
Ucapan Amar membuat Dina merasa ketakutan, dia tak ingin kejadian itu terulang lagi. Ia menangis dan memohon kepada pamannya untuk tidak melakukan itu lagi. "Paman, ku mohon jangan lakukan itu. Aku keponakanmu". "Aku tidak peduli, aku ingin menikah denganmu, kalaupun tidan mendapatkan restu dari orangtua kita, aku akan mengajak kamu kawin lari" Dina menggeleng dengan tangisan yang tersedu-sedu. Melihat gadis mungil itu menangis, bukannya melepaskan pelukannya, ia justru mendekatkan wajahnya dan mulai ******* bibirnya, Dina hanya bisa pasrah karena takut ia akan dipaksa lagi untuk tidur bersamanya. Setelah Amar melepaskannya, ia langsung berlari ke kamarnya dan menangis. "Mengapa paman jadi seperti ini. Padahal dulu sangat baik hati dan melindungi aku" ucapnya. Pikirannya menjadi kacau, karena kejadian itu membuatnya stres.
__ADS_1
Keesokan harinya, saat semua berkumpul di teras, Pak Wito pun menggoda Amar, "Kamu itu coba cari cewek, terus nikah. Biar kerjanya lebih giat dan semangat", "haha, sudah ada tetapi belum mau diajak nikah." jawab Amar dengan tersenyum dan melirik ke arah Dina. "Ah pasti bohong, kalau sudah ada tentunya sudah diajak kesini" timpal Pak Wito. "ya sudah kalau nggak percaya, coba carikan orang sini deh mas. Atau mungkin Dina juga punya teman yang bisa dikenalin" candanya. Dina menatapnya terkejut, namun untuk menutupi rahasianya, ia tetap berperilaku biasa di depan orang tuanya. "Oh ada paman, dia temen Dina, orangnya cantik dan pastinya idaman banget" jawabnya. Akhirnya Amar berpura-pura meminta nomor Hp cewek tersebut, Dina pun bingung harus kasih nomor siapa, dan ia baru teringat ada temannya yang juga mencari teman curhat, tetapi ia juga khawatir jika terjadi apa-apa pada temannya, sehingga ia ragu memberikan nomor kepada pamannya. Namun, Amar dengan cepat langsung mengambil ponsel Dina dan mencari sendiri kontak temannya. "Eh bentar paman, sini Hpnya aku cariin" tanpa memperdulikan Dina, ia sudah mendapatkan satu kontak.
__ADS_1
Dina pun kesal karena ia asal mengambil saja tanpa izin. Setelah itu, Amar langsung mengirim pesan dan mengaku bahwa yang memberikan nomor itu adalah keponakannya, Dina merasa sungkan kepada temannya, tetapi beruntung temannya tidak marah.
__ADS_1
Ketika tiba di rumah Ria, Amar tercengang melihat penampilannya yang menurutnya lebih menarik. Mereka pun dipersilahkan untuk masuk, dan mulai berbincang-bincang, namun Amar hanya terdiam memandang Ria. Saat dirasa sudah terlalu lama di sana, Amar dan Dina berpamitan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Amar bertanya, "Apakah aku bisa memilikinya? Bagaimana menurutmu?" mendengar pertanyaan tersebut, Dina sumringah dan menjawab, "Bisa saja paman, dia cantik, baik dan sepertinya juga cocok dengan paman" jawabnya bersemangat. Melihat Dina yang ingin menjodohkannya dengan temannya, Amar pun kembali mengatakan, "Jangan bilang jawaban itu hanya bertujuan untuk menjauhkan aku darimu" ujarnya sinis. "Ah terserah paman" jawab Dina dengan bosan dan meninggalkannya sendiri di ruang tamu.
__ADS_1
Beberapa hari setelah mengenal Ria, ia tak lagi menggoda dan menyentuh Dina. Gadis kecil ini tentu merasa lega karena tidak ada lagi yang mengganggunya di malam hari.
__ADS_1