Gadis Yang Ternodai

Gadis Yang Ternodai
Episode 03


__ADS_3

Sepulangnya dari jalan-jalan bersama pamannya, Dina pun langsung menghampiri bapaknya untuk meminta izin ikut pergi ke Bekasi dan mencari kuliah serta pekerjaan di sana. Namun sayangnya, lagi lagi Pak Wito tidak memberikan izin untuk anaknya yang keras kepala tersebut. Karena lelah meminta izin, Dina pun hanya pasrah dan nangis, bingung mau berbuat apa lagi, akhirnya sang paman yang juga menginginkan keponakannya ikut dengannya, tanpa berpikir panjang langsung memintakan izin kepada orangtuanya.


Dengan berbagai macam jurus yang dikeluarkannya, kini Dina diizinkan untuk ikut bersama pamannya selama kurang lebih 1 bulan. Meskipun sudah mendapatkan izin, Dina sendiri seakan-akan merasa bingung harus merasa bahagia atau sedih karena juga takut jika terjadi apa-apa di sana tidak bisa mengeluh kepada orangtuanya. Hingga waktunya tiba, ia harus bergegas menyiapkan pakaian dan kebutuhannya untuk dibawa ke rumah pamannya. Dina dan Amar pergi ke Bekasi dengan menyewa mobil, Bu Ani pun tak bisa berkata apa-apa lagi karena dan hanya khawatir dengan putri kecilnya. Namun, Amar lagi-lagi meyakinkan ke keluarga Dina untuk tidak khawatir dan anaknya akan baik-baik saja bersamanya beserta keluarganya. "Tenang mbak, Dina akan baik-baik saja di sana". ujarnya. "Iya, titip Dina ya" jawab Bu Ani.

__ADS_1


Perjalanan menuju rumah Amar memang cukup jauh, sehingga membuat Dina merasa lelah. Dan sesampainya di Bekasi tepat pada malam hari dimana semua orang di rumah Amar sudah tertidur. "Tok tok tok.. Assalamualaikum", "Wa'alaikum salam" sahut ibu Amar yang ternyata masih menunggu kedatangan anaknya. Di dalam rumah ini sendiri hanya ada ibu dan kedua adik Amar, sementara ayah Amar sedang berada jauh di perantauan dan jarang pulang. Ibu Amar bernama Bu Indah, adik lelaki bernama Andi dan adik perempuannya bernama Sulis. "Loh, ini siapa Mar?" tanya ibu yang memang sudah pangling dengan wajah Dina. "Anak Pak Wito, bu.." jawabnya. Dina pun mencium tangan bu Indah dan mereka dipersilahkan masuk untuk segera beristirahat. Karena kamar di rumah sudah penuh, akhirnya Dina harus tidur di kamar pamannya, dan Amar pun pindah tidur di sofa ruang tamunya.


"Udah cepat istirahat, pasti kamu capek", Dina hanya mengangguk.

__ADS_1


Selain perasaan Dina yang cukup lega, Amar sendiri juga merasa lebih nyaman karena setiap hari bisa memandang wajah gadis cantik yang membuatnya terpesona. Perasaan nyaman inilah yang membuatnya semakin jatuh cinta kepada keponakannya sendiri, namun ia harus menjaga perasaannya karena tak mungkin bila harus mengungkapkannya.


Di sana, Dina juga semakin akrab dengan adik perempuan Amar, yakni Sulis. Mereka juga sudah terbiasa saling bertukar cerita, dan Sulis pun bercerita awal ketemu Dina yang dianggap pacar kakaknya, wajar saja karena Amar belum menikah hingga saat ini. "Dulu tuh, kirain kak Dina pacar kak Amar.. wkwkwk". Ujarnya. "Hehe, kamu ini.. tapi wajar sih jika kamu berpikir seperti itu, kita kan belum pernah ketemu sudah lama, bahkan paman main ke rumah saja, aku masih kecil" jawabnya. Ditengah-tengah obrolan mereka, Dina pun dipanggil oleh pamannya, dan akhirnya ia langsung meninggalkan Sulis, lalu menghampiri Amar. "Aku tinggal dulu ya lis" tutupnya.

__ADS_1


__ADS_2