
Malam hari pun tiba. Setelah puas bermain di pantai Kuta Bali, Natusha dan teman-temannya langsung kembali ke Villa.
Natusha masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket dan bau keringat.
Setela itu, dirinya pun kembali bersantai di atas tempat tidurnya yang empuk. Baru saja Natusha ingin menutup matanya, bunyi notif pesan masuk kedalam ponselnya yang membuat Natusha tidak jadi menutup matanya dan dengan segera meraih ponselnya yang berada diatas nakas.
Mr Daniel: Dimana kau?
Natusha: Aku di Bali
Dengan polos Natusha menjawabnya membuat Daniel benar-benar gemas membaca pesan Natusha tersebut.
Mr Daniel: Gadis nanas aku tahu kau sedang berada di Bali, maksudku dimana posisi mu sekarang?
Natusha: Aku di Villa
Mr. Daniel: Keluarlah dari Villa! Datang ke pantai sekarang juga!
Natusha: Kenapa? [Jawab Natusha dengan mengerutkan keningnya]
Mr. Daniel: Kau tidak usah banyak bertanya! Cepat kau ke pantai sekarang!
Natusha: Tidak mau! Aku ngantuk tuan, aku ini sedang istirahat, kenapa aku harus kesana!
Mr. Daniel: Gadis nanas beraninya kau membantah ucapan tuan mu sendiri!
Mr Daniel: Cepat lakukan perintahku! Atau kau akan menerima akibatnya karena telah berani melawanku!
Natusha yang membaca pesan Daniel itu benar-benar sangat kesal. Natusha yang tadinya ingin istirahat justru harus terpaksa menuruti keinginan Daniel yang menyuruhnya pergi ke pantai.
"Dasar tuan yang suka seenaknya! Selalu saja memaksa ku!" sungut Natusha yang kini beranjak dari atas kasurnya dan dengan segera memakai switer nya.
Tanpa banyak berfikir Natusha langsung keluar dari Villa dan pergi ke pantai tanpa sepengetahuan siapapun.
Di pantai.
Natusha berjalan di pinggir pantai. Sesekali ia meniup tangannya yang terasa sangat dingin karena cuaca saat ini sedang berangin. Sesekali Natusha bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa tuan Daniel memintanya untuk datang kesini? Untuk apa? Apa yang Natusha harus lakukan disini?
"Dasar tuan gila!" gumam Natusha dengan cemberut.
Samar-samar Natusha melihat cahaya yang berada didekat pantai. Natusha yang penasaran itu semakin mempercepat langkahnya.
Dan terlihat jelas oleh dirinya sendiri, sebuah meja dengan dua kursi yang terletak di tengah pasir pantai. Tak hanya itu, meja dan kursi tersebut di kelilingi oleh lilin yang berbentuk love membuat Natusha benar-benar terpukau melihatnya.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Daniel pada Natusha. Membuat Natusha langsung terperanjat kaget mendengar suara Daniel dari arah belakangnya.
"Tuan Daniel?!" pekik Natusha ketika berbalik badan dan melihat keberadaan Daniel.
"Benarkah ini kau?" tanya Natusha mengerutkan keningnya. Karena rasanya Daniel tak mungkin berada disini, Daniel kan sedang berada di Jakarta? Pikir Natusha.
"Kau pikir aku siapa? Tentu saja aku Daniel gadis nanas!" sungut Daniel membuat Natusha semakin terkejut.
__ADS_1
"Tuan kenapa berada disini? Bukannya Tuan sedang berada di Jakarta?!" tanya Natusha.
"Kau tidak perlu tahu kenapa aku bisa ada disini. Sekarang berikan tanganmu!" seru Daniel dengan mengulurkan tangannya meminta Natusha untuk memberikan tangannya kepadanya.
"Untuk apa?" tanya Natusha dengan sedikit curiga yang langsung menyembunyikan kedua tangannya dibelakangnya.
"Jangan banyak tanya! Cepat berikan tanganmu!" perintah Daniel dengan tegas membuat Natusha dengan terpaksa memberikan tangannya pada Daniel.
Daniel tersenyum puas dan segera meraih tangan Natusha. Di genggamnya tangan Natusha dengan erat lalu membawanya untuk duduk di kursi yang di lihat Natusha tadi.
"Tuan ada apa ini?" tanya Natusha yang benar-benar bingung.
"Ini adalah kejutan untukmu..." jawab Daniel kini menatap wajah Natusha yang sudah duduk bersebrangan dengan nya.
"Kejutan untukku?" tanya Natusha benar-benar tidak mengerti yang dimaksud Daniel.
"Kau ini benar-benar sangat bodoh!" seru Daniel dengan menghelai nafas nya dengan panjang, karena kesal dengan kepolosan Natusha yang sama sekali tidak mengerti dengan kejutan yang Daniel berikan kepadanya.
"Nanti aku akan jelaskan! Sekarang makanlah! Itu dibuat khusus untukmu!" ujar Daniel membuat Natusha langsung menatap kearah meja.
Di atas meja sudah tersedia dua piring steak daging, untuk Natusha dan juga Daniel. "Ini dibuat khusus untukku? Kelihatannya enak sekali," ujar Natusha dengan mata yang berbinar-binar.
