
Natusha pulang dengan naik taksi. Setelah sampai dan membayar pak supir, dia pun langsung masuk kedalam rumahnya.
"Nah, itu dia sudah pulang!" seru Paman Sam langsung mendekati Natusha.
Natusha terdiam sesaat karena bingung dengan sikap pamannya itu yang sedikit aneh menurutnya. Terutama lagi Bibi nya yang sedang duduk disofa ruang tamu sembari mengobrol asik dengan seorang bapak-bapak tua.
"Kau kemana saja? Malam baru kau ingat pulang!" omel Paman Sam membuat Natusha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku habis bekerja, Paman," jawab Natusha dengan tersenyum canggung.
"Ah itu tidak masalah, sekarang kau duduk disini!" ujar Paman Sam menarik tangan Natusha dan menyuruhnya untuk duduk dihadapan bapak-bapak tua itu.
Bapak-bapak tua itu menatap Natusha dengan tatapan aneh membuat Natusha sedikit canggung melihatnya.
"Paman, ini ada apa yah?" tanya Natusha merasa sedikit tidak beres dengan kehadiran bapak-bapak tua tersebut.
"Kenalkan, ini keponakan saya, namanya Natusha," ujar Bibi Santi.
"Lumayan cantik juga keponakan mu ini," ujar Bapak-bapak tua tersebut yang tak ada hentinya memandang Natusha.
"Jadi bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Paman Sam pada Bapak-bapak tua itu.
"Aku setuju. Kalau bisa secepatnya karena aku sudah tidak sabar," timpal Bapak-bapak tua itu dengan senyum menyeringai diwajahnya.
"Baguslah, aku akan mengurus pernikahannya, asal janji yang kau berikan harus kau tepati!" tegas Paman Sam membuat Natusha yang mendengarnya mulai sedikit takut.
"Iya, aku akan mengirimnya ke rekening mu setelah acara pernikahannya selesai," ujar Bapak-bapak tua itu.
"Pernikahan..." gumam Natusha.
"Bibi, pernikahan siapa?" tanya Natusha dengan wajah yang terlihat sangat takut. Bibi Santi yang tahu kalau keponakan nya itu sedang takut langsung menariknya masuk kedalam kamar.
Didalam kamar.
"Ada apa ini, Bi?" tanya Natusha.
"Pria itu tadi ingin melamarmu, dan dia setuju untuk menikah denganmu," ujar Bibi Santi dengan entengnya.
"Apa?! Menikah denganku? Bibi aku ini masih sekolah!" sungut Natusha yang langsung menangis ketika mendengar dirinya akan dinikahkan diumurnya yang masih sangat muda.
"Usstt diamlah! Seharusnya kau itu bersyukur karena dia itu sangat kaya. Kau tidak akan hidup susah lagi," ujar Bibi Santi membuat Natusha semakin menangis.
"Kalau dia sangat kaya kenapa tidak Bibi saja yang menikah dengannya!" seru Natusha dengan sesenggukan.
Plak!!
"Jaga mulutmu! Bagaimana pun caranya kau harus menikah dengannya, kalau kau tidak mau menikah dengannya angkat kaki lah dari rumah ini!" pungkas Bibi Santi sehabis menampar keras pipi Natusha.
"Bibi kejam sekali!" teriak Natusha dengan keras. Namun Bibi Santi tidak peduli.
__ADS_1
"Aku memang kejam, dan kau harus menikah dengan pak tua itu!" ujar Bibi Santi dengan terkekeh sinis.
Setelah mengatakan itu, Bibi Santi keluar dari kamar Natusha tak lupa mengunci pintu dari luar agar Natusha tidak bisa lari dari rumah.
Natusha menangis didalam kamarnya. Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya selalu saja bersikap seenaknya padanya.
Ditengah-tengah Natusha menangis. Tiba-tiba ponselnya berdering. Natusha mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Halo?" jawab Natusha tapi seseorang yang menelponnya itu tidak mengatakan apa-apa.
"Halo, ada orang tidak?" tanya Natusha dengan kesal karena lagi-lagi tak ada respon dari si penelpon.
"Kalau kau tidak ingin bicara kenapa menelpon ku! Dasar aneh!" bentak Nastusha dengan kesal.
"Bocah ingusan! Beraninya kau membentak Tuan mu sendiri!" sungut Daniel dengan nada tingginya.
"Tuan Daniel?!" pekik Natusha saat tahu yang menelponnya ternyata adalah Daniel.
"Kau dimana?!" tanya Daniel dengan nada dinginnya.
"Aku dirumah," jawab Natusha dengan suara seraknya.
"Kau menangis?" tanya Daniel mengerutkan keningnya. Entah mengapa Daniel merasa Natusha habis menangis karena mendengar suara Natusha yang serak.
"Tidak!" jawab Natusha dengan singkat.
Sruppp!
"Aku sedang mengelap ingusku, Tuan," jawab Natusha membuat Daniel bergidik ngeri.
"Dasar jorok!" sungut Daniel.
