
Di dalam kamar Daniel.
"Hiks... sudah! Aku sangat lelah!" pintah Natusha dengan menangis.
"Diamlah!" perintah Daniel yang tanpa memperdulikan Natusha yang sedang menangis.
"Tuan jahat, selalu saja seenaknya padaku!" teriak Natusha semakin menangis.
"Aku bilang diam gadis nanas! Berhenti menangis dan pijat dengan benar!" perintah Daniel dengan tegas.
"Tapi aku sudah sangat lelah Tuan. Tanganku ini rasanya ingin mati rasa!" sungut Natusha sambil terus memijat punggung Daniel. Sementara Daniel terbaring tengkurap diatas tempat tidur.
Bagaimana tidak lelah? Sudah hampir 2 jam Natusha memijit punggung Daniel tanpa henti membuat tangannya terasa sangat keram dan mati rasa.
"Ini hukuman karena kau sudah berani kabur dariku gadis nanas! Berhenti protes dan lakukan tugasmu dengan benar!" ujar Daniel.
Mau tak mau Natusha harus memijit punggung Daniel lagi. Tapi kali ini dengan cara yang sangat kasar karena Natusha kesal dengan sikap Daniel yang begitu seenaknya kepadanya.
"Akhh! Gadis nanas kau ini ingin membunuhku yah!" pekik Daniel dengan merintih kesakitan ketika merasa punggungnya di pukul dengan sangat keras.
"Ya ampun Tuan sakit yah?" tanya Natusha dengan cemas. Karena jujur saja Natusha tidak sadar kalau dia memukul Daniel dengan sangat keras.
"Kau sengaja melakukan nya?" tanya Daniel menatap Natsuha dengan tajam.
"Kok Tuan tau?" tanya Natusha dengan polos membuat Daniel geram dengan sikap Natusha itu.
"Natusha!" bentak Daniel dengan emosi.
"Maaf Tuan," Natusha menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya.
"Sepertinya hukuman mu kali ini harus ditambah!" seru Daniel dengan tersenyum penuh arti diwajahnya membuat Natusha kebingungan.
"Jangan ditarik!" pintah Natusha dengan memegangi telinganya lagi karena takut Daniel akan menarik telinganya.
"Aku tidak akan menarik telingamu!" ujar Daniel yang kini membalikan tubuhnya menjadi terlentang diatas tempat tidur.
Daniel menatap Natusha yang sedang duduk dipinggir kasur, dengan senyum menyeringai diwajahnya membuat Natusha yang melihatnya sedikit ketakutan.
"Eh... lepaskan!" teriak Natusha ketika Daniel langsung menarik tangannya membuat Natusha langsung terjatuh diatas tubuh Daniel.
"Diamlah gadis nanas!" Daniel memeluk pinggang Natusha dengan erat ketika melihat Natusha yang hendak bangun dari atas tubuhnya.
"Lepasin Tuan!" pintah Natusha berusaha memberontak namun semakin dirinya memberontak itu justru membuat Daniel semakin mempererat pelukannya.
Tangan Daniel tiba-tiba menyentuh tengkuk leher Natusha membuat Natusha kegelian merasa tangan Daniel yang sangat hangat menyentuh lehernya.
C-U-P....
Daniel mencuri ciu**man dibibir Natusha membuat Natusha langsung melototkan matanya dengan sempurna.
"Tu--mph...." Natusha berusaha memberontak namun sekuat apa dirinya memberontak dirinya tak bisa lepas dari pelukan Daniel.
Daniel mulai melu**mat bi**bir Natusha dengan semangat, membuat Natusha mencengkram kuat punggung Daniel karena ini kali pertamanya Natusha melakukan ini bersama seorang pria.
Perlahan-lahan Daniel memasukan li**dahnya kedalam mulut Natusha membuat Natusha memejamkan matanya dengan kuat.
Cpkkk... cpkkk... cpk....
Suara deca**pan ciu**man terdengar jelas didalam kamar yang sunyi itu. Daniel dengan penuh semangat dan gai**rah yang tinggi melu**mat habis bi**bir Natusha.
Natusha yang berusaha untuk lepas dari pelukan Daniel kini mulai terbawa suasana. Natusha kini membalas ciu**man yang Daniel berikan padanya.
Beberapa menit kemudian.
Daniel melepaskan ciu**man lalu menempelkan dahinya ke dahi Natusha. "Kau suka?" tanya Daniel menatap Natusha dengan tatapan berkabut.
