Fortune Teller

Fortune Teller
Mera Sadyck


__ADS_3

Suara langkah kaki terdengar sayup-sayup dari lorong yang mengarah ke pintu menuju halaman belakang. Dalam gelapnya malam di halaman belakang terlihat siluet orang yang sedang memegang burung hantu. sosok itu membisikkan sesuatu ke telinga burung hantu tadi dan memberikan sebuah gulungan di kakinya. Setelah melepas kepergian si burung hantu, orang itu kembali masuk ke dalam istana.


...----------------...


“Pagi Mera...”


“Tuan Putri... Pagi, apa tidur anda semalam nyenyak?” Tanya Mera kepada Putri Liby


“Tentu saja, meskipun aku banyak pikiran tidurku tetap nyenyak..” jawab Liby dengan senyum jail.


Dari kejauhan terdengar perbincangan antara beberapa pelayan yang sedang berkumpul menyiapkan ruang makan, dan membuat Liby maupun Mera menghentikan pembicaraannya. Salah satu dari pelayan itu berkata telah melihat sesosok hantu baru di Istana ini tadi malam. Ia tidak melihat dengan jelas hantu itu laki-laki atau perempuan karena malam tadi kabut sedang menyelimuti istana.


“Akhir-akhir ini aku sering sekali mendengar gosip yang aneh-aneh.” Ucap Liby saat sedang berjalan menuju taman dengan Mera.


“Ya, gosip tentang hantu baru itu memang sedang gencar-gencarnya dibicarakan oleh para penjaga dan pelayan Istana.”

__ADS_1


“Kau sendiri, apa pernah melihat hantu baru itu?”


“Tidak, dan aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan hantu itu karena sejujurnya aku tipe orang yang penakut, melihat 2 hantu kecil berkeliaran saja sudah membuat aku hampir pingsan.” Jelas Mera merinding.


Mera sendiri merupakan pengasuh Karin, dia mulai jadi pengasuh Karin sejak satu setengah tahun yang lalu. Mera merupakan perantau yang telah mengelilingi beberapa negara. Waktu itu saat Putri sedang berkeliling Sovelam menggunakan wajah Liby Orchido Ia tidak sengaja bertemu dengan Mera. Liby merasa kasihan dengan Mera karena pakaiannya yang lusuh dan badannya yang sangat kurus serta muka yang sudah tidak jelas lagi warnanya karena tertutup debu yang sangat tebal.


Ia menghampiri Mera dan mengajaknya untuk makan siang disebuah kedai tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tanpa ragu-ragu Mera menyetujuinya karena saat itu ia sangat kelaparan karena belum makan selama tiga hari. Ketika mereka makan berdua, Liby mendengarkan pengalaman yang diceritakan oleh Mera, ternyata perjalanannya sangatlah berbahaya dan kerap kali hampir merenggut nyawanya.


Tanpa pikir panjang Liby mengajak Mera untuk ikut dengannya ke Istana dan meminta kepada kedua orang tuanya agar Mera bisa dijadikan pengasuh Karin. Mera sangat terkejut saat mengetahui fakta kalau wanita yang Ia temui di jalan setapak tadi adalah seorang Tuan Putri dari kerajaan Sovelam. Ia merasa sangat beruntung karena telah bertemu dengan seorang Tuan Putri, bahkan Ia pun bisa mendapatkan sebuah pekerjaan darinya. Tuhan memang belum meninggalkan dirinya, pikir Mera saat mensyukuri keberuntungannya.


Selama tinggal di Istana, Mera menjadi sesosok yang disegani oleh banyak orang, bukan hanya karena wajahnya yang lumayan cantik, tapi kepribadiannya yang lemah lembut dan baik hati serta sikap dia yang tidak pernah mengeluh dan selalu rajin, membuat Ia jadi sering dibicarakan oleh para pelayan bahkan tidak sedikit dari mereka yang merasa iri dengan Mera.