"Kalau kau suka, makanlah! Habiskan karena aku membayar mahal untuk semua ini!" sungut Daniel membuat Natusha mengangguk cepat.
"Kenapa kau tidak juga memakannya?" tanya Daniel melihat Natusha tak kunjung memakan steak daging nya.
"Nasinya mana?" tanya Natusha dengan polos.
Daniel yang mendengarnya langsung menepuk jidatnya dengan keras karena kesal dengan tingkah Natusha yang benar-benar menguji kesabaran nya.
"Kalau gak pakai nasi kurang kenyang!" sungut Natusha dengan cemberut.
"Ya tuhan...."
Setelah Daniel dan Natusha selesai dinner. Daniel pun mengajak Natusha untuk berjalan-jalan di pinggir pantai.
Awalnya Natusha menolak dan meminta agar dirinya dibiarkan pulang saja. Namun Daniel sangat memaksa membuat Natusha mau tidak mau harus terpaksa menuruti keinginan Daniel itu.
Daniel dan Natusha pun saling bergandengan tangan di pinggir pantai. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan di pinggir pantai.
"Bulannya sangat indah," gumam Natusha menatap pada bulan yang bersinar terang diatas langit.
Sementara sejak tadi Daniel terus menatap pada wajah cantik Natsuha yang sedang tersenyum.
Natusha melihat kearah Daniel yang sedang menatapnya. "Tuan kenapa melihatku sampai segitunya?" tanya Natusha membuat Daniel tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kalau aku menatap mu, emangnya tidak boleh?" tanya Daniel dibalas gelengan kepala oleh Natusha.
"Tidak biasanya tuan menatapku segitunya!" ujar Natusha membuat Daniel tersenyum tipis.
Daniel menghelai nafasnya dalam-dalam, lalu kini memposisikan dirinya untuk menghadap ke Natusha. "Natusha..."
__ADS_1
"Ya tuan?" Natusha langsung menoleh.
"Ad-- ada yang ingin aku katakan padamu," ujar Daniel dengan gugup.
"Apa itu?" tanya Natusha dengan penasaran namun Daniel hanya diam saja.
"Tuan mau bicara apa?" tanya Natusha lagi melihat Daniel hanya diam saja.
Daniel kembali menghelai nafasnya dengan panjang dan berusaha mengontrol detak jantungnya yang sejak tadi terus berdegup kencang tak karuan.
"Na--natusha, kau... kau mau jadi kekasihku?" tanya Daniel membuat Natusha langsung terdiam membeku di tempatnya.
"Ma--maksudnya?" tanya Natusha dengan bingung.
"Tidak ada pengulangan! Kau itu membuatku malu dengan mengulang perkataan ku!" sungut Daniel membuat Natusha langsung cemberut.
"Tuan ini gak ada romantis-romantisnya sama sekali!" sungut Natusha dengan mencurutkan bibirnya kedepan.
"Bagaimana? Kau mau tidak?" tanya Daniel menatap Natusha dengan intens seolah menuntut jawaban dari Natusha.
"A--aku...." Natusha kembali gugup. Ini serius? Daniel menembak Natusha? Ya ampun, mimpi apa Natusha semalam... author juga pengen tau..
"Kalau kau menolakku, aku pastikan gaji mu akan aku potong gadis nanas!" seru Daniel membuat Natusha langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Ya ampun dalam keadaan seperti ini, tuan masih berfikir ingin memotong gajiku?" tanya Natusha dibalas anggukan oleh Daniel.
"Tentu saja! Aku tidak ingin malu karena di tolak bocah ingusan seperti mu!" timpal Daniel.
"Apa tuan benar mencintaiku?" tanya Natusha dengan menatap intens wajah Daniel.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Jawab aja apa susahnya sih tuan? Kalau tuan masih mementingkan gengsi aku tidak mau menerima tuan sebagai kekasih ku!" sungut Natusha memalingkan wajah dengan kesal.
"Iya-iya! Aku sangat mencintaimu gadis nanas! Bahkan cintaku ini sangat tulus padamu! Aku sudah mengatakan yang sejujur-jujurnya!" ujar Daniel membuat Natusha tersenyum senang.
"Aku juga mencintaimu tuan. Walau tuan sering menindasku dan suka marah-marah terutama lagi padaku, tapi rasa cintaku ini lebih besar dari itu semua," ujar Natusha dengan senyum kebahagiaan diwajahnya.
Deg...
Daniel langsung terdiam mendengar pernyataan dari Natusha. Benarkah Natusha mencintainya? Berarti cintanya itu tidak bertepuk sebelah tangan? Ahh akhirnya...
"Kalau kau benar mencintaiku, ci**um aku!" perintah Daniel membuat Natusha yang tadinya tersenyum penuh kebahagiaan kini langsung sirna.
"Tuan ini selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan!" sungut Natusha dengan cemberut.
"Aku tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku ini hanya memastikan kalau kau ini bentar cinta aku apa tidak!" seru Daniel.
"Emangnya cinta harus di buktikan dengan ciu**man yah?" tanya Nastusha semakin cemberut.
"Tentu saja itu benar!"
__ADS_1
Bersambung.
.