
Karena kesal akan sikap Natusha yang benar-benar jorok, Daniel memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya.
Didalam kamar, Daniel terus mengumpat Natusha secara habis-habisan. Karena Natusha selalu saja membuatnya kesal dan marah.
Dan bahkan ini kali pertamanya Daniel menghadapi seorang wanita yang benar-benar tidak ada jaimnya sama sekali, seperti Natusha. Karena biasanya jika Daniel bertemu dengan seorang wanita, maka para wanita yang berhadapan langsung dengannya akan selalu menjaga image dan bersikap anggun, untuk memikat hatinya! Tapi beda dengan Natusha yang memiliki sifat tengil itu yang selalu membuat Daniel kesal setiap harinya, dengan tingkah-tingkah nya yang aneh.
"Dasar gadis nanas yang tengil!" umpat Daniel.
Sementara Nastusha yang habis buang air besar, memutuskan untuk kedapur. Karena tiba-tiba saja Natusha ingin meminum teh hangat untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
Namun disaat Natusha ingin berjalan kearah dapur. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Membuat Natusha langsung mengurungkan niatnya untuk kedapur dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
Disaat Natusha membuka pintu, dirinya terdiam disaat melihat seorang pria yang sangat tampan dengan tinggi badan sekitar 179 Cm. Membuat Natusha sedikit terpesona dengan ketampanan pria itu.
"Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi dimana yah..." sungut Natusha berusaha berfikir keras dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hahaha, tentu saja kau pasti pernah melihatku. Aku ini sepupunya Daniel yang semalam berara di mansion!" seru David dengan tertawa karena gemas melihat ekspresi wajah Natusha yang tampaknya sangat bingung ketika melihat dirinya.
"Ohh, ternyata itu kau, pantas saja aku merasa tidak asing," timpal Natusha dengan tertawa canggung.
"Ngomong-ngomong dimana Daniel?" tanya David celingak-celinguk mencari keberadaan Daniel.
"Ohh Mr. Arogan itu sedang ada didalam kamarnya," jawab Natusha dengan tatapan polosnya membuat David lagi-lagi kembali tertawa.
"Hahaha... kau ini benar-benar lucu! Bisa-bisanya kau menyebut Daniel Mr. Arogan!" tawa David dengan keras.
"Aku ini mengatakan hal yang sebenarnya. Dia itu Arogan dan sering marah-marah, terlebih lagi kepadaku," ujar Natusha dengan setengah berbisik, takut jika Daniel tiba-tiba datang dan mendengar perkataan nya.
David yang mendengarnya ucapan Natusha justru semakin tertawa. Entah mengapa David sangat gemas dengan tingkah Natusha yang begitu lugu dan sangat terus terang, membuatnya tidak bisa berhenti tertawa.
Melihat sikap Natusha membuat David jadi teringat pada Mommy nya yang berada dimansion utama. Karena Natusha memiliki sifat yang persis seperti Mommy nya.
"Iya, kau benar! Dia itu memang sering marah-marah! Aku saja selalu takut padanya kalau dia sedang marah!" sungut David ikut berbisik.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Daniel dari arah pintu kamarnya. Menatap tajam kearah David dan Natusha secara bergantian.
"Hei, Bro!" sapa David dengan santai. Sementara Natusha hanya diam saja tak memperdulikan Daniel yang sedang menatap mereka dengan tajam.
"Mau apa kau datang kesini?" tanya Daniel menatap tajam kearah David.
"Dia kesini untuk menemuimu," jawab Nastusha membuat Daniel mengalihkan tatapan tajamnya kearah Natusha.
"Apa aku sedang bertanya padamu, Natusha?" tanya Daniel dengan suara beratnya membuat Natusha cemberut.
"Bro kau itu jangan marah dulu padanya. Yang dikatakannya memang benar, aku kesini karena aku ingin bertemu denganmu," ujar David membela Natusha yang sepertinya akan kena marah dari Mr. Arogan itu.
"Natusha masuk kedalam kamarmu!" perintah Daniel yang tak memperdulikan ucapan David.
"Tapi...." Natusha melirik kearah David, seolah dirinya tidak mau pergi darisana. Dan masih berharap bisa mengobrol dengan David si pria tampan.
