Gadis Tengil Melawan Tuan Muda

Gadis Tengil Melawan Tuan Muda
Bab 5


__ADS_3

"Ini," Daniel memberikan kain lap pada Natusha yang baru saja tiba di apartemennya.


"Padahal hari ini rencananya aku ingin libur," lirih Natusha dengan cemberut. Mengambil kain lap yang Daniel berikan kepadanya.


"Kau bersihkan dulu semua ruangan ini. Baru kau boleh pulang!" ujar Daniel dengan tegas yang kini berjalan kearah kursi kebesaran nya lalu duduk dengan gaya yang sangat angkuh.


"Pulang? Em ... Tuan aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Natusha.


"Mengatakan apa?" tanya Daniel menatap intens kearah Natusha.


"Apa boleh aku...." Natusha benar-benar ragu untuk mengatakan kalau dirinya ingin tinggal di apartemen Daniel.


"Cepat katakan!" bentak Daniel karena tidak suka melihat tingkah Natusha yang begitu bertele-tele dalam berbicara yang membuatnya penasaran.


"Tuan apa boleh aku tinggal disini?" tanya Natusha dengan pelan sembari menundukkan kepalanya.


"Apa? Bicara yang benar!" ujar Daniel karena kurang jelas mendengar suara Natusha.


"Apa boleh aku tinggal disini, Tuan? Aku jan—"


"Tidak boleh!" seru Daniel menolak keras permintaan Natusha yang ingin tinggal di apartemennya. "Kau pikir apartemen ku ini adalah sebuah penginapan!"


"Tapi, Tuan..." lirih Natusha.


"Aku bilang tidak boleh yah tidak boleh!" sentak Daniel dengan tegas.


"Tuan boleh memotong gajiku sebanyak-banyaknya, asalkan aku dibiarkan tinggal disini. Aku janji tidak akan berbuat masalah disini!" Natusha dengan wajah memelasnya itu berusaha membujuk Daniel. Namun Daniel yang memiliki sifat Arogan itu tentu saja tidak akan menyetujui permintaan Nastusha.


"Kau itu perempuan yang masih muda! Seharusnya kau luangkan waktu muda mu itu untuk belajar, bukan malah menggoda pria dengan mengambil jalan pintas untuk tinggal dirumah nya!" ujar Daniel menatap sinis kearah Natusha.


"Tuan, aku ini masih punya harga diri. Aku tidak seperti yang kau pikirkan!" sungut Natusha.


"Aku meminta untuk tinggal disini karena aku kabur dari rumah, hiks..." Natusha mulai menangis dengan keras karena ucapan Daniel tadi seperti sedang merendahkan dirinya.


Melihat Natusha yang menangis membuat Daniel merasa sedikit kasihan. Daniel dari semalam sudah menebak kalau sekarang Nastusha punya masalah sehingga dirinya kabur dari rumah.


"Duduklah!" perintah Daniel yang menyuruh Natusha untuk duduk disofa. Jujur saja ini pertama kalinya Daniel membiarkan seorang wanita untuk duduk di sofa kesayangannya.


Natusha duduk dengan masih menangis dengan keras. "Berhenti menangis!" perintah Daniel namun Natusha semakin menangis membuat Daniel hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah.


"Kenapa kau kabur dari rumahmu?" tanya Daniel menatap Natusha dengan intens.


"Aku kabur karena Bibiku ingin menjodohkan ku," jawab Natusha dengan sesenggukan.


"Bukankah itu bagus? Bibi mu itu ingin menjodohkan mu karena dia sadar tidak akan ada yang ingin menikah dengan gadis tengil seperti mu!" ujar Daniel yang membuat Natusha kesal dan langsung berhenti menangis.


"Tuan ini jahat sekali!" sungut Natusha dengan mengelap ingusnya menggunakan bajunya.


"Kau itu jorok sekali! Kau bisa menggunakan tisu, Bocah Ingusan!" seru Daniel dengan menatap jijik kearah Natusha.

__ADS_1


"Pakai tisu kurang afdol!" jawab Natusha yang masih mengelap ingusnya menggunakan bajunya.


Tak tahan melihat tingkah Natusha yang jorok, Daniel pun langsung mengambil tisu yang berada diatas meja lalu memberikannya kepada Natusha.


"Pakai ini! Jangan gunakan bajumu, dasar jorok!" seru Daniel menyerahkan tisu tersebut pada Natusha yang masih setia mengelap ingusnya dengan bajunya.


Natusha yang merasa diperhatikan oleh Daniel dengan malu-malu menerima tisu yang Daniel berikan padanya.


Sruppp!!


Natusha mengeluarkan ingusnya membuat Daniel hampir muntah. Untung saja Natusha itu seorang wanita, jika laki-laki sudah dari tadi Daniel menendang Natusha keluar dari apartemen nya.


"Terimakasih, Tuan," ucap Natusha memberikan tisu bekas ingusnya pada Daniel. Dan dengan bodohnya, Daniel menerima tisu itu.


1... 2... 3...


"Berani sekali kau memberiku tisu bekas ingusmu!" teriak Daniel yang tersadar dan langsung melempar tisu bekas Natusha dengan jijik kelantai.


"Loh kenapa Tuan justru marah? Tuan sendiri yang menerimanya tadi," ujar Natusha dengan entengnya.


