
Hai para reader author comeback lagi nih..maaf ya kalau nunggu lama,soalnya habis ada ulangan jadi sementara nggak buat dulu,dan hari ini baru author up...
Semoga kalian suka
...----------------...
Zeline dkk sudah memasuki kelas mereka masing masing,mereka mengikuti pembelajaran dengan hikmat kecuali Zara dan Fania yang hanya tidur dan bermain bolpoin
"Zara Fania!"--Guru berteriak
"Hmm"
"Kalian ini... kalau mau malas malasan lebih baik tidak usah sekolah!"--Guru itu membentak Zara dan Fania dengan suara lantang hingga sampai di kelas 11C yang tak lain adalah kelas Zeline dan Killa
****
"Ini pasti ulah Zara Ama Fania"--Killa berbisik pada Zeline ditengah tengah pembelajaran
"Valid no debat itu mah"--Zeline balik berbisik pada Killa
****
"Wahh terimakasih banyak Bu atas pengusirannya kami sangat berterimakasih pada Ibu kalau begitu kami pamit ya Bu.... Assalamualaikum"--Fania berdiri dan menggendong tasnya lalu melenggang pergi
"Zar cpet!"--Fania nongol diambang pintu luar dan berteriak kepada Zara yang masih tidur
"Hmmm...Misi Bu dan Makasih"--Zara pergi setelah mendengar teriakkan Fania
"ZARA.....FANIA.....!!"--Guru itu berteriak saking kesalnya namun Zara dan Fania ga peduli
Di tengah jalan mereka dihadang oleh Siska dkk
"Wah wah ada dua anak sok nih... diusir dari kelas ya?"--Siska nyindir
"Dasar!Udah masuk cuma pake beasiswa masih sok sok an lagi"--Imbuh Loly
"Pembuat onar pula"--Dian
"*****!"--Kinan
Namun,inilah Fania dan Zara mereka tak memperdulikan apa yang bukan urusan mereka dan mereka pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan kesal dari Siska
"Heii!cupu kalian!beraninya pergi huuuuuu!!👎"Siska berteriak sekeras kerasnya padahal masih jam pembelajaran dan hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian murid murid setiap kelas
"Tu anak sinting kali ya?teriak teriak ga jelas"--Bisik salah satu siswa kepada siswa lainnya
"Iya kali"--Bisik yang lainnya dengan malas karena lagi tidur malah diganggu
"Woii!gw denger"--Siska menegur lalu melenggang pergi bersama yang lain
****
tring tririring
Nada dering telepon dari ponsel Zara dan bergegas Zara mengangkatnya walau ga tau sapa yang nelfon
"Y saya sendiri"
"Oh baiklah"
Zara lalu mematikan telfonnya dan memberi tahu Fania yang tengah tidur siang
"Fan,bangun"
"Hemm"
"Gue mau kerumah yang kemarin"
"Sono pergi ndiri gw males,uangnya ada di brankas"
"Hmm"--Zara lalu pergi mengambil uang Fania yang ada di brankas
****
Zeline dan Killa baru saja sampai di mansion dengan keadaan yang lemas lalu masuk ke dalam rumah dan disambut oleh para lelaki yang sedang duduk diruang tengah
"Lemes amat Lo pada....kgk bawa uang saku Lo?"--Aldo bertanya dengan tidak mengalihkan pandangannya dari layar kaca
"Diem aj Lo deh,pusing gue habis di hukum ama tu anggota OSIS songong "--Killa melenggang pergi meninggalkan Zeline yang tengah merebahkan tubuhnya di sofa
"Rasain! dan Lu Pergi sono lu bauk"--Ujar Aldo sambil menutup hidungnya
"Hilihh mending gue yang mandi tiap hari,lah lu?mandi 3 hari sekali hueeeeek"--Zeline langsung ngibrit
"TAU APA LAH LO BOCIL"
****
Zara tengah menunggu seseorang yang memiliki janji dengannya yaitu Key,dia menunggu dengan sabar,setelah 15 menit lamanya ia menunggu akhirnya ada sebuah mobil sport yang berhenti didepannya lalu turunlah seseorang dari dalam mobil itu dan betapa terkejutnya dia ketika melihat satu orang lagi yang ikut keluar dari mobil namun,Zara berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya
"Maaf saya terlambat membuat kamu nunggu lama jadiny"--Ucap Key meminta maaf
"Tidak apa apa,ga masalah"
"Mari kita masuk dulu,Ayo Zayn"--Ajak Key lalu diikuti Zara dan Zayn
"Iya"
Mereka masuk ke rumah tersebut dan membicarakan apa yang perlu mereka bicarakan
.
.
.
