Gadis Tengil Melawan Tuan Muda

Gadis Tengil Melawan Tuan Muda
Bab 6


__ADS_3

Setelah berberapa jam berbincang-bincang dengan Daniel. David pun memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang dirinya sempat meminta nomor Natusha pada Daniel, tapi Daniel menolaknya dengan alasan kepentingan privasi.


David tahu kalau Daniel tidak akan membiarkannya mendekati Natusha. Entah mengapa David merasa kalau Daniel suka pada Natusha, itulah mengapa Daniel menolak untuk memberikannya nomor Natusha.


"Selain Mr. Arogan, ternyata dia juga Mr. Gengsi! Apa salahnya mengatakan padaku kalau dia itu suka pada Natusha," cibir David dalam hatinya.


...


"Sasa, dimana kau?" Daniel mencari-cari keberadaan Natusha disetiap tempat. Bahkan ia juga sudah mencarinya didalam kamar mandi, namun Natusha tidak berada didalam sana.


Tanpa banyak berfikir, Daniel masuk kedalam kamar Natusha yang berada disamping kamarnya. Dan benar saja, disaat Daniel masuk kedalam kamar Natusha, gadis itu sudah tidur nyenyak diatas tempat tidur.


Daniel menyalakan lampu lalu mendekat ke tempat tidur Natusha dan melihat wajah Natusha yang begitu terlihat lugu ketika tertidur.


"Dasar gadis jorok!" seru Daniel dengan suara yang dikecilkan nya, ketika melihat sudut bibir Natusha yang mengeluarkan air liurnya.


Daniel yang tak tahan melihat air liur Natusha yang terus mengalir, dengan cepat menyelimuti tubuh Natusha dan pergi dari kamar itu.


....


Keesokan harinya.


Daniel dan Natusha sedang berada dimeja makan. Natusha sudah siap dengan seragam sekolahnya, sedangkan Daniel sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"Tuan..." Natusha menatap kearah Daniel yang sedang sibuk menyantap sarapannya.


"Hmm?" tanya Daniel tak melirik Natusha sama sekali dan hanya fokus pada sarapannya.


"Apa di apartemen mu ini ada monster?" tanya Natusha membuat Daniel mengerutkan keningnya dan langsung menatap pada wajah Natusha.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Daniel.


"Semalam ketika aku tertidur, aku merasa ada monster yang masuk kedalam kamarku," timpal Natusha dengan bergidik ngeri.


Daniel yang mendengarnya sontak terdiam ditempatnya. Monster? Apa yang dimaksud Natusha adalah dirinya?


"Monster itu masuk kedalam kamar ku, dan sebelum dia pergi aku merasa dia menyelimuti tubuhku," bisik Natusha dengan nada yang diseram-seramkan berharap Daniel akan takut.


"Aduh! Sakit, Tuan! Aduh! Aduh!" Natusha langsung menjerit dengan kuat ketika Daniel menarik telinganya dengan keras.


"Kau itu jangan main-main didepan makanan! Ini masih pagi dan kau sudah mencari masalah denganku! Cepat habiskan sarapan mu!" teriak Daniel yang kini melepaskan tangannya dari telinga Natusha melihat Natusha sangat kesakitan.


"Aku hanya bertanya, kenapa telinga ku ditarik!" gerutu Natusha mengelus telinganya yang terasa sakit sembari bibirnya yang di curutkan ke depan.


Daniel merasa sangat tersindir oleh ucapan Natusha yang yang mengatakan kalau ada monster yang masuk kedalam kamarnya semalam. Karena semalam yang masuk kedalam kamar Natusha itu adalah dirinya!


Natusha kembali menyantap sarapannya begitu juga dengan Daniel. "Apa semalam itu cuma mimpi?" gumam Natusha dalam hatinya, karena semalam dirinya benar-benar merasa kehadiran monster didalam kamarnya.


Setelah sarapan, Daniel pun langsung pergi meninggalkan Natusha yang berada di apartemen sendirian. Sementara Natusha harus mencuci piring terlebih dahulu sebelum dirinya berangkat ke sekolah.


....


Setelah pulang sekolah, Natusha keluar dari kelasnya.

__ADS_1


"Sasa!" teriak Juan mengejar Natusha. Natusha yang mendengar suara Juan langsung menoleh kebelakang.


