Gadis Yang Ternodai

Gadis Yang Ternodai
Episode 07


__ADS_3

Kini tiba saatnya Dina untuk pulang ke tempat asalnya, ia pun merasa lega bisa keluar dari kehidupan pamannya yang sangat menyiksanya. Namun berbanding balik dengan Amar, dimana ia merasa dirinya gagal memiliki Dina karena malam itu Dina berhasil meloloskan diri darinya. Karena kejadian tersebut, keduanya saling membuang muka dan tak saling bicara selama di perjalanan. Setibanya mereka di rumah Pak Wito, "Assalamu'alaikum.." ucap mereka. "Wa'alaikum salam.." jawab Pak Wito dan Bu Ani dengan wajah bahagia karena anaknya akhirnya pulang juga. Dina pun langsung memeluk ibunya, sebenarnya ia hendak menceritakan semuanya, namun ia tak akan sanggup jika melihat ibunya harus sedih dan kecewa, sehingga ia mengurungkan niatnya. "Gimana, betah di sana? Jadi udah dapat kuliah dan tempat kerja belum?" tanya ibunya. "Belum bu, sepertinya aku akan cari kerja di dekat sini aja bu. Aku tak bisa jauh dengan bapak ibu" ujarnya.


"Bagaimana kabar keluarga di sana mar?" tanya Pak Wito untuk memulai pembicaraan. "Alhamdulillah baik pak, tadi ibu juga nitip salam kepada kalian. Katanya juga, kapan kalian main ke sana. hehe" jawabnya. "Iya nanti kalo ada rezeki dan pas kamu nikah bakal ke sana" ledek Pak Wito. Amar hanya tersenyum. "Ya sudah kalian istirahat dulu gih, pasti capek setelah perjalanan jauh" tutur Bu Ani. Mereka berdua segera masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Di kamar, Dina termenung dan berpikir kapan pamannya akan pulang, karena sudah merasa tidak aman jika berada di dekatnya. Karena selalu teringat dengan kejadian-kejadian di rumah pamannya, ia pasti menangis hingga akhirnya ia tertidur.


Saat hari menjelang pagi, Dina belum juga bangun dari tidurnya karena mungkin lelah dan terlalu banyak pikiran, sehingga Bu Ani membangunkannya dan mengajaknya sarapan bersama. Setelah bangun, ia langsung pergi mandi dan menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Bapak, Ibu sekaligus Amar yang menunggunya. Selesai sarapan, Dina dan Ibu membeersihkan meja makan dan mencuci piring. Sementara Pak Wito bercakap-cakap dengan Amar di ruang keluarga, ditengah percakapan mereka, Amar kembali meminta izin untuk menginap di rumahnya mungkin selama satu minggu, Pak Wito mengizinkan, karena ia berpikir akan capek jika harus pulang hari ini.

__ADS_1


Hari menjelang sore, Amar kembali ke rumah Pak Wito dan langsung masuk ke kamar tamu. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan memejamkan matanya sembari berpikir sebuah rencana lagi untuk mendekati keponakannya. Sepertinya ia belum merasa puas dengan kejadian yang sudah pernah ia lakukan terhadap keponakannya saat itu. "Aku harus bisa memilikinya" gumamnya. Saat malam tiba, ia pun melancarkan rencananya, dimana ia berpura-pura tidur di ruang tamu tanpa membawa selimut, namun Dina membiarkannya. Akan tetapi, tengah malam Amar tiba-tiba mengirim pesan kepada Dina dan meminta tolong untuk mengambilkan selimut di kamarnya, lalu minta di antar ke ruang tamu tempatnya tidur, "Tolong ambilkan selimut di kamar dan antar ke ruang tamu, paman kedinginan". Karena saat itu Dina belum tertidur, sehingga tidak sengaja membuka chat dari pamannya, tetapi ia membiarkannya dan tidak membalasnya. Amar pun kembali mengirim pesan, "Tolong ambilkan atau aku akan cerita semuanya ke ibumu" lagi-lagi ancaman dilontarkan pamannya.


Akhirnya Dina dengan kesal mengambilkan selimut untuknya, dan segera pergi darinya. Namun, Amar dengan cepat menarik tangannya dan menjatuhkannya di atas tubuhnya. Dina pun berontak dan berusaha melepaskannya, namun kali ini ia tidak bisa karena Amar memegang tangannya sangat kuat. "Kamu harus jadi milikku". ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2