
Hari berganti hari. Tak terasa sudah satu tahun lamanya hubungan Daniel dan Natusha.
Bagaimana dengan kehidupan mereka? Tidak ada yang berbeda, Daniel masih tetap dengan sikap arogannya. Dan Natusha yang paling suka menyulut emosi Daniel dengan tingkahnya yang tengil dan bar-bar.
Setelah Natusha pulang sekolah, dirinya langsung pulang ke perusahaan Daniel. Entah kenapa akhir-akhir ini Daniel selalu saja memintanya untuk pulang ke perusahaan, dan mau tidak mau Natusha harus menuruti permintaan kekasihnya itu.
"Selamat sore Nona," seru Leo membuat Natusha yang baru saja masuk kedalam gedung perusahaan langsung terperanjat kaget.
"Ya ampun Leo... kau itu mengagetkanku saja!" sungut Natusha mengelus dadanya naik-turun.
"Nona sedang apa disini?" tanya Leo dengan wajahnya yang datar. Seolah tidak merasa bersalah telah berani mengejutkan kekasih tuannya itu.
"Aku kesini karena Daniel memintaku. Kau tahu kan kalau dia yang meminta aku tidak bisa menolaknya," bisik Natusha pada Leo membuat Leo mengangguk paham.
Setelah Natusha dan Leo berbincang-bincang beberapa menit. Natusha pun pamit ingin pergi ke rungan Daniel.
Disaat Natusha berjalan menuju lift. Semua karyawan yang berada disana membungkuk hormat menyambut kedatangan calon nyonya besar mereka itu.
"Ya ampun, ternyata begini yah rasanya menjadi kekasih om-om kaya raya, aku jadi bisa merasakan menjadi nona muda dalam waktu sesaat..." gumam Natusha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
....
Diruangan Daniel.
"Tuan ini rencana pengembangan dari saya," ujar karyawan wanita menyerahkan berkasnya pada Daniel.
Daniel menerimanya dan membacanya dengan sangat teliti. Ketika dirinya sedang membaca, tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu dulu.
"Aduh capek..." leguh Natusha yang langsung melempar tubuhnya diatas sofa panjang yang berada diruangan Daniel.
Daniel yang mendengar suara Natusha langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Natusha yang sudah rebahan diatas sofa. Daniel menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat tingkah Natusha yang benar-benar tidak sopan, ia lalu kembali membaca berkas nya itu.
"Saya suka rencana pengembangan mu," ujar Daniel yang langsung menandatangani berkas tersebut. "Approve. Kerjakan langsung!"
"Ahh baik Tuan! Terimakasih," ujar Karyawan tersebut dengan sangat senang.
Karyawan itu pun pamit pergi setelah mendapat persetujuan dari Tuan Daniel. Sementara Daniel kini sibuk menandatangani surat-surat yang menumpuk diatas mejanya.
Setelah beberapa menit, Daniel pun akhirnya bisa menyelesaikan semua pekerjaan nya. Daniel kini menatap kearah Natusha yang sedang sibuk bermain game di ponselnya.
"Sayang," panggil Daniel pada Natusha. Namum Natsuha terlihat sangat serius bermain sampai-sampai ia tak mendengar panggilan dari Daniel.
"Sayang!" panggil Daniel lagi dengan sedikit berteriak namun Natusha lagi-lagi tak mendengar panggilannya.
Dengan geram Daniel berdiri dari kursi kebesaran nya. Dan menghampiri Natsuha yang sedang rebahan diatas kasur.
"Akh!" pekik Natusha ketika Daniel tiba-tiba mengangkat tubuhnya seperti karung beras.
"Daniel! Turunkan aku!" teriak Natusha dengan kesal karena aksi Daniel yang begitu tiba-tiba membuatnya terkejut.
Daniel tak peduli dengan permintaan Natusha yang meminta untuk di turunkan. Daniel justru semakin mempercepat langkahnya untuk masuk kedalam kamar pribadinya yang berada di ruangan tersebut.
Bruk!
"Aduhh sakit!" pekik Natusha mengelus bokongnya yang terasa sangat sakit ketika Daniel melemparnya dengan keras ke atas tempat tidur.
