
Gemas dengan tingkah Natusha yang selalu saja membantah perkataannya, membuat Daniel langsung menarik pinggang Natusha kedalam pelukannya.
"Berikan tanganmu!" perintah Daniel membuat Natusha kebingungan.
"Kenapa?" tanya Natusha keheranan.
"Jangan banyak bertanya. Tinggal berikan saja!" ujar Daniel membuat Natusha mau tak mau harus memberikan tangannya pada Daniel.
Daniel menggenggamnya sangat lembut lalu mengelus punggung tangan Natusha. "Setahun lagi kau akan lulus dari sekolahmu. Setelah kau lulus sekolah kita akan langsung menikah," ujar Daniel dengan suara selembut mungkin. Sambil memasukan sebuah cincin ke jari manis Natusha.
Natusha begitu terkejut mendengar perkataan Daniel. "Tu--tuan melamarku?" tanya Natusha sembari menatap cincin yang sudah tersematkan di jari manisnya.
"Apa kau pernah mendengar seseorang memanggil kekasihnya dengan sebutan Tuan?" tanya Daniel menatap Natusha dengan tajam. Membuat Natusha langsung menciut ketakutan mendapat tatapan mengerikan dari Daniel.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Natusha dengan bingung.
"Panggil aku sayang!" jawab Daniel.
"Tapi aku sudah terbiasa memanggilmu Tuan," sungut Natusha dengan mencurutkan bibirnya kedepan.
"Hilangkan kebiasaan itu. Mulai sekarang kau harus memanggilku sayang setiap waktu!" ujar Daniel membuat Natusha hanya bisa mengangguk pasrah.
"Good girl!" Daniel langsung menarik tengkuk leher Natusha dan langsung mendaratkan sebuah ciu**man di bi**bir Natusha.
Natusha yang mendapatkan perlakukan itu dari Daniel hanya bisa menerimanya dan langsung mengalungkan tangannya dileher Daniel.
Sementara Daniel begitu senang, karena Natusha kini tak memberontak lagi seperti biasanya. Daniel juga sangat bahagia karena Natusha kini sudah resmi menjadi kekasihnya dan tinggal menunggu setahun lagi, Natusha akan resmi menjadi miliknya seutuhnya.
"I love you..." lirih Daniel setelah melepaskan ciu***mannya.
"I love you too..." jawab Natusha dengan nafas tersengal-sengal karena kehabisan nafas.
Daniel kembali men**cium bi**bir Natusha dengan sangat lembut. Di tengah pasir pantai yang indah, suara decapan ciu**man dan ombak bercampur menjadi satu.
Cekrek!!
Dari kejauhan. Leo mengangkat kamera DSLR nya dan langsung mengabadikan momen yang bahagia itu.
.....
Sementara disisi lain. Tepatnya di Jakarta.
David sedang berada dalam mobilnya bersama dengan kekasihnya yang kini sedang bercumbu mesra bersama.
__ADS_1
Namun David terlihat tidak semangat ketika menghadapi kekasih yang baru saja ia pacari selama sebulan itu.
"Keluarlah!" perintah David setelah menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu menyuruh kekasihnya yang bernama Gumi itu untuk keluar dari mobilnya.
Sementara Gumi yang berwajah menor itu terlihat sangat bingung dengan tingkah David.
"Honey are you okay?" tanya Gumi dengan membelai rahang tegas milik David. "Sepertinya kau sedang mabuk..."
Dengan jijik, David menepis tangan Gumi. "Aku bilang keluar! Sebelum aku menendangmu dari sini!" teriak David membuat Gumi benar-benar terkejut, karena ini kali pertamanya David membentaknya.
"Honey kau ini kenapa?" tanya Gumi.
"Aku sudah bosan denganmu! Jadi keluarlah!" jawab David dengan santai membuat Gumi langsung melototkan matanya dengan sempurna.
"Apa yang kau bicarakan? Kau bilang kau tidak akan bosan dengan wanita cantik seperti ku!" sungut Gumi dengan nada sedikit protes.
"Kapan aku mengatakan itu? Aku hanya bilang kalau aku pasti akan jatuh cinta dengan wanita cantik seperti mu! Tapi untuk bosan, pria bodoh mana yang tak akan bosan dengan wanita menjijikan seperti mu?" ujar David dengan senyum licik diwajahnya.
"Kau itu hanya memiliki wajah yang cantik saja! Tapi kau sama sekali tidak bisa menyenangkan ku. Jadi untuk apa kau aku jadikan kekasih kalau kau tidak bisa menyenangkan ku sama sekali?!" cibir David.
"David kau!" Gumi hendak menampar pipi David namun David segera menahannya.
