
Sesuai perjanjian kemarin. Sehabis pulang sekolah, Natusha langsung beranjak pergi ke alamat dimana apartemen Tuan Daniel berada.
Saat ini Natusha sudah berdiri didepan gedung apartemen yang menjulang tinggi keatas. Dengan tatapan takjub Natusha masuk kedalam apartemen tersebut yang terlihat begitu mewah dan indah.
Tanpa banyak berfikir, Natusha langsung masuk kedalam lift lalu memencet tombol sesuai nomor lantai apartemen Daniel.
Setelah sampai dilantai delapan. Natusha tiba didepan pintu yang terdapat sebuah tulisan "Daniel Arbeto," gumam Natusha membaca tulisan tersebut.
Natusha langsung mengetuk pintu tersebut ketika mengetahui dia tidak salah alamat. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang dikenalinya.
"Masuklah!" perintah Daniel pada Natusha. Natusha pun langsung masuk kedalam ruang tengah, dan betapa terkejutnya ia melihat apartemen Daniel yang begitu mewah dan sangat indah.
"Wahh rumah ini indah sekali," ujar Natusha menatap sekeliling ruangan tersebut.
"Ini apartemen bukan rumah!" sungut Daniel dengan sinis. Daniel duduk dikursi kebesarannya dan menatap Natusha dengan tatapan yang sangat tajam.
"Ohh apartemen yah..." gumam Natusha dengan mengangguk-anggukan kepalanya dengan paham. Natusha hendak duduk disofa yang sudah tersedia disana.
"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk?!" sentak Daniel menatap tajam pada Natusha membuat Natusha langsung berhenti bergerak.
"Tidak ada," jawab Natusha yang tidak jadi duduk karena sang pemilik rumah melarangnya.
"Siapa namamu?" tanya Daniel menatap Natusha dengan intens.
"Natusha Rafael, Tuan," jawab Natusha.
"Nas? Nas apa? Nanas?" tanya Daniel mengerutkan keningnya.
"Ya ampun, aku ini bukan buah-buahan, Tuan!" protes Natusha karena tidak suka dirinya di panggil Nanas.
"Kau itu memiliki nama yang sulit dimengerti!" seru Daniel dengan sinis.
"Enak saja sulit dimengerti! Nama Natusha itu bagus loh, Tuan! Andai Tuan tahu arti namaku apa, maka Tuan pasti tidak akan berkata seperti itu," ujar Natusha dengan sombong.
"Emangnya apa arti nama jelek mu itu?" tanya Daniel dengan mulutnya yang sangat pedas itu.
"Artinya yang paling cantik, yang paling pintar dan yang paling baik hati!" jawab Natusha dengan sombong.
Mendengar perkataan Natusha membuat Daniel langsung tertawa terbahak-bahak. "Apa? Yang paling cantik? Yang benar saja, gadis berkepang dua seperti mu yang paling cantik!?" tanya Daniel dengan terus tertawa terbahak-bahak.
"Kau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan barisan mantan-mantan ku sekarang! Percaya diri sekali kau!" seru Daniel dengan nada mengejek membuat Natusha kesal mendengarnya.
__ADS_1
"Tuan, kau itu jahat sekali! Kau itu belum melihat sisi feminim ku, jadi kau berkata seperti itu. Kalau kau sudah melihat sisi feminim, aku yakin kau pasti akan terdiam seribu bahasa!" ujar Natusha dengan kepercayaan diri yang luar biasa.
"Sudahlah! Kau itu membuatku jijik saja," sungut Daniel dengan menatap Natusha dari atas sampai bawah. Sisi feminim darimana? Natusha itu terlihat sangat cupu, dengan rambutnya yang dikepang dua dan jangan lupa dengan baju seragam sekolahnya yang masih dikenakannya.
"Sekarang kau sudah menjadi pelayan di apartemen ku ini. Dan syarat utama untuk bekerja di apartemen ku adalah semua yang aku katakan adalah benar, dan kau tidak boleh membantahnya sedikitpun! Kau mengerti, Nanas?!"
"Nama aku Natusha, Tuan! Bukan Nanas!" protes Natusha dengan kesal.
"Namamu itu susah sekali!" seru Daniel dengan kesal.
"Panggil Sasa aja, Tuan. Teman-temanku juga memanggilku seperti itu," ujar Natusha.
***
Setelah menerangkan semuanya kepada Natusha. Tentang hal yang harus dilakukannya dan yang tak boleh di lakukannya saat bekerja. Daniel pun pergi meninggalkan Natusha didalam apartemen itu sendirian.
Sementara Daniel akan pergi bekerja di perusahaan Arbeto.Ysb yang kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
"Huh sadar, Mr. Arogan! Aku sudah jauh-jauh datang kesini malah dilarang untuk duduk! Jahat banget sih pria itu!" gerutu Natusha dengan kesal.