"Saya bilang masuk ya masuk, Natusha Rafael!" teriak Daniel dengan keras membuat Natusha cemberut. Mau tidak mau Natusha harus pergi dari sana lalu masuk kedalam kamarnya.
"Bro, kau itu kasar sekali pada Natusha!" sungut David.
__ADS_1
"Tidak usah berbasa-basi, mau apa kau datang kesini?!" tanya Daniel dengan ketus.
David yang melihat ekspresi wajah Daniel yang tampaknya sangat kesal, seperti nya sedang menyadari sesuatu.
David tersenyum menyeringai, karena dirinya seperti tahu kalau Daniel sedang cemburu melihatnya dekat dengan Natusha.
"Aku kesini ingin mengajak Natusha nonton bioskop, apa boleh aku meminjam pelayan mu itu sebentar saja?" tanya David dengan tersenyum penuh arti diwajahnya.
"TIDAK BOLEH!" ujar Daniel menolak dengan keras.
"Kenapa tidak boleh?" tanya David semakin menggoda Daniel.
"Aku bilang tidak yah tidak! Kau kan sudah tahu kalau Natusha sekarang sudah menjadi kekasih palsuku. Kalau Daddy atau Ayah melihat kalian berdua jalan ke bioskop, apa yang akan mereka pikirkan!" timpal Daniel dengan nada kesalnya.
David yang mendengar ucapan Daniel langsung tertawa. "Kalau kau sedang cemburu katakan saja, jangan mencari alasan agar aku tidak bisa dekat dengan Natusha!"
"Cemburu katamu!" bentak Daniel semakin marah.
"Kalau kau tidak cemburu, berikan nomor ponsel Natusha padaku!" goda David lagi dengan senyum menyeringai diwajahnya.
"Jangan harap!" Daniel langsung membanting pintu dengan kuat, membuat David yang masih berada di depan apartemen Daniel begitu terkejut dengan aksi gila Daniel yang hampir saja merusak pintu.
***
Saat ini Daniel dan Natusha sedang berada di meja makan. Disana terlihat hening, keduanya sejak tadi hanya diam saja, Natusha yang selalu membuat Daniel emosi entah kenapa hanya diam saja.
Sementara Daniel, ia tak mau berbicara pada Natusha, karena masih kesal dengan apa yang tadi dilihatnya. Entah mengapa melihat Natusha dan David terlihat akrab membuat hati Daniel rasanya ingin terbakar. Daniel pun juga bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia selalu saja emosi ketika melihat Natusha dekat dengan pria lain.
"Ke kamar!" jawab Natusha dengan ketus.
"Habiskan makanan mu!" sungut Daniel dengan tegas.
"Tidak mau. Aku sudah kenyang!" ujar Natusha yang hendak kembali melangkah menuju kamarnya.
"Kalau kau berani masuk kedalam kamarmu, gaji mu akan aku potong gadis nanas!" ancam Daniel menatap tajam kearah Natusha.
"Potong saja! Aku tidak takut!" ujar Natusha membuat Daniel melototkan matanya dengan sempurna. Sementara Natusha langsung masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu dengan kuat.
"Anak itu semakin berani rupanya!" umpat Daniel dengan mencengkram kuat sendok yang ada di tangannya.
"Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padamu gadis nanas!" geram Daniel yang langsung pergi meninggalkan meja makan dan ikut masuk kedalam kamarnya.
Sementara itu.
"Dasar Mr. Arogan! Suka marah-marah! Monster berwajah jelek! Padahal aku lagi asyik-asyiknya ngombrol dengan kakak tampan tadi malah disuruh masuk kedalam kamar!" gerutu Natusha dengan kesal berguling-guling di atas tempat tidurnya.
Yap. Natusha masih kesal pada Daniel yang menyuruhnya untuk masuk kedalam kamar, padahal saat itu dirinya sedang mengobrol dengan David yang di anggapnya sebagai pria paling tampan.
....
Hari berganti hari. Natusha dengan sifat tengil nya itu selalu saja memancing emosi Daniel.
Sementara Daniel semakin hari semakin merasa ada yang aneh dalam dirinya. Entah mengapa ketika Natusha berada didekatnya membuat hatinya selalu saja berdetak tak karuan. "Aku kenapa? Kenapa dengan diriku? Tidak mungkin aku menyukai gadis tengil itu!"