.
"Emm saya permisi ke belakang dulu sebentar"--Pamit Key
"Eh Zar kok lu bisa beli ni rumah?"--Zayn bertanya dengan mimik wajah yang sangat amat kepo
"Y bisa lah"
__ADS_1
"Alasan?alasan?"
"Pengen suasana baru"
"Hilihh nyesel gw tanya"
Lalu Key kembali dan duduk
"Kalau begitu bagaimana dengan keputusan anda?"--Key bertanya pada Zara
"Saya akan membelinya, ini silahkan dihitung dulu"--Zara memberikan uang kepada Key dan Key memberikan kunci rumah itu
"Tidak usah,saya percaya"
"Baiklah rumah ini resmi menjadi milik anda, dan saya mohon tolong jangan rubah bentuk rumah ini tapi jika kamu tidak keberatan"
"Tentu saja saya tidak keberatan"
"Kalau begitu kami pamit dulu permisi"--Key lalu pergi dan diikuti Zayn yang menoleh kearah Zara cukup lama lalu pergi
Zara pulang ke Mansion lalu menyuruh ke3 gadis yang lain untuk segera mengambil barang barang yang telah mereka persiapkan sebelumnya lalu pergi ke rumah baru setelah berpamitan dengan yang lain
"Kalian beneran mau pindah sekarang?"--Aldo serasa nggak rela
"Hm"--Fania menjawab singkat
"Kalian sering kesini kan?"--Aldo masih berat rasanya
"Paling buat mantau,kalian aja yang sering main kesana,pintu rumah selalu kebuka buat kalian"
"Dah lah ga usah melow melow byee"--Fania pergi mengambil motornya dan pergi begitu juga Zara sedangkan Zeline dan Killa dalam satu mobil
.
.
.
.
Fania sampai terlebih dulu dirumah itu dan tiba tiba sakit kepalanya kambuh lagi dia nggak tau apa penyebabnya dan dia memaksakan masuk rumah dengan kunci yang diberi oleh Zara tadi.
Tak lama Zara tiba dan menemukan Fania yang lagi tiduran,Zara pikir Fania lelah atau mager gitu,tapi setelah di dekati ternyata muka Fania pucat pasi lalu tiba tiba pingsan dan dengan segera Zara menelepon Zeline dan Killa untuk bergegas.
.
.
.
.
.
Zara, Zeline dan Killa tengah menunggu didepan ruang UGD mereka cemas dengan Fania namun Zara berusaha menyembunyikannya dan berusaha tenang, berbeda dengan Zeline dan Killa yang sangat amat gelisah.
cklek
"Kami temannya dok,gimana dok?apakah ada sesuatu yang serius?dok jawab dok"--Zeline dengan tidak sabarnya bertanya
"Saya perlu keluarganya untuk membicarakan tentang kondisi pasien"
"Gimana?mau telfon Bunda Ratri ga?"
"Telfon aja gpp"
.
.
.
.
.
tak tak tak
Suara langkah kaki yang tergesa gesa
"Dimana?dimana Fania?"--Bunda Ratri bertanya kepada Zeline
"Fania didalem Bund,tapi Bunda disuruh menemui dokter dulu di ruangan sebelah resepsionis"
Sang Bunda pun langsung menemui dokter di ruangan yang tadi diberitahukan oleh Zeline
tok tok tok
"Masuk"
"Permisi dok,saya wali dari pasien bernama Fania"
"Iya silahkan duduk Bu"
"Begini Bu saya ingin membicarakan tentang kondisi nak Fania,kata temannya kan dia dibawa kesini karena pingsan dan setelah saya periksa ternyata ada faktor lain yang menyebabkan dia pingsan,apakah nak Fania mengalami kecelakaan dan menyebabkan amnesia berat?"--Sang dokter menjelaskan dan bertanya kepada Bunda Ratri
"Iya dulu sewaktu kecil dia mengalami kecelakaan dan amnesia berat"
"Apakah dulu ada kemungkinan dia bisa mengingat semuanya?"
"Dulu kata dokternya, Fania akan sulit bahkan kemungkinan besar ingatannya tidak akan kembali"
"Tapi sekarang beda lagi Bu,dia sudah dewasa dan kemungkinan besar ingatannya akan kembali seperti semula dan dia pingsan seperti ini kemungkinan dia melihat atau merasakan sesuatu yang dulu dilihat atau dirasakannya sebelum mengalami amnesia yang berhubungan dengan keluarganya dan pasti belakangan ini dia sering pusing, sebab bila sekalinya pusing dia akan pusing terus menerus, tapi rasa pusing itu akan datang hilang datang hilang"
"Jadi harus ditangani seperti apa dok?"