"Kalau aku jorok kenapa Tuan menelpon ku! Bikin tambah pusing aja!" gerutu Natusha yang langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
"Anak ini.... berani sekali dia mematikan telpon ku!" gumam Daniel dengan geram sembari mengepal ponselnya dengan kuat.
Daniel menelpon Natusha karena dirinya merasa sedikit khawatir membiarkan Natusha pulang sendirian ditengah malam. Tapi ternyata yang ia dapatkan hanya sebuah suara ingus yang dilap dengan jorok.
***
Pagi harinya. Natusha yang sedang tertidur didalam kamarnya itu, merasa sangat terganggu dengan suara dering diponselnya.
Tanpa melihat nama kontak yang menelponnya Natusha langsung mengangkatnya begitu saja.
"Gadis Ingusan, dimana kau! Kenapa kau belum datang hah!" bentak Daniel dari sebrang sana.
Natusha yang mengantuk itu tidak peduli lagi pada Daniel yang sedang marah. Karena dirinya masih sangat mengantuk dan ingin sekali kembali tertidur.
"Kau dengar aku apa tidak!" bentak Daniel lagi namun lagi-lagi Natusha tak menjawabnya.
__ADS_1
"Natusha Rafael!" teriak Daniel dengan keras, geram karena Natusha tidak menjawabnya sama sekali. Membuat Natusha yang mendengar suara teriakan Daniel langsung terbangun dari tidurnya.
"Tuan, kenapa teriak-teriak sih! Gendang telingaku hampir pecah mendengar suaramu tau!" gerutu Natusha langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Habisnya aku panggil-panggil kau tidak menyahut! Dasar gadis Nanas, pagi-pagi sudah berani menyulut emosiku!" sungut Daniel.
"Hais, Tuan langsung katakan saja kenapa Tuan menelpon ku?" tanya Natusha memijit pelipisnya yang terasa ssngat pusing karena semalaman terus menangis.
"Kenapa kau belum datang?! Apa kau sudah lupa kau ini sudah menjadi pelayan di apartemen ku?!" tanya Daniel.
"Tentu saja aku tidak lupa! Tuan jangan meragukan ku, aku ini memiliki daya ingat yang kuat loh!" ujar Natusha dengan kepercayaan dirinya yang luar biasa.
"Yang sedang aku tanyakan itu tentang mengapa kau belum datang, bukan tentang masalah daya ingat mu yang bodoh itu!" sungut Daniel dengan kesal karena Natusha yang benar-benar membuatnya harus menyetok banyak kesabaran didalam dirinya.
"Ini kan hari Minggu, Tuan!" timpal Natusha.
"Terus kenapa kalau hari Minggu?!" tanya Daniel
"Kalau hari Minggu kan hari weekend... jadi hari ini aku libur bekerja," ujar Natusha membuat Daniel geram.
"Enak saja kau berani mengatur hari libur mu sendiri! Disini siapa yang jadi bos nya?!" tanya Daniel.
"Tuan," jawabnya dengan nada pelan.
"Dan disini siapa yang berhak mengatur hari libur mu?" tanya Daniel lagi.
"Tuan," jawab Natusha lagi dengan cemberut.
"Cepat kau datang! Aku tunggu sampai 15 menit, kalau kau tidak datang juga, gaji mu akan aku potong!" ujar Daniel dengan tegas.
Natusha yang mendengar perkataan Daniel langsung melototkan matanya dengan sempurna. Mana mungkin dalam 15 menit Natusha sudah tiba disana? Terlebih lagi jarak antara rumah dan apartemen Daniel terbilang cukup jauh.
"Tapi Tuan, aku sedang dikurung Bibi ku didalam ruangan ini, aku tidak bisa kemana-mana lagi sekarang. Bagaimana caranya aku kesana?" tanya Natusha yang menggaruk tengkuk dengan bingung.
"Kenapa kau dikurung?" tanya Daniel dengan mengerutkan keningnya.
"A--aku...." Natusha tidak bisa menjawab pertanyaan Daniel membuat Daniel menjadi kesal.
"Kau tidak usah menjawabnya! Aku tidak punya waktu untuk bermain tebak-tebakan denganmu." sungut Daniel.
"Kalau kau sedang dikurung kau tinggal kabur lewat jendela saja!" ujar Daniel membuat Natusha langsung menatap kearah jendela yang ada dikamarnya.
"Ohh iya yah... kenapa dari semalam aku tidak berfikiran kabur lewat jendela saja," gumam Natusha dalam hatinya.
"Kau dengar aku apa tidak?!" bentak Daniel membuat Natusha terkejut.
"Iya, Tuan aku dengar!" ucap Natusha.
"Cepat kau kesini. Lima belas menit dari sekarang kau sudah harus berada di apartemen ku!" ujar Daniel yang langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
__ADS_1
"Dasar Mr. Arogan!" gerutu Natusha dalam hatinya. Yang kini menyiapkan semua barang-barangnya untuk kabur dari rumahnya.
Bersambung.