Gadis Tengil Melawan Tuan Muda

Gadis Tengil Melawan Tuan Muda
Bab 18


__ADS_3

Setelah kejadian itu. Daniel dan Natusha sudah tidak lagi berani bermesraan di dalam kantor. Daniel dan Natusha hanya bisa bermesraan di apartemen, itupun mereka masih takut kalau Ayah Kenzo akan menggerebek mereka lagi.


Hari pun berganti hari. Tak terasa Natusha sudah lulus dari sekolahnya dengan nilai yang cukup memuaskan. Daniel sempat menyarankan kekasihnya itu untuk melanjutkan kuliahnya, namun Natusha menolak dengan alasan IQ nya terlalu rendah untuk masuk ke pendidikan selanjutnya.


Kamar.


"Sayang, bangunlah!" Daniel menggoncangkan tubuh Natusha yang sedang tertidur disampingnya.


Natusha yang sedang tertidur dengan nyenyak itu merasa terganggu lalu membuka matanya. "Ada apa sih, Daniel?" tanya Natusha dengan menguap.


"Aku ngantuk tau!" sungut Natusha dengan cemberut.


Cup.


Daniel mengecup kening Natusha dengan sangat lembut. "Ayo mandilah! Ibu dan Ayah menyuruh kita datang ke mansion utama," ujar Daniel.


"Untuk apa?" tanya Natusha mengerutkan keningnya.


"Aku juga tidak tau, Sayang. Yang jelas Ibu dan Ayah menyuruh kita untuk segera ke mansion utama," jawab Daniel yang kini sibuk mencumi seluruh wajah Natusha.


"Isshh, Daniel geli...." seloroh Natusha menggeliat kegelian.


"Maka dari itu bangunlah sebelum aku menghabisimu!" timpal Daniel dengan masih menciumi seluruh wajah Natusha.


"Iya iya aku bangun!" seru Natusha mendorong kepala Daniel dengan sekuat tenaganya.


Daniel pun membiarkan Natusha untuk membersihkan dirinya. Setelah Natusha masuk kedalam kamar mandi, Daniel mengeluarkan sesuatu dari laci nakas yang berada di samping tempat tidur mereka.


......


Setelah beberapa menit. Natusha pun keluar dari kamar mandinya dengan memakai handuk untuk menutupi tubuhnya. Saat keluar Natusha langsung melihat kearah Daniel yang sudah siap dengan pakaian formalnya.


"Sayang, kemarilah," Daniel menyerahkan dasinya pada Natusha. Natusha langsung menerimanya tanpa banyak berkata.


"Menunduk, kamu terlalu tinggi!" ujar Natusha membuat Daniel langsung menundukkan kepalanya.


Natusha pun memasangkan dasi dileher Daniel. Sementara Daniel hanya bisa diam sembari tersenyum menatap wajah Natusha yang begitu dekat dengannya.


Daniel sudah terbiasa di pasangkan dasi oleh Natusha karena itu adalah permintaan nya sendiri. Entah mengapa Daniel lebih suka jika Natusha yang memasangkan dasi di lehernya.


"Makasih, Sayang," Daniel kembali mengecup kening Natusha setelah Natusha selesai memasangkan dasi dileher Daniel.


"Ini untukmu," ujar Daniel mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya dan memberikannya kepada Natusha.


"Apa ini?" tanya Natusha keheranan menatap pada kotak kecil yang kini berada di tangannya.


"Itu hadiah untukmu," jawab Daniel membuat Natusha semakin heran.


"Tumben banget?" Natusha menatap Daniel dengan tatapan penuh curiga.


"Kau tahu, harganya itu sangat mahal, kalau kau tidak mau menerimanya biar aku buang saja!" ujar Daniel hendak meraih kotak kecil tersebut yang berada ditangan Natusha.

__ADS_1


"Eh? Mahal?" tanya Natusha dengan mata yang berbinar-binar dan langsung membuka kotak tersebut.


"Wahh...." mulut Natusha seketika tidak bisa tertutup melihat isi di kota tersebut. "Indah sekali, ini untukku?" tanya Natusha menatap Daniel dengan tatapan tak percaya.


"Tentu saja itu untukmu," Daniel langsung membalikkan tubuh Natusha dan mengambil kalung yang berada di kotak tersebut.


Kalung dengan liontin yang sangat indah dan terlihat begitu sangat mahal itu di pasangkan di leher Natusha. Natusha hanya bisa tersenyum malu-malu mendapatkan hadiah dari sang kekasih.


"I love you more more more...." bisik Daniel ditelinga Natusha membuat wajah wanita memerah karena malu.


"Aku lebih mencintaimu," ujar Natusha memeluk Daniel dengan manja.


"Tidak, aku yang lebih mencintaimu!" ujar Daniel membalas pelukan Natusha.


"No! Aku yang lebih mencintaimu!" sungut Natusha.


"Aku yang lebih mencintaimu, Sayang!" sungut Daniel tak mau kalah.


"Tapi rasa cintaku ini sebesar bumi!" ujar Natusha yang kini mulai kesal dan melepaskan pelukannya pada Daniel.


"Dan cintaku lebih besar seperti semesta," ujar Daniel membuat Natusha semakin kesal.


"Kamu salah! Yang lebih mencintaimu disini itu aku!" teriak Natusha menghentak-hentakan kakinya dengan kesal.


***


Di mansion utama. Semua keluarga Arbeto maupun Metteo sudah berkumpul di ruang tengah.


"Daniel kau harus menikahi Natusha secepatnya," ujar Ayah Kenzo membuat Daniel dan Natusha terkejut terutama David yang baru saja tiba lalu ikut berkumpul bersama diruang tengah itu.