"Dasar Mr. Arogan yang m3svm!" teriak Natusha yang langsung menampar pipi Daniel dengan keras membuat Daniel memegang pipinya yang terasa sangat sakit dan panas.
Setelah berani menampar tuannya sendiri, Natusha langsung berlari keluar dari kamar Daniel sementara Daniel langsung terdiam melihat tingkah Natusha.
"Ada apa dengannya? Bukankah semua wanita sangat suka berci**uman? Lalu kenapa dia menampar ku?" gumam Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
Karena kejadian semalam, Natusha tidak mau lagi berbicara pada Daniel, di meja makan hanya ada kesunyian yang menemani mereka sarapan. Sementara Daniel yang di diamkan itu hanya bersikap biasa saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Kau ingin kemana?" tanya Daniel melihat Natusha beranjak dari tempat duduknya sembari memakai tas sekolah nya.
"Aku sudah kenyang!" jawab Natusha yang hendak melangkah pergi namun Daniel menahan tangan Natusha.
"Ikutlah denganku, kita berangkat bersama," ujar Daniel menatap wajah Natusha yang tampaknya masih sangat kesal soal kejadian semalam. Yang justru membuat Natusha terlihat semakin gemas dimata Daniel.
"Tidak mau! Aku berangkat sendiri aja!" seru Natusha menepis tangan Daniel.
"Gadis nanas kau masih marah karena kejadian semalam?" tanya Daniel dengan mengulum senyumnya melihat Natusha mencurutkan bibirnya kedepan dengan cemberut.
"Tuan jahat!" sungut Natusha dengan memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Kau yang jahat. Semalaman sudah membuatku khawatir apa itu namanya tidak jahat?" ujar Daniel membuat Natusha langsung menoleh kearah Daniel.
"Jadi Tuan beneran khawatir?" tanya Natusha menatap intens pada wajah Daniel.
"Tentu saja iya! Kau itu sekarang tinggal di apartemen ku! Kalau terjadi sesuatu padamu, semua orang ataupun polisi akan menyalahkan ku karena aku tidak menjagamu baik-baik!" seloroh Daniel membuat Natusha langsung kecewa.
"Ohh begitu yah..." Natusha langsung menundukkan kepalanya.
"Tuan aku pergi sendiri aja, lagi pula arah kantormu dan arah sekolah ku berbeda arah," ujar Natusha langsung melepaskan tangan Daniel yang menggenggam tangannya. Natusha langsung keluar dari apartemen Daniel.
"Kenapa dengan dirinya?" gumam Daniel melihat raut wajah Natusha yang tampaknya sangat murung.
Sementara Natusha yang berada didalam lift menggerutu sendiri dalam sana karena kesal dengan pernyataan Daniel tadi.
"Aku pikir Tuan Daniel mengkhawatirkan ku karena dia suka padaku... tapi ternyata aku salah," gumam Natusha dengan mencurutkan bibirnya kedepan.
"Ihh sudahlah! Ngapain juga mikirin Mr. Arogan gak tau diri itu!" Natusha langsung memukul kepalanya dengan pelan berusaha menepis jauh-jauh pikirannya tentang Tuan Daniel.
Tin!
"Aduh... sakit!" pekik Natusha mengelus hidungnya yang langsung memerah karena menabrak dada bidang seseorang.
"Hei? Are you okay?" tanya David menatap gadis didepannya itu.
Natusha mendongakkan kepalanya dan melihat si kakak tampan yang selama ini ia rindukan.
"Eh... ternyata kau?" tanya David menatap Natusha dari atas sampai bawah yang sedang memakai pakaian SMA.
"I--iya," jawab Natusha dengan canggung karena salting melihat tatapan David.
"Maaf yah, aku tidak sengaja menabrakmu, apa ada yang terluka?" tanya David dengan nada cemas membuat Natusha semakin salting karena mendapat perhatian dari David.
"A--aku baik-baik saja," jawab Nastusha.
"Kau ingin sekolah yah?" tanya David dibalas anggukan oleh Natusha.
"Kenapa kamu bisa tau?" tanya Natusha dengan polos membuat David langsung menahan tawanya mati-matian.
Tentu David tahu karena Natusha sedang memakai pakaian sekolahnya.
"Tentu saja aku tahu karena aku ini seorang cenayang," ucap David dengan berbohong.
