Gadis Tengil Melawan Tuan Muda

Gadis Tengil Melawan Tuan Muda
Bab 10


__ADS_3

Di perusahaan Arbeto.Ysb


"Tuan aku mau pulang saja! Disini aku tidak melakukan apa-apa, hanya bisa melihatmu bekerja saja. Aku bosan tau!" seru Natusha dengan mencurutkan bibirnya kedepan.


Bagaimana tidak? Sudah hampir 2 jam gadis itu hanya duduk diatas sofa di ruangan Daniel bekerja. Dia tak melakukan apapun dan hanya bisa melihat Daniel yang sedang fokus pada komputer nya.


"Tidak boleh!" tolak Daniel dengan tegas.


"Tapi Tuan—"


"Tidak yah tidak! Diam disana!" perintah Daniel membuat Natusha semakin cemberut.


"Dasar Mr. Arogan!" gumam Natusha dalam hatinya.


Daniel melirik kearah Natusha yang tampaknya benar-benar sangat bosan. Merasa kasihan dengan Natusha, Daniel pun memikirkan sebuah cara.


"Kalau kau sedang bosan, buatkan saja aku kopi di ruang pantry," ujar Daniel membuat Natusha langsung berdiri dari duduknya.


"Siap laksanakan Tuan!" ujar Nastuha yang hendak melangkah keluar dari ruangan Daniel.


"Tunggu!" teriak Daniel membuat Natusha langsung menghentikan langkahnya.


"Emang kau tahu dimana tempat pantrynya?" tanya Daniel dibalas gelengan kepala Natusha.


"Aku bisa bertanya pada karyawan lain Tuan. Tuan tenang saja," ujar Natusha yang langsung pergi dari ruangan itu.


Sementara Daniel hanya bisa menatap kepergian Natusha tanpa adanya rasa curiga sedikitpun.


"Hehehe, sekarang aku bisa kabur ke tempat Luna bekerja," gumam Natusha yang langsung masuk kedalam lift.


Setelah tiba dilantai bawah, Natusha yang disuruh membuatkan kopi untuk Daniel itu tidak langsung menuju pantry, dirinya justru keluar dari perusahaan dan entah kemana perginya.


Tiga jam berlalu. Hari sudah sore tapi Natusha tak kunjung kembali kedalam ruangan kerja Daniel. Membuat Daniel emosi karena sudah lama menunggunya.


"Gadis nanas itu membuat kopi atau sedang tertidur, kenapa lama sekali!" gerutu Daniel yang dengan kesal mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Leo.


"Ada apa Tuan?" tanya Leo ketika mengangkat panggilan telepon dari tuannya itu.


"Kau cari Natusha diruang pantry! Cepat!" perintah Daniel.


"Baik Tuan!" tanpa banyak bicara Leo langsung menuju ruang pantry. Namun yang ia dapatkan hanyalah ruangan pantry itu yang kosong dan tidak ada seorang pun disana.


"Kau lihat Natusha tidak?!" tanya Daniel yang tidak sabaran.


"Tuan ruangan pantry kosong, tidak ada siapapun disana," jawab Leo membuat Daniel langsung terkejut.


Brak!


"Apa?! Bagaimana bisa!" teriak Daniel sembari mengebrak meja dengan sangat kuat.


"Saya sudah mencarinya Tuan, tapi saya tidak melihat Nona Natusha," ujar Leo membuat Daniel mulai khawatir.


"Cari Natsuha diseluruh ruangan! Cek Cctv kantor dan temukan Natusha secepatnya!" perintah Daniel dengan tegas.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" Leo langsung memutuskan panggilan secara sepihak dan segera memerintahkan para anak buahnya untuk mencari keberadaan Natusha.


Sementara Daniel langsung keluar dari ruangannya dan pergi ke ruang cctv perusahaan.


Di ruang Cctv perusahaan.


"Bagaimana, kau sudah menemukan jejak Natusha tidak?!" tanya Daniel pada Leo yang sedang mengecek layar cctv.


"Tuan lihatlah, itu Nona Natusha!" Leo langsung menunjuk kearah layar cctv yang menampakkan seorang gadis yang berlari keluar dari perusahaan.


Daniel melihat jelas kalau gadis itu memanglah Natusha.


"Beraninya anak itu kabur...." geram Daniel mengepal tangannya dengan sangat kuat.


Daniel emosi dan khawatir melihat Natusha pergi tanpa memberitahu nya. Sementara para anak buah langsung disuruh berkumpul diruang cctv.


"Saya tidak mau tahu! Dalam waktu singkat kalian harus menemukan Natusha! Jika dalam waktu 24 jam kalian belum menemukannya, kalian semua akan saya pecat!" ujar Daniel kepada para bawahannya itu.


"Baik Tuan!" seru Leo dan para anak buahnya. Yang kini langsung bergegas pergi untuk mencari keberadaan Natusha.


"Gadis nanas kemana kau..." lirih Daniel dengan menatap kearah layar cctv yang menampakkan Natusha yang sedang berlari keluar dari perusahaan.


Sementara itu.


Disebuah caffe.


"Astaga, Sa... beneran kamu tinggal dirumah pria pemarah itu?" tanya Luna denga penasaran.


Natusha mengangguk pasrah sembari mencurutkan bibirnya kedepan. "Mau bagaimana lagi, aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi."