"Ya ampun Ayah, aku ini belum si—" belum sempat Natusha menyelesaikan perkataannya, mulutnya justru di bekap oleh tangan Daniel.


Daniel tahu kalau Natusha akan protes dan beekata belum siap untuk menikah, itulah mengapa ia membekap mulut Natusha.


"Baik, Ayah! Aku akan menikahi Natsuha secepatnya. Ayah tenang saja," ujar Daniel dengan tersenyum bahagia. Karena dirinya senang, Ayah Kenzo sudah mengizinkannya menikah dengan Natusha.


"Aku dan Ayah mu akan menyiapkan semuanya, kalian tinggal tunggu hari H nya saja!" ujar Daddy Devan.


"Iya Daddy."


"Bro, kau sungguh ingin menikah secepatnya?" bisik David ditelinga Daniel.


"Tentu saja!" jawab Daniel dengan penuh keyakinan.


"Bro... umurmu itu masih muda, kau itu masih punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan banyak wanita-wanita cantik diluar sana, kenapa harus menikah secepat ini?" bisik David berusaha menghasut sepupunya itu.


"Untuk apa bertemu dengan wanita-wanita cantik, kalau aku sudah menemukan yang jauh lebih cantik dari siapapun!" ujar Daniel melirik sekilas kearah Natusha.


"Kau sendiri, kapan kau ingin setia pada satu wanita?" tanya Daniel menatap intens sepupu casanova nya itu.


"Aku? Setia? Kau pasti bercanda!" sungut David langsung tertawa terbahak-bahak. "Andai kau tahu jadi playboy itu sangat enak, aku pastikan kau tidak akan mau menikah secepat ini?"

__ADS_1


Daniel tak lagi memperdulikan ucapan David. Daniel justru langsung pergi karena tangannya ditarik oleh Natusha.


"Kau ingin membawaku kemana?" tanya Daniel melihat tangannya yang ditarik oleh Natusha.


Tanpa menjawab, Natusha membawa Daniel ke halaman belakang mansion.


"Daniel kau itu bicara apa sih! Kenapa kau setuju untuk menikah secepatnya!" sungut Natusha dengan cemberut.


Daniel yang mendengarnya, justru bingung atas sikap Natusha yang terlihat tak ingin menikah secepatnya.


"Sayang dari awal kan aku sudah bilang padamu, setelah kau lulus sekolah aku akan segera menikahi mu. Lagi pula apa yang salah jika kita menikah secepatnya?" tanya Daniel dengan mengusap kepala Natusha.


"Tapi aku belum siap Daniel!" seru Natusha yang langsung menepis tangan Daniel dari atas kepalanya.


Daniel langsung terdiam menghadapi sikap Natusha yang kasar. Tidak biasanya Natusha seperti itu, membuat Daniel benar-benar keheranan melihat nya.


"Kau belum siap karena apa?" tanya Daniel mulai menatap tajam Natusha membuat Natusha terdiam.


"Ka--karena aku...." Natusha tiba-tiba menjadi gugup untuk menjawab pertanyaan Daniel membuat Daniel semakin menatapnya dengan tajam.


"Karena apa? KARENA KAU TIDAK MENCINTAI KU?!" bentak Daniel yang kini mulai tersulut emosi nya.


"Daniel apa yang kau bicarakan! Tentu saja aku mencintaimu, hanya saja...." Natusha lagi-lagi enggan untuk mengatakan alasan mengapa ia tak ingin menikah secepatnya.


"Lalu karena apa kau tidak ingin menikah denganku?!" teriak Daniel dihadapan Natusha membuat Natusha langsung menangis karena ini pertama kalinya Daniel membentaknya begitu keras.


"Aku sangat mencintaimu Natusha! Itulah mengapa aku sangat ingin menikah dengan mu. Tapi kau? Kau justru bilang kau tidak siap untuk menikah?" Daniel langsung berbalik badan membelakangi Natusha. Daniel tidak sanggup melihat Natusha menangis dan dirinya takut emosinya akan membuat ia melukai Natusha.


"Kalau kau tidak ingin menikah aku akan bicara pada Ayah," lirih Daniel yang hendak melangka pergi namun terhenti ketika Natusha langsung memeluknya dari arah belakang dengan sangat erat.


"Hiks... maaf, aku tidak bermaksud untuk menolak pernikahan ini. Hanya saja aku...." lirih Natusha dengan menangis sesenggukan membuat Daniel yang tadinya terbakar emosi kini menjadi tenang seketika.


Daniel membalikkan tubuhnya menghadap Natusha. Daniel langsung terkekeh melihat Natusha menagis dengan mengelap ingusnya menggunakan bajunya.


Kebiasaan itu sudah ada sejak Daniel dan Natusha masih saling membenci. Bedanya sekarang mereka sudah saling mencintai.


"Aku belum siap, karena aku takut untuk hamil," ujar Natusha dengan terus menangis sesenggukan.


"Kau takut hamil?" tanya Daniel kembali dibalas anggukan pelan oleh Natusha.


"Kata teman-teman disekolah, kalau melahirkan itu akan sakit, aku takut Daniel...." lirih Natusha semakin menangis.


"Sayang kalau kau bisa memilih melahirkan secara caesar, kenapa harus takut?" ujar Daniel yang langsung memeluk tubuh Natusha dengan sangat erat.


"Caesar itu apa?" tanya Natusha tak mengerti.


"Caesar kau tidak tahu?" tanya Daniel dibalas anggukan pelan Natusha.


"Caesar itu oprasi, Sayangku. Oprasi Caesar dilakukan di perut ibu hamil untuk mengeluarkan bayinya, jadi kau tidak perlu merasakan rasa sakit melahirkan normal," ujar Daniel membuat Natusha langsung paham.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2