Kedekatan Mera dengan keluarga kerajaan terutama sang Putri membuat dirinya jadi bahan pembicaraan, ada beberapa yang mengatakan kalau Mera menggunakan sihir pemikat agar ia bisa dekat dengan Tuan Putri, ada juga yang mengatakan kalau Mera bermuka dua dan selama ini ia hanya berakting baik agar disenangi oleh setiap penghuni Istana.


Mera selalu tegar, ia tidak pernah memperlihatkan ekspresi ketidaksenangannya dengan orang-orang yang selalu berkata buruk tentang dirinya. Ia menganggap itu semua hanya angin lalu dan tidak memperdulikannya. Putri Liby juga selalu memberi semangat kepada Mera, sang Putri selalu meminta Mera untuk tidak mempedulikan ucapan-ucapan yang kurang menyenangkan dari orang-orang yang setiap saat selalu iri dengan Mera.

__ADS_1


“Apakah para pelayan masih sering membicarakan yang jelek-jelek tentangmu Mera?” Tanya Liby tiba-tiba


“Tidak Putri, mungkin mereka sudah lelah sehingga mereka tidak lagi menyebarkan gosip yang aneh-aneh tentangku, ” jawabnya dengan senyum simpul.


“Baguslah kalau begitu, bagaimanapun aku percaya padamu Mera”


“Terima kasih Putri karena Tuan Putri telah begitu percaya kepadaku.” Ungkapnya dengan senyum menyeringai dari dalam hati. “Tapi Tuan Putri, mengapa anda begitu percaya kepadaku?”


“Entahlah, aku juga tidak mengerti yang jelas dari lubuk hatiku yang terdalam saat pertama kali bertemu denganmu aku merasa sudah kenal lama denganmu dan aku juga merasa seperti memiliki sebuah ikatan batin yang aku sendiri sulit untuk menafsirkannya”


Mera langsung tertegun dan tidak dapat berkata apa-apa begitu ia mendengar penjelasan Putri Liby, Ia tidak menyangka kalau Putri Liby akan memberikan penjelasan yang seperti itu, karena entah mengapa saat pertama kali bertemu dengan Liby Ia juga merasakan hal yang sama persis dengan apa yang dikatakan Liby tadi, kontak batin, ikatan dan seperti telah kenal bertahun-tahun selain itu Mera juga merasakan ada perasaan rindu yang begitu mendalam tiap kali matanya dan mata Liby bertemu.


“Aku merasa terharu begitu mendengar penjelasan Putri” ucapnya yang dibarengi dengan wajah muram karena mengetahui perasaan Liby yang sebenarnya.


Liby tersenyum begitu mendengarnya, ia pun di dalam hati merasa sangat beruntung karena bisa mengenal Mera. Ia tidak pernah merasakan perasaan nyaman dan tenang seakan beban yang selama ini ada di pikirannya lenyap begitu saja bila dekat dengan seseorang, baik itu terhadap kedua orang tuanya. Entah apa yang ada di dalam diri Mera sehingga dapat membuat Liby merasakan hal seperti itu. Mungkin itu hanya perasaan yang sangat berlebihan tetapi memang itu lah kenyataannya, seakan relung hatinya yang kosong semenjak ditinggal oleh suami dan anaknya telah terisi kembali.

__ADS_1


Bagaimana pun Mera tidak bisa memungkiri ketika melihat Karin ─anak Liby─, Ia langsung merasa begitu sayang dengan Karin. Bila sudah saatnya Ia berpisah dari Karin, Ia akan merasa kehilangan padahal mereka masih satu tempat. Mera tidak bisa menjelaskan perasaan ini. Ia akhirnya menikmati setiap waktunya bertemu dengan Karin, dan Ia akan sangat menjaga Karin. Bahkan seekor nyamukpun tidak akan bisa hinggap dan menghisap darah Karin ketika mereka sedang bersama.


__ADS_2