
Meskipun hari-harinya sudah terhibur dengan pekerjaan baru, namun itu ternyata bukan akhir dari urusannya dengan pamannya. Bagaimana tidak, karena Dina kembali dihubungi pamannya yang entah mendapatkan nomor teleponnya dari siapa. "Hai Dina, gimana kabarnya? Masih ingat kenangan kita kan?" Sebuah pesan WhatsApp dari Amar yang membuat Dina terkejut. (Bagaimana paman bisa hubungi aku lagi, padahal aku sudah mencoba menghindar dan merahasiakan kontak ku?) batinnya. Namun, Dina hanya membuka pesan tersebut dan mengabaikannya. Niatnya mau memblokir nomor pamannya, namun belum sampai membuka pengaturan, ia mendapatkan pesan lagi. "Jangan coba blokir nomorku lagi, aku hanya ingin tahu kabar darimu" kata Amar. Melihat pesan tersebut, ia merasa sedikit lega meskipun ada rasa curiga, permainan apa lagi yang dimainkan pamannya tersebut. Akhirnya Dina membalas pesannya, "Iya paman, kabarnya baik" balasnya singkat.
__ADS_1
Setelah balasan dikirim, tiba-tiba hp Dina berbunyi lagi dan ternyata itu adalah panggilan dari Amar. Ia pun bingung, sebaiknya menerima panggilan itu atau tidak? Karena takut, ia memilih mengabaikannya. Namun, Amar tak henti² menelpon dan membuat Dia risih, maka dengan terpaksa ia menerima panggilan dari pamannya. Dan benar apa yang dikhawatirkan Dina, Amar lagi-lagi membahas masa lalunya yang kelam itu dan sesekali pamannya mengajaknya untuk menikah, ya pasti Dina menolak karena itu pamannya sendiri. "Ayolah menikah denganku, aku sudah terlanjur cinta sama kamu" (bujuk Amar), "gak mau!" (jawab Dina dan langsung mengakhiri panggilan tersebut). Setelah beberapa bulan hidup tenang, kini Dina kembali dihantui rasa malu karena pamannya, hari-hari pun ia jalani dengan banyaknya tekanan. Karena merasa terlalu capek atas permainan pamannya, Dina memutuskan untuk mengganti semua sosial medianya dan memblokir punya pamannya serta mengganti nomor teleponnya agar hidupnya mendapatkan ketenangan, meskipun Amar telah mengirimkan pesan, "Aku beri pilihan, jika kamu mau menikah denganku, maka kita masih bisa menjaga kedekatan keluarga kita, namun jika kamu menolak untuk menikah denganku, mulai saat ini kita bukan saudara". Mendapatkan pesan tersebut, Dina yang lugu hanya terdiam dan menangis, "Maafkan saya paman" saking lugunya ia membalas pesan pamannya dengan permintaan maaf yang seharusnya Amar lah yang harus meminta maaf.
__ADS_1
Keesokan harinya, selain mengganti sosial media dan nomor telepon yang baru, ia juga berusaha agar pikirannya tetap tenang serta mencari hiburan dengan pergi ke rumah temannya. Ya, temannya bernama Revi, ia adalah teman akrabnya sejak kecil hingga saat ini. Sampai di depan rumah Revi, ternyata ada ibunya yang membersihkan halaman, "Assalamualaikum.." sapa Dina, "Wa'alaikum salam, eh Dina, pasti mau cari Revi ya? Itu dia ada di kamar, langsung masuk aja" jawab ibu Revi, Bu Gina namanya, "Iya bu," jawab Dina.
__ADS_1
"Kreeek..(suara pintu yang terbuka), Dina pun langsung masuk dan mereka pun berbincang-bincang, saling curhat, namun Dina tak menceritakan kisah yang membuatnya sedih tak berdaya, ia memilih menceritakan pengalamannya di tempat kerjanya. Setelah cerita Dina selesai, Revi sontak menceritakan kisah asmaranya yang katanya tengah dekat dengan cowok ganteng, mapan dan pokoknya mengagumkan baginya. Dina pun menjadi pendengar yang baik, dan sesekali ia bercanda untuk minta dikenalin dengan cowok yang baik, Revi pun dengan santai menjawabi, "oke tenang nanti aku kenalin, aku punya banyak kenalan" jawabnya dengan bangga. Candaan Dina ternyata menjadi kenyataan, dimana Revi memberikan kontak temannya itu ke salah satu kenalannya. Siapakah dia? Kita cari tahu di episode selanjutnya.
__ADS_1