"Kau yang memaksa ku untuk melakukan ini," ujar David yang kini mendorong kasar tubuh Gumi untuk keluar dari mobilnya.
Yeah... selama ini David memiliki sifat playboy dan selalu bersenang-senang dengan banyak wanita, itu di sebabkan karena sifat ayahnya yang turun ke dirinya.
"Kau itu jahat sekali pada perempuan!" teriak seorang gadis yang kini membantu Gumi untuk berdiri. Sementara David yang masih berada didalam mobil hanya diam saja mengacuhkan ucapan gadis itu.
"Hei apa kau mendengarku? Kau itu tidak seharusnya bersikap seperti itu pada perempuan. Walau kalian sedang bertengkar karena urusan asmara, tidak seharusnya kau mendorongnya hingga terjatuh!" gerutu Luna pada David yang hanya diam saja didalam mobilnya.
Sementara David mulai kesal dengan Luna yang terus berteriak marah kearahnya. Dengan gaya angkuhnya, David langsung keluar dari mobilnya lalu menatap pada Luna dengan tatapan tajam.
"Perempuan yah? Bagiku perempuan itu hanyalah sebuah boneka. Yang kalau bosan tinggal dibuang dan ganti dengan boneka yang baru," ujar David dengan sinis sembari melempar senyuman licik pada Luna.
Luna yang mendengarnya benar-benar sangat marah, ini pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki yang sama sekali tak menghargai perempuan.
"Cuihh breng**sek! Asal kau tahu yah, laki-laki itu tidak pernah bermain boneka! Laki-laki yang bermain boneka adalah laki-laki yang pengecut!" teriak Luna dengan amarah yang membakar dirinya.
David yang mendengar perkataan Luna langsung terdiam. David mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya mulai mengeras pertanda ia sedang marah pada Luna.
Sementara Gumi yang melihat David marah, langsung berlari pergi dari sana.
"Heh? Kemana?!" teriak Luna melihat Gumi pergi. Gumi mengacuhkan teriakan Luna dan terus berlari menjauh darisana.
__ADS_1
"Sudah di bantuin malah lari..." gumam Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi kau bilang aku ini adalah laki-laki yang pengecut?" tanya David dengan menatap Luna dengan tajam.
"Iya! Kau itu pengecut karena beraninya sama perempuan!" seloroh Luna dengan keras membuat David semakin tersulut emosi.
"Coba katakan sekali lagi! Aku ini apa?" tanya David melangkah mendekati Luna membuat Luna mundur kebelakang.
"Pengecut! Kau pengecut!" ujar Luna sok berani, padahal dalam dirinya sebenarnya dia takut melihat tatapan tajam dari David.
"Kau ingin melihat bagaimana laki-laki pengecut ini bermain?" tanya David dengan senyum seringai diwajahnya.
"A--apa?" tanya Luna mulai gugup dan tidak mengerti dengan maksud David.
Cup!
David menarik Luna kedalam pelukannya, dan langsung mencuri ciu**man di bi**bir Luna membuat Luna terkejut dan langsung membulatkan matanya dengan sangat sempurna.
"Emhhh!" Luna berusaha memberontak namun David menahan pergerakan Luna membuat Luna susah untuk memberontak.
David men**cium dan melu**mat bi**bir Luna dengan ka**sar dan ag**resif membuat Luna kewalahan dan mulai kehabisan nafas.
"Ya ampun... aku salah melawan seseorang, laki-laki ini sangat berbahaya," gumam Luna dalam hatinya.
Luna memejamkan matanya dengan kuat dan langsung menggigit bi**bir David dengan sangat kuat membuat David langsung melepaskan ciu**mannya.
"Gadis nakal, beraninya kau menggigit ku!" bentak David mengelus sudut bi**bir nya yang berdarah karena di gigit Luna.
"Kenapa tidak?! Kau berani men**ciumku, tentu saja aku berani menggigit mu!" sungut Luna membuat David semakin emosi.
"Kau..." geram David hendak menarik tangan Luna namun dengan sigap Luna berlari menjauh darinya.
"Gadis nakal jangan lari kau!" teriak David pada Luna.
"Tidak mau! Dasar laki-laki pengecut!" teriak Luna terus berlari hingga hilang dari pandangan David.
"Anak itu berani sekali melawan ku..." gumam David mengepal tangannya dengan kuat.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu gadis nakal! Cepat atau lambat aku akan menemukan mu!" gumam David dengan menahan kekesalannya. Karena ini pertama kalinya ada seseorang yang berani kepadanya.
"Tapi rasanya lumayan..." gumam David mengelus sudut bibirnya sembari tersenyum tipis.
Bersambung.
__ADS_1