"Cukup dibantu untuk mengingat semuanya namun,jangan dipaksakan karena akan berakibat fatal"
"Apakah perlu terapi atau semacamnya dok?"
"Tidak,hanya saja bila dia mengingat beberapa ingatannya dan selang 1 bulan cek up ke rumah sakit ini,dan silahkan menemukan saya"
"Dan ini resep yang harus ditebus di apotek diminum ketika mengalami pusing saja"
__ADS_1
"Baik dok kalau begitu terimakasih saya permisi"--Ucap Bunda Ratri lalu berdiri setelah menerima resep obat itu
"Iya Bu silahkan"
.
.
.
.
"Gimana Bund tentang keadaan Fania?"--Zeline bertanya
"Nanti Bunda jelaskan,sekarang Ibu mau temui Fania dulu"
"Kita ikut!"--Ucap yang lain
"Iya"
Mereka masuk menemui Fania dan melihat Fania yang sedang tertidur sambil bolak balik di ranjang pasien dengan mimik wajah yang sangat sedih
"Huhuhuhu Fania takut Bund!"
"Aaa!Bundaaa!"--Fania langsung bangun dan terduduk
"Bunda disini Fania"
grep!
Fania memeluk Bundanya dengan erat
"Bunda...Bunda gak kenapa Napa kan?"
"Bunda gak papa kok Fan...Fania kenapa?"
"Fania mimpi buruk Bund"--Fania mengaktifkan mode cute nya
"Tapi sekarang udah tenang?"
"Udah kok Bund"
"Fania...lu jangan pasang wajah kaya gitu dong...gw pingin unyel unyel pipi lu"--Killa ingin maju
"Stop!"--Fania berubah ke semula
"Hayeuhh"
"Fania,Bunda mau ngomong serius sama kamu"
"Mau bilang apa Bund?"
"Zara dan yang lain tolong pergi dulu ya?"--Pinta Bunda secara halus
"Iya Bund"--Lalu pergi
"Ada apa Bund?"
"Kamu belakangan ini sering pusing ya?"
"En-Enggak kok"--Fania mengelak
"Ga boleh bohong"
"Iya Bund Fania belakangan ini sering pusing,tapi datang ilang datang ilang"
"Bunda mau bilang kalau kamu itu, amnesia..."
"Bunda jangan Ngada Ngada deh"
"Jngan potong pembicaraan Bunda,dengerin baik baik.Kamu udah tau kalau kamu bukan anak kandung Bunda sama Ayah, sebenarnya nama orang tua kandung kamu adalah Bram Atkinson dan Lee Yu Ri, Ibu kamu berasal dari Amerika cuman nama nya yang Korea, walaupun Ibu kamu dari Amrik dia itu muslim, singkatnya kamu kecelakaan setelah kamu dititipkan ke Bunda dan mengalami amnesia berat, kata dokter kalau kamu sering pusing karena melihat atau merasakan sesuatu yang kamu lihat atau rasakan sebelum amnesia yang berhubungan dengan keluarga kamu dulu, dan Bunda mau bantu kamu buat ngingat semuanya"--Jelas Bunda panjang lebar
"Jadi aku amnesia? Dan kemungkinan besar aku bisa ingat semuanya lagi gitu?"
"Iya"
"Tapi aku nggak mau Bund, Fania takut kalau ingatan Fania yang dulu menyakitkan Fania ga mau inget Bund"
"Kamu harus inget Fania, di ingatan itu ada masa masa kamu sama keluarga kamu, jangan sampai menyesal dikemudian hari"--Ucap Bunda Ratri sambil meraih tangan Fania yang udah dingin
"Fania ga mau Bund"--Fania terus menggeleng gelengkan kepalanya tanda dia tidak mau
"Jangan gitu oke anak Bunda...Bunda akan slalu ada buat kamu"
"Iya Bund, makasih udah slalu ada buat Fania"
"Iya iya, yaudah kamu istirahat lagi gih"
"Pulang sekarang aja lah Bund"--Fania memohon
"Itu infusnya belum habis,tunggu habis dulu"
"Bawa kerumah lah Bund,gpp kan ya?"--Fania tetap memohon
"Kamu ini tetap keras kepala"--Ucap Bunda Ratri lalu pergi untuk menemui dokter yang menangani Fania
"Hufft gw ga tau hrs gmna?"--Fania menghela nafas setelah melihat Bunda Ratri keluar ruangan
"Gue harus gimana!"--Fania berteriak
...°°Don't Forget...
...Vote...
...Like...
...Komen...
...Favorit...
...Dukung Author Ya...
...Bye👋🏻Borahae💜°°...
__ADS_1