Gadis Tengil Melawan Tuan Muda

Gadis Tengil Melawan Tuan Muda
Bab 13


__ADS_3

Sesampainya di Mall, Daniel pun memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia menarik tangan Natusha untuk keluar dari mobil.


Natusha melihat gedung yang begitu luas dan menjulang tinggi keatas. "Tuan ini gedung apa?" tanya Natusha melirik Daniel yang sedang berdiri disampingnya.


"Kau tidak tahu? Ini adalah Mall. Kau bisa membeli apapun ditempat ini," timpal Daniel yang langsung menarik tangan Natusha untuk masuk kedalam mall tersebut.


Ketika berada didalam Mall, Natusha menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan yang kagum menatap isi didalam mall tersebut.


Sementara Daniel yang melihat ekspresi lucu Natusha hanya bisa mengulum senyumnya. Daniel kini tersadar kalau dirinya memang mencintai Natusha, namun ia tak berani untuk mengungkapkan cintanya tersebut.


Biarlah Daniel pendam dulu, ia harus mengumpulkan niat untuk menyatakan perasaannya kepada Natusha si gadis jorok yang menggemaskan itu.


"Kita harus membelikan mu baju pantai! Ayo ikut aku!" ujar Daniel menggenggam tangan Natusha dengan erat lalu membawanya masuk kedalam toko pakaian.


Didalam sana, Natusha disuruh disuruh memilih baju. Disaat Natusha sedang mencari-cari baju yang cocok untuknya, Natusha mendapatkan baju yang terlihat bagus dan cantik.


"Sembilan juta? Astaga ini mahal sekali," gumam Natusha menatap harga tag dibaju itu.


Natusha yang tidak punya uang sebanyak itu mau tidak mau harus mencari harga yang murah. Namun ternyata semua harga baju yang ada disana sangatlah mahal.


"Tuan..." seru Natusha setengah berbisik pada Daniel yang berada disampingnya.


"Hmm?" Daniel langsung menatap kearah Natusha.


"Kita pergi saja yuk," pintah Natusha membuat Daniel bingung.


"Kenapa? Apa kau tidak suka semua pakaian yang ada disini?" tanya Daniel membuat Natusha menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.


"Aku suka tapi harganya terlalu mahal. Uang ku tidak cukup untuk membelinya," sungut Natusha dengan cemberut membuat Daniel langsung tertawa.


"Beli sepuas mu! Kau tidak usah khawatir, aku traktir," ujar Daniel membuat Natusha kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tuan yakin? Pakaian disini harganya sangat mahal, nanti uang tuan bisa habis loh," ujar Natusha membuat Daniel lagi-lagi tertawa.


"Hei kau kesini!" Daniel langsung memanggil soerang karyawan disana, membuat karyawan langsung bergegas datang kearahnya.


"Iya Tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Karyawan tersebut menatap Daniel dengan tatapan kagum. Karena Daniel walau pun sudah berumur 30 tahun tetapi dia masih terlihat muda dan tampan membuat siapa saja yang melihatnya langsung terpesona.


"Tuan muda?" gumam Natusha menahan tawanya mati-matian.


"Bungkus semua pakaian pantai ini! Dan segera kirimkan ke apartemen ku!" ujar Daniel membuat Karyawan langsung mengangguk. Tak lama kemudian dua karyawan lagi datang untuk melaksanakan tugas dari tuan Daniel.


"Tuan..." sungut Natusha menatap kearah Daniel dengan tatapan kesalnya.


"Sudah kau tidak usah banyak protes! Aku ini seorang pemimpin perusahaan! Uang ku sudah banyak. Dengan membeli pakaian untukmu tidak akan membuatku bangkrut!" ujar Daniel seolah tahu kalau Natusha akan protes karena dirinya membeli semua pakaian mahal tadi.


"Dasar sombong!" sungut Natusha.

__ADS_1


"Tuan, kenapa mereka semua memanggilmu Tuan muda?" tanya Natusha membuat Daniel bingung. "Kau kan sudah berumur 30 tahun, seharusnya mereka memanggilmu Tuan Tua," ujar Natusha.


"Aduh! Aduh! Sakit!" pekik Natusha ketika untuk kesekian kalinya Daniel menarik telinganya lagi.


"Jadi kau mengatai aku tua?!" tanya Daniel semakin menarik telinga Natsuha.


"Aduu aku kan hanya bercanda Tuan, lepasin!" pintah Natusha memegang tangan Daniel yang menarik telinganya.


"Tidak akan sebelum kau memanggilku sayang!" ujar Daniel membuat mata Natusha langsung melotot.


"Tuan yang benar saja! Mana mungkin aku memanggilmu sayang!" sungut Natusha dengan masih meringis kesakitan di telinganya.


"Itu hukuman mu! Karena sudah berani menyebutku tua, sekarang sebut aku sayang!" seru Daniel semakin menarik telinga Natusha.


"Aduh.. aduh..., i--iya sa-sayang!" ujar Natusha memejamkan matanya dengan kuat.


"Panggil yang benar!" ujar Daniel.


"Iya sayang!"


"Good!" Daniel langsung melepaskan tarikannya ditelinga Natusha dengan senyum puas diwajahnya, sementara Natusha terlihat sangat kesal karena telinganya ditarik dengan sangat keras oleh Daniel.


"Lama-lama telinga ku bisa putus kalau selalu ditarik," sungut Natusha dengan cemberut.


