
...π₯β’//FT//β’π₯...
"Marchel! Tolongin gua, hah hah ukhuk ukhuk... To-lo-ngin gu-aa Marchel eghh ukhuk!"
"Fania?! Fania lu dimana? Disini gelap Fan, kagak ada cahaya Gue ga bisa liat lu..." Ya itu adalah Fania yang sedang berteriak meminta pertolongan dengan nafas yang terengah-engah.
"Marchel! Tolongin gueee" Teriak Fania lebih kencang karena ada sesuatu yang menariknya dari belakang.
"Tunggu Fan.." Marchel melihat kejadian itu saat ada sedikit cahaya.
"Marchelll!"
"Huah!" Marchel bangun dari tidurnya dengan jantung yang berdetak kencang.
"Cuman mimpi ternyata.. Hahh kenapa gue bisa mimpiin Fania?" Marchel mengusap wajahnya kasar.
"Jam berapa sekarang?" Marchel melihat jam dinding yang tergantung di kamarnya ternyata baru pukul satu dini hari, dengan segera dia mengambil air wudhu lalu melakukan sholat tahajud, setelah selesai dia bergegas tidur kembali.
Setelah kurang lebih 10 menit dirinya memejamkan mata, namun tak kunjung juga dia sampai ke alam mimpi. Dirinya duduk lalu berpikir sejenak tentang mimpi yang dialaminya tadi, Marchel merasa ada sesuatu yang ganjal pada hatinya.
"Haishhh.. Mending gue cek" Marchel segera menyambar mantelnya yang menggantung dibelakang pintu, karena masih pagi buta pasti diluar sangat dingin.. Begitu pikirnya, dia turun tangga dengan hati hati supaya tak terdengar orang tua dan adiknya yang kaya ember pecah itu.
...ππππππππππ...
"Siapa kamu?!" Teriak Bunda Ratri.
__ADS_1
"Ah, maaf saya kira tidak ada orang jadi saya ya ngendap ngendap aja"
"Tapi maaf ya Bu... Ibu lebih baik tidur untuk sementara..." Seseorang dengan senyum devilnya.
Bugh!
"Selamanya juga ga papa kok Bu, hehe santai aja sama saya"
Orang itu memukul tengkuk Bunda Ratri hingga pingsan disamping ranjang Fania.
"Faniaa... Kita ketemu lagi kan ya... Lu kangen ga ama gue? Enggak ya? Tapi gue kangen ama lu.. gimana dong...?" Seseorang itu menyayat tipis wajah Fania yang pucat menggunakan pisau.
"Eh iya.. Lu tau gak kabar adek gue? Ga taukan? Gue kasih tau yaa... Dia itu jadi penakut sekarang kelakuannya jadi kek orang gila, Ga mau makan ampe sekarang, Lu pasti tau gara gara siapa dia kayak gitu. Ga tau lo? ckckck... Ya gara gara lu lah bego! Lu dah siksa Dena sampe Ga bisa ngrasain yang namanya bahagia Fania! Anjing lu emang!"
She's Rena... Kakak dari Dena yang dikurung Fania selama beberapa hari, mungkin sampe beberapa minggu. Meski Fania mengurungnya tetapi dia tetap memberi Dena makan minum, namun Dena sendiri yang tak mau dan akhirnya gila sendiri. Dan tujuan Fania mengurung Dena adalah agar Fania bisa menggertak seorang Rena.
Bruak!!
"Fania!" Marchel tiba dengan mendobrak pintu yang sebelumnya telah dikunci oleh Rena.
"Marchel" Bisik Rena pelan, dia tak menyangka bisa ada Marchel disini. Dan itupun dia mengenal Fania? Situasi macam apa ini? Berbagai pertanyaan bersarang di benaknya.
Ctek!
Marchel menyalakan lampu di ruangan itu, dan dia mendapati seorang wanita berada didekat ranjang Fania yang tengah memegang sebuah pisau. Marchel seperti tidak asing dengan wajah wanita itu, hanya saja dia melihat nya dari samping.
__ADS_1
"Lo, Rena?" Marchel mendekat dan menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan.
"S-siapa? a-aku?" Rena berbicara dengan terbata.
"Ya Lo Rena kan? Lo mau apa kemari? Dan.." Marchel mengalihkan pandangannya ke tangan kanan Rena yang seketika disembunyikan oleh Rena.
"Jawab pertanyaan gue" Marchel lebih dekat.
"Aku cuman ingin membalaskan dendam adikku kepada keparat ini" Rena menunjuk Fania dengan tatapan mata yang sangat benci.
"Lo ga berubah Ren, dari dulu. Kecewa gue ama lo, sekarang lo pergi dari sini" Marchel menunjuk ke arah pintu dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Ap-Apa? Kau siapanya?"
"Lo mau tau? Tunangan"
Deg!
"Hah?" Seakan sendi sendi nya lemas dia jatuh terduduk.
Oke gimana? Udah satu bulan ga update, rencananya si mau revisi dulu tapi up dulu.
Janlup like ya, cuman satu klik doang like kalian berharga bagi author.
Dan juga komen ya. Semoga bisa dapet fell nya
__ADS_1
Byee para reader's Ter lup lupβ€οΈ