Gadis Yang Ternodai

Gadis Yang Ternodai
Episode 01


__ADS_3

Dina merupakan anak perempuan Pak Wito dan Bu Ani yang terkenal sederhana. Selain parasnya yang cantik, gadis mungil ini juga dikenal baik hati serta suka membantu sesamanya, jadi tak heran jika Dina juga menjadi rebutan para bujang di desanya. Meskipun bukan berasal dari keluarga kaya, orang tua Dina sendiri memang mengajarkan anaknya untuk selalu berbaik hati kepada siapa pun agar memberikan energi positif pada orang lain.


Namun, suatu hari kebaikan gadis mungil ini justru dijadikan sebuah kesempatan untuk melakukan hal yang menjijikan, dan parahnya lagi, pelakunya adalah salah seorang saudaranya sendiri.


"Tok, tok ,tok.. Assalamu'alaikum.." (seorang pria mengetuk rumah Dina dengan mengucapkan salam) dan tak lain itu adalah pamannya dari luar kota yang sudah jarang datang ke rumahnya, bernama Amar.


"Wa'alaikum salam" (jawab bu Ani sembari membuka pintu rumahnya). Ia pun menyambutnya dan mempersilahkan masuk.


"Bagaimana kabarmu? Sudah lama tak pernah main kesini" Tanya bu Ani.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik mbak. Jawabnya. "Iya, mau kesini pasti sibuk sama kerjaan di rumah" tambahnya.


Mendengar ada tamu di depan, Dina pun segera beranjak dari kegiatan mencucinya serta membuatkan teh dan memanggil Bapaknya yang sedang sibuk membersihkan kebun di belakang rumahnya.


"Pak, di depan ada tamu.."


"Ooo ternyata kamu mar, bagaimana kabarmu sama keluarga disana?" tanya bapak. "Alhamdulillah sehat wal afiat semuanya" jawabnya.


Saat Dina menyuguhkan teh dan camilan, Amar pun ternganga dengan kecantikan keponakannya tersebut dan langsung nyeletuk, "Ini Dina yang waktu aku kesini masih kecil dulu ya?" tanyanya. Gadis mungil itu pun hanya tersenyum, karena memang saat pamannya kesini Ia masih umur 10 tahun, dan sekarang sudah berumur 19 tahun. "Dulu pas kecil kesini masih ingusan, sekarang sudah pintar dandan jadi tambah cantik" tambah Amar. (Dan semuanya pun berbincang-bincang dengan santai sambil mengenang cerita lama).

__ADS_1


Setelah lama ngobrol bersama keluarga Pak Wito, Amar pun meminta diantar ke rumah saudaranya yang tak lain adalah adik dari ayahnya bernama Pak Hadi yang rumahnya berada tidak jauh dari rumah Dina. Pak Wito pun meminta anaknya untuk mengantar pamannya, dan sesampainya disana, Dina pun langsung pamit karena lupa belum menjemur baju yang baru dicucinya tadi. "Paman, saya pulang dulu ya, tadi lupa punya cucian yang belum dijemur". Amar pun menjawab "Oke".


Hari pun mulai petang, dan Amar pun meminta izin Pak Wito untuk menginap di rumahnya, karena di rumah Pak Hadi sudah tidak ada tempat lagi untuknya. Ia pun diizinkan untuk menginap di rumahnya dan tidur di kamar tamu.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Amar melihat Dina yang sedang sibuk memasak di dapur. Ia pun tak henti-hentinya memandangi gadis kecil tersebut karena terkagum oleh parasnya yang cantik dan kalem tersebut, sampai-sampai tidak sadar Pak Wito memanggil untuk mengajaknya sarapan. Ia pun terkejut dan langsung mengiyakan ajakan sarapan bersama keluarga.


Setelah beberapa minggu berada di rumah Pak Wito, ia pun merasa belum ingin pulang ke kampung halamannya karena sudah merasa nyaman satu rumah dengan gadis mungil cantik. Saking senangnya melihat keponakannya, ia pun selalu memanjakan Dina seperti melebihi saudara, Amar mengajaknya jalan-jalan, membelikan baju, aksesoris, dan bahkan memberikan HP baru untuknya, agar nanti tetap bisa berkomunikasi.


"Kan sudah ada HP bapak, jadi paman bisa menghubungi keluarga sini melalui bapak". Ujar Dina. "Hp bapak kan belum Android, ini aku belikan Android biar keluarga di Bekasi bisa lihat keluarga sini dengan jelas". Jawabnya. Amar pun tetap memaksa agar Dina tidak menolak.

__ADS_1


__ADS_2