Sementara para karyawan yang melihat interaksi antara Tuan muda dan Natusha hanya bisa tertawa kecil. Seperti sepasang kekasih yang sedang bermain tom and jerry.


Toko Ponsel.


"Ini untukku?" tanya Natusha dengan sangat bahagia menatap ponsel mahal keluaran terbaru yang pernah ia lihatnya di iklan TV.


"Tentu saja itu untukmu. Apa kau suka?" tanya Daniel menatap pada wajah Natusha yang terlihat bahagia sekali.


"Tentu saja aku suka! Ponsel ini lebih canggih dibanding dengan ponsel yang kemarin kau rusak," ujar Natusha dengan terus memandang ponsel yang berada di tangannya.


"Baguslah kalau kau suka dengan ponsel itu. Sekarang ayo kita pulang!" ujar Daniel yang langsung menggandeng tangan Natusha untuk pergi dari toko ponsel tersebut.


Sementara karyawan di toko ponsel itu yang melihat interaksi antara Daniel dan Natusha hanya bisa tersenyum tipis. Walau keduanya terpaut umur yang sangat jauh, namun keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.


"Mereka berdua cocok sekali...."


Di apartemen.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Natusha langsung keluar dari kamarnya. Dilihatnya Daniel yang sedang duduk diatas sofa sembari fokus pada laptopnya.


Natusha yang kepo dengan apa yang dikerjakan oleh tuannya itu langsung mendekat dan duduk di samping Tuan Daniel.


"Tuan sedang apa?" tanya Natusha menatap kearah laptop Daniel yang berisikan tentang angka-angka yang membuat Natusha tak mengerti.

__ADS_1


"Memeriksa saham," jawab Daniel sekilas melirik kearah Natusha lalu kembali fokus pada laptopnya.


"Ohh gitu yah..." Natusha mengangguk paham padahal dirinya belum sepenuhnya mengerti. Tak ingin banyak berfikir Natusha mengambil cemilan yang berada diatas meja.


Sembari mengemil, Natusha memperhatikan gerak-gerik Daniel yang mengetik keyboard laptopnya dengan sangat cepat.


"Tuan, apa Kak David itu sudah mempunyai pacar?" tanya Natusha membuat Daniel langsung menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Daniel yang kini menatap wajah Natusha dengan intens.


"Karena aku ingin tahu saja..." jawab Natusha. "Tuan, aku rasa aku ini sedang jatuh cinta pada Kak David?" bisik Natusha ditelinga Daniel.


Membuat Daniel yang mendengarnya langsung menutup laptopnya dengan keras. "Kau bilang kau jatuh cinta pada David?!" teriak Daniel dengan menatap tajam kearah Natusha.


Natusha lalu mengangguk dengan polos. "Dia itu sangat baik padaku. Terutama lagi dia itu sangat kaya, wanita mana yang bisa berpaling darinya?" sungut Natuhsa membuat Daniel semakin tersulut emosi.


"Kau mencintai David karena dia sangat kaya?" tanya Daniel berusaha menahan emosi didalam dirinya. Natusha mengangguk lagi.


"Bukan hanya itu, dia itu juga sangat tampan!" jawab Natusha dengan mantap.


"Kau menyukai pria tampan dan sangat kaya, berarti kalau begitu kau juga menyukaiku?" tanya Daniel dengan intens membuat Natusha langsung terdiam.


"Kenapa kau diam? Apa benar kau juga menyukaiku? Karena secara teknis aku ini juga tampan dan juga sangat kaya dibandingkan dengan David!" seru Daniel.


"Iya, kau itu memang tampan dan sangat kaya raya dibandingkan dengan Kak David. Tapi kau itu suka marah-marah jadi aku tidak suka, aku lebih menyukai Kak David yang berhati malaikat!" ujar Natusha dengan terus terang membuat Daniel lagi-lagi kembali emosi.


"Natusha!" bentak Daniel dengan keras membuat Natusha langsung terdiam.


"Kau tidak boleh menyukai David, ataupun pria lain!" sungut Daniel dengan tegas membuat Natusha bingung.


"Kenapa tidak boleh? Apa salahnya aku menyukai Kak David ataupun pria lain?" tanya Natusha.


"Kau bertanya apa salahnya!" bentak Daniel. "Kemari kau!" Daniel langsung menarik tangan Natusha membuat Natusha langsung terduduk diatas pangkuan Daniel.


"Karena aku cemburu!" teriak Daniel dengan keras membuat Natusha langsung terdiam.


"Kau dengar tidak?! Aku cemburu mendengarmu menyukai pria lain!" bentak Daniel pada Natusha.


"Tu--tuan?" Natusha yang syok mendengar pengakuan Daniel tak bisa berkata-kata lagi. Apa ini mimpi? Atau cuma halusinasi Natusha saja?


Cup!


Daniel langsung mendaratkan sebuah ciu**man ke bi**bir Natusha membuat Natusha terkejut dan hendak memberontak. Namum dengan sigap Daniel mengunci pergerakan Natusha membuat Natusha tak bisa bergerak kemana-mana lagi.


Lama-lama ciuman itu semakin dalam, Daniel men**cium Natusha dengan penuh kelembutan. Sementara Natusha yang menerima ciu**man dari Daniel mulai terbawa suasana.


Dan tanpa sadar Natusha mengalungkan tangannya di leher Daniel membuat Daniel semakin leluasa untuk menyantap habis bi*bir Natusha itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2