"Cenayang?" tanya Natusha tidak mengerti.
"Cenayang kau tidak tahu?" tanya David mengerutkan keningnya dibalas gelengan kepala oleh Natusha membuat David langsung tertawa.
"Hahaha kau ini benar-benar mirip dengan Mommy ku!" sungut David mengacak-acak rambut Natusha dengan gemas.
"Ayo biar aku antar ke sekolahmu!" seru David yang langsung menarik tangan Natusha keluar dari gedung apartemen.
"Eh aku naik angkot saja," ujar Natusha sedikit menolak permintaan David untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Angkot? Jadi selama ini kau naik angkot? Kenapa Daniel tidak mengantar mu, dia itu kan punya banyak mobil yang bagus!" ujar David.
__ADS_1
"Tuan Daniel mana pernah peduli padaku," lirih Natusha yang kembali mengingat Tuan Daniel. Entah mengapa Natusha benar-benar kecewa karena Tuan Daniel tidak pernah memperdulikannya sama sekali.
"Hahaha, dia memang seperti itu, kau tidak usah memikirkannya," ujar David dengan tertawa canggung melihat wajah Natusha yang tiba-tiba murung. "Anak ini sepertinya menyukai Daniel," guman David dalam hatinya.
"Ayo masuk!" perintah David membuka pintu mobilnya untuk Nastusha. Natusha pun segera masuk kedalam mobil dengan disusul oleh David yang duduk di kursi pengemudi.
....
Di perjalanan.
"Ngomong-ngomong kau sudah umur berapa?" tanya David yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
"17 Tahun," jawab Natusha membuat David terperanjat kaget mendengarnya.
"17 Tahun?! Astaga ternyata kau itu masih mudah sekali!" sungut David.
"Kalau umurmu?" tanya Natusha menatap David dengan tatapan penasaran.
"Umurku baru 27 tahun. Kalau Daniel umurnya sudah 30 tahun!" jawab David membuat Natusha langsung cemberut.
"Aku tidak menanyakan tentang Tuan Daniel Kak!" sungut Natusha dengan melipat kedua tangannya didada membuat David terkekeh gemas melihatnya.
"Tunggu, tadi kau menyebutku apa?" tanya David.
"Kak?"
"Kenapa kau memanggilku Kak?" tanya David mengerutkan keningnya.
"Karena Kakak lebih tua dariku," ujar Natusha membuat David lagi-lagi terkekeh dibuatnya.
"Namaku David, panggil aku David," ujar David sesekali mengacak-acak rambut Natusha.
"Oke Kak David!"
"Hahaha menggemaskan!"
.....
Sesampainya disekolah Natusha.
"Terima kasi sudah mengantarku Kak," ujar Natusha yang langsung turun dari mobil David diikuti oleh David yang juga ikut turun dari mobilnya.
"Tunggu sebentar!" seru David membuat Natusha langsung menoleh.
"Bisakah kita berfoto sebentar? Aku sangat ingin berfoto denganmu," ujar David membuat Natusha kebingungan karena ini pertama kalinya seseorang mengajaknya berfoto.
"Kemarilah!" David yang sudah tidak sabar menarik tangan Natusha membuat Natusha jatuh kedalam pelukan David.
Cup!
Ceklek!
Natusha langsung terkejut dengan David yang langsung mencium pipinya. "Terimakasih! Fotonya sangat bagus!" ujar David memperlihatkan foto nya yang sedang mencium pipi Natusha.
"A--aku masuk dulu, sekali lagi makasih kak!" Natusha langsung berlari kencang kearah gerbang sekolah nya sementara David langsung tertawa puas melihat wajah Natusha yang memerah karena malu.
"Hehehe mari kita kirimkan ini ke Mr. Arogan itu!" David tersenyum licik lalu mengirimkan foto tadi ke kontak Daniel.
.....
Di perusahaan Arbeto.Ysb.
Daniel yang sedang bekerja langsung membuka ponselnya ketika mendengar suara notif yang masuk.
Deg....
Daniel langsung melototkan matanya dengan sempurna melihat foto David yang mencium pipi Natusha, terlebih lagi caption yang semakin membuatnya emosi.
Caption: Hai aku sedang bersama Natusha.
"MATI KAU DAVID MATTEO!" teriak Daniel dengan bergemuruh membuat Perusahaan nya sedikit terguncang akibat teriakan Daniel itu.
__ADS_1
Bersambung.