
Setelah makan malam selesai. Semua keluarga Arbeto dan Matteo pun berkumpul diruang keluarga.
Daniel duduk disofa dengan Natusha yang berada disampingnya. Sementara para keluarga lainnya duduk diatas karpet sembari menonton pemain sepak bola di layar tv yang cukup luas, yang terpajang dihadapan mereka.
"Daniel sudah punya kekasih, kau kapan mau menjomblo, David?" tanya Daddy Devan membuat David yang sedang memakan cake buatan Mommy Nana langsung tersentak kaget.
"Uhuk... uhuk..., aku ambil minum dulu!" David hendak berdiri dari duduknya namun seketika terhenti saat Daddy Devan langsung menatapnya dengan sangat tajam.
"Jangan banyak alasan kau, David! Ingat umurmu itu sudah tidak muda lagi! Kau harus segera mencari pasangan hidup, kalau kau tidak mau Daddy akan menjodohkan mu dengan anak teman Daddy!" nasehat Daddy Devan dengan tegas.
"Iya, nanti aku cari, Dad!" jawab David dengan pasrah dan kembali duduk diatas karpet.
"Ini semua karena Daniel!" umpat David dengan kesal.
Sementara Daniel yang sedang duduk diatas sofa itu hanya bisa tersenyum puas. Karena dirinya tidak lagi mendapatkan nasehat dari Daddy Devan untuk segera mencari pasangan. Toh, ada Natusha yang bisa menjadi kekasih palsunya.
Dug...
Daniel langsung menoleh kearah sampingnya ketika merasakan kepala Natusha yang terjatuh diatas pundaknya.
"Gadis Nanas ini tertidur?" gumam Daniel menatap Natusha yang sedang memejamkan matanya dengan kepalanya yang bersandar di pundak Daniel.
Daniel tersenyum disaat mendengar suara hembusan nafas Natusha yang terdengar sangat lembut ditelinga nya.
"Ibu, Ayah. Seperti nya aku harus pulang sekarang. Natusha tertidur," ujar Daniel membuat semua keluarga Arbeto dan Matteo langsung menoleh.
"Kenapa tidak menginap disini saja, Sayang?" tanya Ibu Nayra menatap Natusha yang ternyata benar-benar tertidur di pundak Daniel.
"Tidak, Bu! Besok pagi-pagi aku harus mengadakan meeting penting di kantor. Ibu tahu sendiri jarak antara mansion dan perusahaanku cukup jauh," ujar Daniel.
"Yasudahlah. Jaga calon menantu ibu baik-baik yah! Jangan sampai lecet!" ujar Ibu Nayra dibalas anggukan oleh Daniel.
"Iya, Bu. Aku akan menjaganya dengan baik-baik," ucap Daniel yang kini melepas jas kerjanya dan menyelimuti tubuh Natusha.
"Aku pamit, selamat malam semuanya!" seru Daniel dengan mengangkat tubuh Natusha dan membawanya pergi darisana.
"Selamat malam juga," balas para keluarga.
....
Apartemen.
Daniel masuk kedalam apartemen nya dengan membawa tubuh Natusha yang sedang berada diatas gendongannya. Dengan langkah yang pelan, Daniel masuk kedalam kamar Natusha lalu merebahkan tubuh Natusha diatas tempat tidur.
Daniel menarik selimut untuk menutupi tubuh Natusha dan setalah itu, entah dapat dorongan dari mana, Daniel tiba-tiba mengecup lembut kening Natusha.
"Selamat malam, Gadis Nanas!"
....
Pagi hari.
Dor! Dor! Dor!
"Sasa!" teriak Daniel dengan keras membangunkan Natusha yang dipikirnya Natusha masih tertidur didalam kamarnya.
"Natusha bangun!" teriak Daniel lagi namun Natusha tak kunjung keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Gadis Nanas, aku tahu kau ada didalam, buka atau aku dobrak pintunya!" ancam Daniel dengan kesal.
Ceklek.
Pintu langsung terbuka dan menampakkan Natusha yang sedang memegangi perutnya sesekali meringis kesakitan.
"Ada apa denganmu?" tanya Daniel mengerutkan keningnya melihat wajah Natusha tampaknya sangat pucat.
"Tidak apa-apa, Tuan. perutku hanya nyeri sedikit," jawab Natusha dengan meringis kesakitan.
"Kau yakin?" tanya Daniel lagi dengan nada khawatir.
"Yaki—" belum sempat Natusha menjawab pertanyaan Daniel, dirinya langsung pingsan dan terjatuh kelantai.
"Natusha!" Daniel dibuat terkejut dengan Natusha yang tiba-tiba terjatuh pingsan.
"Natusha, bangun!" Daniel berjongkok dihadapa Natusha yang sedang pingsan. Sesekali pria itu menggoncangkan tubuh Natusha agar mau terbangun.
"Kau ini kenapa? Jangan main-main, Natusha! Cepat bangun!" bentak Daniel dengan keras pada Natusha.
Melihat Natusha yang tidak mau bangun membuat Daniel mulai khawatir. "Sebenarnya ada apa denganmu, Gadis Nanas," gumam Daniel dengan mengangkat tubuh mungil Natusha masuk kedalam kamar.
Di rebahkannya tubuh Natusha dengan pelan diatas kasur. "Anak ini selalu saja membuatku repot!" umpat Daniel sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan dengan buru-buru menghubungi dokter kesehatan.
....
"Dia mengeluh merasakan nyeri diperutnya!" ujar Daniel pada Dokter Pria yang sedang memeriksa kondisi Natusha.
"Ini mungkin karena kekasih anda semalam terlalu banyak makan, Tuan," ujar Dr. Antoni membuat Daniel yang mendengarnya langsung melotot dengan tajam.