"Salah siapa, aku memanggilmu kamu tidak menyahut!" sungut Daniel yang kini meni**ndih tubuh Natusha.
"Hehehe... maaf, Sayang. Aku gak sengaja loh!" ujar Natusha dengan menyegir polos.
"Sengaja atau tidak, kau itu tetap harus di hukum!" ujar Daniel membuat Natusha meneguk salivanya dengan sangat susah.
__ADS_1
"Sayangku, ampuni aku, kita itu harus cinta damai okay?" bujuk Natusha melihat senyum diwajah Daniel yang tampaknya sangat menakutkan.
Daniel tak mendengarkan ucapan Natusha. Daniel justru mengunci pergerakan tangan Natusha dan langsung men**cium bi**bir Natusha dengan sangat rakus.
Sementara Natusha yang mendapat perlakuan seperti itu dari Daniel hanya bisa pasrah. Mau bagaimana lagi? Kalau itu keinginan Daniel Natusha tidak akan bisa memberontak ataupun menolak.
"Om-om satu ini menyebalkan sekali! Untung aku sayang," gumam Natusha dalam hatinya.
Kini keduanya pun saling beraduh li**dah didalam kamar tersebut tanpa ada seorang pun yang berani menganggu mereka.
Bunyi decapan demi decapan terdengar dikamar tersebut, membuat Daniel semakin bersemangat untuk bermain di mulut Natusha.
"Emh...."
Sementara itu.
"Dimana Daniel?" tanya Ayah Kenzo pada Leo.
"Tuan Daniel berada di ruangan nya, Tuan," jawab Leo.
"Hmm!" Ayah Kenzo langsung bergegas menuju ke ruangan Daniel. Dan Leo hanya bisa mengikuti tuan besarnya itu dari belakang.
Ceklek.
Pintu terbuka. Namun tak ada Daniel didalam ruangan itu membuat Ayah Kenzo dan Leo keheranan. Ayah Kenzo melangkah masuk dan melihat laptop putranya yang masih dalam keadaan menyala.
"Tidak biasanya anak ini ceroboh seperti ini," gumam Ayah Kenzo menutup laptop putranya.
"Kau bilang dia ada disini, tapi kenapa ruangan kosong?" tanya Ayah Kenzo menatap Leo dengan intens.
"Saya tidak tahu, Tuan. Yang saya tahu, Tuan Daniel seharian ini berada diruangan nya," jawab Leo.
Ayah Kenzo melihat tas Natusha yang berada diatas sofa dan ia pun langsung tersenyum penuh misteri diwajahnya.
"Dimana, Tuan?" tanya Leo penasaran.
"Ikut denganku!" Ayah Kenzo langsung melangkah kearah pintu kamar pribadi Daniel. Sementara Leo yang melihatnya begitu bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Ayah Kenzo.
Ayah Kenzo menempelkan telinganya ke pintu.
Cpk... cpk... cpk... emhh
"Sudah ku duga," gumam Ayah Kenzo dari dalam hatinya ketika mendengar suara decapan ciu**man dari dalam kamar.
"Tuan besar sedang apa?" tanya Leo begitu keheranan melihat tingkah Ayah Kenzo yang sepertinya sedang menguping.
"Dengarkan sendiri!" seru Ayah Kenzo menarik tangan Leo untuk mendengar suara didalam kamar tersebut.
Cpkk... cpkk... cpkk...
"Tu--tuan Daniel...." gumam Leo begitu terkejut dengan wajahnya yang langsung memerah disaat mendengar suara aneh dari dalam kamar.
"Sekarang kau tahu kan apa yang harus kau lakukan, Leo?" tanya Ayah Kenzo.
"Lakukan apa Tuan besar?" tanya Leo dengan wajah yang masih memerah, karena otaknya kini sudah berfikir yang macam-macam.
"Dobrak pintunya!" perintah Ayah Kenzo membuat Leo langsung melototkan matanya dengan sempurna.
"Tapi Tuan besar...."
"Saya bilang dobrak!"
__ADS_1
"Ba--baik..."