__ADS_1
Itulah kalimat yang selalu Daniel ucapkan ketika merasa kalau dirinya menyukai Natusha. Sebisa mungkin Daniel mengelak bahwa dirinya itu sedang jatuh hati pada Natusha si gadis jorok itu.
"Ikutlah denganku!" perintah Daniel yang sedang merapikan dasinya.
"Kemana?" tanya Natusha dengan mengerutkan keningnya.
"Hari ini kau liburkan? Ikutlah denganku ke kantor!" timpal Daniel membuat Natusha semakin bingung.
"Untuk apa aku harus ikut denganmu?" tanya Natusha.
"Karena aku ingin kau ikut!" jawab Daniel dengan tegas.
"Tidak mau! Aku mau disini saja." tolak Natusha mentah-mentah.
"Gadis nanas beraninya kau menolak permintaan Tuan mu sendiri!" bentak Daniel membuat Natusha terkejut setengah mati.
"Tuan selain hobi marah-marah juga suka berteriak yah!" sungut Natusha dengan menutup kupingnya.
Tak tahan dengan kelakuan Natusha yang selalu saja melawannya. Daniel pun langsung menarik tangan Natusha untuk keluar dari apartemen.
"Tuan lepaskan! Aku kan sudah bilang aku tidak ingin pergi!" sungut Natusha berusaha melepaskan tangan Daniel yang menggenggam tangannya dengan kuat.
Daniel yang mendengar perkataan Natusha hanya diam saja dan terus menarik tangan Natusha untuk masuk kedalam lift.
"Tuan lepaskan!" pintah Natusha dengan setengah berteriak membuat Daniel langsung berbalik badan untuk menatap Natusha.
Namun hal itu justru membuat Natusha jatuh kedalam pelukan Daniel. Membuat Daniel langsung tersenyum menyeringai.
"Gadis nanas kau itu sangat pintar mencari kesempatan untuk memelukku," ujar Daniel menggoda Natusha.
Natusha yang mendengar ucapan Daniel langsung melepaskan pelukannya dan segera sedikit menjauh dari Daniel. "Aku tidak mengambil kesempatan, Tuan! Kau sendiri yang langsung berbalik badan dan membuatku menabrak mu!" sungut Natusha dengan protes.
"Kau itu banyak alasan, tinggal bilang saja kalau kau ingin memelukku, apa salahnya?" tanya Daniel.
"Dengar yah gadis nanas, kalau kau ingin memelukku tidak usah sungkan, katakan saja! Aku ini sebagai majikan yang baik dan tidak sombong akan mengijinkan mu untuk memeluk ku setiap saat. Ini kali pertamanya loh aku mengijinkan seorang wanita untuk memelukku. Kau itu satu-satunya wanita yang paling beruntung yang dapat di peluk oleh Daniel Arbeto!" bisik Daniel ditelinga Natusha membuat Natusha kegelian karena bisa merasakan hembusan nafas Daniel yang berbau mint itu.
"Siapa juga yang ingin memelukmu. Dasar Mr. Arogan!" teriak Natusha yang langsung mendorong tubuh Daniel agar menjauh darinya.
Yang tanpa disadari oleh Natusha, Daniel terdorong begitu keras ke tembok membuat Daniel langsung memekik kesakitan.
"Akhh, Natusha kau..." lirih Daniel dengan menahan sakit di punggungnya.
"Tuan kenapa?" tanya Natusha tiba-tiba khawatir melihat Daniel terlihat kesakitan.
"Kau membuatku terluka!" jawab Daniel membuat Natusha semakin khawatir.
"Maaf, Tuan. Aku mendorongmu terlalu keras yah? Aku minta maaf, aku tidak sengaja. Mana yang sakit?" tanya Natusha dengan sejuta rasa bersalahnya.
Sementara Daniel yang merasakan sakit di punggungnya, sakit itu tiba-tiba sirna begitu saja ketika melihat Natusha yang begitu khawatir padanya.
Entah mengapa Daniel sangat senang mendapat perhatian dari Natusha.
Bersambung.
__ADS_1