"Apa?" tanya Natusha menatap Juan yang sudah berdiri dihadapannya.


"Pulang bareng, yuk!" Juan langsung merangkul pundak Natusha dan mengajak Natusha untuk pulang bersama.


"Nggak mau! Nanti seperti kemarin-kemarin lagi, baru juga jalan bensinnya udah habis!" cibir Natusha dengan menolak.


"Seenaknya kalau ngomong! Gue tuh udah isi bensin sampai tangki motor gue hampir penuh, tau!" ujar Juan dengan kesal.


"Yaelah, kan gue cuman bercanda, baperan amat sih!" sungut Natusha mencubit gemas pipi Juan.


"Sakit, Sa!" pekik Juan mengelus pipinya. "Sudahlah, ayo! Keburu sore banget nih. Bisa kali jalan-jalan sama si cantik Natusha ini," goda Juan pada sahabatnya itu.


"Idih, ogah! Gak mau gue jalan-jalan sama lo. Lagian gue gak ada waktu, gue itu harus kerja!" ujar Natusha.


Juan pun hanya bisa tertawa sembari mengacak-acak rambut Natusha dengan gemas. Yang tanpa mereka berdua sadari, seorang pria dari arah gerbang sekolah sudah menatap mereka dengan sangat tajam.


Natusha dan Juan berjalan kearah gerbang sekolah. Namun disaat Natusha hendak keluar dari gerbang, dirinya langsung terdiam ketika melihat Tuan Daniel yang sudah berdiri menunggunya didepan gerbang.


"Tuan Daniel?" gumam Natusha menatap Tuan Daniel.


Tahu kalau Natusha melihatnya, Daniel pun segera mendekati Natusha dengan langkahnya yang benar-benar lebar.


Daniel menatap tajam kearah Juan yang masih saja merangkul pundak Natusha. Entah mengapa melihat Natusha dekat dengan pria lain membuat hatinya rasanya ingin terbakar.


"Turunkan tangan mu!" bentak Daniel pada Juan.


"Loh? Kau ini siapa, seenaknya menyuruhku untuk menurunkan tanganku?" tanya Juan menatap Daniel dengan tatapan bingung.


"Tuan mau apa datang kesini?" tanya Natusha pada Daniel. Natusha seolah tidak peduli dengan kemarahan Daniel pada Juan.


"Aku kesini untuk menjemput mu!" jawab Daniel yang langsung menarik tangan Natusha kedalam pelukannya. Membuat Natusha meringis kesakitan karena hidungnya terbentur dengan keras didada bidang Daniel.


"Kau ini siapa sih! Beraninya menganggu Natusha ku!" gerutu Juan merasa kesal dengan sikap Daniel yang begitu kasar pada Natusha.


"Natusha apa kau bilang?! Natusha mu?!" Daniel semakin marah mendengar ucapan Juan yang seolah Natusha adalah miliknya.


"Ya, tentu saja Natusha ku! Dia itu sahabatku!" sungut Juan yang hendak meraih tangan Natusha tapi Daniel langsung menahannya.


"Berani kau menyentuh Sasa lagi, ku pastikan kau kehilangan tanganmu ini!" Daniel mencengkeram kuat tangan Juan membuat Juan memekik kesakitan.


"Aduh, aduh sakit, Om!" pekik Juan meringis kesakitan.


"Tuan! Sudah-sudah jangan lukai Juan!" Natusha berusaha menghentikan aksi Daniel yang hampir mematahkan tulang tangan Juan.


Daniel yang mendengar Natusha yang seolah ingin menyelamatkan Juan membuat Daniel semakin geram dan semakin mencengkram tangan Juan.


Kreekkk....


"Om, tangan ku bisa patah!" seru Juan terus memekik kesakitan membuat Daniel langsung melepaskan cengkraman nya.


"Masuk!" Daniel menyuruh Natusha untuk masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


"Tapi tangan Juan...." Natusha melirik kearah Juan yang masih merintih kesakitan.


"Aku bilang masuk, Natusha!" bentak Daniel membuat Natusha mau tak mau harus masuk kedalam mobil Daniel.


