda benar”
“Zarkon? Siapa itu?” Tanya Robby dan Argon berbarengan
”Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Tuan Orchido tolong bawa Argon ke ruang bawah tanah, Argon tunjukkan pada Tuan Orchido dimana letak ruangannya jangan lupa bawa adikmu Anton.” Katanya dengan tegas.
”Aku tidak akan meninggalkan istri dan anak-anakku!” Sergah Robby
”Tuan Orchido!! Anda harus menyingkir! tidak ada gunanya anda di sini. Ini pertempuran antar penyihir!” Bentak Tuan Wolfram
”Robby, aku mohon pergilah bersembunyi dan bawa kedua anak kita.” Tambah Liby dengan wajah memohon
”Tapi―”
”Robby! Aku mohon dengan sangat padamu, ini sangat berbahaya!, jadi jangan ikut campur Robby.” Potong Liby dengan nada marah yang kemudian melemah saat mendekat dan memegang pipi Robby.
__ADS_1
Ia tidak tahan melihat tatapan mata istrinya itu ”Baiklah aku akan pergi, tapi kau harus berjanji akan segera menyusul kami ke tempat persembunyian,” pintanya. ”Aku mencintaimu Liby.” Tambahnya dan mendaratkan kecupan hangat pada dahi mulus istrinya, yang di balas dengan senyum merekah dari bibir mungil milik Liby