Gadis Tengil Melawan Tuan Muda

Gadis Tengil Melawan Tuan Muda
Bab 12


__ADS_3

Setelah pulang dari perusahaan. Daniel memutuskan untuk pergi ke sekolah Natusha. Entah mengapa sejak tadi pagi hatinya selalu terasa panas semenjak melihat kedekatan Natusha dengan David.


Sekolah Natusha.


"Tuan kenapa datang kesini lagi?" tanya Natusha pada Daniel yang sedang berdiri didepan gerbang.


"Cepat masuk!" bentak Daniel dengan tatapan tajamnya yang mengarah ke pipi Natusha. Melihat pipi Natusha yang gembul membuat Daniel langsung teringat pada David yang benar-benar sangat keterlaluan sudah mencium Natusha.


"Tuan kenapa terlihat sangat marah?" tanya Natusha dengan bingung melihat wajah Daniel yang memerah akibat marah.


"Saya bilang masuk ya masuk!" bentaknya lagi membuat Natusha mencurutkan bibirnya kedepan dan dengan terpaksa Natusha harus masuk kedalam mobil Daniel.


"Padahal aku hanya bertanya, tapi dia selalu saja memarahi ku!" sungut Natusha dalam hatinya.


Didalam perjalan.


Daniel yang sedang mengemudikan mobilnya itu sesekali melirik kearah Natusha yang hanya diam saja sembari menatap kearah jalan lewat jendela.


"Tuan besok lusa disekolah ku akan mengadakan acara liburan. Guru bilang kami akan liburan di pantai Kuta Bali," ujar Natusha memecah keheningan didalam mobil itu.


"Lalu?" tanya Daniel dengan cuek membuat Natusha cemberut.


"Lalu... tentu saja aku ingin ikut. Tapi aku tidak punya biaya untuk kesana," lirih Natusha. "Kau kan punya banyak uang. Apa boleh kau meminjamkan uang untuk ku?"


"Tidak boleh!" sentak Daniel yang langsung membuat Natusha terdiam.


"Kau itu kalau tidak punya uang tidak usah pergi! Bukan malah meminjam uang pada Tuan mu sendiri!" ujar Daniel dengan suara tegas.


"Selain arogan ternyata kau itu juga sangat pelit!" ucap Natusha dengan pelan.


"Apa kau bilang?!" tanya Daniel melirik tajam kearah Natusha.


"Tidak ada. Kalau Tuan tidak ingin meminjamkan ku uang, aku bisa meminjamnya pada Kak David!" ujar Natusha membuat Daniel melotot dan langsung mengerem mobilnya dengan mendadak.


"Kau akan meminta pada David?!" tanya Daniel setengah berteriak.


"Tentu saja! Kak David itu juga sangat kaya sama seperti mu. Dia itu pasti akan meminjamkan aku uang," timpal Natusha membuat emosi Daniel mulai tersulut.


"Percaya diri sekali kau! Darimana kau tahu kalau David akan meminjamkan mu uang?!"


"Aku tahu dari sifatnya yang baik. Dia itu tidak pemarah dan sangat ramah, terlebih lagi dia itu tidak pelit seperti dirimu," jawab Natusha membuat Daniel semakin emosi.


"Aduh aduh sakit Tuan!" pekik Natusha langsung menjerit kesakitan ketika Daniel menarik telinganya dengan keras.


"Masih kecil sudah berani meminjam uang pada orang lain!" teriak Daniel semakin keras menarik telinga Natusha.


"Dia itu bukan orang lain Tuan! Dia itu teman aku!" sungut Natusha dengan memegang tangan Daniel yang menarik telinganya.


"Teman katamu! Sejak kapan dia menjadi temanmu bocah ingusan!" seru Daniel masih menarik telinga Natusha.


"Sshh sakit..." lirih Natusha kesakitan membuat Daniel langsung melepaskan tarikan ditelinga Natusha.

__ADS_1


"Sejak tadi pagi. Tadi pagi aku bertemu dengannya, dia langsung mengantarku ke sekolah, dan aku juga sudah punya no ponselnya!" jawab Natusha dengan penuh kebahagiaan menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan David tadi pagi. Yang justru menjadi Daniel yang mendengarnya semakin emosi setengah mati.


"Kemarikan ponselmu!" bentak Daniel.


"Untuk apa?" tanya Natusha mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Aku bilang kemarikan ponselmu!" bentaknya semakin keras.


"Tidak mau! Kau kan punya ponsel sendiri kenapa harus meminjam ponselku!" ujar Natusha.


Daniel yang kesal karena Natusha tak kunjung menuruti perintah nya langsung menarik tas Natusha. Dan sesuai dugaan, Daniel mendapatkan ponsel Natusha didalam tasnya.


"Tuan kembalikan!" teriak Natusha berusaha mengambil ponselnya kembali dari tangan Daniel. Namun Daniel segera menjauh dan keluar dari mobilnya.


Dengan penuh emosi dan kemarahan yang besar Daniel membanting ponsel Natusha kebawah tanah membuat ponsel Natusha langsung retak.