Daniel pun ikut masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas dari sana, meninggalkan Juan yang masih saja merintih kesakitan. "Dasar Om-om gila! Hampir saja mematahkan tulang ku!" gerutu Juan menatap kepergian mobil Daniel yang semakin lama semakin menjauh.


"Tuan, kita mau kemana?" tanya Natusha melihat arah jalan yang dilewati Daniel bukan arah jalan pulang.


Daniel yang masih kesal itu hanya diam saja, tidak mau menjawab pertanyaan Natusha.


"Tuan?" tanya Natusha lagi dengan melirik kearah Daniel yang sedang mengemudikan mobil.


"Bisa diam?!" bentak Daniel membuat Natusha langsung diam dan cemberut.


"Dasar Mr. Arogan!" sungut Natusha dalam hatinya.


Mau tak mau Natusha hanya diam saja dengan sejuta pertanyaan dihatinya. Entah kemana Daniel akan membawanya, membuat Natusha sedikit takut karena dirinya sempat berfikir Daniel akan menjualnya.


Sesampainya di salon kecantikan, Daniel menarik tangan Natusha masuk kedalam salon kecantikan tersebut. Seumur hidup Natusha tidak pernah pergi ke salon dan ini pertama kalinya dirinya bisa mengunjungi tempat kecantikan itu.


"Percantik dia! Buat rambutnya menjadi model long layer hair style!" ujar Daniel pada pelayan yang ada di salon kecantikan tersebut.


"Baik, Tuan! Nona ayo ikut kami," dua pelayan langsung menarik tangan Natusha.


"Eh? Apa ini? Tuan, aku akan dibawa kemana?" tanya Natusha dengan melirik kebelakang menatap Daniel yang hanya diam saja sembari melipat kedua tangannya didada.


"Diamlah, dan duduklah dengan tenang, sementara mereka akan mengubah penampilan mu!" seru Daniel yang kini duduk disofa untuk menunggu Natusha selesai di percantik.


"Heh... lihat saja, Daddy Devan tidak akan bisa menghinaku kali ini," gumam Daniel dengan senyum seringai licik diwajahnya.


Sementara Natusha dibawa kesebuah ruangan. Dirinya disuruh duduk, dengan banyak pelayan yang mengerumuninya. Rambutnya yang sedang terkepang dua itu langsung dilepas ikatannya dan dibiarkan terurai begitu saja.


Para pelayan pun memulai pekerjaannya dengan mempercantik Natusha dengan secantik mungkin agar Daniel bisa puas dengan hasil kerja mereka.


Beberapa jam pun berlalu. Natusha sudah selesai dipercantik. Rambutnya di tata dengan model long layer hair style. Wajahnya yang diberi makeup tipis namun terlihat sangat cantik dan anggun. Tak lupa dengan dress berwarna biru muda tanpa lengan yang menempel ditubuhnya yang indah. Memperlihatkan leher jenjangnya yang sangat putih dan mulus.


Para pelayan begitu terpukai dengan penampilan Natusha sekarang, terlihat seperti putri dari sebuah kerajaan asing.


Sementara Natusha hanya bisa diam dan pasrah dengan apa yang dilakukan para pelayan kepadanya. Bahkan Natusha selalu bertanya-tanya pada hatinya sendiri, mengapa dirinya di percantik seperti ini? Apa Tuan Daniel benar-benar akan menjualnya pada pria tua kaya raya?


Para pelayan pun langsung membawa Natusha untuk keluar dari ruangan.


Daniel yang sedang duduk di sofa langsung terpukau ketika melihat penampilan Natusha yang benar-benar berubah 180 derajat.


"Cantik sekali," gumam Daniel menatap Natusha dari atas hingga bawah. Benar-benar berbeda dengan Natusha yang sebelumnya.


"Bagaimana, Tuan? Apa anda puas dengan hasil kerja kami?" tanya manajer salon kecantikan tersebut.


"Puas! Sangat puas! Hasil kerja kalian sangat bagus! Nanti aku transfer uang ke rekening kalian!" ujar Daniel membuat para pelayan tersenyum puas.


"Tuan, aku mengantuk, boleh kita pulang?" tanya Natusha dengan menguap membuat Daniel langsung menepuk jidatnya.


"Hais... aku lupa, anak ini hanya penampilan nya saja yang berubah, tetapi tidak dengan sifatnya yang tengil!" pekik Daniel.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2