"Kau itu seorang wanita kenapa tidak ada jaimnya sama sekali!" tegur Daniel yang kini berdiri dihadapan Natusha dan langsung menarik telinga Natusha dengan keras.


Natusha yang mendapat tarikan telinga dari Daniel langsung menjerit kesakitan. "Aduh, Tuan, sakit! Sakit! Sakit!" rengek Natusha memegang tangan Daniel yang menarik telinganya dengan keras.


"Sekali lagi kau bersikap itu padaku, telinga mu itu akan aku tarik keduanya!" ancam Daniel yang kini melepaskan tangannya dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Dengar, Sasa! Kau boleh tinggal disini," ujar Daniel membuat Natusha langsung tersenyum bahagia.


"Tapi! Kau tidak boleh menyentuh barang-barang yang berharga disini. Dan yang paling utama, kalau kau masih bersikap jorok seperti tadi aku tidak akan segan-segan mengusir mu keluar dari sini! Mengerti gadis Nanas?!" ujar Daniel dengan lantang.


Natusha yang tidak ada pilihan lain selain tinggal di apartemen Tuan Daniel mau tidak mau harus menyetujui syarat yang diberikan Tuan Daniel kepadanya.


"Mengerti, Tuan!" seru Natusha dengan semangat.


"Bagus! Sekarang lanjutkan pekerjaan mu, sebelum sepupu ku datang!" perintah Daniel.


"Siap laksanakan, Tuan!" Natusha dengan semangat 45 langsung membersihkan seluruh ruangan di apartemen itu.


***


"Bagaimana kabarmu?" tanya David yang kini sudah berada di apartemen Daniel.


"Kabarku baik. Kau sendiri kapan kau pulang dari Paris?" tanya David dengan membawakan minuman kaleng untuk David. David menerimanya dan langsung meminum minumannya itu.


"Semalam," jawab David.


"Cepat sekali kau pulang darisana," ujar Daniel yang kini duduk kembali dikursi kebesarannya.


"Aku bosan dengan kehidupan di Paris. Entah mengapa kalau aku tinggal disana aku selalu memikirkan mu," goda David membuat Daniel mual ketika mendengarnya.

__ADS_1


"Kau itu membuatku geli saja!" sungut Daniel membuat David langsung tertawa.


"Aku hanya bercanda, Bro," seru David yang kini langsung berhenti tertawa ketika melihat seorang gadis cantik yang keluar dari kamar Daniel dengan membawa sebuah keranjang yang berisi pakaian kotor.


"Itu siapa?" tanya David menunjuk Natusha yang kini berjalan memasuki kamar mandi.


Daniel menoleh kearah yang di tunjuk David, dan seketika wajah Daniel langsung berubah menjadi kesal ketika melihat Natusha. "Itu pembantu disini," jawab Daniel dengan malas.


"Wajahmu kenapa, Bro?" tanya David mengerutkan keningnya melihat wajah Daniel yang tampak sangat kesal.


"Garis itu selalu membuatku kesal. Kau tahu, bahkan dia berani memberiku tisu bekas ingusnya!" timpal Daniel membuat David terkejut.


"Hah? Seorang pelayan berani bersikap seperti itu pada mu? Bro, apa kau sedang bercanda?" tanya David dengan menahan tawanya mati-matian.


"Hais, sudahlah! Jangan bahas Bocah Ingusan itu lagi! Aku sangat membencinya!" sungut Daniel dengan kesal.


"Gadis itu benar-benar unik, ini pertama kalinya aku mendengar ada seorang gadis yang berani melawan Daniel Arbeto seorang pria terkaya didunia!" seloroh David dengan tertawa lepas.


"Diamlah!" sentak Daniel dengan kesal pada sepupunya itu.


"Hati-hati, Bro. Karena rasa benci yang berlebihan bisa berubah menjadi perasaan cinta! Bisa jadi kedepannya nanti kau akan mencintai gadis unik itu," ujar David membuat Daniel bergidik ngeri.


"Membayangkan nya saja aku sudah jijik! Bagaimana aku bisa mencintainya?" seru Daniel.


"Baguslah kalau kau tidak mencintainya. Aku ingin sekali berkenalan dengannya, bolehkah kau mengenalkan nya padaku?" tanya David dengan menatap Daniel penuh harap.


"Untuk apa kau berkenalan dengan Bocah Ingusan itu?" tanya Daniel mengerutkan keningnya.


"Aku ingin mengajaknya kencan malam ini," timpal David dengan tersenyum penuh arti.


"Tidak boleh!" teriak Daniel dengan tegas.


"Kenapa tidak boleh? Bukankah kau itu sangat membencinya, maka biarkanlah dia bersama ku saja!" goda David dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Aku bilang tidak yah tidak! Jika dia pergi berkencan denganmu, lalu siapa yang akan membersihkan apartemen ini? Nenekmu?!" gerutu Daniel.


"Nenek ku juga nenek mu, Bang**sat!"


....


Didalam kamar mandi.


Natusha memasukan pakaian kotor kedalam mesin cuci. Ketika Natusha menyentuh kain tipis berwarna hitam dirinya begitu penasaran.


"Apa ini?" gumam Natusha yang mengangkat kain tersebut tinggi-tinggi.


"IHHH... ****** ***** Tuan Daniel!" pekik Natusha langsung melempar kain itu kedalam mesin cuci dengan jijik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2