Natusha pun langsung masuk kedalam kamar mandi. Didalam sana Natusha mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Karena menurutnya bekerja memakai pakaian sekolah itu rasanya kurang afdol! Lebih baik diganti dengan pakaian santai agar lebih bebas bergerak sana-sini.
Setelah berganti pakaian, Nastusha pun memulai pekerjaannya dengan menyapu dan mengepel lantai dengan bersih.
"Huff akhirnya selesai juga pekerjaan ku!" seru Natusha dengan menatap sekeliling ruangan yang sudah bersih dan rapi.
Disaat Natusha ingin mengambil tas nya untuk pulang. Tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan menampakkan Daniel yang langsung masuk dengan keadaan lantai yang masih belum kering.
"Tuan!" pekik Natusha berusaha menghentikan Daniel untuk berjalan. Namun Daniel tidak peduli dan melangkah begitu saja melewati lantai basah itu.
Bruk!
"****....!" pekik Daniel saat dirinya terpeleset dan jatuh keras kebawa lantai.
"Tuan!" pekik Natusha lagi yang langsung berlari menghampiri Daniel. Daniel yang melihat Natusha yang berlari kearahnya langsung melototkan matanya dengan sempurna.
"Sasa, No! Stop disana, Sasa!" teriak Daniel namun sudah terlambat. Natusha juga ikut jatuh karena lantai yang sangat basah. Dan lebih parahnya lagi Natusha jatuh tepat diatas tubuhnya.
"Sasa!" teriak Daniel dengan marah karena Natusha men**cium pipinya. Natusha yang tahu kalau Daniel sedang marah langsung bangun dari atas tubuh Daniel.
"Tuan, Maaf, aku tidak sengaja...." lirih Natusha mengelus bibirnya yang habis men**cium pipi Daniel.
__ADS_1
"Beraninya kau mengambil kesempatan disaat aku terjatuh, Bocah Ingusan!" teriak Daniel dengan emosi yang membarah. Membuat Natusha hanya bisa menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya.
"Aku tidak mengambil kesempatan disaat kau terjatuh. Kau sendiri yang salah karena terlalu ceroboh," ujar Natusha berusaha membela dirinya.
"Kau bilang aku ceroboh!" teriak Daniel semakin marah yang kini sudah berdiri dihadapan Natusha. "Terus kau sebut apa dirimu dengan berlari ke arahku lalu ikut terjatuh juga, hah!"
"Itu namanya ketidak sengajaan," dengan polos Natusha menjawab membuat Daniel semakin geram.
"Gajimu aku potong 5 persen!" tegas Daniel membuat Natusha melototkan matanya dengan sempurna.
"Tuan, aku ini baru bekerja hari ini kenapa gajiku justru dipotongn!" protes Natusha dengan cemberut.
"Apa kau sudah lupa dengan peraturan pertama. Setiap ucapanku adalah benar dan kau tidak boleh membantahnya sedikitpun!" ujar Daniel dengan meninggikan suaranya.
"Kau itu memang suka seenaknya! Dasar Mr. Arogan!" sungut Natusha dengan kesal.
"Kau bilang apa?!" tanya Daniel yang kurang jelas mendengar ucapan Natusha.
"Tidak ada! Aku mau pulang saja!" sungut Natusha yang kini mengambil tas nya dan hendak pergi dari apartemen itu.
"Sudah malam, kau pulang naik apa?!" tanya Daniel melihat Natusha sudah berada diujung pintu.
"Aku pulang jalan kaki!" jawab nya.
"Kenapa tidak naik taxi saja! Itu jauh lebih aman daripada jalan kaki!" sungut Daniel. Entah mengapa terselip dihatinya mengkawatirkan Natusha yang ingin pulang semalam ini.
"Aku tidak punya uang lagi, Tuan! Sisa uang 50 puluh ribu ku kemarin kan kau sendiri yang sudah mengambilnya," ujar Natusha dengan cemberut.
"Kenapa kau tidak bilang! Kau bisa meminta uang padaku!" seru Daniel yang kini membuka dompetnya dan mengambil uang merah sebanyak dua lembar.
"Ini ambilah!" seru Daniel menyerahkan uang kertas berwarna merah itu pada Natusha.
"Tidak mau! Kalau aku menerimanya pasti gajiku di potong lagi kan, Tuan? Lebih baik uang itu disimpan saja dan berikan saat nanti aku sudah gajian," ujar Natusha menolak.
"Aku tidak akan memotong gajimu dengan uang ini!" ujar Daniel dengan tegas membuat Natusha langsung tersenyum bahagia.
"Tuan tidak bohongkan?" tanya Natusha menatap Daniel dengan tatapan curiga.
"Kau mau apa tidak?! Cepat ambil sebelum aku berubah pikiran!" ujar Daniel membuat Natusha langsung mengambil uang merah ditangan Daniel.
"Aku pulang dulu, Tuan! Makasih yah uang merahnya!" seru Natusha langsung berlari keluar dari apartemen.
__ADS_1
Sementara Daniel hanya bisa diam menatap kepergian Natusha dari apartemen nya.
Bersambung.