Tak puas melihat ponsel Natusha yang retak, Daniel kembali menginjaknya dengan keras membuat ponsel Natusha semakin hancur.


"Ponselku!" teriak Natusha melihat ponselnya sudah hancur karena ulah Tuan Daniel.


***


Apartemen.


Natusha yang dirusak ponselnya itu langsung masuk kedalam apartemen. Tanpa memperdulikan Daniel yang mengikutinya dari belakang.


"Hiks... dasar Mr. Arogan suka seenaknya!" umpat Natusha dengan menangis sesenggukan. Sejak tadi Natusha terus menangis didalam perjalan memikirkan ponselnya yang begitu mahal dirusak oleh Daniel. Ponsel itu Natusha beli dengan hasil kerja kerasnya sendiri tapi dengan seenak jidatnya Daniel justru merusaknya.


"Berhentilah menangis!" perintah Daniel menatap pada wajah Natusha.


"Tuan itu jahat sekali!" sungut Natusha dengan sesenggukan.


"Nanti aku akan menggantinya!" ujar Daniel berusaha membujuk Natusha agar berhenti menangis.


"Tuan harus janji untuk mengganti ponselku!" ujar Natusha menatap Daniel dengan tajam.


"Iya aku janji, sekarang berhentilah menagis!" ujar Daniel membuat Natusha langsung berhenti menangis.


Hidung Natusha kini mengeluarkan ingus lagi, Natusha hendak mengelapnya menggunakan bajunya namun Daniel langsung menahan tangan gadis jorok itu.


"Ada banyak tisu disini! Gunakan itu untuk mengelap ingusmu!" seru Daniel.


Srupp... Bunyi ingus Natusha ketika Natusha mengelap ingusnya. "Terimakasih," ucap Natusha dengan masih sesenggukan.


Natusha memberikan bekas tisu nya pada Daniel dan Daniel menerima dengan senang hati dan langsung membuangnya ke keranjang sampah.


Daniel terlihat menghelai nafasnya dengan pasrah melihat Natusha yang masih saja jorok seperti bertapa kali bertemu dengannya.


"Untung kau itu cantik dan terlebih lagi aku ini mencintaimu, kalau tidak sudah aku tendang kau keluar dari sini," gumam Daniel dalam hatinya dengan menatap hidung mungil Natusha yang terlihat memerah.


"Tuan, apa kau punya no ponsel Kak David?" tanya Natusha membuat Daniel langsung mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Punya kenapa?" tanya Daniel.


"Apa boleh aku meminjam ponselmu... aku ingin menghubungi Kak David untuk meminjam uang," timpal Natusha membuat Daniel mulai kesal.


"Tidak boleh!" tolak Daniel membuat Natusha cemberut.


"Tuan, kau itu benar-benar licik! Sudah merusak ponselku tapi tak mau meminjamkan ku ponsel!" sungut Natusha.


"Kau tidak boleh meminjam uang kepada David! Nanti aku akan memberikan mu uang untuk liburan mu ke Bali!" ujar Daniel yang kini duduk disebelah Natusha.


"Serius?" tanya Natusha dengan mata berbinar-binar.


"Itu sekaligus tanda permintaan maafku karena sudah merusak ponselmu," ujar Daniel.


....


Keesokan harinya.


Natusha yang sudah siap dengan pakaian sekolahnya, hendak keluar dari kamarnya. Namun tiba-tiba, saat dirinya membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Daniel yang berdiri tepat didepan kamarnya.


"Tuan itu mengagetkanku saja!" pekik Natusha yang langung mengelus dadanya.


"Kau mau kemana?" tanya Daniel berbasa-basi melihat Natusha memakai seragam sekolahnya.


"Ke sekolah," jawab Natusha.


"Kau tidak usah sekolah untuk hari ini!" seru Daniel membuat Natusha kebingungan.


"Kenapa tidak usah? Ini kan bukan hari libur!" sungut Natusha yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Karena aku sudah meminta izin pada gurumu kalau untuk hari ini kau tidak usah sekolah," ujar Daniel membuat Natsuha terkaget-kaget.


"Loh kenapa?! Aku ini sedang tidak sakit kenapa harus meminta izin!"


"Karena sekarang kau harus ikut denganku. Cepat ganti pakaian mu!" ujar Daniel dengan tersenyum penuh misteri diwajahnya.


Sedangkan Natusha yang tidak ingin kena marah lagi dari Tuan Daniel mau tidak mau harus berganti pakaian lagi.


....


Diperjalanan.


"Kita mau kemana sih, Tuan? Dari tadi aku bertanya tapi tidak dijawab-jawab!" sungut Natusha dengan cemberut.


"Kita akan membeli ponsel untuk mengganti ponsel yang sudah aku rusak kemarin," ujar Daniel.


"Ya ampun hanya untuk membeli ponsel, hari sekolahku di liburkan...." lirih Natusha dengan cemberut.


"Tentu saja bukan hanya itu! Kau juga harus membeli keperluan mu untuk liburan ke Bali kan? Kita akan belanja untuk hari ini, dengan kata gaulnya shopping!" ujar Daniel.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2