Leo pun mau tak mau harus mendobrak pintu kamar pribadi Daniel. Padahal ia tahu betul kalau Daniel sudah membuat peraturan dilarang keras untuk menyentuh pintu kamar pribadinya selain Natusha.
"Tunggu apa lagi, dobrak!" perintah Ayah Kenzo dengan tegas membuat Leo langsung menendang pintu kamar Daniel dengan sangat keras.
Dubrak!!
Pintu terbuka dengan kerasnya membuat sejoli yang lagi bermesraan diatas tempat tidur itu langsung menoleh kearah pintu.
"Ya ampun Tuan..." wajah Leo semakin memerah melihat posisi Daniel dan Natsuha yang saling meni**ndih sambil berciuman dengan mesrahnya.
"Si**alan!! Beraninya kau mengganggu ku, Leo!" teriak Daniel dengan keras membuat kaki Leo langsung bergetar ketakutan.
"Tuan... itu saya tidak bermaksud..." lirih Leo berusaha menjelaskan namun mulutnya terasa sangat kaku saking takutnya.
"KELUAR!" bentak Daniel.
"Siapa yang kau suruh keluar, hem?" tanya Ayah Kenzo tiba-tiba muncul dibelakang Leo membuat Daniel langsung melototkan matanya dengan sempurna.
"A--ayah..."
Ayah Kenzo menatap tajam kearah Daniel dan Natusha yang masih saling meni**ndih di atas tempat tidur.
"Kalian berdua turun!" bentak Ayah Kenzo pada Daniel dan Natusha membuat Daniel dan Natusha ketakutan dan langsung turun dari atas tempat tidur.
Kini Daniel dan Natusha sudah berdiri dihadapan Ayah Kenzo. Mereka berdua menunduk karena perasaan bersalah mereka.
"Berbalik menghadap tembok!" perintah Ayah Kenzo membuat Daniel dan Natsuha langsung berbalik kearah tembok.
"Angkat satu kaki kalian!" perintah Ayah Kenzo lagi dan keduanya pun langsung menuruti nya.
Leo yang melihat Tuan dan Nyonya nya di hukum hanya bisa menahan tawanya mati-matian. Tuan Daniel dan Nona Natusha seperti anak kecil yang sedang dihukum karena ketahuan bolos sekolah.
"Ayah dari dulu sudah bilang kepadamu, kalau kau tidak boleh menyentuh Natusha sebelum pernikahan kalian! Tapi apa! Kau tidak mendengarkan ucapan Ayah!" omel Ayah Kenzo menarik telinga Daniel dengan keras membuat Daniel berteriak kesakitan.
"Aduh.. aduh.. sakit, Ayah! Aduh!" pekik Daniel memegang tangan Ayahnya yang sedang menarik telinganya itu.
"Aku tidak menyentuh Natusha sama sekali, Yah! Aku hanya mencicipinya sedikit!" sungut Daniel membuat Ayah Kenzo semakin emosi.
"Kau bilang mencicipinya sedikit?!" ulang Ayah Kenzo semakin menarik telinga Daniel.
"Sshh, sakit, Yah!" pekik Daniel.
Sementara Natusha yang melihatnya juga ikut menahan tawanya mati-matian.
"Dan kau!" Ayah Kenzo menatap tajam kearah Natusha membuat Natusha menelan salivanya dengan sangat susah.
"Aku tidak melakukan apapun, Yah! Daniel sendiri yang melakukannya, bahkan tadi aku sudah berusaha memberontak, tapi—" belum sempat Natusha menyelesaikan perkataannya. Daniel lebih dulu menyangkal ucapan Natusha.
"Enak saja! Kau duluan yang menggodaku tau!" sungut Daniel menatap tajam Natusha.
"Aku?! Sejak kapan aku menggodamu!" seru Natusha ikut terbawa emosi.
"Tadi disaat kau membalas ciumanku!" jawab Daniel.
"Udah tau itu salahmu kenapa malah menyalahkan orang lain! Dasar Om-om!" teriak Natusha membuat Daniel semakin emosi.
"Kau bilang apa gadis nanas!"
Melihat Daniel yang begitu marah, Natusha segera bersembunyi dibelakang Ayah Kenzo. "Ayah tolong!"
__ADS_1
Bersambung.