"Siapa bilang dia itu kekasihku?!" sentak Daniel dengan keras membuat Dr. Antoni langsung terdiam.
"Tentu saja bukan!" sungut Daniel dengan ketus.
"Kalau bukan kekasih, lalu kenapa harus sepanik tadi. Sampai-sampai memintaku untuk meninggalkan semua pasien yang ada dirumah sakit hanya demi memeriksa satu wanita ini," gumam Dr. Antoni.
"Apa katamu?!" tanya Daniel membuat Dr. Antoni tersentak kaget.
"Ti--tidak, Tuan! Saya hanya ingin bertanya, semalam berapa macam makanan yang sudah masuk kedalam perut dia?" tanya Dr. Antoni.
"Tidak tahu!" jawab Daniel dengan cepat. Karena memang dirinya tidak tahu sudah berapa macam makanan yang masuk ke dalam perut Natusha semalam.
"Ini semua karena Ibu dan Mommy yang terlalu memanjakan Natusha!" gumam Daniel dalam hatinya.
"Kemungkinan besar, salah satu makanan yang sudah dimakan dia adalah makanan yang bisa membuatnya alergi. Itu bisa dilihat dari tubuhnya yang terdapat bintik-bintik merah," timpal Dr. Antoni menunjukkan lengan Natusha yang terdapat banyak bintik-bintik merah.
"Jadi Natusha alergi?" tanya Daniel dibalas anggukan oleh Dr. Antoni.
"Saya akan memberikan resep obat untuk Natusha, Tuan. Anda bisa menebusnya di apotik terdekat," ujar Dr. Antoni yang kini menulis resep obat untuk Natusha.
Dan setelah Dr. Antoni selesai mencatat resep obat untuk Natusha, Dr. Antoni pun pamit untuk pergi. Karena masih banyak pasien yang harus di tanganinya dirumah sakit.
....
Natusha yang sedang tertidur itu, merasakan sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Dan dengan perlahan-lahan Natusha membuka matanya.
"Tuan?" Natusha langsung bangun dari tidurnya dan duduk bersandar diatas kasur.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Daniel menatap wajah Natusha dengan intens.
"Aku baik-baik saja," jawab Natusha dengan menggaruk lengannya yang rasanya sangat gatal.
"Jangan digaruk! Itu bisa menyebabkan luka!" tegur Daniel menahan tangan Natusha untuk menggaruk lengannya lagi.
"Gatal, Tuan," rengek Natusha berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Daniel.
"Kau pakai ini, itu bisa menghentikan gatalnya!" ujar Daniel menyerahkan obat salep pada Natusha.
"Apa ini, Tuan?" tanya Natusha menatap obat salep yang sudah berada ditangannya itu.
"Itu saleb! Tinggal oleskan kebagian yang gatal," ujar Daniel membuat Natusha langsung mengangguk paham.
"Boleh aku bertanya? Makanan apa yang membuatmu alergi?" tanya Daniel dengan menatap intens pada wajah Natusha.
"Em... aku alergi...." Natusha sengaja menggantung perkataannya karena sangat suka melihat wajah Tuan Daniel yang terlihat begitu penasaran.
"Apa? Cepat katakan! Sebelum aku menarik telingamu dua-duanya!" ancam Daniel membuat Natusha langsung cemberut.
"Tuan itu selalu saja mengancam ku!" sungut Natusha. "Aku alergi udang, Tuan. Emangnya kenapa?" tanya Natusha dengan menatap Daniel dengan tatapan penasaran.
Daniel tidak menjawab pertanyaan Natusha dan segera keluar dari kamar Natusha.
Natusha yang melihat kepergian Daniel, begitu penasaran dan memutuskan untuk mengikuti Daniel dari belakang.
"Tuan, kau itu sedang apa?" tanya Natusha dengan penasaran melihat Daniel membuka kulkas didapur.
Daniel lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Natusha. Daniel terlihat mengeluarkan udang yang sudah di didinginkan dan langsung membuangnya ke keranjang sampah.
"Ya ampun, Tuan! Itu kenapa dibuang! Udangnya masih bagus loh!" tegur Natusha dengan membelalakkan matanya melihat aksi Daniel tersebut.
"Di apartemen ini tidak boleh ada makanan yang membuatmu alergi lagi!" ujar Daniel membuat Natusha menepuk jidatnya.
"Itu mahal loh, Tuan!" sungut Natusha dengan kesal.
"Kenapa kalau mahal? Toh aku punya banyak uang, membuang udang saja tidak akan membuatku bangkrut!" ujar Daniel dengan nada sombongnya.
"Dasar sombong!" cibir Natusha. "Ssshh...." Natusha seketika kembali meringis kesakitan ketika merasakan perutnya kembali nyeri.
"Kenapa? Kenapa? Apa perutmu sakit lagi?" tanya Daniel langsung mendekati Natusha dengan khawatir.
"I--iya," jawab Natusha dengan lirih.
"Ehh.. turunkan!" pintah Natusha ketika tiba-tiba Daniel menggendong tubuhnya.
"Dokter harus memeriksa mu lagi!" seru Daniel membawa Natusha masuk kedalam kamar.
"Tuan perut ku ini sakit karena aku ingin buang air besar! Bukan karena nyeri alergi lagi!" sungut Natusha dengan cemberut membuat Daniel langsung menghentikan langkahnya dan langsung menatap kearah Natusha.
"Aduh!" pekik Natusha disaat Daniel tiba-tiba membanting tubuhnya dengan kasar diatas tempat tidur.
"Tuan ini kasar sekali!" protes Natusha dengan mengelus bokongnya.
"Dasar jorok!" ucap Daniel yang langsung pergi dari kamar Natusha.
"Astaga... mau buang air besar pun dikatakan jorok..."
__ADS_1
Bersambung.