
Setelah Amar memberikan HP untuk Dina, ia pun menyimpan kontaknya di HP tersebut dan sebaliknya. Dan tiba waktunya Amar untuk pulang karena harus mengurus pekerjaannya di Bekasi. Sesampainya di rumahnya, Ia pun memberi kabar ke Dina dan mereka mengobrol cukup lama. Agar Dina tidak curiga, Amar juga melakukan video call seperti tujuannya membelikan ponsel sebelumnya, sehingga semua keluarga bisa berkomunikasi sekaligus melihat dengan jelas masing-masing wajah mereka. Setelah panggilan video tersebut berakhir, sebenarnya Amar masih ingin terus melihat wajah cantik Dina, namun ia masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
__ADS_1
Beberapa minggu di rumah, Amar pun merasa kangen dengan gadis mungilnya. Sehingga ia memutuskan untuk berkunjung kembali ke rumah Dina. Tanpa memberitahukan keluarga Pak Wito akan kedatangannya, Amar berniat memberikan kejutan dengan membawakannya beberapa oleh² dan beberapa bungkusan istimewa. Namun, kedatangannya kali ini mungkin kurang tepat, karena dalam keluarga Pak Wito sedang mengalami percekcokan. Selain dengan istrinya, ternyata percekcokan tersebut juga melibatkan anak gadisnya. Dimana gadis kesayangannya ini memiliki keinginan untuk berangkat ke pesantren dan meneruskan ke jenjang universitas tetapi tidak diizinkan oleh Pak Wito, sehingga beban pikirannya menumpuk bagaikan gunung berapi ingin meletus.
__ADS_1
Setibanya Amar di rumah Dina, ia pun merasa aneh karena melihat Dina yang murung di ruang tamu dan tidak seperti biasanya yang selalu ceria. Namun ia berusaha untuk tetap bersikap biasa "Assalamu'alaikum.." sapanya, "Wa'alaikum salam". Jawab Dina dan sahutan dari bapaknya. Bu Ani pun juga menyapanya dengan ekspresi seperti biasa untuk menutupi masalahnya. Karena merasa penasaran, Amar pun langsung nyeletuk dan bertanya. "Dina kenapa mbak? Kok murung gitu?" tanyanya. "Dia pengen kuliah sama mondok tapi gak diizinin bapaknya" jawab Bu Ani sembari memandang anaknya. Karena tak bisa menahan tangisnya, Dina pun beranjak pergi ke kamar dan meluapkan tangisannya. Sementara Amar berbincang-bincang dengan Pak Wito dan Bu Ani di ruang tamu sembari menunggu Dina agar lebih tenang.
__ADS_1
Saat di perjalanan, mereka pun hanya diam, tak ada satu kata yang diucapkan. Dan sesampainya di sebuah wisata seperti bendungan, Amar pun memulai pembicaraannya. "Wah, indah sekali ya pemandangannya disini", Dina hanya diam. Namun, karena Amar banyak bicara dan bertanya, akhirnya gadis mungilnya itu mau menceritakan keinginannya tersebut.
__ADS_1
Tak tega melihat gadis yang dikaguminya bersedih karena tidak mendapatkan izin, ia pun berencana mengajak Dina ke Bekasi untuk melihat-melihat tempat kuliah disana dan siapa tahu ia minat sekalian kerja di sana. Karena merasa tertekan dan bingung harus ngapain, akhirnya Dina pun mau ikut pamannya untuk berangkat ke sana. Namun, ia harus izin terlebih dahulu kepada orangtuanya.
__ADS_1