"Dia itu tidak akan pernah mencariku, Lun. Apa kamu tahu, dia itu tidak pernah memperdulikan aku, taunya hanya marah-marah terus setiap harinya!" curhat Natusha membuat Luna terkekeh.


"Tapi pasti dia akan mencarimu untuk menagih kopinya," ujar Luna membuat Natusha langsung tertawa.


"Kasihan sekali, mungkin Tuan Daniel masih asik menungguku membuatkan nya kopi," seru Natusha dengan masih tertawa.


***


Sore berganti dengan malam. Cuaca mulai gelap dan Natusha belum juga ditemukan. Daniel yang mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Natusha belum juga membuahkan hasil.


Apartemen.


Daniel melirik kearah jam. Sudah pukul 10 malam namun Natusha tak kunjung ditemukan.


"Natusha kemana kau..." lirih Daniel dengan berjalan mondar-mandir didepan pintu apartemen nya menunggu kepulangan Natusha.


"Tuan ini sudah sangat malam, sebaiknya anda makan dulu, anda belum makan apa-apa sejak tadi sore," ujar Leo melihat Daniel yang terus saja berjalan mondar-mandir didepan pintu.


"Tidak sebelum Natusha ditemukan!" ujar Daniel menolak saran Leo dengan masih berjalan mondar-mandir didepan pintu.


"Mau saya ambilkan cemilan untuk mengganjal perut, Tuan?" tanya Leo yang justru mendapatkan tatapan tajam dari Daniel.


"Maaf, Tuan saya lancang. Tapi Tuan duduklah sebentar, anda bisa lelah jika berjalan mondar mandir terus," ujar Leo.

__ADS_1


"Kau bisa diam tidak!" bentak Daniel dengan kesal membuat Leo langsung terdiam.


"Sebenarnya kemana dia pergi..." gumam Daniel sesekali melirik kearah jam dengan wajah yang cemas. Sementara Leo hanya bisa menghelai nafasnya dengan panjang melihat tingkah Daniel yang begitu mengkhawatirkan keberadaan Natusha.


Sementara Natusha yang masih berada di caffe begitu asik mengobrol dengan sahabatnya, yaitu Luna.


"Ya ampun... sudah jam 10! Aku harus pulang!" seru Natusha dengan melirik kearah jam tangannya.


"Lun, aku pulang dulu yah! Sudah malam banget, aku takut kalau Tuan Daniel akan marah padaku," ujar Natusha yang langsun berdiri dari tempat duduknya.


"Oh iya... hati-hati dijalan yah! Dan hati-hati sama Tuan mu yang pemarah itu!" ujar Luna dengan terkekeh kecil.


"Oke, Lun!" Natusha langsung pergi dari caffe tersebut dan menunggu taksi yang sudah ia pesan online.


......


Natusha masuk kedalam gedung apartemen. Para karyawan yang bekerja di apartemen tersebut menatap Natsuha dengan tatapn takut.


"Heu... ada apa dengan mereka? Kenapa mereka terlihat begitu takut?" gumam Natusha dalam hatinya.


Bagaimana tidak takut? Daniel sejak tadi terus marah-marah di apartemen itu karena Natusha tak kunjung ditemukan. Bahkan karyawan apartemen yang tidak tahu apa-apa pun kena marahnya juga.


Natusha masuk kedalam lift. Dan setelah sampai di lantai delapan apartemen. Dirinya langsung masuk kedalam apartemen Daniel.


Ceklek.


Daniel dan Leo langsung menoleh kearah pintu ketika mendengar suara pintu terbuka.


"Tuan?" gumam Natusha melihat Daniel yang kini sedang berlari kencang kearahnya.


"Gadis nanas!" Daniel langsung memeluk Natusha dengan erat, begitu erat sampai Natusha tak bisa bernafas.


"Huhhh, Tuan sesak..." sungut Natusha berusaha memberontak dari pelukan Daniel.


Tahu kalau Natusha sesak nafas, Daniel langsung mengurangi pelukannya. "Kau baik-baik saja kan?" tanya Daniel dengan nada lirihnya.


"Aku baik-baik saja Tuan," jawab Natusha membuat Daniel langsung bernafas dengan lega karena Natusha kembali dengan keadaan yang utuh dan selamat.


"Tuan mengkhawatirkan ku?" tanya Natusha sedikit senang melihat Daniel seperti nya sangat khawatir kepadanya.


Daniel yang mendengar perkataan Natusha langsung melepaskan pelukannya. "Siapa bilang aku mengkhawatirkan mu! Aku hanya...." Daniel berusaha berfikir keras untuk memikirkan sebuah alasan.


"Hanya apa?" tanya Natusha mengerutkan keningnya.


"Hah... sudahlah!" umpat Daniel yang tak bisa mencari alasan yang bagus. "Kau harus dihukum gadis nanas, karena kau sudah berani kabur dariku!" ujar Daniel dengan seringai licik diwajahnya.


Mendengar ucapan Daniel membuat Natusha langsung menutup kedua telinganya. "Jangan ditarik lagi," sungut Natusha dengan cemberut.


"Siapa bilang hukuman mu adalah menarik telingamu?" tanya Daniel semakin tersenyum menyeringai.


"Lalu apa dong?" tanya Natusha.


"Ikut denganku!" Daniel langsung menarik tangan Natusha kedalam kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat-rapat.

__ADS_1


Sementara Leo yang masih berada disana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi antara Daniel dan Natusha.


Bersambung.


__ADS_2